Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam kala aku masuk dalam gerbong kereta yang sudah penuh. Tak lama lagi kereta akan berangkat. Aku berdiri dekat pintu, karena itu satu-satunya tempat kosong yang kudapatkan. Aku melihat sosoknya berdiri diantara kerumunan penumpang lain di gerbong yang sama. Ia berdiri di depan pintu yang bersebelahan denganku. Kami dipisahkan oleh deretan bangku-bangku. Tapi karna ini aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Mungkin saja dia bukan pelanggan kereta AC yang kunaiki setiap pulang kerja ini. Mungkin biasanya dia menumpang kereta di jadwal lain. Atau mungkin dia biasa berada di gerbong wanita. Entahlah, yang jelas sebelum hari ini aku tak pernah melihat wajahnya. Karena tak mungkin aku melupakan wajahnya.
Tubuhnya tidak tinggi, terlihat nyata karena tangannya kesusahan menggapai pegangan dalam gerbong yang memang terpasang tinggi-tinggi. Maklum saja, kereta ini di dapat dari impor kereta bekas negara lain. Jadi settingan kereta ini di desain bukan spesial untuk penduduk indonesia. Badannya... aku tak dapat mengatakan dia gemuk, tapi juga tidak kurus. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas, karena tas ransel hitamnya dia gendong di depannya, menutupi bentuk tubuhnya yang sebenarnya. Wajahnya tidak secantik model-model yang sering kulihat di televisi. Tidak juga dihiasi make up. Mungkin hanya seulas bedak tipis di pagi hari yang tentu sudah luntur termakan waktu. Sebagai lelaki yang dikelilingi wanita yang berias tebal, aku tentu saja dapat membedakan, mana wanita yang memakai riasan dan mana yang tidak.
Wajahnya mungkin tidak cantik, tapi kuakui sangat menarik. Aku sangat yakin, dia dapat membuat pria manapun terpesona melihatnya. Tapi dia nampaknya sedang tidak ingin mempesonakan lawan jenisnya. Pipinya bersemu merah alami. Dan yang paling aku suka ialah matanya, mata yang terbalut bulu mata lentik dan menatap dengan tajam. Ya, dari jarak sejauh ini, mataku cukup jeli melihat bulu mata lentik yang membingkai matanya. Sayang, matanya saat ini terbalut awan mendung, nampaknya seirama dengan cuaca di luar sana malam ini. Mendung. Pandangan matanya yang tajam nampak menerawang jauh keluar dari kaca jendela kereta. Entah apa yang dipikirkannya. Dan sesekali mendung itu nampak terlihat jelas di wajahnya.
Oh, gadis, apakah yang sedang kau pikirkan saat ini? Keluargamu kah? Aku mencari-cari tanda, dan ternyata tak kutemukan. Di jari tangannya tidak terpasang cincin. Berarti dia masih single. Setidaknya dia tidak terikat perkawinan. Ataukah masalah dengan kekasihmu kah yang sedang menggundahkan hatimu? Aku sempat melihatnya mengeluarkan blackberry dari dalam kantung tasnya, hanya dilihat sebentar dan dikembalikannya lagi ke tempatnya semula. Apakah dia sedang menunggu kabar dari sang kekasihnya?
Punyakah dia seorang kekasih? Ah... dengan wajah yang demikian mempesona, pastilah dia memiliki seorang kekasih. Atau bahkan lebih? Tidak. Wajahnya tidak menunjukkan kalau dia seorang penakluk pria. Dia memang mempesona, tapi dia nampak tak ingin menggunakan pesonanya untuk menaklukkan pria. Di matanya tergambar jelas hanya untuk satu pria. Lalu, pria inikah yang membuatmu gundah?
Wajahnya nampak letih. Seolah habis terkuras tenaganya oleh beban pekerjaannya yang tak mudah. Sesekali ia nampak memejamkan matanya. Hebat. Nampaknya tidur sembari berdiri di dalam kereta bukanlah pekerjaan yang sulit untuknya. Karena nampaknya dia terbiasa melakukan hal itu. Kadang tubuhnya sedikit terguncang mengikuti irama gerakan kereta, tatkala ia melepaskan pegangan tangannya karena terasa pegal.
Memandangi wajahnya lekat-lekat dengan sepuas hati dari posisiku berdiri, membuatku mulai bertanya-tanya, apakah yang sedang dipikirkannya hingga awan mendung menghalangi sinar di wajahnya. Aku jadi tertantang membuat skenario kecil-versiku-tentang apa yang di pikirkan gadis pujaanku ini.
Dia sedang gundah. Itu jelas. Karena apakah? Mungkin karena ia habis bertengkar dengan kekasihnya. Tidak tidak tidak. Jangan bertengkar. Nampaknya dia sedang merindukan kekasihnya, karena sudah lama tak bertemu. Menanti, kapan kekasihnya pulang. Ia terlihat seperti gundah menahan rindunya kepada kekasihnya.
Ah... Stasiun tujuanku sudah hampir sampai. Saatnya aku pun turun. Semoga aku masih dapat bertemu dengannya lagi. Biarlah, mungkin kesempatan untuk berkenalan dengannya takkan ada, tapi setidaknya, ijinkanlah aku untuk dapat menikmati pesonanya dari kejauhan. Aku tahu, hatinya sudah tidak ada tempat lagi untuk orang lain. Ternyata dia pun bersiap tuk turun di stasiun yang sama denganku. Terima Kasih, Tuhan, mungkin aku diberi kesempatan untuk mengaguminya terus.
Selasa, 28 Juni 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Dim Sum

Ngeliat gambar dim sum kemarin, gw jadi keingetan akan sebuah cerita konyol sekonyol2nya yang gw alamin berhubungan sama dim sum. Cerita ini terjadi sekitar beberapa bulan lampau, saat gw masi jadi penghuni baru KRL dan temen gw dodi masi kerja di Jakarta. Beberapa kali gagal janjian satu kereta d tanah abang, akhirnya kesampean jg bisa pulang bareng.
Senja itu hujan turun sangat derasnya. Dan seperti biasanya, kalo hujan sudah turun deras, biasanya ada aja masalah di perkereta-apian.. entah masalah persinyalan, kereta datang telat, ato malah rel nya kerendam banjir jadi nggak bisa lewat. Dan kali ini, KRL Ekonomi yang biasa gw naekin tidak jalan, gw lupa alasannya, entah gangguan sinyal, ato saking terlambatnya, jd dbatalkan jadwalnya. Akhirnya gw ama dodi memutuskan buat naik KRL Express di jadwal berikutnya. Kereta pasti jelas penuh sesak, karna ada kereta yang dibatalkan jadwalnya. Dan sesuai dugaan gw, saat kereta dateng dan kita masuk, kereta udah sangaaaat penuh sesak. Benar-benar bersempit-sempitan. Posisi gw berdiri saati itu berhadapan dg dodi dan seorang bapak.
Berhubung dkabarkan juga kalo relnya kerendem banjir, jadi kereta pun terpaksa terlambat berangkat, dan kebanyakan menunggu d stasiun palmerah dan kebayoran. Perjalanan tanah abang-pd ranji yang biasa kita tempuh kurang dari 30 menit, ini kita tempuh sampe satu jam lebih. berdiri berdesakan di kereta.
Sejak awal naik dan berdiri, gw yang emang pada dasarnya laper, biarpun udah diganjel burger gocengan yang dibeli d stasiun, tetep aja sensitif karna nyium bau makanan. Dan aroma makanan yang gw cium kali ini nggak tanggung2... Dim Sum!!! Gw beneran nyium bau dim sum di kereta. dan itu baunya deket banget ama posisi gw berdiri. Mungkin ada yang bawa bungkusan dim sum masuk ke kereta dan baunya kemana2. Sumpah gw ngiler banget nyium baunya.
Berulang kali gw bilang sama dodi, kalo gw nyium bau dim sum, tapi dia nggak nyium bau apa2 sama sekali. Oke deh, mungkin idung gw salah, mungkin itu bukan dim sum, tapi setidaknya makanan yang berbau amis... mungkin otak2 ato mpek2... pokoknya gw nyium makanan.. dan otak gw pertama kali langsung mendeteksi itu bau dim sum. Dan dengan semangat beberapa kali gw mengendus2 dari mana datangnya bau dim sum itu, mencari sumbernya, tapi nggak ketemu.
Selama perjalanan yang lumayan lama. Lama berhentinya terutama. Apalagi saat di kebayoran kereta bener2 nggak bisa lewat karena rel yang dilalui kerendem banjir.. *jakarta oh jakarta* akhirnya nunggu jalur 2 sepi, kereta gw mundur, di langsir dan pindah yang semula di jalur 1 ke jalur 2 karena jalur 1 masih kerendem banjir. Dan selama itu, gw ama dodi ngobrol ngalor ngidul, teteeeep aja gw masi terus ngungkit2 itu dim sum dan tetep pula dodi ngga nyium bau makanan sama sekali.
Beberapa kali kita pindah posisi berdiri karena desakan penumpang lain dan goncangan kereta yang berjalan (jalannya pelan sebenernya, apalagi pas lewat daerah yg banjir) dan akhirnya posisi berdirinya pun jadi berubah... gw berhadapan langsung sama bapak2 yang sejak tadi berdiri menghadap kita, dan dodi ngadep agak serong d sebelah kiri gw. Dan dengan posisi berdiri gitu, si Bapak yang tangannya pegangan ke atas, otomatis keteknya menghadap ke arah gw.
Saat itu kereta sudah akan memasuki stasiun pd ranji, gw pun bersiap turun dan nunduk untuk ngambil tas gw yang gw taro d lantai kereta. Pada saat gw nunduk buat ngambil tas, nggak sengaja gw nyium aroma ketek si bapak yang berdiri di hadapan gw, dan... Oh My GOD!!!! sontak gw tersadar sesuatu dan langsung ngakak nggak bisa berhenti sampe akhirnya kita turun dari kereta.
Dodi yang ngeliat gw ngakak tanpa sebab jadi kehermanan.. dan gw pun jg ngga bisa cerita langsung selama d kereta. Karena pasti akan kedengeran sama Bapak yg berdiri d depan gw...
Setelah turun dari kereta, gw pun lantas baru bebas cerita ke dodi. Aroma dim sum yang dari tadi pertama gw naek kereta gw cium sampek turun pun masi gw cium dan yang dari awal gw penasaran mencari sumber bau itu, ternyata oh ternyata berasal dari ketek si bapak yang dari tadi berdiri menghadap kita...
Ya Amplooop.. idung gw terbuat dari apakah ya.. ato otak gw yang udah mule somplak.. masa dari tadi bau ketek orang gw bau-in dengan sedapnya karna gw pikir itu dim sum... dan sepanjang perjalanan ke rumah, nggak abis2 nya gw sama dodi ngetawain ke konyolan gw ini. Si bapak geli sendiri kali ya, kalo ngeh apa yg gw sebut "dim sum" itu adalah keteknya...
Sesampainya di rumah, gw sama dodi yang masih ngakak, berusaha cerita ke nyokap gw, dan jelas aja nyokap uda keburu ikutan ngakak, padahal belom tau ceritanya.. apalagi pas udah tau ceritanya... hiiii...
Laen kali gw mesti ati2 nih kalo nyium aroma makanan.. sapa tau itu berasal dari kentut orang ato ga dari ketek orang.. oh noooo....
Langganan:
Postingan (Atom)