Catatan Perjalanan Gunung Ciremai, 4-6 September 2009
Sabtu, 5 September 2009
Udara dingin yang menusuk membangunkanku dari peraduan yang ala kadarnya. Ternyata yang lain sudah pada bangun. Badan ini rasanya masih remuk redam. Mengantuk yang pasti, setelah semalam baru mendarat di stasiun Cirebon jam 1, tempat Mbahto menunggu aku, arni dan maria di bangku-bangku kosong stasiun Cirebon.
Iswanto yang menemani kami bertiga melanjutkan perjalanan di dalam perut Progo, hingga ke jogja.. Makasih ya Is, kamu dah nemeni tiga dara manis ini di dalam sesaknya Progo yang masih berbudaya...
Teman-teman sudah mulai berbenah. Aku juga turut berbenah. Saat selesai, mbahto masih saja hilang. Ternyata berburu sunrise yang tak terlalu nampak. Mushala, basecamp Linggajati tempat kami menginap kami tinggalkan seperti saat kami datang. Menunggu sarapan yang hanya dengan telor ceplok matang. Agak kesiangan juga kami berangkat. Apalagi, lagi-lagi nunggu mbahto yang kelamaan setoran..
Jam7 kita start dari basecamp linggajati, setelah tentu saja puas foto-foto ber6: aku, maria, arnie, peci, dody dan mbahto..
ktp peci ditinggal di basecamp sebagai jaminan karena ngga ada yang jaga. Jalur menuju pos pertama adalah jalan aspal dan perkebunan penduduk yang dihiasi jalanan berbatu. Nampaknya hanya kita berenam saja yang mendaki di bulan puasa ini.
Pos Pertama: Cibunar. Tempat terakhir terdapat mata air. Karena hingga puncak nanti kita tak akan menemukan mata air lainnya. Beristirahat sebentar d sebuah gubuk, bagi-bagi logistik dan menunggu peci packing ulang, lalu perjalanan dilanjutkan.
Debu halus dan teriknya matahari, buah-buah dari musim kemarau beterbangan mengiringi langkah kami berenam, hingga akhirnya kami benar-benar memasuki hutannya...
Tanah ciremai memang mengandung lem. Berbahaya bila diduduki atau ditiduri. Maka akan sulit sekali bangunnya. Dan kami berenam berjalan memang seenak jiwa dan sesuka hati... santai dan terlalu banyak istirahatnya. Pos demi pos kita lalui.. condang amis.. kuburan kuda...
Selepas kuburan kuda, tanjakan ciremai makin menggoda. Inilah dia keeksotisan gunung ciremai
Melewati hutannya, hanya kami berenam, dengan ditemani burung-burung dan penghuni hutan lainnya
Berjalan, mendaki, bercanda, bernyanyi... melewati pangalap..
Keadaan cuaca sejak melewati kuburan kuda memang selalu mendung. Agak takut juga aku kalau kena hujan nantinya. Tp nyanyian kebangsaan selalu kunyanyikan kala matahari tak nampak sinarnya..
Srengenge nyunar kanthi mulya, angine midhit klawan rena... manuke ngoceh ono ing wit-witan.. kewane nyenggut ono ing pasuketan..Makan siang pun dibuat ala kadarnya dengan mie instan dan nasi yang kita bungkus dari basecamp tadi.
Sempat tidur siang juga kita entah di titik mana.. sembari menunggu mbahto, setelah pohon-pohon tumbang selepas kuburan kuda
Yang ada pun semua pada tidur, dan hanya aku dan mbahto yang masih terjaga, sibuk memperdebatkan apakah lintah bisa dimakan atau nggak dan perdebatan tak bermutu lainnya. Mungkin karena lapar, makanya pikiran jg jadi kacau.
Matahari makin turun ke barat dan malam pun akan segera datang. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain kita berenam. Catatan dari sabar tentang pos-pos di ciremai lupa diprint d kantor, yang ada catatan perjalanan dari orang hasil search d google. Tanjakan seruni sudah lewat.. berarti sesudah ini ada tanjakan Bapatere, Batu Lingga, Sangga Buana 1-2 kemudian Pengasinan...
Tak ada info kita ada di ketinggian berapa. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jalan juga sudah makin kepayahan. Mulai merapat melalui setiap tapak demi tapak.. arnie, maria, dody, mbahto, aku dan peci..
Selepas maghrib, setelah melewati tanjakan bapa tere akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Mencari tempat datar yang ternyata.... tempat.. ehem..
Sampai di tempat istirahat, aku langsung tewas tak terkira. Tidur beralaskan dedaunan kering, hanya pake jaket dan selimutan ponco. Sudah ngga jelas lagi rupaku. Bangun tidur, tidur lagi.. bangun lagi tidur lagi.. sampai akhirnya jam 10 malam tiba.. aku dan peci akhirnya benar-benar terbangun. Yang lainnya sudah pada duduk manis menghadap api sambil ngobrol nggak jelas. Berenam duduk berimpitan, saling menghangatkan dan saling bertukar cerita. Apa saja. Tentang hidup. Tentang mencari makna dalam hidup. Mungkin ini juga yang mendasari perjalananku kali ini. Mencari makna dalam hidup. Mendaki dengan teman perjalanan yang sama sekali baru (kecuali maria dan arnie). Mendaki juga ke tempat yang kami berenam bahkan belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya. Tanpa bertemu teman pendaki lainnya. Gunung ini rasanya hanya milik kami berenam. Entahlah. Mungkin ada yang sedang mengganjal pikiranku tanpa kusadari. Pergi berenam ini aku memang mencari ketenangan. Menemukan pelajaran baru tentang hidup yang hanya kudapat dari kelima temanku lainnya. (tp perasaan dody sama maria kebanyakan cuma diem deh.. hehehe..)
Niatnya mau melanjutkan perjalanan sampai ke Pengasinan jadi ditunda. Pembicaraan terlalu panjang dan mendalam di malam yang syahdu ini. Akhirnya kita semua memutuskan untuk bermalam di situ. Dengan segala pertimbangan dan perbincangan yang tetap saja nggak jelas. Entah di ketinggian berapa. Feelingku sih menjelang Batulingga. Sebelum 2200mdpl. Beberapa pasang tenda, beberapa mencari api lagi, dan mulai menyiapkan makan malam (lagi). Menu kali ini setup spesial ala kribo. Makan malam yang agak kurang mantab, karna setupnya ngga pakai telor. Tp akhirnya sedikit-sedikit habis juga dengan susah payah.
Malam dilanjutkan dengan mengobrol lagi.. temanya masih tentang hidup. Diselingi ocehan-ocehan nggak penting lainnya. Hanya kita berenam, anak manusia.. dan sebagian masih bertanya-tanya tentang hidupnya. Suatu saat nanti pasti. Kita akan mewujudkan mimpi kita masing-masing. Malam semakin larut. Maria dan Dody akhirnya memutuskan untuk tidur, sementara kita berempat masih tetap mengobrol panjang lebar menunggu lilin habis. Api unggun sudah mati dari tadi. Entah diketinggian berapa kita. Tapi udara belum terlalu dingin. Atau karena ada sesuatu yang menghangatkan kita? Hehehe.. entahlah..
Hingga lilin habis, akhirnya kita masuk ke peraduan. Tanah tempat kita memasang tenda ternyata miring. Jadi dengan ala merosot akhirnya kita bisa dapat posisi untuk tidur... berjajar semua, dengan mbahto yang melintang dikepala kita. Lagi-lagi masih diselingi mengobrol yang kali ini sudah mulai diselingi halusinasi. Sampai semua terdiam untuk tidur. Entah berapa lama aku terdiam hingga akhirnya lelap memanggilku ke alam bawah sadar. Yang jelas, aku benar-benar nyaris tak dapat tidur. Berulang kali terbangun dan akhirnya hanya bisa terus memejamkan mata dan mendaraskan doa sekenanya. Memohon perlindungan dari yang Kuasa. Diluar sana hutan dan segala isinya menemani kita tidur dan mengelilingi kita dalam keeksotisan ciremai
Menurut petunjuk yang kita bawa, batulingga adalah kaki gunung ciremai. Dan kalau begitu berarti, kita bahkan belum sampai di kakinya. Phew!!! Nikmat sekali.. perjalanan eksotis itu ternyata masih belum disebut pendakian d gunung ciremai.. lalu apa namanya? Bukit?? Hahahaha...
Minggu, 6 September 2009
Matahari sudah menyembul dari balik tenda. Menampakkan sinar terangnya. Antara sadar dan ngga sadar, aku memastikan pada peci yg tidur d sebelahku, bahwa memang hari benar-benar sudah mulai pagi, bukan halusinasiku lagi. Ternyata sudah jam 6. Aku langsung memberanikan diri keluar dan mulai membuat teh panas. Maria ikut keluar. Sisanya masih menikmati tenda yang hangat. Teh matang. Aku lanjut membuat sarapan sekaligus menu utama kita. Sup!!
Sayang. Jagung dan polong yg d bawa dari kemarin jadi basi. Hasilnya. Cukup kentang dan wortel plus sosis saja isi sup kita. Tapi... sedap tentunya..
Mbahto tiba-tiba terbangun sambil teriak-teriak. Ternyata ada yang meracuni tenda dengan bau yg ngga dia suka. Counterpain. Arni yang pakai. Berantemlah mereka berdua. Sup matang dan langsung diserbu anak-anak, aku membantu peci menggulung2 sb bekas pakai anak-anak. Dan ternyata oh ternyata.. ada yang meracuni tenda lagi dengan sb berbau kaki busuknya.. SIYALAN!!! Bener-bener busuk setengah mati... ga usah disebut lah siapa namanya, orang yg keringetnya juga bau dan orang yang sama yang bilang keringetku bau sayur warteg aneh yang warna kuahnya oren-oren.. sumpah.. sampe skarang aja aku blm tau sayur wartegnya itu kayak apa.. dan didunia ini kayanya cuma dia dan mbak penjual warteg yang dimaksud aja yang tau sayur apa yg dimaksud.
Packing, sarapan dan buang2 hajat.. kita mulai beranjak turun jam 10 pagi. Bener-bener tim yang berjalan seenak jiwa.. tak ada time keeper sama sekali. Berjalan menurut kata hati. Jalanan turun ternyata lebih nikmat daripada nanjaknya. Ya iyalah... tinggal meluncur aja. Tanpa disadari akhirnya kita jadi terpisah menjadi 3 tim. Maria dan dody di depan, aku dan peci di tengah, mbahto dan arni di belakang. Susul menyusul dan saling menunggu. Mbahto sempat jatuh dan terguling-guling. Arni yang jalan di sebelahnya, serta aku dan peci yang sudah ada di depannya langsung terkaget melihat dia terguling seperti itu. Untung dia ngga apa-apa.
Selepas kuburan kuda, mungkin setelah pangalap jg... kita baru berhenti agak lama untuk makan siang. Menghabiskan perbekalan di maria yang ternyata masih banyak isinya. Apel, pir, roti. Bushet!!! Bikin berat tas aja. Meluncur lagi kita turun, menghabiskan sisa perjalanan. Tiba-tiba lagi-lagi Maria kali ini yang jatuh terguling karna tersandung kayu. Untung (lagi-lagi untung) dia ngga apa-apa, hanya lecet di kaki doang. Setelah diplester, kita jg sambil foto-foto. Lalu perjalanan di lanjutkan. Hingga akhirnya lepas dari hutan dan mulai kembali menyusuri jalanan berdebu. Kali ini untung aku yang kebagian di depan, jadinya tim kita yang menghadiahi debu-debu intan buat tim-tim yang di belakang. Kikikikik...
Berhenti lagi di pondokan yang ada di cibunar. Kita membuka perbekalan terakhir, yang jadi bekal pamungkas kita seharusnya untuk di puncak... apa lagi kalau bukan.. NATA DE COCO.. hehehe..
Dibagi tiga.. kita langsung melahap nata de coco itu dengan nikmat... sedap. Perbekalan terakhir dan.. langsung ke basecamp!!
Jalannya sudah mulai memasuki perkebunan penduduk lagi. Dan inilah akhir perjalanan kita saat itu. Langsung berisitirahat di bangku depan basecamp. Bersantai. Pijat-pijatan.. dan mulai mandi. Gila... debu semua yang menempel d badanku setelah dari jumat belum mandi. Pakaian pun sejak ke kantor masi belum di ganti. Masi rapih, dengan kemeja. Hehehe...
Semua debu... keramas dan mandi sebersih-bersihnya kayaknya juga masi kurang bersih.
Di depan kamar mandi, yang akhirnya dipindah di depan kolam ikan di samping mushala, tempat kita menginap malam sebelumnya... kita memasak persediaan terakhir kita. Senjata pamungkas.. bihun, sosis dan segala sarden yang masih ada di tas... campur aduk jadi satu. Beli nasi di warung. Sambil bergantian mandi dan bersih-bersih. Masih juga temanya pijet-pijetan.. lumayan. Jadi tukang pijat dadakan, bisa nambah penghasilan. Hehehe...
Jam 7, kita foto-foto terakhir di depan angkot yang akan membawa kita sampai terminal. Foto-foto terus yang penting. Hehehe..
Sesampainya di terminal cirebon, adalah saat-saat yang paling tidak kita sukai.. perpisahan. Kita berenam harus berpisah, kembali ke kota asal kita masing-masing. Aku, maria dan arnie langsung naik bus ke merak yang sudah menunggu. Peci dan dodi kembali ke bandung dengan bis yang kebetulan lewat juga. Tinggal mbahto yang masih menikmati keliling kota cirebon dengan kang becak, menunggu keretanya datang...
Sampai jumpa sahabat.. perjalanan yang juga tak akan terlupakan...
Suatu saat nanti, kita akan bersama lagi menuju puncak.. kali ini harus benar-benar sampai di puncak..
Progo, Senen-Cirebon : Rp. 26.000 (jam 9 malam)
Angkot, Stasiun-Basecamp : Rp 90.000 (@15.000)
Pendaftaran Basecamp Linggajati : @ Rp 6500
Nasi putih : @ Rp 3000
Angkot, Basecamp-Terminal : Rp 90.000
Bus, Cirebon-Merak : Rp 35.000 (Lewat Slipi)