God Always Listening Always Understanding
Sore yang berhujan rintik rintik aku duduk di serambi rumahku dengan memangku secangkir kopi hitam pahit. Aku duduk di bangku berbusa nyaman andalanku tatkala ingin melamun. Memandangi rintik rintik hujan yang perlahan tapi pasti membasahi rerumputan di depan rumahku. Daun daun berayun manja ketika tetesan hujan menyentuh tubuhnya.
Sore ini aku sedang galau. Seperti biasa kalau hujan turun rintik rintik adalah saat paling nikmat untuk duduk menyendiri, melamun di serambi ditemani secangkir kopi hitam pahit panas panas dan menggalau tanpa sebab. Entah apa sebabnya aku menggalau sore ini.
Aku tak tahu sejak kapan Dia duduk di sebelahku. Duduk diam diam menemaniku memandangi rintik rintik hujan dengan pandangan kosong. Menghela napasNya panjang panjang mengikuti waktu yang berjalan lambat sore itu. Ia memakai jubah putih bersinar kesayanganNya, yang warnanya begitu cemerlang layaknya baju hasil iklan detergen pemutih di tivi. Aneh, hujan hujan begini pun Dia masih tetap suka dengan jubah putih itu. Dalam sekejap jubahNya pasti akan terkena cipratan air hujan dan menjadi kotor. Tapi Dia tak pernah mempersoalkan itu.
Dia hanya diam menemaniku hingga akhirnya aku membuka suaraku dengan malas malas. Aku tahu, Dia sudah mengetahui segalanya, bahkan mengapa aku merasa galau sore ini. Tapi bagiku rasanya perlu untuk mengucapkannya dengan kata kata.
"Tuhan, aku sedang galau..." ujarku mengambang tanpa ada titik di belakang kalimat yang aku ucapkan.
"Aku tahu. Setiap sore berhujan begini adalah waktu kesenanganmu untuk menjadi galau." kataNya dengan suara lembut seperti biasa. Aku tersenyum malu malu padanya. Setiap sore aku galau memang dia selalu ada menemaniku. Kadang kami berbincang akrab hingga aku lupa akan kegalauanku, kadang kami hanya duduk memandangi hujan turun dan kalau Ia sedang romantis Ia menghadiahiku pelangi yang terindah.
"Tapi kali ini aku tak tahu apa yang aku galau-kan, Tuhan."
Dia tertawa mendengarkan perkataanku.
"Kau selalu berkata begitu setiap kamu galau, manis." Ia membelai kepalaku lembut. Manis. Begitu Dia selalu memanggilku. "Katakanlah apa yang kali ini membuatmu galau. Aku akan selalu mendengarkan dan akan selalu mengerti kebutuhanmu."
Dan sesorean itu akhirnya aku habiskan untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaanku kepadaNya. Galau yang tadinya tak jelas sebabnya akhirnya tumpah ruah di hadapanNya seperti biasa. Dan dia selalu dengan penuh cintaNya mendengarkanku, menasihatiku, menguatkanku.
Terimakasih Tuhan, kau menghapus galau ku sore ini :)