Kalau yang sudah pernah nonton Sang Pemimpi, pasti pernah dengar istilah itu.. tapi ‘ibu’nya diganti ‘ayah’… tapi karena sekarang hari ibu, maka aku pakai ganti istilah Ayah Juara Nomor 1 di Dunia jadi Ibu Juara Nomor 1 di Dunia
Bacaan dari renungan di radio tadi pagi juga membahas tentang ibu-ibu yang hebat di Alkitab. Sebut saja Hana, yang berdoa memohon diberikan putera dan berjanji akan mempersembahkan puteranya kepada Tuhan. Samuel. Tokoh kecil di Alkitab yang namanya paling berkesan *sampai-sampai kelak kalau aku punya anak cowok, mau kuberi nama Samuel juga*, ternyata lahir dari ibu yang luar biasa juga. Dan penggalan cerita Samuel yang selalu kudengar, saat dia tidur, dipanggil Tuhan, sampai 3x membuatku punya pemikiran, kelak, jika Tuhan menitipkan Samuel juga untukku, aku akan mempersembahkan dirinya kepadaNya. Apapun yang terjadi pada Samuel adalah menurut kehendakNya. Dan dari renungan yang tadi pagi kudengar, ternyata Hana juga telah bertindak hal yang sama, ribuan tahun mendahului rencana yang masih terngiang di anganku…
Ibu Juara Nomor 1 di Dunia yang paling hebat tentu saja tak lain dan tak bukan adalah ibu kita semua, Bunda Maria. Dengan pasrah ia menerima kabar dari Malaikat kalau ia mengandung. Padahal, ia belum bersuami. Tapi ia berserah kepada Tuhan dan menerima semuanya. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Suatu bentuk penyerahan total yang diberikan seorang Maria. Apalagi ia selalu berada di sisi Puteranya hingga di kaki salib Puteranya. Ibu yang pada umumnya pasti tidak akan terima melihat Puteranya di siksa sampai mati, tapi ia percaya dan berserah kepada Tuhannya, bahwa ini semua telah menjadi rencana Tuhan yang indah...
Aku?
Aku belum pernah menjadi seorang ibu. Dan aku sendiri tak tau rasanya menjadi seorang ibu. Mungkin kelak Tuhan akan mempercayakan aku untuk menjadi seorang ibu, tapi nanti, bukan sekarang.... kalo sekarang, pasti nanti dipertanyakan, siapa bapaknya... hehehe..
Ibu Juara Nomor 1 di Dunia lainnya tentu saja ibuku sendiri.. kenapa dia Juara?? Karena dia telah melahirkan dan membesarkan aku, si anak bengal yang sampai sekarang pun masih belum bisa berbakti buat orangtua. Sampai sekarang pun tak pernah bisa aku membalas jasa seorang ibu, terutama ibu yang tabah menghadapi kegilaan seorang anak sepertiku... banyak hal yang tak bisa terungkapkan dengan kata2, tapi aku tau, Tuhan tau apa isi hatiku..
Selamat Hari Ibu! Selamat buat Ibu Juara Nomor 1 di Dunia...
Selasa, 22 Desember 2009
Kamis, 29 Oktober 2009
”Tak gendong kemana2…..”
Lagu itu lagi meledak2nya di belantika musik tanah air
Penyanyinya yang nyetrik dengan gaya rambut gimbalnya
Menjadi fenomena tersendiri
Dimana2 orang pada memakai istilah ”tak gendong kemana-mana”
Tapi kmarin minggu aku baru sadarin
Ada makna yg lebih mendalam dari lagu sederhana itu...
Bahwa Tuhan Yesuslah yang menyanyikan lagu itu untuk kita
Dia yang selalu menggendong kita kemana-mana
Di saat senang, di saat susah
Tanpa kita sadari
Kita hanya merasakan enaknya saja
Tidak terantuk batu yang tajam
Tidak melewati semak yang berduri
Karena Tuhanlah yang menggendong kita
Tatkala Tuhan sendiri yang menyanyikan lagu itu untuk kita
”tak gendong kemana-mana.. enak toh.. asik toh..”
Lalu.. apalagi yang perlu kita takutkan dan khawatirkan??
Karena Dia sendiri lah yang selalu menggendong kita...
Yang kita perlukan hanyalah percaya bahwa kita aman dalam gendongannya
Terima Kasih buat Romo Artoyo dan Mbah Surip
Yang memberi inspirasi buatku di minggu pagi kemarin...
Penyanyinya yang nyetrik dengan gaya rambut gimbalnya
Menjadi fenomena tersendiri
Dimana2 orang pada memakai istilah ”tak gendong kemana-mana”
Tapi kmarin minggu aku baru sadarin
Ada makna yg lebih mendalam dari lagu sederhana itu...
Bahwa Tuhan Yesuslah yang menyanyikan lagu itu untuk kita
Dia yang selalu menggendong kita kemana-mana
Di saat senang, di saat susah
Tanpa kita sadari
Kita hanya merasakan enaknya saja
Tidak terantuk batu yang tajam
Tidak melewati semak yang berduri
Karena Tuhanlah yang menggendong kita
Tatkala Tuhan sendiri yang menyanyikan lagu itu untuk kita
”tak gendong kemana-mana.. enak toh.. asik toh..”
Lalu.. apalagi yang perlu kita takutkan dan khawatirkan??
Karena Dia sendiri lah yang selalu menggendong kita...
Yang kita perlukan hanyalah percaya bahwa kita aman dalam gendongannya
Terima Kasih buat Romo Artoyo dan Mbah Surip
Yang memberi inspirasi buatku di minggu pagi kemarin...
enamjuliduaribusembilan
Ada sebuah cerita refleksi yang sangat menarik. Pada suatu hari Tuhan merasa lelah mendengar segala keluhan manusia. Dan Ia bermaksud untuk bersembunyi dari manusia. Maka Ia memanggil para malaikat-malaikatNya dan bertanya, dimana tempat terbaik untuk bersembunyi dari manusia. Salah seorang malaikatNya berkata, ”Sembunyilah di puncak gunung tertinggi, Tuhan. Maka manusia akan kesulitan menemukan Tuhan.” Malaikat yang lain lagi berkata, ”Sembunyi saja di dasar laut yang paling dalam. Manusia pun tidak dapat mencari sampai ke sana.” Lalu Tuhan bertanya pada malaikatNya yang paling pandai, ”Kemanakah aku harus bersembunyi dari manusia?” Lalu malaikatNya itu menjawab, ”Sembunyilah di hati manusia Tuhan. Karena di sanalah tempat manusia jarang menyentuhnya.”
Sudah berkali-kali aku membaca artikel ini, tapi tetap saja aku selalu merasa tersindir setiap membacanya. Ya.. hatiku lah sebagai hati manusia yang mungkin paling keras dan paling sulit di jamah olehNya. Aku menuntut dan memohon pada Tuhan ini itu. Dan Tuhan hanya meminta aku untuk percaya dan berserah kepadaNya. Dan kenapa aku sulit sekali melakukannya. Hanya permintaan sederhana dari Tuhan untuk percaya dan berserah kepadaNya. Bahwa segala yg aku minta padaNya akan dikabulkanNya, tapi menurut waktuNya, bukan waktuku sendiri. Karena hanya Ia lah yang tau apa yg terbaik untukku, melebihi diriku sendiri. Sering aku meminta padaNya untuk menyentuh hatiku dan mengubahnya menjadi yang baru. Agar aku tak lagi menjadi manusia lama yang selalu menutup pintu hatiku bagiNya.
Pada kotbah pastor kemarin minggu, dikatakan.. betapa sulitnya kita untuk menyediakan waktu kita untuk Tuhan. Walaupun itu hanya 1 ½ jam saja. Kita diberi waktu 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Dan Tuhan hanya meminta waktu kita 1 ½ jam saja untuk pergi ke gereja dan berjumpa denganNya. Hanya 1 ½ jam dari 168 jam yang diberikanNya untuk kita. Dan betapa itu begitu sulit kita lakukan. Banyak alasannya.. capeklah.. ngantuklah.. ngga punya waktulah.. dan lain lain.. dan bagaimana jika Tuhan sendiri yang berkata kepada kita, ”AnakKu, Aku capek mendengarkan ocehanmu..” Apakah yang akan terjadi kepada kita, manusia yang tak berdaya ini?
Ada juga yang mengatakan kalau bertemu dengan Tuhan tidak harus di dalam gereja. Gereja hanyalah sebuah bangunan. Sebuah sarana saja untuk bertemu denganNya. Itu memang benar. Aku pun menyetujui pendapat itu. Tapi lalu aku mempertanyakan pendapat itu. Dalam kondisi apakah pendapat itu berlaku? Saat kita sedang berada di puncak gunung, padahal seharusnya kita berada di dalam gereja, dan kita mengandaikan berada di puncak gunung adalah cara lain untuk bertemu denganNya. Betulkah kita benar-benar mengalami perjumpaan denganNya di puncak gunung itu?? Ataukah itu hanya bentuk pembelaan diri kita terhadap kata ”malas ke gereja” dan membuat kegiatan-kegiatan kita sebagai sebuah ”alasan” saja sebagai salah satu cara untuk bertemu dengan Tuhan...
Beruntung kita punya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dan merasa capek karena ”mengurusi” kita anak2Nya yang membandel. Yang masih selalu mencobai Tuhan dan menguji batas-batas kesabaranNya. Saat senang, kita lupa bersyukur padaNya. Dan saat susah, kita selalu mempertanyakan diriNya yang katanya Maha Baik. Lalu lantas manusia macam apa kita yang hanya ingat Tuhan saat kita susah dan lupa padaNya saat senang...?? Sudikah kita membuka pintu hati kita lebar-lebar, agar Tuhan dapat masuk ke dalamNya dan menyembuhkan segala luka hati kita? ada pepatah bagus mengatakan, Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang pecah, hanya jika kita memberikan kepingan-kepingannya...
Maka, Tuhan, Terimalah kepingan hatiku ini. ku tau aku tak layak di hadapanMu. dan ku tahu aku tak kan pernah layak. Tapi ku tahu Engkau Maha Rahim, Kau pasti akan selalu menerimaku.
Allah kita, tidak menunggu kita tuk menjadi sempurna tuk datang padaNya. Dia menunggu kita datang, sekarang. Saat ini.
Sudah berkali-kali aku membaca artikel ini, tapi tetap saja aku selalu merasa tersindir setiap membacanya. Ya.. hatiku lah sebagai hati manusia yang mungkin paling keras dan paling sulit di jamah olehNya. Aku menuntut dan memohon pada Tuhan ini itu. Dan Tuhan hanya meminta aku untuk percaya dan berserah kepadaNya. Dan kenapa aku sulit sekali melakukannya. Hanya permintaan sederhana dari Tuhan untuk percaya dan berserah kepadaNya. Bahwa segala yg aku minta padaNya akan dikabulkanNya, tapi menurut waktuNya, bukan waktuku sendiri. Karena hanya Ia lah yang tau apa yg terbaik untukku, melebihi diriku sendiri. Sering aku meminta padaNya untuk menyentuh hatiku dan mengubahnya menjadi yang baru. Agar aku tak lagi menjadi manusia lama yang selalu menutup pintu hatiku bagiNya.
Pada kotbah pastor kemarin minggu, dikatakan.. betapa sulitnya kita untuk menyediakan waktu kita untuk Tuhan. Walaupun itu hanya 1 ½ jam saja. Kita diberi waktu 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Dan Tuhan hanya meminta waktu kita 1 ½ jam saja untuk pergi ke gereja dan berjumpa denganNya. Hanya 1 ½ jam dari 168 jam yang diberikanNya untuk kita. Dan betapa itu begitu sulit kita lakukan. Banyak alasannya.. capeklah.. ngantuklah.. ngga punya waktulah.. dan lain lain.. dan bagaimana jika Tuhan sendiri yang berkata kepada kita, ”AnakKu, Aku capek mendengarkan ocehanmu..” Apakah yang akan terjadi kepada kita, manusia yang tak berdaya ini?
Ada juga yang mengatakan kalau bertemu dengan Tuhan tidak harus di dalam gereja. Gereja hanyalah sebuah bangunan. Sebuah sarana saja untuk bertemu denganNya. Itu memang benar. Aku pun menyetujui pendapat itu. Tapi lalu aku mempertanyakan pendapat itu. Dalam kondisi apakah pendapat itu berlaku? Saat kita sedang berada di puncak gunung, padahal seharusnya kita berada di dalam gereja, dan kita mengandaikan berada di puncak gunung adalah cara lain untuk bertemu denganNya. Betulkah kita benar-benar mengalami perjumpaan denganNya di puncak gunung itu?? Ataukah itu hanya bentuk pembelaan diri kita terhadap kata ”malas ke gereja” dan membuat kegiatan-kegiatan kita sebagai sebuah ”alasan” saja sebagai salah satu cara untuk bertemu dengan Tuhan...
Beruntung kita punya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dan merasa capek karena ”mengurusi” kita anak2Nya yang membandel. Yang masih selalu mencobai Tuhan dan menguji batas-batas kesabaranNya. Saat senang, kita lupa bersyukur padaNya. Dan saat susah, kita selalu mempertanyakan diriNya yang katanya Maha Baik. Lalu lantas manusia macam apa kita yang hanya ingat Tuhan saat kita susah dan lupa padaNya saat senang...?? Sudikah kita membuka pintu hati kita lebar-lebar, agar Tuhan dapat masuk ke dalamNya dan menyembuhkan segala luka hati kita? ada pepatah bagus mengatakan, Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang pecah, hanya jika kita memberikan kepingan-kepingannya...
Maka, Tuhan, Terimalah kepingan hatiku ini. ku tau aku tak layak di hadapanMu. dan ku tahu aku tak kan pernah layak. Tapi ku tahu Engkau Maha Rahim, Kau pasti akan selalu menerimaku.
Allah kita, tidak menunggu kita tuk menjadi sempurna tuk datang padaNya. Dia menunggu kita datang, sekarang. Saat ini.
Pintu Rumah Tuhan “tertutup” Buatku
Kamis malam kemarin saat aku duduk manis di dalam bus seperti biasa, aku melewati sebuah bangunan gereja katolik di daerah barito. Suasananya nampak sepi. Bangunan gereja gelap, tertutup rapat. Bahkan pagarnya pun nampak terkunci rapat. Teranglah, karena ini hari kamis malam. Tidak ada upacara apa-apa di tengah-tengah minggu ini. Gereja pun ditutup dan dikunci.
Aku jadi teringat saat-saat aku masih mengenakan seragam putih biru ku dan bersekolah dekat gereja itu.. kalau lagi rajin, setiap pagi, sebelum sekolah dimulai, aku suka menyempatkan diri datang ke gereja itu, bersama temanku untuk berdoa. Setiap pagi gereja tentu aja masih buka.. karena masih baru selesai misa harian..
Sebenarnya dulu sempat ada keinginan untuk sekali-kali ikut misa harian, tapi apa daya, mulainya jam 6, sedangkan aku baru sampai sekolah aja ½ 7.. hehehe.. jadi tak apalah.. ikut sisa-sisa berkatnya aja.
Pergi ke gereja, saat sedang tidak ada misa ternyata memberikan ”kedamaian” tersendiri buatku. Berlutut di depan altar, berdoa, menatap patung Yesus yang tersalip di atas altar... terkadang berdoa.. atau terkadang berdiam saja.. menikmati keheningan itu...
(entah, berdoa mohon apa aku waktu itu.. doa lugu bocah smp mungkin...)
beberapa tahun lalu, saat aku pergi ke gereja yang sama, untuk mengikuti misa pada malam hari.. aku lupa.. misa apa waktu itu.. misa mingguan biasa atau misa jumat pertama.. yang jelas itu misa termalam saat itu.. usai misa, aku dan pacarku bermaksud berdoa rosario bersama di dalam gereja.. menikmati keheningan gereja dan menikmati suasana khidmat yang sudah tercipta.. tapi doa kami jadi terusik lantaran suara petugas gereja yang sibuk mengunci pintu-pintu gereja dan mematikan lampu. Mau tidak mau kami jadi terburu-buru mendaraskan doa salam maria agar doa kami cepat selesai. Agar kami cepat keluar dari gereja yang mau di kunci itu.
Rasanya seperti ”terusir” dari Rumah Tuhanku sendiri.. saat kami ingin duduk menikmati perjumpaan kami dengan Tuhan di RumahNya sendiri.. kami harus terburu-buru karna Rumahnya akan segera dikunci.. miris jg perasaan kami waktu itu. Pacarku sampai ngedumel sepanjang jalan...
Sejak kejadian itu, aku jadi memperhatikan kebiasaan di gereja-gereja saat selesai mengikuti misa terakhir. Dan ternyata ngga hanya di gereja tadi saja pintu-pintu langsung di tutup dan lampu dimatikan. Di paroki ku pun juga seperti itu.
Saat kemarin aku kembali melewati gereja itu, aku jadi teringat kembali masa-masa aku memperhatikan ”pintu gereja yang tertutup” itu..
Aku jadi bertanya-tanya... kenapa Gereja harus tertutup dan terkunci? Bukankah gereja itu adalah Rumah Tuhan, dimana kita sewaktu-waktu dapat datang kesana, sesuka hati kita untuk sekedar berjumpa dan menyapa Tuhan kita sendiri. Apa yang membuat gereja menjadi seperti ”rumah duniawi” yang harus ikut-ikutan dikunci agar tidak sembarang tamu bisa datang. Agar setiap tamu yang datang harus minta ijin dulu kepada si empunya rumah. Agar tidak ada pencuri yang datang dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah Tuhan kita itu Allah yang Mahabaik. Yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin datang menjumpainya. Lalu kenapa dikunci.. seperti seakan-akan kalau ketemu Tuhan itu harus ada jadwal khususnya..
Kenapa Rumah Tuhan di sini tidak seperti di luar sana seperti yg kulihat di tivi2, dimana selalu terbuka, hingga kapan saja kita mau datang berdoa kepadaNya dan menjumpaiNya, kita dapat melakukannya. Tidak harus menunggu dibukakan untuk kita.
Apakah pintu Rumah Tuhan akan selalu ”tertutup” buatku ketika malam-malam aku ingin datang mampir dan berlutut di depan altarNya.. bersujud dan berdoa padaNya??
090627
Aku jadi teringat saat-saat aku masih mengenakan seragam putih biru ku dan bersekolah dekat gereja itu.. kalau lagi rajin, setiap pagi, sebelum sekolah dimulai, aku suka menyempatkan diri datang ke gereja itu, bersama temanku untuk berdoa. Setiap pagi gereja tentu aja masih buka.. karena masih baru selesai misa harian..
Sebenarnya dulu sempat ada keinginan untuk sekali-kali ikut misa harian, tapi apa daya, mulainya jam 6, sedangkan aku baru sampai sekolah aja ½ 7.. hehehe.. jadi tak apalah.. ikut sisa-sisa berkatnya aja.
Pergi ke gereja, saat sedang tidak ada misa ternyata memberikan ”kedamaian” tersendiri buatku. Berlutut di depan altar, berdoa, menatap patung Yesus yang tersalip di atas altar... terkadang berdoa.. atau terkadang berdiam saja.. menikmati keheningan itu...
(entah, berdoa mohon apa aku waktu itu.. doa lugu bocah smp mungkin...)
beberapa tahun lalu, saat aku pergi ke gereja yang sama, untuk mengikuti misa pada malam hari.. aku lupa.. misa apa waktu itu.. misa mingguan biasa atau misa jumat pertama.. yang jelas itu misa termalam saat itu.. usai misa, aku dan pacarku bermaksud berdoa rosario bersama di dalam gereja.. menikmati keheningan gereja dan menikmati suasana khidmat yang sudah tercipta.. tapi doa kami jadi terusik lantaran suara petugas gereja yang sibuk mengunci pintu-pintu gereja dan mematikan lampu. Mau tidak mau kami jadi terburu-buru mendaraskan doa salam maria agar doa kami cepat selesai. Agar kami cepat keluar dari gereja yang mau di kunci itu.
Rasanya seperti ”terusir” dari Rumah Tuhanku sendiri.. saat kami ingin duduk menikmati perjumpaan kami dengan Tuhan di RumahNya sendiri.. kami harus terburu-buru karna Rumahnya akan segera dikunci.. miris jg perasaan kami waktu itu. Pacarku sampai ngedumel sepanjang jalan...
Sejak kejadian itu, aku jadi memperhatikan kebiasaan di gereja-gereja saat selesai mengikuti misa terakhir. Dan ternyata ngga hanya di gereja tadi saja pintu-pintu langsung di tutup dan lampu dimatikan. Di paroki ku pun juga seperti itu.
Saat kemarin aku kembali melewati gereja itu, aku jadi teringat kembali masa-masa aku memperhatikan ”pintu gereja yang tertutup” itu..
Aku jadi bertanya-tanya... kenapa Gereja harus tertutup dan terkunci? Bukankah gereja itu adalah Rumah Tuhan, dimana kita sewaktu-waktu dapat datang kesana, sesuka hati kita untuk sekedar berjumpa dan menyapa Tuhan kita sendiri. Apa yang membuat gereja menjadi seperti ”rumah duniawi” yang harus ikut-ikutan dikunci agar tidak sembarang tamu bisa datang. Agar setiap tamu yang datang harus minta ijin dulu kepada si empunya rumah. Agar tidak ada pencuri yang datang dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah Tuhan kita itu Allah yang Mahabaik. Yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin datang menjumpainya. Lalu kenapa dikunci.. seperti seakan-akan kalau ketemu Tuhan itu harus ada jadwal khususnya..
Kenapa Rumah Tuhan di sini tidak seperti di luar sana seperti yg kulihat di tivi2, dimana selalu terbuka, hingga kapan saja kita mau datang berdoa kepadaNya dan menjumpaiNya, kita dapat melakukannya. Tidak harus menunggu dibukakan untuk kita.
Apakah pintu Rumah Tuhan akan selalu ”tertutup” buatku ketika malam-malam aku ingin datang mampir dan berlutut di depan altarNya.. bersujud dan berdoa padaNya??
090627
Menikmati Hidup untuk Saat Ini
090625
Masa lalu memang indah untuk di kenang
Tapi lebih baik lagi kita menyimpannya, dan memulai lembaran baru
Menggoreskan kenangan baru lagi di masa sekarang….
Masa depan adalah bagian dari impian..
Yang terpenting bagaimana proses kita mewujudkan impian itu di masa sekarang...
Siang ini aku menscanning ijazah dan transkrip kuliah ku.. Ku pikir aku perlu menyimpannya dalam bentuk softcopy
Sambil scanning, aku sambil melihat-lihat nilai-nilai ku semasa kuliah dulu
Hmmm... boleh berbangga hati juga atas apa yang telah aku peroleh.. Ngga mau sombong, tapi ternyata aku cuma nemuin satu nilai C diantara semua mata kuliah yg aku ambil. Hehe.. dan itu komputer grafis.. huh.. siapa itu dosennya? Aku belajar komputer grafis justru dari mas Kis si empunya digital printing di samping Untar sana...
Sudahlah tak usah membanggakan nilaiku yang toh sekarang juga ngga bisa kupakai tuk mencari sesuap nasi..
Dipikir-pikir... dulu aku (sedikit) menyesal.. karna masi lumayan malas kuliah dan mengerjakan tugas.. andai saja aku sedikit lebih rajin.. pasti aku akan bisa lulus dengan predikat cumlaude.. tapi toh.. sekarang pada kenyataannya, saat aku benar-benar terjun ke dunia kerja, nilai ku pun tidak ada artinya. Cumlaude pun tak bisa mengenyangkan perutku hanya bisa memuaskan egoku saja...Yang berarti justru bagaimana aku bisa menerapkan ilmuku sebaik-baiknya di dalam pekerjaanku...
Lagi-lagi..
Hidup itu terkadang dihiasi penyesalan.. andai saja aku begini.. pasti hasilnya akan begitu.. andai saja aku tidak melakukan ini.. pasti aku akan menjadi demikian..
Tak jarang juga kita hidup dengan terikat kenangan masa lalu, yang nampaknya lebih indah dari masa sekarang yang kita jalani... saat sekolah ternyata lebih enak.. kita bisa bebas nggak usah mikir yang rumit-rumit.. saat kuliah ternyata lebih enak.. kita punya sejuta waktu untuk mengeksplore diri kita lebih dalam lagi.. saat masih jomblo ternyata lebih enak kita punya banyak waktu untuk diri kita sendiri.. saat pacaran pun ternyata lebih enak.. ada yang memperhatikan dan menyayangi kita... kenapa kita ngga pernah berpikir.. saat sekaranglah yang paling enak.. kita bisa benar-benar menikmati hidup dan bersyukur betapa baiknya Tuhan.. kenapa kita malah justru berpikir saat sekarang lah saat yang paling susah.. paling berat.. hingga kita lupa bagaimana kita dikasihi Tuhan...
Masa depan juga ternyata tanpa kita sadari telah mengikat hidup kita.. kelak aku akan melakukan ini, melakukan itu.. berencana ini dan berencana itu.. terobsesi mewujudkan segala keinginan kita...entah bagaimana caranya
Tanpa kita sadari... kita tidak benar-benar hidup di masa sekarang... kita tidak benar-benar menikmati saat sekarang..
Kita tidak benar-benar menikmati saat sekarang kita menarik napas kita dan menghembuskannya lagi.. menikmati saat aku memainkan jemariku di keyboard untuk menuliskan ini..menikmati lagu yang mengalun di PC ku..
Dan tanpa kita sadari, masa-masa sekarang yang seharusnya kita nikmati sungguh-sungguh ternyata telah lewat dan berakhir.. dan yang ada hanya penyesalan.. kenapa aku tidak dapat menikmati saat masa itu tiba dengan sebaik-baiknya. Waktu tidak dapat diputar kembali.. dan tidak ada yang berpredikat ”selamanya” di dunia ini..
Kita tidak dapat bekerja selamanya.. kita tidak dapat bersenang-senang selamanya.. kita tidak dapat mencintai selamanya.. dan tentu saja kita tidak dapat hidup selamanya... suatu saat, apapun itu kita harus menghadapi akhir dari segala sesuatu...
Seperti lagu dari band kesukaanku.. judulnya ”akhirilah ini dengan indah” di salah satu syairnya mengatakan.. ”ketika selamanya pun harus berakhir, akhirilah ini dengan indah...” bahkan ”selamanya” pun akan berakhir juga.. maka inilah saatnya dimana kita menikmati setiap detik hidup kita saat ini.. bukan karena masa lalu kita dan bukan juga karena masa depan kita.. hanya saat ini.. hingga akhirnya saat ini pun harus berakhir dan digantikan dengan saat berikutnya, kita tidak akan menyesal karena saat ini telah berakhir.. bagaimana menjalani hidup ini... setiap tarikan napas kita nikmati keindahannya.. mensyukuri kenikmatan hidup dan membaginya ke orang-orang di sekitar kita..
Bahkan Tuhan Yesus pun mengajari kita untuk meminta rejeki pada hari ini.. hanya hari ini.. tak usah lah kita merisaukan hari esok.. dan tak perlu jugalah kita terbebani dengan masa lalu kita.. entah itu menyenangkan atau menyakitkan.. kita toh tak hidup dengan masa lalu.. kita hidup untuk masa sekarang... dan jangan sia-siakan lah masa sekarang itu..
Tidak perlu menunggu menjadi orang hebat dulu, kalau ingin membagi berkat dan kebahagiaan ke orang lain..
Hanya dengan menjadi diri sendiri dan membagi senyuman terbaikmu saja.. kau sudah mencerahkan hari orang lain..
Nikmatilah setiap detik.. setiap waktu hidupmu saat ini.. karena waktu tidak dapat berputar kembali.. dan jika saat ini telah lewat.. kita tidak akan menyesalinya... karena kita telah melewatinya dengan indah... Tuhan Memberkati..!!
Entah Mana yang Baik..
Pagi ini saat masi bermobil ke kantor.. aku tergelitik akan pembicaraan bapakku dan supirnya di bangku depan.. mataku terpejam sedang berusaha melanjutkan tidur pagiku yang terganggu. Sembari menunggu lelap membawaku ke alam mimpi.. aku jadi tertarik mendengarkan pembicaraan bapak dan supirnya..
Mobil kita lagi berhenti di lampu merah buncit tepatnya. Dan di samping kiri kami pemandangan (entah aku bisa sebut itu apa) empang, rawa, atau genangan banjir yang ngga pernah surut.. yang penuh ilalang dan sampah...
Bapakku melihat ada burung (entah apa namanya) bermain-main di tempat.. sebut saja rawa mini... itu..
Dan menunjukkannya ke pak supir.. ”Di.. ada burung-burung tuh.. lihat gak?”
Si supir menjawab.. ”Iya, Pak..”
“Sekarang udah jarang ya bisa lihat burung begitu.. jenis apa itu? Kuntul?”
Si supir diam saja
”Dulu di Jawa, di alun2 yang ada pohon beringinnya, kalo pagi atau sore itu pohon jadi putih semua.. sekarang udah ngga lagi..” Bapakku melanjutkan, ”Di sawah-sawah juga dulu banyak burung.. ada kuntul putih, kuntul hitam...”
telingaku jadi gatal mendengar ucapan bapakku..
ya.. aku ingat alun-alun kota blitar beberapa tahun silam saat aku ke sana.
Aku selalu suka melewati daerah itu.. pohon beringin itu selalu penuh dihinggapi burung-burung putih yang ngga tau apa namanya.. mungkin itu yang dimaksud bapak kuntul putih.. seperti bangau kecil, berkaki panjang dan berparuh panjang... (wah.. mesti lebih belajar banyak jenis2 burung dari teman-teman JGM nih. Hehehe..)
Mereka bersarang di pohon beringin alun-alun kota.. setiap pagi mereka terbang mencari makan dan kembali saat sore hari.. waktu kecil aku menyebutnya ”pohon burung” karna banyak sekali yang hinggap di sana.. makin lama.. semakin aku besar.. burung-burung yang hinggap dan bersarang di ”pohon burung” itu memang semakin berkurang.. nggak tau deh sekarang gimana... dah lama banget aku nggak pulang k blitar..
Jaman sekarang memang sudah banyak yang berubah.. pertumbuhan manusia dan segala kebutuhannya semakin besar..lahan-lahan kosong, yang dulu mungkin tempat tinggal para binatang-binatang itu sekarang sudah disulap jadi perumahan, pusat perbelanjaan, dan berbagai bangunan penunjang kebutuhan manusia lainnya... bahkan sawah pun kadang ikut di gusur...
Kalau dulu burung-burung itu bisa bersarang dimana saja mereka suka.. sekarang mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan alam yang tak lagi bersahabat dengan mereka.. hijrah ke tempat-tempat yang masih alami (yang sudah sangat jarang) atau ”terpaksa” nyarang di atap rumah orang.. sukur-sukur kalo selamet ngga dikandangin atau malah di goreng sama yang punya atap rumah.. hahaha...
Kalau dulu di sawah.. burung-burung yang dianggap sebagai ”hama” yang merugikan petani yang sudah hampir memanen padinya, paling-paling hanya ”digusahi” dengan bunyi-bunyian atau alat-alat tradisional yang sederhana, sekarang mungkin sudah ditangkapi.. bahkan ditembaki..dijadikan santapan sehari-hari..
Mungkin sekarang melihat pemandangan burung-burung beterbangan bebas sudah jadi kesempatan langka buat kita..
Makanya aku jadi bertanya-tanya.. manakah yang lebih baik.... sibuk menggusahi burung yang jadi hama di jaman dulu.. ataukah sekarang.. nyaris ngga bisa lihat burung lagi??
Aku jadi teringat pengalaman pertamaku ikut bird watching di pulau rambut yang dijadikan suaka alam buat para burung-burung bersama teman-teman dari JGM. Hamparan hutan dengan berbagai jenis burung yang hinggap dan bersarang di sana membuatku merasa.. gila.. inilah surganya para burung... tapi jg di sana ngga terlalu banyak burung yang bisa aku harapkan untuk kulihat.. mungkin (sekali lagi) karna habitat tempat mereka tinggal sudah mulai punah.. tergusur oleh populasi manusia dan segala kebutuhan egoisnya..
Yaah.. semoga.. dari segelintir kita yang masih peduli dengan alam.. bisa sedikit-sedikit membantu menyelamatkan mereka dari kepunahan.. jangan sampai kelak anak cucu kita ngga lagi bisa mengenal berbagai jenis binatang dan burung-burung karena telah punah... dan mereka kelak cuma disuguhi gambar-gambar di buku ensiklopedi atau dari internet.. jangan sampai deh...
Thanks God…Im coming home…
Hari ini ku terbangun dengan sensasi yang masih ada
Aku pulang...
Aku kembali lagi merasakan nyamannya tempat tidurku
Kembali lagi merasakan hangatnya tidur di balik selimut
Tapi sepertinya rasa itu tidak pernah hilang
Ini memang bukan pengalaman pertama
Tapi ini tetap menjadi pengalaman baru
Melakukan perjalanan panjang naik gunung yang sama
Tapi dengan teman-teman yang nyaris baru semuanya
Aku jadi semakin bisa merasakan
Mana teman terbaik dan mana yang bukan
Jarang ada yang berani keluar dari kenyamanan
Dan merasakan sensasi yang menjalar di setiap langkah kita mendaki
Dan menapak turun
Banyak yang bertanya-tanya padaku
Apa sih yang bikin lo mau naik gunung??
Berjalan jauh dengan medan yang nggak gampang
(sampai sekarang masi berharap ada lift di sana)
haha...
kaki sakit.. bahu sakit.. pinggang sakit..
dan sekarang jg baru aku ngerasain pantat sakit
ngga tau dah berapa kali aku terjatuh
dan selalu ingin terus bangun lagi
ngga terhitung berapa kali aku terantuk sana sini
atau napas yang dah tinggal senen-kamis
atau juga kaki yang kaku ngga bisa digerakkan dengan lincah
atau kepala pusing hebat dan mulai ngga bisa mikir
kaki lecet-lecet dan memar sana sini
kuku patah-patah...
menggigil kedinginan, kelaparan, menahan sakit perut...
apa yang bagus dari itu semua???
Dan hingga sampai sekarang badan rasanya ”nikmat”
Pegal semuaa..
Apa yang aku cari??
Banyak...
Aku mencari tantangan hidup
Aku mencari sahabat sejati diantara sahabat-sahabat yang ada
Aku mencari sahabat sejati di dalam diriku sendiri..
(layakkah aku disebut seorang sahabat??)
Aku mencari ciptaan Tuhan yang indah
Yang tersembunyi dan butuh pengorbanan besar untuk melihatnya
Dan yang terutama...
Aku mencari Tuhan di sana
Entah kenapa, saat kita merasa terlalu lelah dan capai
Saat kita merasa di titik ambang batas kekuatan kita
Aku merasa lebih dekat denganNYA
Aku.. ngga tau apa yg lebih aku cari
Mungkin perjalanan kali ini aku mencari jawabanNYA
Atas segala pertanyaan-pertanyaan yg telah kuutarakan di bawah sini
Mungkin saat di atas sana aku bisa lebih mendengar suaraNYA
Duduk di lembah surya kencana
Dikelilingi padang bunga edelweis yang nyaris mekar
Sambil ditiupi angin semilir yang dingin
Hening..
Tuhan aku datang...
Di sini..
Dengarlah segala doaku..
Terima kasih Tuhan..
Aku sudah pulang..
Dan kan kutunggu jawabMU
Aku pulang...
Aku kembali lagi merasakan nyamannya tempat tidurku
Kembali lagi merasakan hangatnya tidur di balik selimut
Tapi sepertinya rasa itu tidak pernah hilang
Ini memang bukan pengalaman pertama
Tapi ini tetap menjadi pengalaman baru
Melakukan perjalanan panjang naik gunung yang sama
Tapi dengan teman-teman yang nyaris baru semuanya
Aku jadi semakin bisa merasakan
Mana teman terbaik dan mana yang bukan
Jarang ada yang berani keluar dari kenyamanan
Dan merasakan sensasi yang menjalar di setiap langkah kita mendaki
Dan menapak turun
Banyak yang bertanya-tanya padaku
Apa sih yang bikin lo mau naik gunung??
Berjalan jauh dengan medan yang nggak gampang
(sampai sekarang masi berharap ada lift di sana)
haha...
kaki sakit.. bahu sakit.. pinggang sakit..
dan sekarang jg baru aku ngerasain pantat sakit
ngga tau dah berapa kali aku terjatuh
dan selalu ingin terus bangun lagi
ngga terhitung berapa kali aku terantuk sana sini
atau napas yang dah tinggal senen-kamis
atau juga kaki yang kaku ngga bisa digerakkan dengan lincah
atau kepala pusing hebat dan mulai ngga bisa mikir
kaki lecet-lecet dan memar sana sini
kuku patah-patah...
menggigil kedinginan, kelaparan, menahan sakit perut...
apa yang bagus dari itu semua???
Dan hingga sampai sekarang badan rasanya ”nikmat”
Pegal semuaa..
Apa yang aku cari??
Banyak...
Aku mencari tantangan hidup
Aku mencari sahabat sejati diantara sahabat-sahabat yang ada
Aku mencari sahabat sejati di dalam diriku sendiri..
(layakkah aku disebut seorang sahabat??)
Aku mencari ciptaan Tuhan yang indah
Yang tersembunyi dan butuh pengorbanan besar untuk melihatnya
Dan yang terutama...
Aku mencari Tuhan di sana
Entah kenapa, saat kita merasa terlalu lelah dan capai
Saat kita merasa di titik ambang batas kekuatan kita
Aku merasa lebih dekat denganNYA
Aku.. ngga tau apa yg lebih aku cari
Mungkin perjalanan kali ini aku mencari jawabanNYA
Atas segala pertanyaan-pertanyaan yg telah kuutarakan di bawah sini
Mungkin saat di atas sana aku bisa lebih mendengar suaraNYA
Duduk di lembah surya kencana
Dikelilingi padang bunga edelweis yang nyaris mekar
Sambil ditiupi angin semilir yang dingin
Hening..
Tuhan aku datang...
Di sini..
Dengarlah segala doaku..
Terima kasih Tuhan..
Aku sudah pulang..
Dan kan kutunggu jawabMU
Sesaat sebelum mendaki
Limajuniduaribusembilan
akhirnya semua akan tiba kembali pada masa ini
kepada saat-saat aku kembali menikmati pangkuan lembahnya
merasakan kembali desir anginnya berbisik
menelusup dalam setiap jengkal tubuhku
panggilannya adalah panggilan alam
walau kini sudah bukan yang pertama
tetapi bisikannya tetap tak akan pernah sama
selalu menggetarkan sukmaku
senja ini ketika akhirnya aku beranjak dari dunia
tak sabar menantikan hangat pelukan hutannya
di dalam setiap jengkal langkah yang kelak kubuat
dan hembusan napas yang kubuang
aku kembali dalam sejuta mimpi
dan hasrat untuk mengadu di pangkuannya
menemukan dirimu dalam hening di lembah surya kencana
tempat aku mengukir kenangan
dan tempat aku merajut harapan
dan taman edelweiss itu lah yang kelak menjadi saksi
bahwa aku pernah ada di sana
dan kelak akan selalu menjumpainya di sana
merasakan debaran yang tak pernah menghilang
hasrat untuk selalu menjawab setiap panggilannya
tunggu aku
aku kan datang kembali...
akhirnya semua akan tiba kembali pada masa ini
kepada saat-saat aku kembali menikmati pangkuan lembahnya
merasakan kembali desir anginnya berbisik
menelusup dalam setiap jengkal tubuhku
panggilannya adalah panggilan alam
walau kini sudah bukan yang pertama
tetapi bisikannya tetap tak akan pernah sama
selalu menggetarkan sukmaku
senja ini ketika akhirnya aku beranjak dari dunia
tak sabar menantikan hangat pelukan hutannya
di dalam setiap jengkal langkah yang kelak kubuat
dan hembusan napas yang kubuang
aku kembali dalam sejuta mimpi
dan hasrat untuk mengadu di pangkuannya
menemukan dirimu dalam hening di lembah surya kencana
tempat aku mengukir kenangan
dan tempat aku merajut harapan
dan taman edelweiss itu lah yang kelak menjadi saksi
bahwa aku pernah ada di sana
dan kelak akan selalu menjumpainya di sana
merasakan debaran yang tak pernah menghilang
hasrat untuk selalu menjawab setiap panggilannya
tunggu aku
aku kan datang kembali...
Tigabelasmeiduaribusembilan
Langit mendung menggayut
Resah dan gundah menghias mimpiku
Tatkala ku tau
Masa ini ternyata harus datang juga
Berharap ini semua hanyalah bunga tidur saja
Dan kelak, saat ku terbangun
Semuanya nampak baik-baik saja
Tapi ini semua nyata
Tuhan sedang mengasah hatiku kembali
Ku harus merasakan ini semua
Pahit...
Kita...
Aku dan kau..
Terkadang ku merasa begitu pedih
Menyesakkan hatiku
Rasanya menghimpit erat dadaku
Tapi kala kuingat pada Nya
Ku tahu Dia selalu menuntun kita
Dan tak sekalipun meninggalkan kita berdua
Tak akan hilang rasa itu
Tak akan ada yang bisa menggantikannya
Untuk saat ini, hingga ku tak tau kapan
Belahan jiwaku
Separuh hidupku...
Aku tak tau
Apakah itu engkau atau bukan
Yang ku tahu
Kan selalu kupertahankan rasa ini
Ku harus sadari
JalanNya terkadang tak kumengerti
Tapi pastilah baik adanya
Dia lebih mengerti diriku
Lebih daripada aku sendiri
Ia hanya butuh ku percaya
Bahwa Ia sedang berkarya dalam hidupku
Merajutkan rencanaNya dalam hidup kita
Kini..
Setelah semuanya berakhir
Ku tetap bersujud dihadapNya
memohon diturunkan mukjizatNya
karna ku percaya
kelak masa itu kan datang
saat kita kan dapat bersama kembali
ku tetap kan menunggu jawabNya
kan tetap ku cari jalanNya
yang kutau kan terbaik untuk kita
dan...
sebelum semuanya tiba
kau tetaplah lelaki terindah dalam hidupku...
Dan akan selalu begitu...
Resah dan gundah menghias mimpiku
Tatkala ku tau
Masa ini ternyata harus datang juga
Berharap ini semua hanyalah bunga tidur saja
Dan kelak, saat ku terbangun
Semuanya nampak baik-baik saja
Tapi ini semua nyata
Tuhan sedang mengasah hatiku kembali
Ku harus merasakan ini semua
Pahit...
Kita...
Aku dan kau..
Terkadang ku merasa begitu pedih
Menyesakkan hatiku
Rasanya menghimpit erat dadaku
Tapi kala kuingat pada Nya
Ku tahu Dia selalu menuntun kita
Dan tak sekalipun meninggalkan kita berdua
Tak akan hilang rasa itu
Tak akan ada yang bisa menggantikannya
Untuk saat ini, hingga ku tak tau kapan
Belahan jiwaku
Separuh hidupku...
Aku tak tau
Apakah itu engkau atau bukan
Yang ku tahu
Kan selalu kupertahankan rasa ini
Ku harus sadari
JalanNya terkadang tak kumengerti
Tapi pastilah baik adanya
Dia lebih mengerti diriku
Lebih daripada aku sendiri
Ia hanya butuh ku percaya
Bahwa Ia sedang berkarya dalam hidupku
Merajutkan rencanaNya dalam hidup kita
Kini..
Setelah semuanya berakhir
Ku tetap bersujud dihadapNya
memohon diturunkan mukjizatNya
karna ku percaya
kelak masa itu kan datang
saat kita kan dapat bersama kembali
ku tetap kan menunggu jawabNya
kan tetap ku cari jalanNya
yang kutau kan terbaik untuk kita
dan...
sebelum semuanya tiba
kau tetaplah lelaki terindah dalam hidupku...
Dan akan selalu begitu...
May I Cry on Your Shoulder???
Tuhan…
Kau tahu isi hatiku.. dan Kau pun tahu kesusahanku saat ini
Aku merasa tak punya daya apa-apa...
Begitu lemahnya hingga sepertinya kehilangan tenaga
Begitu resahnya sehingga seperti kehilangan asa
Tuhan...
Kau tahu apa yang mengganjal di hatiku
Dan Kau pun tahu.. malam-malamku tlah kuhabiskan dengan bersimpuh di hadapanMu
Bersujud memohon Kau angkat semua bebanku ini
Aku sendiri ya Tuhan...
Dan aku tau... aku tak akan kuat tanpaMu dan para malaikatMu
Aku butuh tempat untuk bersandar dan mengadu
Karna ku tahu, hanya Kaulah tempat ku menyandarkan kepalaku,
Menangis dan menumpahkan segala isi hatiku...
Tuhan...
Bolehkah sekali lagi.. malam ini.. aku menangis lagi di bahuMu
Agar ku dapat merasa tenang
Walaupun aku tahu, Kau tak suka aku menjadi cengeng dan lemah
Dan walau ku tahu Kau ingin menjadikanku wanita yang kuat dan hebat
Tapi ijinkanlah aku malam ini kembali
Menyerah dalam segala pertahananku
Dan kembali menangis di bahuMu, ya Tuhan...
Tuhan..
Ke dalam tanganMu kuserahkan segala hidupku
Segala bebanku..
Segala permohonanku..
Ku percaya, Kau memberikanku segala yang terbaik...
Kau tahu isi hatiku.. dan Kau pun tahu kesusahanku saat ini
Aku merasa tak punya daya apa-apa...
Begitu lemahnya hingga sepertinya kehilangan tenaga
Begitu resahnya sehingga seperti kehilangan asa
Tuhan...
Kau tahu apa yang mengganjal di hatiku
Dan Kau pun tahu.. malam-malamku tlah kuhabiskan dengan bersimpuh di hadapanMu
Bersujud memohon Kau angkat semua bebanku ini
Aku sendiri ya Tuhan...
Dan aku tau... aku tak akan kuat tanpaMu dan para malaikatMu
Aku butuh tempat untuk bersandar dan mengadu
Karna ku tahu, hanya Kaulah tempat ku menyandarkan kepalaku,
Menangis dan menumpahkan segala isi hatiku...
Tuhan...
Bolehkah sekali lagi.. malam ini.. aku menangis lagi di bahuMu
Agar ku dapat merasa tenang
Walaupun aku tahu, Kau tak suka aku menjadi cengeng dan lemah
Dan walau ku tahu Kau ingin menjadikanku wanita yang kuat dan hebat
Tapi ijinkanlah aku malam ini kembali
Menyerah dalam segala pertahananku
Dan kembali menangis di bahuMu, ya Tuhan...
Tuhan..
Ke dalam tanganMu kuserahkan segala hidupku
Segala bebanku..
Segala permohonanku..
Ku percaya, Kau memberikanku segala yang terbaik...
Sabtu, 24 Oktober 2009
Just “Bee” Myself
Kalau dalam bahasa Indonesianya menjadi diriku sendiri… tp sengaja kupelesetkan menjadi “bee” yang artinya “lebah”…
Lebah itu adalah binatang yang rajin bekerja, bergotongroyong dan mampu membuat keajaiban. Dia tidak akan menyerang kalau tidak diusik karena sekali dia menyengat, maka ia akan mati..
Tp dia akan menyengat jika dunia nya diganggu.
Mungkin itu yang aku rasakan beberapa hari ini. Banyak orang yang bilang kalau aku termasuk tipe orang yang easy going. Tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang ada di sekitar ku. Tak terlalu pusing jg dengan hal-hal remeh. Tapi ngga tau kenapa belakangan ini rasanya ketenanganku terusik. Jadi gampang naik darah dan bersikap ketus ke orang lain. Lebih mudah menancapkan sengatku ke orang lain. Kadang kalau emang udah kebangetan ya akhirnya diam...
Sminggu terakhir ini aku memutuskan sesuatu yang nampaknya besar dalam hidupku. Menutup buku kehidupanku yang lama, dan memulai lembaran yang baru. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi biarlah itu hanya menjadi kenangan saja dan pembelajaran.. sekarang yang ada dihadapan ku adalah masa depan. Dan itulah yang harus aku perjuangkan sekarang. Masa depanku. Hidup berdasarkan pilihanku sendiri. Hidup sebagai diriku sendiri, bukan berdasarkan citra diri dari orang lain. Karena aku hidup berdasarkan citra Bapaku.. bukan citra manusia...
Banyak teman yang bilang aku menjadi lebih ceria saat ini. Lebih terlihat bebas dan menjalani hidup dengan ringan. Mungkin karena aku sudah banyak belajar buat menjadi manusia yang sumeleh, nrimo ing pangdum... Tuhan yang Maha Besar di atas sana telah menyulam kehidupanku dengan begitu indahnya. Dan aku yang dibawah sini hanya melihat benang ruwetnya saja. Yang kuperlukan hanyalah percaya, bahwa Tuhan sedang membentuk diriku dengan keadaan yang ada pada diriku saat ini. Bersyukur atas segala sesuatu, tapi juga bukan berarti akhirnya nrimo aja dan ngga berusaha memperjuangkan hidupku sendiri. Tidak. Baru kali ini aku merasakan benar-benar menjalani hidupku sendiri. Belajar memperkaya diri dan belajar untuk menjadi lebih bijak menjalani hidup.
This is my own life and my life is always beautiful.... apapun itu dan bagaimanapun keadaannya. Beberapa hari lalu aku sempat berbicara panjang lebar dengan seorang teman. Bertukar cerita tentang perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan aku, pengalaman hidupku belum ada apa-apanya. Tapi entah kenapa, saat itu, saat dia lagi down dan aku hanya berusaha membuat dia kembali mewarnai hidupnya dengan warna-warna yang ceria, tidak lagi hanya abu-abu dan ungu, dan kemudian dia berkata, untuk saat ini kau adalah malaikatku..
Aku jadi merasa tersentuh. Sekitar setahun lalu aku menemukan istilah invisible angel. Aku menemukan kehadiran malaikat dalam diri salah seorang sahabatku di kala aku sedang kesusahan. Dan mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan hatinya dengan menjadi malaikat bagi orang lain lagi. "Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."
Ya… sahabatku memang benar-benar membantuku bangkit saat sayapku lupa bagaimana caranya untuk terbang. Dan aku percaya, suatu saat nanti, aku akan terbang benar-benar mengepakkan sayapku setinggi-tingginya…
Saat memutuskan untuk menjadi diriku sendiri, menyengat duniaku sendiri dengan sesuatu yang tidak biasa dan sesuatu yang lebih berguna buat orang lain di sekitarku, ada yang nyeletuk soal gaya rambutku. Dah bertahun-tahun lebih sejak kuliah, aku selalu memelihara rambutku gondrong. Dan dia nyeletuk bilang gimana tampangku kalau rambutku pendek macam indi barends… hehehe.. jadi tiba-tiba inget dengan salah satu niatku yang telah lama terkubur. Udah luama banget aku jadi menutup keinginanku yang satu itu.. punya rambut cepak. Alasannya.. you know why lah.. yang dulu lebih suka dengan cewek yang feminin, sedangkan aku, udah dibedakin dan didandanin kayak apaan juga, tomboynya juga masi gabisa ilang.
Aku jadi kepikiran terus buat potong pendek rambutku. Tp ingat dua minggu berturut-turut temanku nikahan. Dan nggak mungkin juga dong kebayaan tapi rambutku bondol. Maka, menahan-nahan nafsu yang satu itu, hingga jumat malam kemarin aku beneran nekat membabat habis rambutku. Mbak yang motong sampai berulang kali meyakinkan tekadku kalau aku bener-bener nggak bercanda. Sambil tertawa aku meyakinkan dia.
Lagi buang sial, Mbak? Pacarnya apa nggak marah, Mbak? Mamanya di rumah apa nggak marah, Mbak? Apa ada yg nyuruh potong pendek ya??
Dan siyalnya, si mbak yang motong rambutku seolah bisa membaca pikiranku semuanya. Tebakannya semua betul, walau aku ngga mau mengakuinya.. hahaha..
Tidak.. aku nggak lagi benar-benar membuang sial... aku hanya lagi benar-benar ingin menutup buku kehidupanku yang lama. Dan mulai membuka lembaran baru dalam kehidupanku. Dimulai dari melakukan sesuatu yang begitu aku inginkan sejak dulu, yang sudah terpendam dan kini muncul lagi ke permukaan. Potong rambut cepak...
Tidak.. pacarku juga nggak akan marah. Pacarku sekarang hanyalah eosku tercinta yang sekarang juga lagi sakit-sakitan. Dia ngga terlalu peduli dengan model rambutku kok. Hehehe..
Tidak.. mamaku juga nggak akan marah. Dari dulu juga dia lebih senang rambutku cepak. Rambutnya dia jg pendek terus. Papaku? Sama juga.
Jadi.. ngga ada alasan untuk tidak menahan tekadku itu.
Helai demi helai rambutku dipangkas habis dengan cepat dan lihai oleh si mbak. Aku memandangi rambut-rambut yang berjatuhan itu dengan hati semakin ringan. Setiap helai seolah membawa sehelai beban hidupku yang lalu. Dan semakin pendek, semakin ringan hati dan pundakku. Seolah beban hidupku sudah kuletakan di sudut sana. Sudah selesai.
Aku menjadi vivi-jungle-emping-jengkelit-jollyta-silvia-dan entah apapun nama panggilanku-yang baru. Yang lebih hidup. Yang lebih ceria. Yang lebih memandang positif hidup ini. Hidupku indah. Hidupku berwarna. Hanya jika aku dapat bersyukur dan dapat mengisinya dengan warna-warna yang indah...
Lebah itu adalah binatang yang rajin bekerja, bergotongroyong dan mampu membuat keajaiban. Dia tidak akan menyerang kalau tidak diusik karena sekali dia menyengat, maka ia akan mati..
Tp dia akan menyengat jika dunia nya diganggu.
Mungkin itu yang aku rasakan beberapa hari ini. Banyak orang yang bilang kalau aku termasuk tipe orang yang easy going. Tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang ada di sekitar ku. Tak terlalu pusing jg dengan hal-hal remeh. Tapi ngga tau kenapa belakangan ini rasanya ketenanganku terusik. Jadi gampang naik darah dan bersikap ketus ke orang lain. Lebih mudah menancapkan sengatku ke orang lain. Kadang kalau emang udah kebangetan ya akhirnya diam...
Sminggu terakhir ini aku memutuskan sesuatu yang nampaknya besar dalam hidupku. Menutup buku kehidupanku yang lama, dan memulai lembaran yang baru. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi biarlah itu hanya menjadi kenangan saja dan pembelajaran.. sekarang yang ada dihadapan ku adalah masa depan. Dan itulah yang harus aku perjuangkan sekarang. Masa depanku. Hidup berdasarkan pilihanku sendiri. Hidup sebagai diriku sendiri, bukan berdasarkan citra diri dari orang lain. Karena aku hidup berdasarkan citra Bapaku.. bukan citra manusia...
Banyak teman yang bilang aku menjadi lebih ceria saat ini. Lebih terlihat bebas dan menjalani hidup dengan ringan. Mungkin karena aku sudah banyak belajar buat menjadi manusia yang sumeleh, nrimo ing pangdum... Tuhan yang Maha Besar di atas sana telah menyulam kehidupanku dengan begitu indahnya. Dan aku yang dibawah sini hanya melihat benang ruwetnya saja. Yang kuperlukan hanyalah percaya, bahwa Tuhan sedang membentuk diriku dengan keadaan yang ada pada diriku saat ini. Bersyukur atas segala sesuatu, tapi juga bukan berarti akhirnya nrimo aja dan ngga berusaha memperjuangkan hidupku sendiri. Tidak. Baru kali ini aku merasakan benar-benar menjalani hidupku sendiri. Belajar memperkaya diri dan belajar untuk menjadi lebih bijak menjalani hidup.
This is my own life and my life is always beautiful.... apapun itu dan bagaimanapun keadaannya. Beberapa hari lalu aku sempat berbicara panjang lebar dengan seorang teman. Bertukar cerita tentang perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan aku, pengalaman hidupku belum ada apa-apanya. Tapi entah kenapa, saat itu, saat dia lagi down dan aku hanya berusaha membuat dia kembali mewarnai hidupnya dengan warna-warna yang ceria, tidak lagi hanya abu-abu dan ungu, dan kemudian dia berkata, untuk saat ini kau adalah malaikatku..
Aku jadi merasa tersentuh. Sekitar setahun lalu aku menemukan istilah invisible angel. Aku menemukan kehadiran malaikat dalam diri salah seorang sahabatku di kala aku sedang kesusahan. Dan mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan hatinya dengan menjadi malaikat bagi orang lain lagi. "Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."
Ya… sahabatku memang benar-benar membantuku bangkit saat sayapku lupa bagaimana caranya untuk terbang. Dan aku percaya, suatu saat nanti, aku akan terbang benar-benar mengepakkan sayapku setinggi-tingginya…
Saat memutuskan untuk menjadi diriku sendiri, menyengat duniaku sendiri dengan sesuatu yang tidak biasa dan sesuatu yang lebih berguna buat orang lain di sekitarku, ada yang nyeletuk soal gaya rambutku. Dah bertahun-tahun lebih sejak kuliah, aku selalu memelihara rambutku gondrong. Dan dia nyeletuk bilang gimana tampangku kalau rambutku pendek macam indi barends… hehehe.. jadi tiba-tiba inget dengan salah satu niatku yang telah lama terkubur. Udah luama banget aku jadi menutup keinginanku yang satu itu.. punya rambut cepak. Alasannya.. you know why lah.. yang dulu lebih suka dengan cewek yang feminin, sedangkan aku, udah dibedakin dan didandanin kayak apaan juga, tomboynya juga masi gabisa ilang.
Aku jadi kepikiran terus buat potong pendek rambutku. Tp ingat dua minggu berturut-turut temanku nikahan. Dan nggak mungkin juga dong kebayaan tapi rambutku bondol. Maka, menahan-nahan nafsu yang satu itu, hingga jumat malam kemarin aku beneran nekat membabat habis rambutku. Mbak yang motong sampai berulang kali meyakinkan tekadku kalau aku bener-bener nggak bercanda. Sambil tertawa aku meyakinkan dia.
Lagi buang sial, Mbak? Pacarnya apa nggak marah, Mbak? Mamanya di rumah apa nggak marah, Mbak? Apa ada yg nyuruh potong pendek ya??
Dan siyalnya, si mbak yang motong rambutku seolah bisa membaca pikiranku semuanya. Tebakannya semua betul, walau aku ngga mau mengakuinya.. hahaha..
Tidak.. aku nggak lagi benar-benar membuang sial... aku hanya lagi benar-benar ingin menutup buku kehidupanku yang lama. Dan mulai membuka lembaran baru dalam kehidupanku. Dimulai dari melakukan sesuatu yang begitu aku inginkan sejak dulu, yang sudah terpendam dan kini muncul lagi ke permukaan. Potong rambut cepak...
Tidak.. pacarku juga nggak akan marah. Pacarku sekarang hanyalah eosku tercinta yang sekarang juga lagi sakit-sakitan. Dia ngga terlalu peduli dengan model rambutku kok. Hehehe..
Tidak.. mamaku juga nggak akan marah. Dari dulu juga dia lebih senang rambutku cepak. Rambutnya dia jg pendek terus. Papaku? Sama juga.
Jadi.. ngga ada alasan untuk tidak menahan tekadku itu.
Helai demi helai rambutku dipangkas habis dengan cepat dan lihai oleh si mbak. Aku memandangi rambut-rambut yang berjatuhan itu dengan hati semakin ringan. Setiap helai seolah membawa sehelai beban hidupku yang lalu. Dan semakin pendek, semakin ringan hati dan pundakku. Seolah beban hidupku sudah kuletakan di sudut sana. Sudah selesai.
Aku menjadi vivi-jungle-emping-jengkelit-jollyta-silvia-dan entah apapun nama panggilanku-yang baru. Yang lebih hidup. Yang lebih ceria. Yang lebih memandang positif hidup ini. Hidupku indah. Hidupku berwarna. Hanya jika aku dapat bersyukur dan dapat mengisinya dengan warna-warna yang indah...
Kamis, 24 September 2009
Ciremai, Tempat Ku Bertanya Tentang Hidup
Catatan Perjalanan Gunung Ciremai, 4-6 September 2009
Sabtu, 5 September 2009
Udara dingin yang menusuk membangunkanku dari peraduan yang ala kadarnya. Ternyata yang lain sudah pada bangun. Badan ini rasanya masih remuk redam. Mengantuk yang pasti, setelah semalam baru mendarat di stasiun Cirebon jam 1, tempat Mbahto menunggu aku, arni dan maria di bangku-bangku kosong stasiun Cirebon.
Iswanto yang menemani kami bertiga melanjutkan perjalanan di dalam perut Progo, hingga ke jogja.. Makasih ya Is, kamu dah nemeni tiga dara manis ini di dalam sesaknya Progo yang masih berbudaya...
Teman-teman sudah mulai berbenah. Aku juga turut berbenah. Saat selesai, mbahto masih saja hilang. Ternyata berburu sunrise yang tak terlalu nampak. Mushala, basecamp Linggajati tempat kami menginap kami tinggalkan seperti saat kami datang. Menunggu sarapan yang hanya dengan telor ceplok matang. Agak kesiangan juga kami berangkat. Apalagi, lagi-lagi nunggu mbahto yang kelamaan setoran..
Jam7 kita start dari basecamp linggajati, setelah tentu saja puas foto-foto ber6: aku, maria, arnie, peci, dody dan mbahto..
ktp peci ditinggal di basecamp sebagai jaminan karena ngga ada yang jaga. Jalur menuju pos pertama adalah jalan aspal dan perkebunan penduduk yang dihiasi jalanan berbatu. Nampaknya hanya kita berenam saja yang mendaki di bulan puasa ini.
Pos Pertama: Cibunar. Tempat terakhir terdapat mata air. Karena hingga puncak nanti kita tak akan menemukan mata air lainnya. Beristirahat sebentar d sebuah gubuk, bagi-bagi logistik dan menunggu peci packing ulang, lalu perjalanan dilanjutkan.
Debu halus dan teriknya matahari, buah-buah dari musim kemarau beterbangan mengiringi langkah kami berenam, hingga akhirnya kami benar-benar memasuki hutannya...
Tanah ciremai memang mengandung lem. Berbahaya bila diduduki atau ditiduri. Maka akan sulit sekali bangunnya. Dan kami berenam berjalan memang seenak jiwa dan sesuka hati... santai dan terlalu banyak istirahatnya. Pos demi pos kita lalui.. condang amis.. kuburan kuda...
Selepas kuburan kuda, tanjakan ciremai makin menggoda. Inilah dia keeksotisan gunung ciremai
Melewati hutannya, hanya kami berenam, dengan ditemani burung-burung dan penghuni hutan lainnya
Berjalan, mendaki, bercanda, bernyanyi... melewati pangalap..
Keadaan cuaca sejak melewati kuburan kuda memang selalu mendung. Agak takut juga aku kalau kena hujan nantinya. Tp nyanyian kebangsaan selalu kunyanyikan kala matahari tak nampak sinarnya..
Srengenge nyunar kanthi mulya, angine midhit klawan rena... manuke ngoceh ono ing wit-witan.. kewane nyenggut ono ing pasuketan..Makan siang pun dibuat ala kadarnya dengan mie instan dan nasi yang kita bungkus dari basecamp tadi.
Sempat tidur siang juga kita entah di titik mana.. sembari menunggu mbahto, setelah pohon-pohon tumbang selepas kuburan kuda
Yang ada pun semua pada tidur, dan hanya aku dan mbahto yang masih terjaga, sibuk memperdebatkan apakah lintah bisa dimakan atau nggak dan perdebatan tak bermutu lainnya. Mungkin karena lapar, makanya pikiran jg jadi kacau.
Matahari makin turun ke barat dan malam pun akan segera datang. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain kita berenam. Catatan dari sabar tentang pos-pos di ciremai lupa diprint d kantor, yang ada catatan perjalanan dari orang hasil search d google. Tanjakan seruni sudah lewat.. berarti sesudah ini ada tanjakan Bapatere, Batu Lingga, Sangga Buana 1-2 kemudian Pengasinan...
Tak ada info kita ada di ketinggian berapa. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jalan juga sudah makin kepayahan. Mulai merapat melalui setiap tapak demi tapak.. arnie, maria, dody, mbahto, aku dan peci..
Selepas maghrib, setelah melewati tanjakan bapa tere akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Mencari tempat datar yang ternyata.... tempat.. ehem..
Sampai di tempat istirahat, aku langsung tewas tak terkira. Tidur beralaskan dedaunan kering, hanya pake jaket dan selimutan ponco. Sudah ngga jelas lagi rupaku. Bangun tidur, tidur lagi.. bangun lagi tidur lagi.. sampai akhirnya jam 10 malam tiba.. aku dan peci akhirnya benar-benar terbangun. Yang lainnya sudah pada duduk manis menghadap api sambil ngobrol nggak jelas. Berenam duduk berimpitan, saling menghangatkan dan saling bertukar cerita. Apa saja. Tentang hidup. Tentang mencari makna dalam hidup. Mungkin ini juga yang mendasari perjalananku kali ini. Mencari makna dalam hidup. Mendaki dengan teman perjalanan yang sama sekali baru (kecuali maria dan arnie). Mendaki juga ke tempat yang kami berenam bahkan belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya. Tanpa bertemu teman pendaki lainnya. Gunung ini rasanya hanya milik kami berenam. Entahlah. Mungkin ada yang sedang mengganjal pikiranku tanpa kusadari. Pergi berenam ini aku memang mencari ketenangan. Menemukan pelajaran baru tentang hidup yang hanya kudapat dari kelima temanku lainnya. (tp perasaan dody sama maria kebanyakan cuma diem deh.. hehehe..)
Niatnya mau melanjutkan perjalanan sampai ke Pengasinan jadi ditunda. Pembicaraan terlalu panjang dan mendalam di malam yang syahdu ini. Akhirnya kita semua memutuskan untuk bermalam di situ. Dengan segala pertimbangan dan perbincangan yang tetap saja nggak jelas. Entah di ketinggian berapa. Feelingku sih menjelang Batulingga. Sebelum 2200mdpl. Beberapa pasang tenda, beberapa mencari api lagi, dan mulai menyiapkan makan malam (lagi). Menu kali ini setup spesial ala kribo. Makan malam yang agak kurang mantab, karna setupnya ngga pakai telor. Tp akhirnya sedikit-sedikit habis juga dengan susah payah.
Malam dilanjutkan dengan mengobrol lagi.. temanya masih tentang hidup. Diselingi ocehan-ocehan nggak penting lainnya. Hanya kita berenam, anak manusia.. dan sebagian masih bertanya-tanya tentang hidupnya. Suatu saat nanti pasti. Kita akan mewujudkan mimpi kita masing-masing. Malam semakin larut. Maria dan Dody akhirnya memutuskan untuk tidur, sementara kita berempat masih tetap mengobrol panjang lebar menunggu lilin habis. Api unggun sudah mati dari tadi. Entah diketinggian berapa kita. Tapi udara belum terlalu dingin. Atau karena ada sesuatu yang menghangatkan kita? Hehehe.. entahlah..
Hingga lilin habis, akhirnya kita masuk ke peraduan. Tanah tempat kita memasang tenda ternyata miring. Jadi dengan ala merosot akhirnya kita bisa dapat posisi untuk tidur... berjajar semua, dengan mbahto yang melintang dikepala kita. Lagi-lagi masih diselingi mengobrol yang kali ini sudah mulai diselingi halusinasi. Sampai semua terdiam untuk tidur. Entah berapa lama aku terdiam hingga akhirnya lelap memanggilku ke alam bawah sadar. Yang jelas, aku benar-benar nyaris tak dapat tidur. Berulang kali terbangun dan akhirnya hanya bisa terus memejamkan mata dan mendaraskan doa sekenanya. Memohon perlindungan dari yang Kuasa. Diluar sana hutan dan segala isinya menemani kita tidur dan mengelilingi kita dalam keeksotisan ciremai
Menurut petunjuk yang kita bawa, batulingga adalah kaki gunung ciremai. Dan kalau begitu berarti, kita bahkan belum sampai di kakinya. Phew!!! Nikmat sekali.. perjalanan eksotis itu ternyata masih belum disebut pendakian d gunung ciremai.. lalu apa namanya? Bukit?? Hahahaha...
Minggu, 6 September 2009
Matahari sudah menyembul dari balik tenda. Menampakkan sinar terangnya. Antara sadar dan ngga sadar, aku memastikan pada peci yg tidur d sebelahku, bahwa memang hari benar-benar sudah mulai pagi, bukan halusinasiku lagi. Ternyata sudah jam 6. Aku langsung memberanikan diri keluar dan mulai membuat teh panas. Maria ikut keluar. Sisanya masih menikmati tenda yang hangat. Teh matang. Aku lanjut membuat sarapan sekaligus menu utama kita. Sup!!
Sayang. Jagung dan polong yg d bawa dari kemarin jadi basi. Hasilnya. Cukup kentang dan wortel plus sosis saja isi sup kita. Tapi... sedap tentunya..
Mbahto tiba-tiba terbangun sambil teriak-teriak. Ternyata ada yang meracuni tenda dengan bau yg ngga dia suka. Counterpain. Arni yang pakai. Berantemlah mereka berdua. Sup matang dan langsung diserbu anak-anak, aku membantu peci menggulung2 sb bekas pakai anak-anak. Dan ternyata oh ternyata.. ada yang meracuni tenda lagi dengan sb berbau kaki busuknya.. SIYALAN!!! Bener-bener busuk setengah mati... ga usah disebut lah siapa namanya, orang yg keringetnya juga bau dan orang yang sama yang bilang keringetku bau sayur warteg aneh yang warna kuahnya oren-oren.. sumpah.. sampe skarang aja aku blm tau sayur wartegnya itu kayak apa.. dan didunia ini kayanya cuma dia dan mbak penjual warteg yang dimaksud aja yang tau sayur apa yg dimaksud.
Packing, sarapan dan buang2 hajat.. kita mulai beranjak turun jam 10 pagi. Bener-bener tim yang berjalan seenak jiwa.. tak ada time keeper sama sekali. Berjalan menurut kata hati. Jalanan turun ternyata lebih nikmat daripada nanjaknya. Ya iyalah... tinggal meluncur aja. Tanpa disadari akhirnya kita jadi terpisah menjadi 3 tim. Maria dan dody di depan, aku dan peci di tengah, mbahto dan arni di belakang. Susul menyusul dan saling menunggu. Mbahto sempat jatuh dan terguling-guling. Arni yang jalan di sebelahnya, serta aku dan peci yang sudah ada di depannya langsung terkaget melihat dia terguling seperti itu. Untung dia ngga apa-apa.
Selepas kuburan kuda, mungkin setelah pangalap jg... kita baru berhenti agak lama untuk makan siang. Menghabiskan perbekalan di maria yang ternyata masih banyak isinya. Apel, pir, roti. Bushet!!! Bikin berat tas aja. Meluncur lagi kita turun, menghabiskan sisa perjalanan. Tiba-tiba lagi-lagi Maria kali ini yang jatuh terguling karna tersandung kayu. Untung (lagi-lagi untung) dia ngga apa-apa, hanya lecet di kaki doang. Setelah diplester, kita jg sambil foto-foto. Lalu perjalanan di lanjutkan. Hingga akhirnya lepas dari hutan dan mulai kembali menyusuri jalanan berdebu. Kali ini untung aku yang kebagian di depan, jadinya tim kita yang menghadiahi debu-debu intan buat tim-tim yang di belakang. Kikikikik...
Berhenti lagi di pondokan yang ada di cibunar. Kita membuka perbekalan terakhir, yang jadi bekal pamungkas kita seharusnya untuk di puncak... apa lagi kalau bukan.. NATA DE COCO.. hehehe..
Dibagi tiga.. kita langsung melahap nata de coco itu dengan nikmat... sedap. Perbekalan terakhir dan.. langsung ke basecamp!!
Jalannya sudah mulai memasuki perkebunan penduduk lagi. Dan inilah akhir perjalanan kita saat itu. Langsung berisitirahat di bangku depan basecamp. Bersantai. Pijat-pijatan.. dan mulai mandi. Gila... debu semua yang menempel d badanku setelah dari jumat belum mandi. Pakaian pun sejak ke kantor masi belum di ganti. Masi rapih, dengan kemeja. Hehehe...
Semua debu... keramas dan mandi sebersih-bersihnya kayaknya juga masi kurang bersih.
Di depan kamar mandi, yang akhirnya dipindah di depan kolam ikan di samping mushala, tempat kita menginap malam sebelumnya... kita memasak persediaan terakhir kita. Senjata pamungkas.. bihun, sosis dan segala sarden yang masih ada di tas... campur aduk jadi satu. Beli nasi di warung. Sambil bergantian mandi dan bersih-bersih. Masih juga temanya pijet-pijetan.. lumayan. Jadi tukang pijat dadakan, bisa nambah penghasilan. Hehehe...
Jam 7, kita foto-foto terakhir di depan angkot yang akan membawa kita sampai terminal. Foto-foto terus yang penting. Hehehe..
Sesampainya di terminal cirebon, adalah saat-saat yang paling tidak kita sukai.. perpisahan. Kita berenam harus berpisah, kembali ke kota asal kita masing-masing. Aku, maria dan arnie langsung naik bus ke merak yang sudah menunggu. Peci dan dodi kembali ke bandung dengan bis yang kebetulan lewat juga. Tinggal mbahto yang masih menikmati keliling kota cirebon dengan kang becak, menunggu keretanya datang...
Sampai jumpa sahabat.. perjalanan yang juga tak akan terlupakan...
Suatu saat nanti, kita akan bersama lagi menuju puncak.. kali ini harus benar-benar sampai di puncak..
Progo, Senen-Cirebon : Rp. 26.000 (jam 9 malam)
Angkot, Stasiun-Basecamp : Rp 90.000 (@15.000)
Pendaftaran Basecamp Linggajati : @ Rp 6500
Nasi putih : @ Rp 3000
Angkot, Basecamp-Terminal : Rp 90.000
Bus, Cirebon-Merak : Rp 35.000 (Lewat Slipi)
Sabtu, 5 September 2009
Udara dingin yang menusuk membangunkanku dari peraduan yang ala kadarnya. Ternyata yang lain sudah pada bangun. Badan ini rasanya masih remuk redam. Mengantuk yang pasti, setelah semalam baru mendarat di stasiun Cirebon jam 1, tempat Mbahto menunggu aku, arni dan maria di bangku-bangku kosong stasiun Cirebon.
Iswanto yang menemani kami bertiga melanjutkan perjalanan di dalam perut Progo, hingga ke jogja.. Makasih ya Is, kamu dah nemeni tiga dara manis ini di dalam sesaknya Progo yang masih berbudaya...
Teman-teman sudah mulai berbenah. Aku juga turut berbenah. Saat selesai, mbahto masih saja hilang. Ternyata berburu sunrise yang tak terlalu nampak. Mushala, basecamp Linggajati tempat kami menginap kami tinggalkan seperti saat kami datang. Menunggu sarapan yang hanya dengan telor ceplok matang. Agak kesiangan juga kami berangkat. Apalagi, lagi-lagi nunggu mbahto yang kelamaan setoran..
Jam7 kita start dari basecamp linggajati, setelah tentu saja puas foto-foto ber6: aku, maria, arnie, peci, dody dan mbahto..
ktp peci ditinggal di basecamp sebagai jaminan karena ngga ada yang jaga. Jalur menuju pos pertama adalah jalan aspal dan perkebunan penduduk yang dihiasi jalanan berbatu. Nampaknya hanya kita berenam saja yang mendaki di bulan puasa ini.
Pos Pertama: Cibunar. Tempat terakhir terdapat mata air. Karena hingga puncak nanti kita tak akan menemukan mata air lainnya. Beristirahat sebentar d sebuah gubuk, bagi-bagi logistik dan menunggu peci packing ulang, lalu perjalanan dilanjutkan.
Debu halus dan teriknya matahari, buah-buah dari musim kemarau beterbangan mengiringi langkah kami berenam, hingga akhirnya kami benar-benar memasuki hutannya...
Tanah ciremai memang mengandung lem. Berbahaya bila diduduki atau ditiduri. Maka akan sulit sekali bangunnya. Dan kami berenam berjalan memang seenak jiwa dan sesuka hati... santai dan terlalu banyak istirahatnya. Pos demi pos kita lalui.. condang amis.. kuburan kuda...
Selepas kuburan kuda, tanjakan ciremai makin menggoda. Inilah dia keeksotisan gunung ciremai
Melewati hutannya, hanya kami berenam, dengan ditemani burung-burung dan penghuni hutan lainnya
Berjalan, mendaki, bercanda, bernyanyi... melewati pangalap..
Keadaan cuaca sejak melewati kuburan kuda memang selalu mendung. Agak takut juga aku kalau kena hujan nantinya. Tp nyanyian kebangsaan selalu kunyanyikan kala matahari tak nampak sinarnya..
Srengenge nyunar kanthi mulya, angine midhit klawan rena... manuke ngoceh ono ing wit-witan.. kewane nyenggut ono ing pasuketan..Makan siang pun dibuat ala kadarnya dengan mie instan dan nasi yang kita bungkus dari basecamp tadi.
Sempat tidur siang juga kita entah di titik mana.. sembari menunggu mbahto, setelah pohon-pohon tumbang selepas kuburan kuda
Yang ada pun semua pada tidur, dan hanya aku dan mbahto yang masih terjaga, sibuk memperdebatkan apakah lintah bisa dimakan atau nggak dan perdebatan tak bermutu lainnya. Mungkin karena lapar, makanya pikiran jg jadi kacau.
Matahari makin turun ke barat dan malam pun akan segera datang. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain kita berenam. Catatan dari sabar tentang pos-pos di ciremai lupa diprint d kantor, yang ada catatan perjalanan dari orang hasil search d google. Tanjakan seruni sudah lewat.. berarti sesudah ini ada tanjakan Bapatere, Batu Lingga, Sangga Buana 1-2 kemudian Pengasinan...
Tak ada info kita ada di ketinggian berapa. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jalan juga sudah makin kepayahan. Mulai merapat melalui setiap tapak demi tapak.. arnie, maria, dody, mbahto, aku dan peci..
Selepas maghrib, setelah melewati tanjakan bapa tere akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Mencari tempat datar yang ternyata.... tempat.. ehem..
Sampai di tempat istirahat, aku langsung tewas tak terkira. Tidur beralaskan dedaunan kering, hanya pake jaket dan selimutan ponco. Sudah ngga jelas lagi rupaku. Bangun tidur, tidur lagi.. bangun lagi tidur lagi.. sampai akhirnya jam 10 malam tiba.. aku dan peci akhirnya benar-benar terbangun. Yang lainnya sudah pada duduk manis menghadap api sambil ngobrol nggak jelas. Berenam duduk berimpitan, saling menghangatkan dan saling bertukar cerita. Apa saja. Tentang hidup. Tentang mencari makna dalam hidup. Mungkin ini juga yang mendasari perjalananku kali ini. Mencari makna dalam hidup. Mendaki dengan teman perjalanan yang sama sekali baru (kecuali maria dan arnie). Mendaki juga ke tempat yang kami berenam bahkan belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya. Tanpa bertemu teman pendaki lainnya. Gunung ini rasanya hanya milik kami berenam. Entahlah. Mungkin ada yang sedang mengganjal pikiranku tanpa kusadari. Pergi berenam ini aku memang mencari ketenangan. Menemukan pelajaran baru tentang hidup yang hanya kudapat dari kelima temanku lainnya. (tp perasaan dody sama maria kebanyakan cuma diem deh.. hehehe..)
Niatnya mau melanjutkan perjalanan sampai ke Pengasinan jadi ditunda. Pembicaraan terlalu panjang dan mendalam di malam yang syahdu ini. Akhirnya kita semua memutuskan untuk bermalam di situ. Dengan segala pertimbangan dan perbincangan yang tetap saja nggak jelas. Entah di ketinggian berapa. Feelingku sih menjelang Batulingga. Sebelum 2200mdpl. Beberapa pasang tenda, beberapa mencari api lagi, dan mulai menyiapkan makan malam (lagi). Menu kali ini setup spesial ala kribo. Makan malam yang agak kurang mantab, karna setupnya ngga pakai telor. Tp akhirnya sedikit-sedikit habis juga dengan susah payah.
Malam dilanjutkan dengan mengobrol lagi.. temanya masih tentang hidup. Diselingi ocehan-ocehan nggak penting lainnya. Hanya kita berenam, anak manusia.. dan sebagian masih bertanya-tanya tentang hidupnya. Suatu saat nanti pasti. Kita akan mewujudkan mimpi kita masing-masing. Malam semakin larut. Maria dan Dody akhirnya memutuskan untuk tidur, sementara kita berempat masih tetap mengobrol panjang lebar menunggu lilin habis. Api unggun sudah mati dari tadi. Entah diketinggian berapa kita. Tapi udara belum terlalu dingin. Atau karena ada sesuatu yang menghangatkan kita? Hehehe.. entahlah..
Hingga lilin habis, akhirnya kita masuk ke peraduan. Tanah tempat kita memasang tenda ternyata miring. Jadi dengan ala merosot akhirnya kita bisa dapat posisi untuk tidur... berjajar semua, dengan mbahto yang melintang dikepala kita. Lagi-lagi masih diselingi mengobrol yang kali ini sudah mulai diselingi halusinasi. Sampai semua terdiam untuk tidur. Entah berapa lama aku terdiam hingga akhirnya lelap memanggilku ke alam bawah sadar. Yang jelas, aku benar-benar nyaris tak dapat tidur. Berulang kali terbangun dan akhirnya hanya bisa terus memejamkan mata dan mendaraskan doa sekenanya. Memohon perlindungan dari yang Kuasa. Diluar sana hutan dan segala isinya menemani kita tidur dan mengelilingi kita dalam keeksotisan ciremai
Menurut petunjuk yang kita bawa, batulingga adalah kaki gunung ciremai. Dan kalau begitu berarti, kita bahkan belum sampai di kakinya. Phew!!! Nikmat sekali.. perjalanan eksotis itu ternyata masih belum disebut pendakian d gunung ciremai.. lalu apa namanya? Bukit?? Hahahaha...
Minggu, 6 September 2009
Matahari sudah menyembul dari balik tenda. Menampakkan sinar terangnya. Antara sadar dan ngga sadar, aku memastikan pada peci yg tidur d sebelahku, bahwa memang hari benar-benar sudah mulai pagi, bukan halusinasiku lagi. Ternyata sudah jam 6. Aku langsung memberanikan diri keluar dan mulai membuat teh panas. Maria ikut keluar. Sisanya masih menikmati tenda yang hangat. Teh matang. Aku lanjut membuat sarapan sekaligus menu utama kita. Sup!!
Sayang. Jagung dan polong yg d bawa dari kemarin jadi basi. Hasilnya. Cukup kentang dan wortel plus sosis saja isi sup kita. Tapi... sedap tentunya..
Mbahto tiba-tiba terbangun sambil teriak-teriak. Ternyata ada yang meracuni tenda dengan bau yg ngga dia suka. Counterpain. Arni yang pakai. Berantemlah mereka berdua. Sup matang dan langsung diserbu anak-anak, aku membantu peci menggulung2 sb bekas pakai anak-anak. Dan ternyata oh ternyata.. ada yang meracuni tenda lagi dengan sb berbau kaki busuknya.. SIYALAN!!! Bener-bener busuk setengah mati... ga usah disebut lah siapa namanya, orang yg keringetnya juga bau dan orang yang sama yang bilang keringetku bau sayur warteg aneh yang warna kuahnya oren-oren.. sumpah.. sampe skarang aja aku blm tau sayur wartegnya itu kayak apa.. dan didunia ini kayanya cuma dia dan mbak penjual warteg yang dimaksud aja yang tau sayur apa yg dimaksud.
Packing, sarapan dan buang2 hajat.. kita mulai beranjak turun jam 10 pagi. Bener-bener tim yang berjalan seenak jiwa.. tak ada time keeper sama sekali. Berjalan menurut kata hati. Jalanan turun ternyata lebih nikmat daripada nanjaknya. Ya iyalah... tinggal meluncur aja. Tanpa disadari akhirnya kita jadi terpisah menjadi 3 tim. Maria dan dody di depan, aku dan peci di tengah, mbahto dan arni di belakang. Susul menyusul dan saling menunggu. Mbahto sempat jatuh dan terguling-guling. Arni yang jalan di sebelahnya, serta aku dan peci yang sudah ada di depannya langsung terkaget melihat dia terguling seperti itu. Untung dia ngga apa-apa.
Selepas kuburan kuda, mungkin setelah pangalap jg... kita baru berhenti agak lama untuk makan siang. Menghabiskan perbekalan di maria yang ternyata masih banyak isinya. Apel, pir, roti. Bushet!!! Bikin berat tas aja. Meluncur lagi kita turun, menghabiskan sisa perjalanan. Tiba-tiba lagi-lagi Maria kali ini yang jatuh terguling karna tersandung kayu. Untung (lagi-lagi untung) dia ngga apa-apa, hanya lecet di kaki doang. Setelah diplester, kita jg sambil foto-foto. Lalu perjalanan di lanjutkan. Hingga akhirnya lepas dari hutan dan mulai kembali menyusuri jalanan berdebu. Kali ini untung aku yang kebagian di depan, jadinya tim kita yang menghadiahi debu-debu intan buat tim-tim yang di belakang. Kikikikik...
Berhenti lagi di pondokan yang ada di cibunar. Kita membuka perbekalan terakhir, yang jadi bekal pamungkas kita seharusnya untuk di puncak... apa lagi kalau bukan.. NATA DE COCO.. hehehe..
Dibagi tiga.. kita langsung melahap nata de coco itu dengan nikmat... sedap. Perbekalan terakhir dan.. langsung ke basecamp!!
Jalannya sudah mulai memasuki perkebunan penduduk lagi. Dan inilah akhir perjalanan kita saat itu. Langsung berisitirahat di bangku depan basecamp. Bersantai. Pijat-pijatan.. dan mulai mandi. Gila... debu semua yang menempel d badanku setelah dari jumat belum mandi. Pakaian pun sejak ke kantor masi belum di ganti. Masi rapih, dengan kemeja. Hehehe...
Semua debu... keramas dan mandi sebersih-bersihnya kayaknya juga masi kurang bersih.
Di depan kamar mandi, yang akhirnya dipindah di depan kolam ikan di samping mushala, tempat kita menginap malam sebelumnya... kita memasak persediaan terakhir kita. Senjata pamungkas.. bihun, sosis dan segala sarden yang masih ada di tas... campur aduk jadi satu. Beli nasi di warung. Sambil bergantian mandi dan bersih-bersih. Masih juga temanya pijet-pijetan.. lumayan. Jadi tukang pijat dadakan, bisa nambah penghasilan. Hehehe...
Jam 7, kita foto-foto terakhir di depan angkot yang akan membawa kita sampai terminal. Foto-foto terus yang penting. Hehehe..
Sesampainya di terminal cirebon, adalah saat-saat yang paling tidak kita sukai.. perpisahan. Kita berenam harus berpisah, kembali ke kota asal kita masing-masing. Aku, maria dan arnie langsung naik bus ke merak yang sudah menunggu. Peci dan dodi kembali ke bandung dengan bis yang kebetulan lewat juga. Tinggal mbahto yang masih menikmati keliling kota cirebon dengan kang becak, menunggu keretanya datang...
Sampai jumpa sahabat.. perjalanan yang juga tak akan terlupakan...
Suatu saat nanti, kita akan bersama lagi menuju puncak.. kali ini harus benar-benar sampai di puncak..
Progo, Senen-Cirebon : Rp. 26.000 (jam 9 malam)
Angkot, Stasiun-Basecamp : Rp 90.000 (@15.000)
Pendaftaran Basecamp Linggajati : @ Rp 6500
Nasi putih : @ Rp 3000
Angkot, Basecamp-Terminal : Rp 90.000
Bus, Cirebon-Merak : Rp 35.000 (Lewat Slipi)
Kamis, 20 Agustus 2009
Menanti Sebuah Jawaban
April 15, 2009
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu
Sepenuhnya aku…ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan…tuk mencintaimu
Setulusnya aku…akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku…
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
lirik lagu PADI di atas lagi jadi lagu minggu ini yang diputar terus oleh dek silvia dari bintaro.. lagu ini ditujukan untuk dirinya sendiri yang sudah mulai gila.. hehehe…
don’t know why, tiba2 gue pengen aja mendengarkan lagu ini.
am i waiting for an answer? answer of what? dunno….
belakangan gue memperhatikan otak gue lumayan korslet.
sepertinya sudah lama ngga diasah.
makanya gue lagi mengeram. pergi menyendiri mungkin salah satu jalannya.
berusaha meruncingkan pikiran gue lagi yang sepertinya belakangan ini mungkin berhenti berkembang. gue menjadi seperti orang yang ngga bisa berpikir dengan baik dan jernih. segala pikiran yang muncul di otak cuma pikiran2 ngawur yang bikin makin ruwet hidup yang sudah ruwet ini.
gue jg lagi berusaha menata diri agar jadi lebih lepas bebas. menjadi lebih aku. menjadi lebih “jungle” yang sebenarnya. mungkin selama ini gue udah banyak terkontaminasi dengan orang-orang di sekitar gue. jadi kadang lupa diri. lupa siapa gue sebenarnya.
i try to learn more..
berusaha belajar lebih banyak mendengar sekitar. melihat lebih jauh. tidak hanya melihat yang nampak saja, tapi jg melihat jauh ke dalam. berusaha menajamkan segala panca indera yang ada di dalam tubuh gue. menajamkan hati gue dan menyembuhkan segala luka yang mungkin ada. menajamkan segala pemberian Tuhan yang mungkin selama ini telah gue sia-siakan. manusia memang tidak boleh berhenti belajar dan berkembang. dan gue ngerasa gue pun tidak berhenti belajar dan berkembang, tapi sepertinya jalannya sangat lambat. dan itu ga bagus banget buat gue dan buat hidup gue. gue seperti berhenti berkembang. gue hanya menjadi diri gue yang sekarang ini. apa pun yang masuk ke dalam diri gue, baik atau buruk, tak begitu berpengaruh lagi buat hidup gue. berpengaruh hanya sesaat tapi lambat laun akan memudar.
hidup gue terlalu berjalan dengan santai dan lambat. terlalu bebas mengalir mengikuti alur. dan terlalu takut tuk melawan arus. mungkin ini saatnya gue bergerak dari kenyamanan ini dan mulai melangkah maju. melangkah lebih jauh lagi. beranikah gue? terus terang gue takut. gue ngga berani. tapi gue harus berani toh? apapun yang terjadi… takut atau ngga takut.. gue harus memaksakan diri gue menjadi berani.
mungkin gue memang sedang menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan sulit yang selalu melintas dalam pikiran gue. apakah tujuan hidupku? mungkin gue harus segera merealisasikan resolusi tahun ini yang bahkan nyaris ngga pernah gue buat. hidup tanpa tujuan yang jelas dan pasti. hidup cuma di awang-awang. cuma berani bermimpi tanpa berani merealisasikannya.
dan bener-bener ngga gue sangka.. gue pun telah kecewa dengan diri gue sendiri. bahwa gue sebegitu pengecutnya hingga gue ngga berani mewujudkan impian gue sendiri. cuma bisa ndherek mawon….
it’s your life, jungs! why u always stand behind someone’s dreams? it’s time to realize your own dream. life is so unpredictable. tapi knapa kita ngga terus aja berjalan melangkah, menikmati setiap sensasi yang kita temukan dalam hidup kita. berpikir.. hal baik yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah bonus. dan hal buruk yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah pembelajaran baru.
ini sebuah pergerakan besar yang mungkin gue lakukan dalam hidup gue. dan gue harus tidak tinggal diam. tidak hanya menanti jawaban itu tiba menghampiri gue tetapi gue sendiri yang akan mencarinya dan pasti akan gue temukan. Tuhan sendiri toh yang berkata… carilah, maka kamu akan menemukan, mintalah, maka kamu akan mendapatkan. ketuklah, maka pintu akan di bukakan bagimu…
So, mengapa gue ngga mencobanya sekarang? mencari.. meminta dan mengetuk.. dan pada siapa lagi gue akan memohon kalau bukan pada Tuhanku Allah dan Raja Segala Raja.
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu
Sepenuhnya aku…ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan…tuk mencintaimu
Setulusnya aku…akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku…
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
lirik lagu PADI di atas lagi jadi lagu minggu ini yang diputar terus oleh dek silvia dari bintaro.. lagu ini ditujukan untuk dirinya sendiri yang sudah mulai gila.. hehehe…
don’t know why, tiba2 gue pengen aja mendengarkan lagu ini.
am i waiting for an answer? answer of what? dunno….
belakangan gue memperhatikan otak gue lumayan korslet.
sepertinya sudah lama ngga diasah.
makanya gue lagi mengeram. pergi menyendiri mungkin salah satu jalannya.
berusaha meruncingkan pikiran gue lagi yang sepertinya belakangan ini mungkin berhenti berkembang. gue menjadi seperti orang yang ngga bisa berpikir dengan baik dan jernih. segala pikiran yang muncul di otak cuma pikiran2 ngawur yang bikin makin ruwet hidup yang sudah ruwet ini.
gue jg lagi berusaha menata diri agar jadi lebih lepas bebas. menjadi lebih aku. menjadi lebih “jungle” yang sebenarnya. mungkin selama ini gue udah banyak terkontaminasi dengan orang-orang di sekitar gue. jadi kadang lupa diri. lupa siapa gue sebenarnya.
i try to learn more..
berusaha belajar lebih banyak mendengar sekitar. melihat lebih jauh. tidak hanya melihat yang nampak saja, tapi jg melihat jauh ke dalam. berusaha menajamkan segala panca indera yang ada di dalam tubuh gue. menajamkan hati gue dan menyembuhkan segala luka yang mungkin ada. menajamkan segala pemberian Tuhan yang mungkin selama ini telah gue sia-siakan. manusia memang tidak boleh berhenti belajar dan berkembang. dan gue ngerasa gue pun tidak berhenti belajar dan berkembang, tapi sepertinya jalannya sangat lambat. dan itu ga bagus banget buat gue dan buat hidup gue. gue seperti berhenti berkembang. gue hanya menjadi diri gue yang sekarang ini. apa pun yang masuk ke dalam diri gue, baik atau buruk, tak begitu berpengaruh lagi buat hidup gue. berpengaruh hanya sesaat tapi lambat laun akan memudar.
hidup gue terlalu berjalan dengan santai dan lambat. terlalu bebas mengalir mengikuti alur. dan terlalu takut tuk melawan arus. mungkin ini saatnya gue bergerak dari kenyamanan ini dan mulai melangkah maju. melangkah lebih jauh lagi. beranikah gue? terus terang gue takut. gue ngga berani. tapi gue harus berani toh? apapun yang terjadi… takut atau ngga takut.. gue harus memaksakan diri gue menjadi berani.
mungkin gue memang sedang menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan sulit yang selalu melintas dalam pikiran gue. apakah tujuan hidupku? mungkin gue harus segera merealisasikan resolusi tahun ini yang bahkan nyaris ngga pernah gue buat. hidup tanpa tujuan yang jelas dan pasti. hidup cuma di awang-awang. cuma berani bermimpi tanpa berani merealisasikannya.
dan bener-bener ngga gue sangka.. gue pun telah kecewa dengan diri gue sendiri. bahwa gue sebegitu pengecutnya hingga gue ngga berani mewujudkan impian gue sendiri. cuma bisa ndherek mawon….
it’s your life, jungs! why u always stand behind someone’s dreams? it’s time to realize your own dream. life is so unpredictable. tapi knapa kita ngga terus aja berjalan melangkah, menikmati setiap sensasi yang kita temukan dalam hidup kita. berpikir.. hal baik yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah bonus. dan hal buruk yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah pembelajaran baru.
ini sebuah pergerakan besar yang mungkin gue lakukan dalam hidup gue. dan gue harus tidak tinggal diam. tidak hanya menanti jawaban itu tiba menghampiri gue tetapi gue sendiri yang akan mencarinya dan pasti akan gue temukan. Tuhan sendiri toh yang berkata… carilah, maka kamu akan menemukan, mintalah, maka kamu akan mendapatkan. ketuklah, maka pintu akan di bukakan bagimu…
So, mengapa gue ngga mencobanya sekarang? mencari.. meminta dan mengetuk.. dan pada siapa lagi gue akan memohon kalau bukan pada Tuhanku Allah dan Raja Segala Raja.
How R U Today??
Cerita lama yang masi membekas di hati...
Suatu hari saat gua pulang naik bus seorang diri.. beberapa minggu lalu...
Sore menjelang malam kala itu bus yang gue tumpangi penuh sesak. Gue berdiri di belakang berdesakan dengan kebanyakan kaum lelaki. Agak ngeri juga sih. Takut-takut kalau copet.. tapi gaya masih cuek ajah.
Saat sampai di stasiun cawang, penumpang kembali berdesakkan berebutan turun.
Gue otomatis terdesak kesana kemari. Seorang bapak yang duduk dibarisan paling belakang langsung memanggil gue buat duduk di sebelahnya yang kosong. Gue pun menurut, duduk di sebelahnya setelah arus penumpang yg turun bis itu sudah mereda. Gue melirik sekilas si bapak itu..
Bapak setengah baya dengan badan gemuk dan perut buncit. Gue duduk terhimpit diantaranya dan bapak lain di sebelah kiri gue. Dia mengajak gue ngobrol ringan.. “Pulang kerja?” Gue mengiyakan…
Hanya itu yang ditanyakannya… hehe. Bukan ngajak ngobrol ringan sih.. tepatnya cuman nanya 1 pertanyaan doang. Hehe.. Agak serem juga duduk di paling belakang bes, diantara bapak2 gituh. Tapi bukan jungle namanya kl ngga sok cuek dan sok pede.. agak jauh berjalan, ada beberapa penumpang lagi yang turun.. jadi busnya sudah lumayan kosong.. bapak samping kiriku jg sudah turun. Gue mulai merasa sedikit nyaman duduk d paling belakang bus. Rasa ngeri pun sirna sudah.
Tau2 bapak gemuk itu ngomong lagi, ”Dek, saya mau merokok. Pindah ke depan saja, nanti terganggu.” Gue pun lantas mengiyakan dan langsung pindah ke depan..
Taukah kalian.. 1 kalimat terakhir dari bapak itu cukup membekas buat gue.. mungkin bagi kalian itu kalimat sederhana yang ngga ada artinya. Tapi buktinya, sampe sekarang gue masih inget banget kata-kata itu... satu cara yang sederhana, bagi seorang bapak, untuk menghargai orang lain di sekitarnya.. menghargai orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya di bus. Terkadang kita sering tidak memperhatikan orang sekitar kita.. membuat orang sekitar kita merasa tidak nyaman akan keberadaan kita. Atau tidak menyadari kalau orang sekitar kita membutuhkan bantuan, ataupun hanya perhatian kecil, seperti memberikan tempat duduk di sebelahnya..
Bapak itu bisa saja mendiamkan gue dari awal, dan membiarkan orang lain menempati tempat duduk di sebelahnya. Tapi dia dengan perhatian yang tentu aja mudah dilakukan oleh siapa saja.. memanggil gue, memberikan tempat duduk di sebelahnya untuk gue... dan ngga hanya itu.. dia pun menyuruh gue pindah tatkala dia mau merokok.. karna mungkin gue akan merasa terganggu dengan asap rokoknya.. suatu bentuk kesopanan seorang perokok yang baru pertama kali ini gue rasain.. bahkan diantara temen2 gue yang perokok...
Selama gue hidup, belum pernah tuh ada temen bahkan sahabat gue yang perokok yang serius menghargai sesamanya yang bukan perokok. Paling kalau gue udah mulai nutup hidung atau kipas2, mereka baru nyadar dengan pindah tempat atau berusaha niup asepnya jauh dari gue.. bahkan parahnya malah ada yang cuek aja tetep ngebul di depan hidung gue..
Pelajaran hari ini... sudahkah kita bersikap peduli akan orang di sekitar kita hari ini???
Suatu hari saat gua pulang naik bus seorang diri.. beberapa minggu lalu...
Sore menjelang malam kala itu bus yang gue tumpangi penuh sesak. Gue berdiri di belakang berdesakan dengan kebanyakan kaum lelaki. Agak ngeri juga sih. Takut-takut kalau copet.. tapi gaya masih cuek ajah.
Saat sampai di stasiun cawang, penumpang kembali berdesakkan berebutan turun.
Gue otomatis terdesak kesana kemari. Seorang bapak yang duduk dibarisan paling belakang langsung memanggil gue buat duduk di sebelahnya yang kosong. Gue pun menurut, duduk di sebelahnya setelah arus penumpang yg turun bis itu sudah mereda. Gue melirik sekilas si bapak itu..
Bapak setengah baya dengan badan gemuk dan perut buncit. Gue duduk terhimpit diantaranya dan bapak lain di sebelah kiri gue. Dia mengajak gue ngobrol ringan.. “Pulang kerja?” Gue mengiyakan…
Hanya itu yang ditanyakannya… hehe. Bukan ngajak ngobrol ringan sih.. tepatnya cuman nanya 1 pertanyaan doang. Hehe.. Agak serem juga duduk di paling belakang bes, diantara bapak2 gituh. Tapi bukan jungle namanya kl ngga sok cuek dan sok pede.. agak jauh berjalan, ada beberapa penumpang lagi yang turun.. jadi busnya sudah lumayan kosong.. bapak samping kiriku jg sudah turun. Gue mulai merasa sedikit nyaman duduk d paling belakang bus. Rasa ngeri pun sirna sudah.
Tau2 bapak gemuk itu ngomong lagi, ”Dek, saya mau merokok. Pindah ke depan saja, nanti terganggu.” Gue pun lantas mengiyakan dan langsung pindah ke depan..
Taukah kalian.. 1 kalimat terakhir dari bapak itu cukup membekas buat gue.. mungkin bagi kalian itu kalimat sederhana yang ngga ada artinya. Tapi buktinya, sampe sekarang gue masih inget banget kata-kata itu... satu cara yang sederhana, bagi seorang bapak, untuk menghargai orang lain di sekitarnya.. menghargai orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya di bus. Terkadang kita sering tidak memperhatikan orang sekitar kita.. membuat orang sekitar kita merasa tidak nyaman akan keberadaan kita. Atau tidak menyadari kalau orang sekitar kita membutuhkan bantuan, ataupun hanya perhatian kecil, seperti memberikan tempat duduk di sebelahnya..
Bapak itu bisa saja mendiamkan gue dari awal, dan membiarkan orang lain menempati tempat duduk di sebelahnya. Tapi dia dengan perhatian yang tentu aja mudah dilakukan oleh siapa saja.. memanggil gue, memberikan tempat duduk di sebelahnya untuk gue... dan ngga hanya itu.. dia pun menyuruh gue pindah tatkala dia mau merokok.. karna mungkin gue akan merasa terganggu dengan asap rokoknya.. suatu bentuk kesopanan seorang perokok yang baru pertama kali ini gue rasain.. bahkan diantara temen2 gue yang perokok...
Selama gue hidup, belum pernah tuh ada temen bahkan sahabat gue yang perokok yang serius menghargai sesamanya yang bukan perokok. Paling kalau gue udah mulai nutup hidung atau kipas2, mereka baru nyadar dengan pindah tempat atau berusaha niup asepnya jauh dari gue.. bahkan parahnya malah ada yang cuek aja tetep ngebul di depan hidung gue..
Pelajaran hari ini... sudahkah kita bersikap peduli akan orang di sekitar kita hari ini???
Berharap aku tidak berjalan sendiri
Saat hati bergemuruh
Langkah ini terasa berat
Dada pun terasa sesak menghimpit
Jalan di hadapanku tampak abu-abu
Tak nampak jelas arah mana yang harus ku tuju
Aku layaknya manusia yang kehilangan
Kehilangan keinginan untuk berkeinginan
Atau memang aku menghilangkan diriku untuk berkeinginan
Hujan badai datang dalam hatiku
tak mampu membuatku bergeming dan memutuskan
Kaki ini pun terasa berat tuk melangkah maju
Lelah
Dan ada kalanya aku ingin terduduk
Bersimpuh dan memohon
Bolehkah aku menangis kali ini?
Bolehkah aku berhenti sejenak dan beristirahat
Entah walau di persimpangan seperti ini
Bukanlah tempat yang nyaman tuk beristirahat
Lelah..
Aku ternyata bukan malaikat
Dan tidak bisa jadi malaikat
Aku ternyata manusia gelap yang sok tau
Dan hanya punya keinginan yang dangkal
Dan kini pun tak layak lagi aku punya keinginan
Walau ingin…
Kalaupun mungkin waktu dapat terhentikan
Berhenti hanya pada saat kemarin saja
Agar ku tak merasakan ini
Agar ku tak usah memiliki keinginan apapun
Aku ternyata memang bukan malaikat
Dan tak mampu menjadi malaikat
Aku hanya manusia gelap yang sok tau
Dan aku lelah
Walau aku tahu aku tidak boleh berhenti
Aku hancur dan merasa sepi
Tak tau harus kemana dan tak tau harus bagaimana
Berdiri kaku dalam ketidakberdayaan
Hanya badai dalam hatikulah yang dapat menyadarkan aku
Bahwa aku masih hidup
Mata pun hanya melihat abu-abu
Kakipun akhirnya terpaksa terus melangkah dalam gelap ini
Hanya Tuhan yang tau jalanku
Dan dalam hening bibirku berbisik
Mendendangkan lagu yang dulu tak asing terdengar di telinga
When you walk
Through a storm
Hold your head, up high
And don't be afraid, of the dark
'Coz at the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song
Of the lark
Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed
And blown
Walk on, walk on
With hope, in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Alone
Walk on, walk on
With hope in your hearts
You'll never walk, alone
(Lyrics of Gerry And The Pacemakers - You'll Never Walk Alone )
Dan aku pun tau…
Aku tak pernah berjalan sendiri
Di dalam gelap ini aku yakin
Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk menjagaku
Aku memang bukanlah malaikat
Dan aku hanya mencoba berlagak menjadi malaikat
Tapi saat ini aku sedang lelah
Maka ijinkanlah aku memohon dikau tuk menjadi malaikatku kembali
Menemaniku di sisi kala ku kembali galau melangkah
Jangan pergi, dan yakinkan aku, kalau aku tak berjalan seorang diri…
090324
Langkah ini terasa berat
Dada pun terasa sesak menghimpit
Jalan di hadapanku tampak abu-abu
Tak nampak jelas arah mana yang harus ku tuju
Aku layaknya manusia yang kehilangan
Kehilangan keinginan untuk berkeinginan
Atau memang aku menghilangkan diriku untuk berkeinginan
Hujan badai datang dalam hatiku
tak mampu membuatku bergeming dan memutuskan
Kaki ini pun terasa berat tuk melangkah maju
Lelah
Dan ada kalanya aku ingin terduduk
Bersimpuh dan memohon
Bolehkah aku menangis kali ini?
Bolehkah aku berhenti sejenak dan beristirahat
Entah walau di persimpangan seperti ini
Bukanlah tempat yang nyaman tuk beristirahat
Lelah..
Aku ternyata bukan malaikat
Dan tidak bisa jadi malaikat
Aku ternyata manusia gelap yang sok tau
Dan hanya punya keinginan yang dangkal
Dan kini pun tak layak lagi aku punya keinginan
Walau ingin…
Kalaupun mungkin waktu dapat terhentikan
Berhenti hanya pada saat kemarin saja
Agar ku tak merasakan ini
Agar ku tak usah memiliki keinginan apapun
Aku ternyata memang bukan malaikat
Dan tak mampu menjadi malaikat
Aku hanya manusia gelap yang sok tau
Dan aku lelah
Walau aku tahu aku tidak boleh berhenti
Aku hancur dan merasa sepi
Tak tau harus kemana dan tak tau harus bagaimana
Berdiri kaku dalam ketidakberdayaan
Hanya badai dalam hatikulah yang dapat menyadarkan aku
Bahwa aku masih hidup
Mata pun hanya melihat abu-abu
Kakipun akhirnya terpaksa terus melangkah dalam gelap ini
Hanya Tuhan yang tau jalanku
Dan dalam hening bibirku berbisik
Mendendangkan lagu yang dulu tak asing terdengar di telinga
When you walk
Through a storm
Hold your head, up high
And don't be afraid, of the dark
'Coz at the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song
Of the lark
Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed
And blown
Walk on, walk on
With hope, in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Alone
Walk on, walk on
With hope in your hearts
You'll never walk, alone
(Lyrics of Gerry And The Pacemakers - You'll Never Walk Alone )
Dan aku pun tau…
Aku tak pernah berjalan sendiri
Di dalam gelap ini aku yakin
Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk menjagaku
Aku memang bukanlah malaikat
Dan aku hanya mencoba berlagak menjadi malaikat
Tapi saat ini aku sedang lelah
Maka ijinkanlah aku memohon dikau tuk menjadi malaikatku kembali
Menemaniku di sisi kala ku kembali galau melangkah
Jangan pergi, dan yakinkan aku, kalau aku tak berjalan seorang diri…
090324
Selasa, 18 Agustus 2009
“A Blessed Journey”
Perjalanan mencari Cinta Mandalawangi
Sebuah Catatan Perjalanan dan Refleksi Pendakian Gunung Pangrango20-21 Desember 2008
By Jungle (Silvia Widianti yang Jelita)
Mungkin ini adalah pendakian pertama dan terakhirku di tahun ini. Antara ingin ikut dan keraguan-keraguan yang timbul dalam hati. Mampukah aku menjalani semuanya ini. Tak berani berharap dan tak berani bermimpi. Mungkin ini untuk yang pertama kalinya bermimpi pun aku takut. Takut kalau kemudian aku terbangun dan mendapati itu semuanya hanyalah mimpi. Bener-bener sebuah perasaan yang aneh. Seorang jungle takut buat bermimpi. Lebih tepatnya aku takut membayangkan aku akan naik Pangrango. Aku tak pernah mengharapkan bisa naik gunung lagi tahun ini. Kupikir masa cutiku belum habis. Jadi walaupun aku sudah tau lama tuk naik Pangrango, aku lebih mengurungkan niatku dan sewaktu teman-teman merencanakan naik Sindoro, aku lebih memilih tuk naik sindoro. Mungkin aku lebih berani menghadapi tuk naik sindoro dibandingkan pangrango. Karena itu bukan gunung impianku. Kalo ngga jadi naik pun mungkin masih tak apa-apa.
Satu dorongan mungkin yang membuatku akhirnya berani tuk sedikit bermimpi dan memutuskan tuk ikut perjalanan kali ini. Dengan persiapan yang hampir ngga matang, aku memutuskan pergi. Antara takut tak mendapat ijin, takut kalo kondisi fisik ternyata masih belum fit. Banyak ketakutan yang berusaha kubuang jauh-jauh. Terlalu banyak berpikir nantinya malah membuatku ngga jadi pergi. Just let it flow… satu yang menjadi kekhawatiran terbesarku…. Andrew masih ada di Bali dan belum pasti pulang ke Jakarta. Kalo ngga ada Andrew berarti perjalanan ini batal. SIO (Surat Ijin Orangtua) pasti bakalan tidak keluar. Terus terang lagi badanku lagi dalam kondisi kelelahan dan ngga fit banget. Lembur terus-terusan seminggu, mempersiapkan acara natalan d kantor juga, dan sempat salah makan (sarapan pagi pakai kambing, makan siang pake duren, untung masih hidup…) hingga terasa banget beberapa hari aku kliyengan dah mirip orang mabok. Lelah mempersiapkan natal d kantor sambil kepala keliyengan bikin hatiku degdegan juga. Yang tadinya berniat mendekor aula lantai 6 sambil naik turun tangga 6 lantai buat sekalian pemanasan naik gunung jadi ngga berani terus-terusan… cukup beberapa kali naik turun tangga, habis itu sudah. Dari pada nanti natalan justru tepar, gaswat. Mudah-mudahan pula aku masih diberi kesehatan. Ocehan si kecil Aching d Sanggar Akar seminggu sebelum aku pergi mungkin juga salah satu penyulut gejolak liarku yang lama terkubur. Pelan-pelan tapi pasti aku mempersiapkan perjalanan ini. pelan-pelan pun keyakinanku mulai tumbuh. Pangrango… tunggu aku!
Aku benar-benar gugup sekali. Jantung berdegup kencang. Tangan dingin dan berkeringat. Ya… esok adalah hari keberangkatanku. Hari ini 2 pria terpenting dalam hidupku baru kembali ke Jakarta dan esok sudah ku tinggal pergi lagi. SIO sudah keluar. Beberapa teman ku kirim pesan singkat lewat ponsel atau YM, mohon doa restu dan doanya tuk perjalananku kali ini. Suatu kebiasaan yang sangat jarang ku lakukan. Dan kali ini aku benar-benar serius minta didoakan supaya benar-benar selamat. Serius tuk berpamitan dan supaya aku masih ingat pulang. (PS: sampe2 minta2 maaf segala.. hehehe…) pokoknya saat-saat aku benar-benar butuh dukungan dan kekuatan. Sampai meminjam kekuatan dari orang lain… (PS: buat sahabatku nun disana. Gue ngga jadi pinjam kekuatanmu. Cahaya putih yang turun dari langit itu untukmu saja. Sepertinya kau lebih membutuhkannya saat ini). Ngga lupa aku membawa amanat dari teman-teman yang minta di salamin dan di doakan di mandala wangi. (doakan aku dapat menginjakkan kaki di lembah mandala wangi ya, supaya aku bisa memanjatkan doa-doa buat kalian). Semakin banyak titipan doa, semakin kuat langkah dan niatku tuk sampai lembah mandala wangi. Padahal sebelumnya aku tak yakin kalau aku bisa sampai ke puncak. Kandang badak saja sudah puji Tuhan. Sekarang.. banyak titipan doa, makanya aku harus kuat sampai puncak!
This is the D day!!!
Pagi-pagi sudah dapat sms dari seorang saudara nun di sana, kalo dia juga ikutan degdegan karna aku mau pergi. Hah… asem.. yang hati sudah mulai tenang jadi degdegan lagi. oh Tuhan… akhirnya aku pergi juga. Pagi ini aku packing ulang tasku.. untuk yang keempat kalinya. Hehe.. saking gugupnya dari kemarin aku sampai 4 kali packing. Aku berangkat setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si moli… doakan aku pulang sama si selamet ya…
Tujuan pertamaku adalah terminal kampong rambutan. Naik angkot S08 turun di pasar jumat (IDR 4000) trus lanjut naik bus ke kampung rambutan 509 (IDR 3000). Dan saudara-saudara sekalian… aku menghimbau, jangan pernah ke kampung rambutan naik 509 kalo ngga super kepepet. Karena bis ini ngetem sampe 5x!!! bayangkan!! 5 x 15 menit = aku terlambat!!! Maaf teman-teman. Sampai di kampung rambutan semua sudah menungguku. Perkenalkan. Aku Jungle yang terlambat. Pasukan yang berangkat pagi kali ini adalah: Jungle, Fitri, Scott, Ai, Monik, Yeti, Pije, Jeremi, Andrew, Sabar.
Naik bus arah Cianjur yang lewat Cibodas (IDR 12000). Jam 10 berangkat.
Dan inilah perjalanan itu di mulai. Dalam hati berdoa, mohon restu. Mohon ampun. Mohon bisa sampai puncak. Mohon bisa mendoakan teman-teman. Mohon diberi keselamatan. Mohon diberi kekuatan. Mohon ngga kedinginan kalau ketemu sama badai. Mohon supaya yang menyusul pun di beri keselamatan. Banyak mohonnya.
Kira-kira jam ½ 12 sampailah kita di Cibodas. Menunggu phije, Jeremy dan Andrew yang beli sweater di FO, kita ngabur makan dulu. Lumayanlah pengganjal sampai malam tiba nanti. Udara sejuk cibodas sudah menyambut kami. Jantungku kembali berdebar. Oh Tuhan… sampailah kita di Pangrango. Masih juga tak berani percaya. Makan siang secukupnya, tak lupa membeli nasi tuk perbekalan nanti malam. Kemudian naik angkot sampai pos cibodas. (IDR 3000) di kaki cibodas kita langsung ke tempatnya bang Alpin yang sudah sabaraphael menunggu kita. Tempatnya lupa namanya. Beliau sepertinya yang membantu kita mendaftar. Repacking bawaan kita (terutama tas pink super cantikku yang harus muat dengan segala isinya). Jujur, ini pendakianku yang paling cantik. Tasnya aja mini begitu. Hahaha… jam ½ 2 kita mulai mendaki. Tujuan kita adalah kandang badak. Perjalanan panjang ini dimulai. Sebagian besar perjalananku ditemani ai. (spesial thanks buat ai yang dah spesial nemenin gue jg) agak lumayan jg pendakiannya sampai ke kandang badak. Kurang pemanasan juga nih ternyata aku. Lewat air panas beberapa teman jalan duluan membantu menyiapkan tenda. Kalau ngga salah Scott, Fitri, Sabar, Andrew, dan Jeremy. Sisanya kita di belakang.
Jam ½ 8 WIC (Waktu Indonesia bagian Cibodas) aku dan beberapa teman yg dibelakang sampai juga di kandang badak. Dah banyak yang pasang tenda di sana. Tenda kita jg baru berdiri 1. langsung deh kita menyiapkan makan malam sementara teman yang lainnya melanjutkan memasang tenda. Dingin mulai menggigit kulit-kulit telanjang kita. Berganti pakaian yang sudah basah selama perjalanan dengan yang layak, kemudian melanjutkan acara memasak dan makan malam. Semua dihajar rame-rame.
Waktunya kita tuk bercengkrama di bawah taburan bintang-bintang. Rasanya kesyahduan malam itu masih belum cukup juga, Tuhan menaburkan bintang-bintangnya di langit di atas kita tuk mewarnai malam kita di kandang badak. Bersenda gurau, duduk berhimpitan diatas matras dan ditemani cahaya lilin, bintang dan bulan… jadi mau nyanyi lagunya eros dan okta, cahaya bulan… wah.. harusnya kmarin kusetel juga tuh puisinya gie di kandang badak. Siyal.. hapeku langsung lobet sih… (pelajaran: kalo ke gunung harus bawa batere HP cadangan buat setel lagu eksotis romantis dan buat foto-foto d puncak). Berbagi cerita dan bermain tebakan. Aku, fitri, scott, sabar, monik, phije. Duduk berhimpitan saling berbagi kehangatan dan keempukan lemak, mulai ngobrol ngawur, ditemani bintang-bintang yang eksotis, musang yang mencuri-curi mengambil makanan kita, cerita-cerita anehnya sabar yang ngga pernah selesai. (sumpeh, selain kalimat pertamanya yang beli ketoprak yang diulang-ulang itu, aku dah lupa ceritanya sabar).
Jam 10 kita harus beranjak dari tempat nyaman kita dan mulai melangkah ke peraduan. Ke tenda masing-masing. Masih enggan juga sih meninggalkan bintang yang begitu indah. Tapi kita harus istirahat karna esok saat fajar datang kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita. Kalau seandainya tenda kita terbuat dari plastik transparan, alangkah indahnya, bisa berbaring di dalam tenda yang hangat sambil memandangi langit penuh bintang. Alangkah eksotisnya malam itu. Makasih Tuhan, Kau beri kita malam yang syahdu nan eksotis.
Tidur berimpitan dalam tenda. Ai, aku, monik, yeti dan fitri yang memilih tidur di depan pintu tenda supaya masih bisa melihat bintang. Kira-kira jam 3 kita dibangunkan. Kloter kedua sudah sampai sebagian. Elia dan Maria yang ditemani Geni. Spontan kita langsung bangun. Menyiapkan tempat buat Elia dan Maria tuk istirahat, sementara kita menyiapkan makanan alakadarnya (yang akhirnya cuman bengong bingung nyari kompor dan nesting) tak lama yang lainnya menyusul tiba, Andrew2, Ade, Goti dan Mario. Indomi, kopi dan tongseng tersaji tuk santap subuh kita. Berbagi pengalaman singkat dan cerita. Hingga tak terasa inilah waktunya kita tuk melanjutkan perjalanan ke puncak pangrango. Packing perbekalan secukupnya, ganti kostum dan bersiap. Senter sudah ada di tangan masing-masing. Kita siap berangkat. ade, Andrew2 dan Yeti memilih tuk tinggal d kandang badak. Fitri dan Scott berjalan di depan diikuti elia dan maria, aku dan phije dan seterusnya. Jam 5 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kandang Badak) kita berangkat. Melangkahkan kaki kita yang sudah sejenak beristirahat dan menggerakkan tubuh kita yang sudah mulai mendingin. Berjalan mencari-cari kehangatan di tengah sejuknya hutan pangrango.
Pangrango.. akhirnya aku berhasil juga menginjakkan kakiku dalam rindangnya hutanmu. Terima kasih kau sudah bersedia menungguku. Terima kasih kau sudah bersedia memanggilku tuk datang. Beberapa kali, kau menampakkan keagunganmu dari balik jendela lantai 5 gedung kantorku. Dan kini kau ijinkan aku tuk bercinta dengan sejuknya udara pagimu, dengan rimbunnya hutanmu, dengan pepohonan tumbang yang merintangi langkah kami, dengan candaan sahabat yang mewarnai sepi hutanmu. Ya.. ku telah kau ijinkan menjelajah hutanmu. Surya sudah mengintip di celah-celah rimbunnya pepohonanmu. Terang sudah datang menggantikan malam. Harapan tuk melihat matahari terbit dari puncakmu mungkin kita kubur dulu sementara. Aku memilih tuk berjalan menikmati hutanmu bersama sahabat.
Langkah-langkah kaki sudah mulai melemah seiring dengan terjalnya hutanmu yang kutapaki. Napas pun sudah semakin tersengal. Aku baru sadar, tadi aku belum sempat makan apa-apa. Cuma mencicip kuah tongseng Andrew2 yang sedap. Bertahan melawan kelemahan diri dan berjuang melawan napas yang kian tersengal. Tapi perut tak dapat berbohong lagi. Berdua dengan ai, duduk di batang pohon yang tumbang, entah di ketinggian berapa, yang jelas di seberang sana, kita sudah dapat melihat puncak gede yang eksotis, bergantian melahap pir yang sejak pagi tersimpan di kantong celanaku. Pir tersegar yang pernah kumakan. mantabBbbb! Lumayan, satu pir berdua cukup menambah energi kita yang sudah terkuras. Lama berjalan akhirnya membentuk satu formasi baru.. tim mencret yang terlambat sampai puncak… aku, ai, maria, fitri, scott, dan geni. (namanya tim mencret karna sambil jalan sambil nungguin maria yang sakit perut.. untung dia bisa mengeluarkan tabungannya di salah satu sudut di hutan pangrango…)
Sambil menunggu maria… kita melahap sarapan berikutnya.. sarapan ala bule nya scott.. roti dan selembar keju (untuk kita semua) dan selembar keju doang buat Geni. Minumnya… nutri sari rasa lemon tea (kayanya punya monik yang ditemukan dengan paksa di tas monik yg dbawa Geni) yang menurutku lebih mirip rasa air pipis. (walaupun jg belum pernah nyobain rasa air pipis).
Sarapan roti keju… dan di seberangnya pemandangan gunung gede serta di sisi lainnya pemandangan maria yang lagi asik nongkrong.. (hehehe.. piss mar!!!) rasanya eksotis dan syahdu.. hahahaha…
Perjalanan kita lanjutkan usai Maria melahap sarapannya. Syukurlah kawan, kau sudah sembuh. Ternyata obatnya: direm putus.. hehehe… Makin dekat dengan puncak napas makin senen-kemis. Ocehan-ocehan sudah mulai sepi. Tapi bukan Jungle namanya kalau ngga bisa menemukan obatnya. Menyanyi adalah obat berikutnya. Sambil mendengarkan Srengenge Nyunar-nya Djaduk yang terputar dari HP nya geni yang dah sekarat (siyal!! Hape gue malah dah meninggal) kita berjalan sambil bernyanyi.. pake gaya juga, Boss!! Hehehehe… wah… tu lagu emang sakti mandraguna…
Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah bunga di taman
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Hahaha.. rasanya langkah jadi ringan. Rasanya seluruh isi hutan pun ikut bernyanyi menyambut kehadiran kita. Semua ikut tersenyum mendengar kita bernyanyi. Semua ikut tertawa melihat gaya kita menari di tengah hutan. Matahari… angin.. burung.. bunga.. dan segala isi hutan… semua ikut bernyanyi bersama kita. Aku kamu dan semuanya turut merasakan betapa syahdunya saat itu.
Puas bernyanyi, hp pun sudah mati… kita melanjutkan langkah dengan jauh lebih ringan. Sampai akhirnya aku menyerah, memakailah alat bantu itu. Oxican!!
Hmmm.. lumayan segar setelah mendapat suplai oksigen bersih. Herman.. di gunung kan oksigennya juga bersih, kenapa juga harus pakai suplai oksigen tambahan. Melihat aku pakai oksigen, scott & geni malah jadi ngiri, dan ikut-ikutan nyobain. Halah.. dasar…
Perjalanan dilanjutkan hingga sampailah kita di puncak pangrango. 3000sekian mdpl. (nanti kulihat yg pastinya). Pukul 9 WJJ (Waktu Jam Jungle) kita tiba di puncak Pangrango, tempat teman-teman sudah menunggu kita.
Gunung yang agung yang telah berulang kali memanggilku tuk datang. Dan kini aku telah menjejakkan kakiku di sana. Di sambut teman-teman yang sudah tiba lebih dulu. Sibuk meladeni para fans yang ingin foto bersama kita, tim mencret yang akhirnya tiba. Mau tak mau kita menunda dulu sementara saat menikmati puncak pangrango.
Terima kasih Tuhan, Kau masih mengijinkanku tuk mencapai puncaknya. Dan ku tahu, Kau telah memberikanku teman seperjalanan yang hebat, yang telah menemaniku sampai di puncak Pangrango.
Perjalanan kita lanjutkan kembali. Puncak bukanlah tujuan terakhir dari perjalanan ini. masih ada lembah mandalawangi, tempat GIE begitu senang bercinta di sana. Dan kami pun harus menjejakkan kaki pula di sana. Perjalanan turun ke lembah mandalawangi tak terlalu lama. Mungkin memakan waktu sekitar 30menit jalanan menurun. Setengah berlari kita menyambut mandalawangi yang sudah menunggu kami. Berlari di balik rimbunnya pepohonan edelweiss yang sedang menguncup yang menghalangi pandangan mata kami tuk melihat surganya Pangrango. Dan langkahku terhenti di lembah penuh cinta itu.
Ini ternyata yang bernama mandalawangi yang terkenal itu. Yang membuat GIE begitu sering ke sini… di sinilah abu Gie ditebarkan. Di sinilah lembah yang katanya elok nan agung itu.
Kalau boleh hati kecilku berbisik jujur… aku lebih suka alun-alun suryakencana. Ada sedikit rasa kecewa menggumuli hatiku. Tempat inikah yang telah kuperjuangkan tuk dapat kulihat??
Tempat inikah yang begitu kucintai, bahkan sebelum aku melihatnya sendiri? Ada apakah dibalik pesona mandalawangi, hingga aku begitu ingin menjejakkan kakiku di sana dan memandanginya langsung.
Lama ku merenung… memandangi sekitar… berbicara banyak dengan hatiku dan memanjatkan banyak permohonan yang dititipkan padaku.
Tuhan memang terasa begitu dekat di sini.
Dalam sunyinya lembah, dimana hanya ada kita… kami dan hati kami masing-masing.
Atau memang suasana membuatku larut dalam kesendirian ini.
Tuhan sebenarnya tidak lebih terasa dekat di sini atau di manapun. Tuhan selalu dekat. Hanya hatiku dan hati kami yang mungkin menjauhkan diri dari Tuhan.
Ah.. aku hanyalah pencari Tuhan. yang kadang merasa Tuhan itu jauh kalau di Jakarta. Tuhan itu jauh kalau aku ada di kota, dimana godaan setan tuk berbuat dosa lebih banyak daripada di gunung. Banyak hal yang membuatku bergumul dalam hati. Ada sesuatu dalam lembah ini yang begitu merasuk ke dalam hatiku. Damai. Sunyi. Syahdu. Dan aku tak tau apa lagi. tak terdefinisikan dengan kata. Yang ku tahu memang di sini ada cinta itu. Cinta yang kucari dan kuharap dapat kutemui di mandalawangi. Cinta yang tak terdefinisikan juga terhadap siapa.. atau terhadap apa…
Syukur kepadaMu Tuhan
Sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kau angkat
Dosa kami Kau ampuni
Kau beri hidup Ilahi
Kami jadi putraMu
Kau tumbuhkan dalam hati
Pengharapan dan iman
Kau kobarkan cinta suci
Dan semangat berkurban
Kami Kau lahirkan pula
Untuk hidup bahagia
Dalam kerajaanMu
Kami hendak mengikuti
Jejak Yesus Sang Abdi
Mengamalkan cinta bakti
Di masyarakat kami
Syukur kepadaMu Tuhan
Atas baptis yang mulia
Tanda Rahmat dan iman
PS. 592
Lagu Syukur mengalun di lembah mandalawangi semakin membuat syahdu tempat ini. mandalawangi lebih tepat tuk disebut syahdu daripada eksotis. Hahaha…
Saatnya tuk minum susunya sabar di sini… asik! Waktu membuka perbekalan kita. Lumayan pemasukanku di sini. Susunya sabar. Jelly yang dimakan berdua dengan joroknya. (orang normal pasti nggilani kl liat kita makan jelly kayak gitu caranya) Pir yang dimakan rame2. (sebenernya tu pir kulitnya dah ngga berbentuk indah lagi. tapi makanan apapun d gunung terasa halal). Sup asparagus instant yang menggumpal, yang kita makan rame2 pake roti dan dicedoki pake kardus bekas susu… (ala bule lagi) (makasih buat Scott atas rotinya)
Puas makan dan minum, waktunya kita buat acara jumpa fans. Foto bersama! Ada yang niat bawa rok batik buat difoto di mandala wangi. Ada yang pake kaos yukensi, dan bulu keteknya kemana-mana dan akhirnya geli sendiri, ketawa sampe ngeces… (sampe skarang gue masi bersyukur ngga ketetesan ilernya yang rabies itu) hehehe… Ada juga yang di foto prewed dengan gaya yang bikin mules. Ada yang fotonya loncat-loncatan. Ada yang foto gaya India… ada yang nempel di setiap foto ada. Dah kaya penampakan aja.
Sa’ karepmu wae lah.. mau di foto gaya apapun di gunung, lagi-lagi.. di gunung, apapun terasa halal. Hehehe…
Saatnya buat packing kembali. Jam 11.30 WJJWMW (Waktu Jam Jungle Waktu diMandalaWangi) Saat kita tuk turun kembali ke kandang badak, tempat amuksi dan teman2 lain menunggu. Eh.. naik lagi ke puncak dulu ding, baru turun lagi. hehehe… lagi-lagi formasi teman seperjalananku kurang lebih sama. Dan lagi-lagi juga, kebiasaan paling jelek, kalo turun pasti kaki jadi sakit… doh nggle.. sampe kapan sih mesti begitu terus… ini yang paling nyusahin… di temple koyo.. dipasangin dekker dan dipijetin… lumayan ampuh sih. Menolong deh. Perjalanan turun kita lumayan santai banget. Banyak ngobrolnya dan bertukar cerita. Dan seperti biasa, dalam perjalanan turun yang paling mengakrabkan kita. Aku, ai, Mario, Geni, Fitri, Scott (ngilang2), Maria, dan kayaknya ada Sempet ada Goti deh… Saling curhat dan bertukar cerita. (ngga bertukar sih, banyakan Geni yang cerita, aku sama Mario yang jadi pendengar yang baik dan bijaksana, tidak sombong dan rajin menabung) Biasa.. mengalihkan perhatian dari kaki yang sakit dan rasa capek. Ceritanya juga mulai ngga jelas sebenarnya. Kalo di tulis pasti orang pada aneh bacanya. Hehehe…
Saat turun dan ngobrol banyak, aku semakin disadarkan dengan keadaan kita sekarang ini. Bagaimana hal yang seharusnya sudah terkonsep dalam pikiran kita masing-masing, kini mulai dilupakan. Bagaimana aku, kamu dan kita semua sebenarnya memiliki hubungan yang kuat, lebih dari sekedar teman biasa, lebih dari sekedar sahabat, tapi aku, kamu dan kita semua adalah saudara. saudara yang terlambat dipertemukan, yang untungnya masih diberi kesempatan tuk bertemu… saudara dalam satu keluarga besar JSN. Hal yang sering kita lupakan kalau kita sudah mulai asik dengan kegiatan kita masing-masing. Hal yang sering kita lupakan kalau kita mulai berbeda pendapat, mulai menggunakan hati yang sakit tuk membenci daripada mengampuni. Hal besar yang sering kita lupakan, bahwa nyatanya kita adalah satu saudara. sejelek apapun aku, ataupun kamu… seburuk apapun kamu atau kan dia, selama kita masih dibawah satu nama JSN, selayaknya kita semua adalah saudara.
Dan betapa kita telah sering asik dengan kesenangan kita sendiri tanpa ingat lagi tuk merangkul saudara-saudara yang telah lama pergi dan terlupakan.
Hal yang menyenangkan karena aku bisa turun dari puncak dan menguatkan konsep yang sudah mulai mengabur di dalam pikiranku. Makasi ya Gen, buat segala pencerahannya. Kita emang baru ketemu 2x, tapi lo dah banyak ngajarin gue sesuatu, terutama lo dah ngingetin gue bahwa kita semua masih saudara. sejelekjeleknya lo… dan semanis-manisnya gue… atau secupu-cupunya fitri… yang manis, yang kuat, yang sabar, yang menyebalkan, yang pemarah, yang manja, yang periang, semuanya satu. Yang di Jakarta yang di Solo, yang di Jogja, Kalimantan, Thailand, Nabire dan dimanapun. Semuanya satu. Dan kita harus tetap mengingat itu. Kejahilan-kejahilan… gurauan-gurauan, amarah, tawa, tangis, cinta, mungkin itu semuanya yang mewarnai hubungan diantara kita dan akan tetap berwarna terus selamanya.
Mungkin ada yang menganggap pemikiran aku terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Mungkin juga ada yang menganggap aku terlalu terbawa suasana karena di gunung, kita semua saling ketergantungan, kita merasa saling membutuhkan lalu aku menganggap kalian saudara karena aku membutuhkan kalian…. Terserah… tapi aku benar-benar merasa konsep persaudaraan kita ini sudah mulai memudar. Dan terima kasih karena aku masih diberikan kesempatan tuk menyadari hal itu, bahwa hubungan antara aku dan kalian… walaupun mungkin baru dipertemukan dalam perjalanan ini, ataupun sudah saling mengenal bertahun-tahun, seperti ada jalinan benang merah yang mengikatkan kita hingga membuat kita dapat langsung akrab dan merasa dekat. Kita memang dekat, karena hati kita semuanya berdekatan. Dan hanya kita sendiri yang dapat menjauhkannya.
Aku merasa, di tangan kiri kita seperti ada ikatan benang merah yang terjalin kuat satu sama lain. Saling berhubungan satu sama lain. Tidak kasat mata, tapi dapat kita rasakan dengan hati. Sedangkan di tangan kanan kita tergenggam sebuah gunting yang dapat memutuskannya. Hanya gunting yang ada di tangan kita yang dapat memutuskan ikatan tali di jari kita, sehingga membuat kita memisahkan diri dari jalinan benang merah tersebut. Dan itu adalah pilihan kita masing-masing. Ingin membuat gunting itu tidak akan pernah terpakai selamanya, atau ingin menggunakan gunting itu.
Kira-kira jam ½ 3 aku, Mario dan Geni (kalo ngga salah) sampai di kandang badak. Ai dan yang lainnya sudah duluan. Rasa lega lebih menjalariku. Akhirnya sampai juga. Amuksie menyambut kita. Muks.. lain kali kamu harus naik sampai puncak, ya.. kita temenin lagi deh.. hehehe…
Kita mulai istirahat, masak mi dan menghabiskan seluruh perbekalan adalah tujuan utama kita. Supaya beban yang kita bawa turun nantinya jadi ringan. Habis makan, kita semua lantas bersih-bersih dan packing lagi. siap tuk turun dan pulang.
Jam 4 kita beranjak turun dari kandang badak. Hari sudah mulai sore dan surya juga sudah mulai beranjak sembunyi. Kita mulai melangkah turun. Menapaki jalan menjauhi kandang badak, menjauhi pangrango dan gede. Lagi-lagi kakiku bermasalah. Dan kali ini malah badanku juga sudah mulai ngga bisa diajak kompromi. Aku baru sadar, di kandang badak tadi aku kurang mengisi energi. Kebanyakan nyuapin anak-anak burung.. hehehe… perut yang mules minta dilakukan pembuangan juga membuat badanku semakin lemas. Tapi ku tahan juga. Perjalanan pun terasa amat panjang dan tak berkesudahan. Kemalaman sudah pasti. Lelah pun sudah pasti. Badan rasanya melayang… (Nal.. seharusnya aku pake tuh energinya… tapi jadi malah ngga kepikiran) otak dah antara sadar dan ngga sadar. Tak lepas tanganku dan ai bergandengan sampai bawah. Sama-sama saling menguatkan. Dan kayanya banyakan ai yang menguatkan ku. Thanks ai!
Badan sama-sama lelah dan sudah tak bertenaga. Sebentar-sebentar maunya istirahat. Geni sudah mengingatkan tuk terus berjalan, jangan berhenti. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang ngga beres, tapi otak sudah ngga sanggup lagi tuk berpikir. Pelan pelan kita menapak turun melewati langkah demi langkah kita, semakin menjauhi kandang badak, gede dan pangrango. Hari semakin malam dan gelap semakin pekat. Tubuh pun tak kalah lelahnya. Makasih buat Geni yang bawain tasku sebentar dan andrew2 yang akhirnya bawain tasku sampai bawah, yang bikin langkahku jadi lumayan tapi kakinya jadi lecet…
Sampai lewat telaga, barulah kita ingat, apa yang menguatkan kita selama di perjalanan. CERITA!!! Dan disitulah cerita kita tak putus mengalir dari bibir kita masing-masing.. Aku, Ai, Maria, Mario, Ade dan Andrew yang berjalan di depan. Dan sampailah kita di basecamp. Rombongan terakhir (seperti biasa) kira2 jam ½ 9. monik, goti, geni, sudah menunggu kita.
Dan inilah akhir dari perjalanan kita. Perjalanan yang kunamakan a blessed journey. Perjalanan yang terberkati Tuhan. karena sejak awal aku merasakan Dia memberikan kemudahan bagi kita tuk dapat mendaki sampai puncak. Melewati rintangan dan membiarkan kita meninggalkan jejak-jejak kaki kita di sana. Tanpa berkatNya pastinya ini semua tidak akan terlaksana. Hujan pun enggan turun menghalangi langkah kita. Bintang pun seakan tersenyum menyambut kedatangan kita. Apalagi yang mau kita keluhkan???
Supir bus gila yang membawa kita sampe kampung rambutan kurasa.. hehehehe… yang bikin kita semua terpental-pental di dalamnya. lagi-lagi perjalanan ini toh masih diberkati, karena biarpun naik bus gila-gilaan tetap saja kita bisa sampai dengan selamat dan cepat pula.
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
akhirnya…
Special thanks to:
setelah sekian lama, bisa naik gunung lagi gue, terutama pangrango. semuanya seperti diberikan kemudahan dari Tuhan. gue pikir gue masih cuti gunung sampai taun depan, ternyata… skarang dah selesai masa cutinya. Banyak2 gue ucapkan terima kasih buat temen2 sekalian:
buat monik & ai yang mau susah payah mendaftarkan kita dan membuat mimpi ini akhirnya terwujud. terutama buat monik yg menjadikan ini nyata. bantuin melengkapi perlengkapan gue. Membuat segalanya menjadi mungkin.
buat ai dan gandengan tangannya yang kecil tapi kokoh yang dah nemenin dari naik sampe turun. ngga ada loe ngga rame. ocehan dan cerita2 lo bikin semangat. Terutama tangan kecil lo yang emang bener2 menguatkan.
buat andrew yang dah mbawain tas turun, yang dah nganterin pulang selamat sampe d rumah, yang dah ngasi dukungan moril spirituil. halagh.. lain kali kamu harus muncak ya, muks… ku temenin deh… sama tongsengmu. (kmarin ga berani makan, gara2 badan lagi ngawur). kapan2 kita harus bareng naik lagi.
buat sabar, yang kalo di rem putus.. lain kali bikin tebakan yang lebih bermutu lagi. masa dari kmaren ketebak terus. ngomong2 waktu lo beli ketoprak, bintangnya bagus ya… lo boleh bilang gue tulalit, tapi (semoga) gue dah meninggalkan kebodohan gue d mandala wangi, yang kemudian akhirnya lo pungut. skali2 bertobatlah jangan jadi NABO… dasar, BOJOK! hahaha… makasih karna lo telah membuktikan kesabaran namamu. dan maaf, lo bukan tumbal kok.
buat fitri cupskie…
lo tau isi hati gue, babe… terutama saat2 sebelum naik dan hal2 lain yang membuat konsentrasi gue terpecah. jangan berbuat mesum lagi sama ai d tengah hutan, apalagi sampe ketauan orang. Hehehe… gimana perjalanan kita berikutnya??
buat andri yang sabaraphael nemenin sampe atas dan turun lagi dan curhatan2nya yang nambah2in semangat buat terus jalan dan kelakuan2nya yang kadang2 aneh semoga kapan2 bisa foto india bareng lagi dan semoga lain waktu bisa bertualang bareng lagi. Makasih dah memberikan ku banyak pencerahan di hutan sana.
PS: lagi mikir2 manggil nama lo yang enak ap… susah nyebutnya.. akhirnya terpikir… lo gue panggil GENI aja ya.. bukan gendruk atau andri. lidah gue sering keselo nyebutnya… biar mirip sama kembaranmu.. goti dan geni.. halah… sampe di catper pun nama lo dah gue ganti dengan hormatnya…
buat mario, maria, ade, ai (lagi), andrew
atas ocehan ngga jelas tentang hal2 ngga jelas yang akhirnya justru menguatkan kita sama2 buat turun dengan selamat.
buat scott..makasi buat logistiknya, terutama roti keju itu… arrgghh.. rasanya eksotis banget ga sih?? makan roti keju, di tengah hutan pangrango, di seberang pemandangan puncak gede dan di balik semak pemandangan maria lagi ngerem putus…haha… oh ya.. tertarik tawaranmu ke ujung kulon, tapi maret ada trip lain. k makassar aja yuk, scott!!
buat goti…namamu ngga aneh kok. yang bikin kan gue. hahaha… sampe jumpa d petualangan berikutnya.
buat elia
lain kali harus lebih kuat dan berani lagi. jangan loyo dan ngoyo. kenali dirimu dan kekuatan dirimu. tapi proficiat dah sampai puncak
buat phije dan antek2nya…
phije… lo dah lebih baek dari salak kmaren. lain kali tambah smangat y. dan temen2nya phije.. jangan kapok naik gunung lagi.
buat Bang Alpin
makasih buat tempatnya tuk kita singgah sebelum dan sesudah muncak. makasih buat packingannya.
buat tim mencret yang barengan muncak..
ngga ada loe ngga rame!!
Buat Om Djaduk Feriyanto yang telah membuat lagu Srengenge Nyunar menjadi lebih memiliki jiwa. Apalagi kalau kita menyanyikannya di gunung. Terima kasih juga buat lagu syukur nya yang juga terasa semakin bermakna ketika kita menyanyikannya di lembah mandalawangi. 4 jempolku terangkat tuk Om Djaduk atas gubahannya. Hidup musik Indonesia!!!
Buat Teman2 tim Desk Foto dan Grafis SP yang semakin membuat lagu ini lebih dalam lagi artinya. Cerita dikit. Lagu ini dan lagu Tuhan Sumber Gembiraku kita nyanyiin bareng, dari desk foto dan grafis, dengan gerak dan suara kita yang alakadarnya di acara natalan kantor.
Buat Teman2 unit sirkulasi SP yang data KTPnya dipakai buat daftar Pangrango tanpa sepengetahuan mereka. Dan untunglah sampe skarang mereka jg tetep ngga tau. Hehehe…
buat semuanya… sampe jumpa di perjalanan berikutnya.
dan yang terakhir
buat Tuhan dan segala keindahan alam ciptaanMu
terima kasih buat segala keindahan yang Kau ciptakan tuk mengisi detik2 ku di Pangrango. bintang2 terindah dalam hidupku, cuaca yang 10000% cerah terang benderang. dan lain lainnya
mohon maaf buat pangrango.. ternyata gue lebih cinta sama Gede daripada sama lo… hehehe… puncak dan suryakencananya lebih eksotis, walau lebih ramai dan kotor, tapi gatau kenapa hati gue menetap di surken. di pangrango, gue lebih menikmati proses perjalanan panjang waktu naik dan turunnya. perjuangannya merayapi hutan2nya yang eksotis. hehehe…
jadi.. tiba2 merindukan naik gede, apakah ada yang mau naik gede lagi?? yuks.. gue dah siap! kapan?? Hehehe…
dan ketika semuanya sudah berlalu,
yang ada hanya kenangan yang terpatri
dan harapan akan terulang kembali…
Sebuah Catatan Perjalanan dan Refleksi Pendakian Gunung Pangrango20-21 Desember 2008
By Jungle (Silvia Widianti yang Jelita)
Mungkin ini adalah pendakian pertama dan terakhirku di tahun ini. Antara ingin ikut dan keraguan-keraguan yang timbul dalam hati. Mampukah aku menjalani semuanya ini. Tak berani berharap dan tak berani bermimpi. Mungkin ini untuk yang pertama kalinya bermimpi pun aku takut. Takut kalau kemudian aku terbangun dan mendapati itu semuanya hanyalah mimpi. Bener-bener sebuah perasaan yang aneh. Seorang jungle takut buat bermimpi. Lebih tepatnya aku takut membayangkan aku akan naik Pangrango. Aku tak pernah mengharapkan bisa naik gunung lagi tahun ini. Kupikir masa cutiku belum habis. Jadi walaupun aku sudah tau lama tuk naik Pangrango, aku lebih mengurungkan niatku dan sewaktu teman-teman merencanakan naik Sindoro, aku lebih memilih tuk naik sindoro. Mungkin aku lebih berani menghadapi tuk naik sindoro dibandingkan pangrango. Karena itu bukan gunung impianku. Kalo ngga jadi naik pun mungkin masih tak apa-apa.
Satu dorongan mungkin yang membuatku akhirnya berani tuk sedikit bermimpi dan memutuskan tuk ikut perjalanan kali ini. Dengan persiapan yang hampir ngga matang, aku memutuskan pergi. Antara takut tak mendapat ijin, takut kalo kondisi fisik ternyata masih belum fit. Banyak ketakutan yang berusaha kubuang jauh-jauh. Terlalu banyak berpikir nantinya malah membuatku ngga jadi pergi. Just let it flow… satu yang menjadi kekhawatiran terbesarku…. Andrew masih ada di Bali dan belum pasti pulang ke Jakarta. Kalo ngga ada Andrew berarti perjalanan ini batal. SIO (Surat Ijin Orangtua) pasti bakalan tidak keluar. Terus terang lagi badanku lagi dalam kondisi kelelahan dan ngga fit banget. Lembur terus-terusan seminggu, mempersiapkan acara natalan d kantor juga, dan sempat salah makan (sarapan pagi pakai kambing, makan siang pake duren, untung masih hidup…) hingga terasa banget beberapa hari aku kliyengan dah mirip orang mabok. Lelah mempersiapkan natal d kantor sambil kepala keliyengan bikin hatiku degdegan juga. Yang tadinya berniat mendekor aula lantai 6 sambil naik turun tangga 6 lantai buat sekalian pemanasan naik gunung jadi ngga berani terus-terusan… cukup beberapa kali naik turun tangga, habis itu sudah. Dari pada nanti natalan justru tepar, gaswat. Mudah-mudahan pula aku masih diberi kesehatan. Ocehan si kecil Aching d Sanggar Akar seminggu sebelum aku pergi mungkin juga salah satu penyulut gejolak liarku yang lama terkubur. Pelan-pelan tapi pasti aku mempersiapkan perjalanan ini. pelan-pelan pun keyakinanku mulai tumbuh. Pangrango… tunggu aku!
Aku benar-benar gugup sekali. Jantung berdegup kencang. Tangan dingin dan berkeringat. Ya… esok adalah hari keberangkatanku. Hari ini 2 pria terpenting dalam hidupku baru kembali ke Jakarta dan esok sudah ku tinggal pergi lagi. SIO sudah keluar. Beberapa teman ku kirim pesan singkat lewat ponsel atau YM, mohon doa restu dan doanya tuk perjalananku kali ini. Suatu kebiasaan yang sangat jarang ku lakukan. Dan kali ini aku benar-benar serius minta didoakan supaya benar-benar selamat. Serius tuk berpamitan dan supaya aku masih ingat pulang. (PS: sampe2 minta2 maaf segala.. hehehe…) pokoknya saat-saat aku benar-benar butuh dukungan dan kekuatan. Sampai meminjam kekuatan dari orang lain… (PS: buat sahabatku nun disana. Gue ngga jadi pinjam kekuatanmu. Cahaya putih yang turun dari langit itu untukmu saja. Sepertinya kau lebih membutuhkannya saat ini). Ngga lupa aku membawa amanat dari teman-teman yang minta di salamin dan di doakan di mandala wangi. (doakan aku dapat menginjakkan kaki di lembah mandala wangi ya, supaya aku bisa memanjatkan doa-doa buat kalian). Semakin banyak titipan doa, semakin kuat langkah dan niatku tuk sampai lembah mandala wangi. Padahal sebelumnya aku tak yakin kalau aku bisa sampai ke puncak. Kandang badak saja sudah puji Tuhan. Sekarang.. banyak titipan doa, makanya aku harus kuat sampai puncak!
This is the D day!!!
Pagi-pagi sudah dapat sms dari seorang saudara nun di sana, kalo dia juga ikutan degdegan karna aku mau pergi. Hah… asem.. yang hati sudah mulai tenang jadi degdegan lagi. oh Tuhan… akhirnya aku pergi juga. Pagi ini aku packing ulang tasku.. untuk yang keempat kalinya. Hehe.. saking gugupnya dari kemarin aku sampai 4 kali packing. Aku berangkat setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si moli… doakan aku pulang sama si selamet ya…
Tujuan pertamaku adalah terminal kampong rambutan. Naik angkot S08 turun di pasar jumat (IDR 4000) trus lanjut naik bus ke kampung rambutan 509 (IDR 3000). Dan saudara-saudara sekalian… aku menghimbau, jangan pernah ke kampung rambutan naik 509 kalo ngga super kepepet. Karena bis ini ngetem sampe 5x!!! bayangkan!! 5 x 15 menit = aku terlambat!!! Maaf teman-teman. Sampai di kampung rambutan semua sudah menungguku. Perkenalkan. Aku Jungle yang terlambat. Pasukan yang berangkat pagi kali ini adalah: Jungle, Fitri, Scott, Ai, Monik, Yeti, Pije, Jeremi, Andrew, Sabar.
Naik bus arah Cianjur yang lewat Cibodas (IDR 12000). Jam 10 berangkat.
Dan inilah perjalanan itu di mulai. Dalam hati berdoa, mohon restu. Mohon ampun. Mohon bisa sampai puncak. Mohon bisa mendoakan teman-teman. Mohon diberi keselamatan. Mohon diberi kekuatan. Mohon ngga kedinginan kalau ketemu sama badai. Mohon supaya yang menyusul pun di beri keselamatan. Banyak mohonnya.
Kira-kira jam ½ 12 sampailah kita di Cibodas. Menunggu phije, Jeremy dan Andrew yang beli sweater di FO, kita ngabur makan dulu. Lumayanlah pengganjal sampai malam tiba nanti. Udara sejuk cibodas sudah menyambut kami. Jantungku kembali berdebar. Oh Tuhan… sampailah kita di Pangrango. Masih juga tak berani percaya. Makan siang secukupnya, tak lupa membeli nasi tuk perbekalan nanti malam. Kemudian naik angkot sampai pos cibodas. (IDR 3000) di kaki cibodas kita langsung ke tempatnya bang Alpin yang sudah sabaraphael menunggu kita. Tempatnya lupa namanya. Beliau sepertinya yang membantu kita mendaftar. Repacking bawaan kita (terutama tas pink super cantikku yang harus muat dengan segala isinya). Jujur, ini pendakianku yang paling cantik. Tasnya aja mini begitu. Hahaha… jam ½ 2 kita mulai mendaki. Tujuan kita adalah kandang badak. Perjalanan panjang ini dimulai. Sebagian besar perjalananku ditemani ai. (spesial thanks buat ai yang dah spesial nemenin gue jg) agak lumayan jg pendakiannya sampai ke kandang badak. Kurang pemanasan juga nih ternyata aku. Lewat air panas beberapa teman jalan duluan membantu menyiapkan tenda. Kalau ngga salah Scott, Fitri, Sabar, Andrew, dan Jeremy. Sisanya kita di belakang.
Jam ½ 8 WIC (Waktu Indonesia bagian Cibodas) aku dan beberapa teman yg dibelakang sampai juga di kandang badak. Dah banyak yang pasang tenda di sana. Tenda kita jg baru berdiri 1. langsung deh kita menyiapkan makan malam sementara teman yang lainnya melanjutkan memasang tenda. Dingin mulai menggigit kulit-kulit telanjang kita. Berganti pakaian yang sudah basah selama perjalanan dengan yang layak, kemudian melanjutkan acara memasak dan makan malam. Semua dihajar rame-rame.
Waktunya kita tuk bercengkrama di bawah taburan bintang-bintang. Rasanya kesyahduan malam itu masih belum cukup juga, Tuhan menaburkan bintang-bintangnya di langit di atas kita tuk mewarnai malam kita di kandang badak. Bersenda gurau, duduk berhimpitan diatas matras dan ditemani cahaya lilin, bintang dan bulan… jadi mau nyanyi lagunya eros dan okta, cahaya bulan… wah.. harusnya kmarin kusetel juga tuh puisinya gie di kandang badak. Siyal.. hapeku langsung lobet sih… (pelajaran: kalo ke gunung harus bawa batere HP cadangan buat setel lagu eksotis romantis dan buat foto-foto d puncak). Berbagi cerita dan bermain tebakan. Aku, fitri, scott, sabar, monik, phije. Duduk berhimpitan saling berbagi kehangatan dan keempukan lemak, mulai ngobrol ngawur, ditemani bintang-bintang yang eksotis, musang yang mencuri-curi mengambil makanan kita, cerita-cerita anehnya sabar yang ngga pernah selesai. (sumpeh, selain kalimat pertamanya yang beli ketoprak yang diulang-ulang itu, aku dah lupa ceritanya sabar).
Jam 10 kita harus beranjak dari tempat nyaman kita dan mulai melangkah ke peraduan. Ke tenda masing-masing. Masih enggan juga sih meninggalkan bintang yang begitu indah. Tapi kita harus istirahat karna esok saat fajar datang kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita. Kalau seandainya tenda kita terbuat dari plastik transparan, alangkah indahnya, bisa berbaring di dalam tenda yang hangat sambil memandangi langit penuh bintang. Alangkah eksotisnya malam itu. Makasih Tuhan, Kau beri kita malam yang syahdu nan eksotis.
Tidur berimpitan dalam tenda. Ai, aku, monik, yeti dan fitri yang memilih tidur di depan pintu tenda supaya masih bisa melihat bintang. Kira-kira jam 3 kita dibangunkan. Kloter kedua sudah sampai sebagian. Elia dan Maria yang ditemani Geni. Spontan kita langsung bangun. Menyiapkan tempat buat Elia dan Maria tuk istirahat, sementara kita menyiapkan makanan alakadarnya (yang akhirnya cuman bengong bingung nyari kompor dan nesting) tak lama yang lainnya menyusul tiba, Andrew2, Ade, Goti dan Mario. Indomi, kopi dan tongseng tersaji tuk santap subuh kita. Berbagi pengalaman singkat dan cerita. Hingga tak terasa inilah waktunya kita tuk melanjutkan perjalanan ke puncak pangrango. Packing perbekalan secukupnya, ganti kostum dan bersiap. Senter sudah ada di tangan masing-masing. Kita siap berangkat. ade, Andrew2 dan Yeti memilih tuk tinggal d kandang badak. Fitri dan Scott berjalan di depan diikuti elia dan maria, aku dan phije dan seterusnya. Jam 5 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kandang Badak) kita berangkat. Melangkahkan kaki kita yang sudah sejenak beristirahat dan menggerakkan tubuh kita yang sudah mulai mendingin. Berjalan mencari-cari kehangatan di tengah sejuknya hutan pangrango.
Pangrango.. akhirnya aku berhasil juga menginjakkan kakiku dalam rindangnya hutanmu. Terima kasih kau sudah bersedia menungguku. Terima kasih kau sudah bersedia memanggilku tuk datang. Beberapa kali, kau menampakkan keagunganmu dari balik jendela lantai 5 gedung kantorku. Dan kini kau ijinkan aku tuk bercinta dengan sejuknya udara pagimu, dengan rimbunnya hutanmu, dengan pepohonan tumbang yang merintangi langkah kami, dengan candaan sahabat yang mewarnai sepi hutanmu. Ya.. ku telah kau ijinkan menjelajah hutanmu. Surya sudah mengintip di celah-celah rimbunnya pepohonanmu. Terang sudah datang menggantikan malam. Harapan tuk melihat matahari terbit dari puncakmu mungkin kita kubur dulu sementara. Aku memilih tuk berjalan menikmati hutanmu bersama sahabat.
Langkah-langkah kaki sudah mulai melemah seiring dengan terjalnya hutanmu yang kutapaki. Napas pun sudah semakin tersengal. Aku baru sadar, tadi aku belum sempat makan apa-apa. Cuma mencicip kuah tongseng Andrew2 yang sedap. Bertahan melawan kelemahan diri dan berjuang melawan napas yang kian tersengal. Tapi perut tak dapat berbohong lagi. Berdua dengan ai, duduk di batang pohon yang tumbang, entah di ketinggian berapa, yang jelas di seberang sana, kita sudah dapat melihat puncak gede yang eksotis, bergantian melahap pir yang sejak pagi tersimpan di kantong celanaku. Pir tersegar yang pernah kumakan. mantabBbbb! Lumayan, satu pir berdua cukup menambah energi kita yang sudah terkuras. Lama berjalan akhirnya membentuk satu formasi baru.. tim mencret yang terlambat sampai puncak… aku, ai, maria, fitri, scott, dan geni. (namanya tim mencret karna sambil jalan sambil nungguin maria yang sakit perut.. untung dia bisa mengeluarkan tabungannya di salah satu sudut di hutan pangrango…)
Sambil menunggu maria… kita melahap sarapan berikutnya.. sarapan ala bule nya scott.. roti dan selembar keju (untuk kita semua) dan selembar keju doang buat Geni. Minumnya… nutri sari rasa lemon tea (kayanya punya monik yang ditemukan dengan paksa di tas monik yg dbawa Geni) yang menurutku lebih mirip rasa air pipis. (walaupun jg belum pernah nyobain rasa air pipis).
Sarapan roti keju… dan di seberangnya pemandangan gunung gede serta di sisi lainnya pemandangan maria yang lagi asik nongkrong.. (hehehe.. piss mar!!!) rasanya eksotis dan syahdu.. hahahaha…
Perjalanan kita lanjutkan usai Maria melahap sarapannya. Syukurlah kawan, kau sudah sembuh. Ternyata obatnya: direm putus.. hehehe… Makin dekat dengan puncak napas makin senen-kemis. Ocehan-ocehan sudah mulai sepi. Tapi bukan Jungle namanya kalau ngga bisa menemukan obatnya. Menyanyi adalah obat berikutnya. Sambil mendengarkan Srengenge Nyunar-nya Djaduk yang terputar dari HP nya geni yang dah sekarat (siyal!! Hape gue malah dah meninggal) kita berjalan sambil bernyanyi.. pake gaya juga, Boss!! Hehehehe… wah… tu lagu emang sakti mandraguna…
Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah bunga di taman
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Hahaha.. rasanya langkah jadi ringan. Rasanya seluruh isi hutan pun ikut bernyanyi menyambut kehadiran kita. Semua ikut tersenyum mendengar kita bernyanyi. Semua ikut tertawa melihat gaya kita menari di tengah hutan. Matahari… angin.. burung.. bunga.. dan segala isi hutan… semua ikut bernyanyi bersama kita. Aku kamu dan semuanya turut merasakan betapa syahdunya saat itu.
Puas bernyanyi, hp pun sudah mati… kita melanjutkan langkah dengan jauh lebih ringan. Sampai akhirnya aku menyerah, memakailah alat bantu itu. Oxican!!
Hmmm.. lumayan segar setelah mendapat suplai oksigen bersih. Herman.. di gunung kan oksigennya juga bersih, kenapa juga harus pakai suplai oksigen tambahan. Melihat aku pakai oksigen, scott & geni malah jadi ngiri, dan ikut-ikutan nyobain. Halah.. dasar…
Perjalanan dilanjutkan hingga sampailah kita di puncak pangrango. 3000sekian mdpl. (nanti kulihat yg pastinya). Pukul 9 WJJ (Waktu Jam Jungle) kita tiba di puncak Pangrango, tempat teman-teman sudah menunggu kita.
Gunung yang agung yang telah berulang kali memanggilku tuk datang. Dan kini aku telah menjejakkan kakiku di sana. Di sambut teman-teman yang sudah tiba lebih dulu. Sibuk meladeni para fans yang ingin foto bersama kita, tim mencret yang akhirnya tiba. Mau tak mau kita menunda dulu sementara saat menikmati puncak pangrango.
Terima kasih Tuhan, Kau masih mengijinkanku tuk mencapai puncaknya. Dan ku tahu, Kau telah memberikanku teman seperjalanan yang hebat, yang telah menemaniku sampai di puncak Pangrango.
Perjalanan kita lanjutkan kembali. Puncak bukanlah tujuan terakhir dari perjalanan ini. masih ada lembah mandalawangi, tempat GIE begitu senang bercinta di sana. Dan kami pun harus menjejakkan kaki pula di sana. Perjalanan turun ke lembah mandalawangi tak terlalu lama. Mungkin memakan waktu sekitar 30menit jalanan menurun. Setengah berlari kita menyambut mandalawangi yang sudah menunggu kami. Berlari di balik rimbunnya pepohonan edelweiss yang sedang menguncup yang menghalangi pandangan mata kami tuk melihat surganya Pangrango. Dan langkahku terhenti di lembah penuh cinta itu.
Ini ternyata yang bernama mandalawangi yang terkenal itu. Yang membuat GIE begitu sering ke sini… di sinilah abu Gie ditebarkan. Di sinilah lembah yang katanya elok nan agung itu.
Kalau boleh hati kecilku berbisik jujur… aku lebih suka alun-alun suryakencana. Ada sedikit rasa kecewa menggumuli hatiku. Tempat inikah yang telah kuperjuangkan tuk dapat kulihat??
Tempat inikah yang begitu kucintai, bahkan sebelum aku melihatnya sendiri? Ada apakah dibalik pesona mandalawangi, hingga aku begitu ingin menjejakkan kakiku di sana dan memandanginya langsung.
Lama ku merenung… memandangi sekitar… berbicara banyak dengan hatiku dan memanjatkan banyak permohonan yang dititipkan padaku.
Tuhan memang terasa begitu dekat di sini.
Dalam sunyinya lembah, dimana hanya ada kita… kami dan hati kami masing-masing.
Atau memang suasana membuatku larut dalam kesendirian ini.
Tuhan sebenarnya tidak lebih terasa dekat di sini atau di manapun. Tuhan selalu dekat. Hanya hatiku dan hati kami yang mungkin menjauhkan diri dari Tuhan.
Ah.. aku hanyalah pencari Tuhan. yang kadang merasa Tuhan itu jauh kalau di Jakarta. Tuhan itu jauh kalau aku ada di kota, dimana godaan setan tuk berbuat dosa lebih banyak daripada di gunung. Banyak hal yang membuatku bergumul dalam hati. Ada sesuatu dalam lembah ini yang begitu merasuk ke dalam hatiku. Damai. Sunyi. Syahdu. Dan aku tak tau apa lagi. tak terdefinisikan dengan kata. Yang ku tahu memang di sini ada cinta itu. Cinta yang kucari dan kuharap dapat kutemui di mandalawangi. Cinta yang tak terdefinisikan juga terhadap siapa.. atau terhadap apa…
Syukur kepadaMu Tuhan
Sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kau angkat
Dosa kami Kau ampuni
Kau beri hidup Ilahi
Kami jadi putraMu
Kau tumbuhkan dalam hati
Pengharapan dan iman
Kau kobarkan cinta suci
Dan semangat berkurban
Kami Kau lahirkan pula
Untuk hidup bahagia
Dalam kerajaanMu
Kami hendak mengikuti
Jejak Yesus Sang Abdi
Mengamalkan cinta bakti
Di masyarakat kami
Syukur kepadaMu Tuhan
Atas baptis yang mulia
Tanda Rahmat dan iman
PS. 592
Lagu Syukur mengalun di lembah mandalawangi semakin membuat syahdu tempat ini. mandalawangi lebih tepat tuk disebut syahdu daripada eksotis. Hahaha…
Saatnya tuk minum susunya sabar di sini… asik! Waktu membuka perbekalan kita. Lumayan pemasukanku di sini. Susunya sabar. Jelly yang dimakan berdua dengan joroknya. (orang normal pasti nggilani kl liat kita makan jelly kayak gitu caranya) Pir yang dimakan rame2. (sebenernya tu pir kulitnya dah ngga berbentuk indah lagi. tapi makanan apapun d gunung terasa halal). Sup asparagus instant yang menggumpal, yang kita makan rame2 pake roti dan dicedoki pake kardus bekas susu… (ala bule lagi) (makasih buat Scott atas rotinya)
Puas makan dan minum, waktunya kita buat acara jumpa fans. Foto bersama! Ada yang niat bawa rok batik buat difoto di mandala wangi. Ada yang pake kaos yukensi, dan bulu keteknya kemana-mana dan akhirnya geli sendiri, ketawa sampe ngeces… (sampe skarang gue masi bersyukur ngga ketetesan ilernya yang rabies itu) hehehe… Ada juga yang di foto prewed dengan gaya yang bikin mules. Ada yang fotonya loncat-loncatan. Ada yang foto gaya India… ada yang nempel di setiap foto ada. Dah kaya penampakan aja.
Sa’ karepmu wae lah.. mau di foto gaya apapun di gunung, lagi-lagi.. di gunung, apapun terasa halal. Hehehe…
Saatnya buat packing kembali. Jam 11.30 WJJWMW (Waktu Jam Jungle Waktu diMandalaWangi) Saat kita tuk turun kembali ke kandang badak, tempat amuksi dan teman2 lain menunggu. Eh.. naik lagi ke puncak dulu ding, baru turun lagi. hehehe… lagi-lagi formasi teman seperjalananku kurang lebih sama. Dan lagi-lagi juga, kebiasaan paling jelek, kalo turun pasti kaki jadi sakit… doh nggle.. sampe kapan sih mesti begitu terus… ini yang paling nyusahin… di temple koyo.. dipasangin dekker dan dipijetin… lumayan ampuh sih. Menolong deh. Perjalanan turun kita lumayan santai banget. Banyak ngobrolnya dan bertukar cerita. Dan seperti biasa, dalam perjalanan turun yang paling mengakrabkan kita. Aku, ai, Mario, Geni, Fitri, Scott (ngilang2), Maria, dan kayaknya ada Sempet ada Goti deh… Saling curhat dan bertukar cerita. (ngga bertukar sih, banyakan Geni yang cerita, aku sama Mario yang jadi pendengar yang baik dan bijaksana, tidak sombong dan rajin menabung) Biasa.. mengalihkan perhatian dari kaki yang sakit dan rasa capek. Ceritanya juga mulai ngga jelas sebenarnya. Kalo di tulis pasti orang pada aneh bacanya. Hehehe…
Saat turun dan ngobrol banyak, aku semakin disadarkan dengan keadaan kita sekarang ini. Bagaimana hal yang seharusnya sudah terkonsep dalam pikiran kita masing-masing, kini mulai dilupakan. Bagaimana aku, kamu dan kita semua sebenarnya memiliki hubungan yang kuat, lebih dari sekedar teman biasa, lebih dari sekedar sahabat, tapi aku, kamu dan kita semua adalah saudara. saudara yang terlambat dipertemukan, yang untungnya masih diberi kesempatan tuk bertemu… saudara dalam satu keluarga besar JSN. Hal yang sering kita lupakan kalau kita sudah mulai asik dengan kegiatan kita masing-masing. Hal yang sering kita lupakan kalau kita mulai berbeda pendapat, mulai menggunakan hati yang sakit tuk membenci daripada mengampuni. Hal besar yang sering kita lupakan, bahwa nyatanya kita adalah satu saudara. sejelek apapun aku, ataupun kamu… seburuk apapun kamu atau kan dia, selama kita masih dibawah satu nama JSN, selayaknya kita semua adalah saudara.
Dan betapa kita telah sering asik dengan kesenangan kita sendiri tanpa ingat lagi tuk merangkul saudara-saudara yang telah lama pergi dan terlupakan.
Hal yang menyenangkan karena aku bisa turun dari puncak dan menguatkan konsep yang sudah mulai mengabur di dalam pikiranku. Makasi ya Gen, buat segala pencerahannya. Kita emang baru ketemu 2x, tapi lo dah banyak ngajarin gue sesuatu, terutama lo dah ngingetin gue bahwa kita semua masih saudara. sejelekjeleknya lo… dan semanis-manisnya gue… atau secupu-cupunya fitri… yang manis, yang kuat, yang sabar, yang menyebalkan, yang pemarah, yang manja, yang periang, semuanya satu. Yang di Jakarta yang di Solo, yang di Jogja, Kalimantan, Thailand, Nabire dan dimanapun. Semuanya satu. Dan kita harus tetap mengingat itu. Kejahilan-kejahilan… gurauan-gurauan, amarah, tawa, tangis, cinta, mungkin itu semuanya yang mewarnai hubungan diantara kita dan akan tetap berwarna terus selamanya.
Mungkin ada yang menganggap pemikiran aku terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Mungkin juga ada yang menganggap aku terlalu terbawa suasana karena di gunung, kita semua saling ketergantungan, kita merasa saling membutuhkan lalu aku menganggap kalian saudara karena aku membutuhkan kalian…. Terserah… tapi aku benar-benar merasa konsep persaudaraan kita ini sudah mulai memudar. Dan terima kasih karena aku masih diberikan kesempatan tuk menyadari hal itu, bahwa hubungan antara aku dan kalian… walaupun mungkin baru dipertemukan dalam perjalanan ini, ataupun sudah saling mengenal bertahun-tahun, seperti ada jalinan benang merah yang mengikatkan kita hingga membuat kita dapat langsung akrab dan merasa dekat. Kita memang dekat, karena hati kita semuanya berdekatan. Dan hanya kita sendiri yang dapat menjauhkannya.
Aku merasa, di tangan kiri kita seperti ada ikatan benang merah yang terjalin kuat satu sama lain. Saling berhubungan satu sama lain. Tidak kasat mata, tapi dapat kita rasakan dengan hati. Sedangkan di tangan kanan kita tergenggam sebuah gunting yang dapat memutuskannya. Hanya gunting yang ada di tangan kita yang dapat memutuskan ikatan tali di jari kita, sehingga membuat kita memisahkan diri dari jalinan benang merah tersebut. Dan itu adalah pilihan kita masing-masing. Ingin membuat gunting itu tidak akan pernah terpakai selamanya, atau ingin menggunakan gunting itu.
Kira-kira jam ½ 3 aku, Mario dan Geni (kalo ngga salah) sampai di kandang badak. Ai dan yang lainnya sudah duluan. Rasa lega lebih menjalariku. Akhirnya sampai juga. Amuksie menyambut kita. Muks.. lain kali kamu harus naik sampai puncak, ya.. kita temenin lagi deh.. hehehe…
Kita mulai istirahat, masak mi dan menghabiskan seluruh perbekalan adalah tujuan utama kita. Supaya beban yang kita bawa turun nantinya jadi ringan. Habis makan, kita semua lantas bersih-bersih dan packing lagi. siap tuk turun dan pulang.
Jam 4 kita beranjak turun dari kandang badak. Hari sudah mulai sore dan surya juga sudah mulai beranjak sembunyi. Kita mulai melangkah turun. Menapaki jalan menjauhi kandang badak, menjauhi pangrango dan gede. Lagi-lagi kakiku bermasalah. Dan kali ini malah badanku juga sudah mulai ngga bisa diajak kompromi. Aku baru sadar, di kandang badak tadi aku kurang mengisi energi. Kebanyakan nyuapin anak-anak burung.. hehehe… perut yang mules minta dilakukan pembuangan juga membuat badanku semakin lemas. Tapi ku tahan juga. Perjalanan pun terasa amat panjang dan tak berkesudahan. Kemalaman sudah pasti. Lelah pun sudah pasti. Badan rasanya melayang… (Nal.. seharusnya aku pake tuh energinya… tapi jadi malah ngga kepikiran) otak dah antara sadar dan ngga sadar. Tak lepas tanganku dan ai bergandengan sampai bawah. Sama-sama saling menguatkan. Dan kayanya banyakan ai yang menguatkan ku. Thanks ai!
Badan sama-sama lelah dan sudah tak bertenaga. Sebentar-sebentar maunya istirahat. Geni sudah mengingatkan tuk terus berjalan, jangan berhenti. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang ngga beres, tapi otak sudah ngga sanggup lagi tuk berpikir. Pelan pelan kita menapak turun melewati langkah demi langkah kita, semakin menjauhi kandang badak, gede dan pangrango. Hari semakin malam dan gelap semakin pekat. Tubuh pun tak kalah lelahnya. Makasih buat Geni yang bawain tasku sebentar dan andrew2 yang akhirnya bawain tasku sampai bawah, yang bikin langkahku jadi lumayan tapi kakinya jadi lecet…
Sampai lewat telaga, barulah kita ingat, apa yang menguatkan kita selama di perjalanan. CERITA!!! Dan disitulah cerita kita tak putus mengalir dari bibir kita masing-masing.. Aku, Ai, Maria, Mario, Ade dan Andrew yang berjalan di depan. Dan sampailah kita di basecamp. Rombongan terakhir (seperti biasa) kira2 jam ½ 9. monik, goti, geni, sudah menunggu kita.
Dan inilah akhir dari perjalanan kita. Perjalanan yang kunamakan a blessed journey. Perjalanan yang terberkati Tuhan. karena sejak awal aku merasakan Dia memberikan kemudahan bagi kita tuk dapat mendaki sampai puncak. Melewati rintangan dan membiarkan kita meninggalkan jejak-jejak kaki kita di sana. Tanpa berkatNya pastinya ini semua tidak akan terlaksana. Hujan pun enggan turun menghalangi langkah kita. Bintang pun seakan tersenyum menyambut kedatangan kita. Apalagi yang mau kita keluhkan???
Supir bus gila yang membawa kita sampe kampung rambutan kurasa.. hehehehe… yang bikin kita semua terpental-pental di dalamnya. lagi-lagi perjalanan ini toh masih diberkati, karena biarpun naik bus gila-gilaan tetap saja kita bisa sampai dengan selamat dan cepat pula.
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
akhirnya…
Special thanks to:
setelah sekian lama, bisa naik gunung lagi gue, terutama pangrango. semuanya seperti diberikan kemudahan dari Tuhan. gue pikir gue masih cuti gunung sampai taun depan, ternyata… skarang dah selesai masa cutinya. Banyak2 gue ucapkan terima kasih buat temen2 sekalian:
buat monik & ai yang mau susah payah mendaftarkan kita dan membuat mimpi ini akhirnya terwujud. terutama buat monik yg menjadikan ini nyata. bantuin melengkapi perlengkapan gue. Membuat segalanya menjadi mungkin.
buat ai dan gandengan tangannya yang kecil tapi kokoh yang dah nemenin dari naik sampe turun. ngga ada loe ngga rame. ocehan dan cerita2 lo bikin semangat. Terutama tangan kecil lo yang emang bener2 menguatkan.
buat andrew yang dah mbawain tas turun, yang dah nganterin pulang selamat sampe d rumah, yang dah ngasi dukungan moril spirituil. halagh.. lain kali kamu harus muncak ya, muks… ku temenin deh… sama tongsengmu. (kmarin ga berani makan, gara2 badan lagi ngawur). kapan2 kita harus bareng naik lagi.
buat sabar, yang kalo di rem putus.. lain kali bikin tebakan yang lebih bermutu lagi. masa dari kmaren ketebak terus. ngomong2 waktu lo beli ketoprak, bintangnya bagus ya… lo boleh bilang gue tulalit, tapi (semoga) gue dah meninggalkan kebodohan gue d mandala wangi, yang kemudian akhirnya lo pungut. skali2 bertobatlah jangan jadi NABO… dasar, BOJOK! hahaha… makasih karna lo telah membuktikan kesabaran namamu. dan maaf, lo bukan tumbal kok.
buat fitri cupskie…
lo tau isi hati gue, babe… terutama saat2 sebelum naik dan hal2 lain yang membuat konsentrasi gue terpecah. jangan berbuat mesum lagi sama ai d tengah hutan, apalagi sampe ketauan orang. Hehehe… gimana perjalanan kita berikutnya??
buat andri yang sabaraphael nemenin sampe atas dan turun lagi dan curhatan2nya yang nambah2in semangat buat terus jalan dan kelakuan2nya yang kadang2 aneh semoga kapan2 bisa foto india bareng lagi dan semoga lain waktu bisa bertualang bareng lagi. Makasih dah memberikan ku banyak pencerahan di hutan sana.
PS: lagi mikir2 manggil nama lo yang enak ap… susah nyebutnya.. akhirnya terpikir… lo gue panggil GENI aja ya.. bukan gendruk atau andri. lidah gue sering keselo nyebutnya… biar mirip sama kembaranmu.. goti dan geni.. halah… sampe di catper pun nama lo dah gue ganti dengan hormatnya…
buat mario, maria, ade, ai (lagi), andrew
atas ocehan ngga jelas tentang hal2 ngga jelas yang akhirnya justru menguatkan kita sama2 buat turun dengan selamat.
buat scott..makasi buat logistiknya, terutama roti keju itu… arrgghh.. rasanya eksotis banget ga sih?? makan roti keju, di tengah hutan pangrango, di seberang pemandangan puncak gede dan di balik semak pemandangan maria lagi ngerem putus…haha… oh ya.. tertarik tawaranmu ke ujung kulon, tapi maret ada trip lain. k makassar aja yuk, scott!!
buat goti…namamu ngga aneh kok. yang bikin kan gue. hahaha… sampe jumpa d petualangan berikutnya.
buat elia
lain kali harus lebih kuat dan berani lagi. jangan loyo dan ngoyo. kenali dirimu dan kekuatan dirimu. tapi proficiat dah sampai puncak
buat phije dan antek2nya…
phije… lo dah lebih baek dari salak kmaren. lain kali tambah smangat y. dan temen2nya phije.. jangan kapok naik gunung lagi.
buat Bang Alpin
makasih buat tempatnya tuk kita singgah sebelum dan sesudah muncak. makasih buat packingannya.
buat tim mencret yang barengan muncak..
ngga ada loe ngga rame!!
Buat Om Djaduk Feriyanto yang telah membuat lagu Srengenge Nyunar menjadi lebih memiliki jiwa. Apalagi kalau kita menyanyikannya di gunung. Terima kasih juga buat lagu syukur nya yang juga terasa semakin bermakna ketika kita menyanyikannya di lembah mandalawangi. 4 jempolku terangkat tuk Om Djaduk atas gubahannya. Hidup musik Indonesia!!!
Buat Teman2 tim Desk Foto dan Grafis SP yang semakin membuat lagu ini lebih dalam lagi artinya. Cerita dikit. Lagu ini dan lagu Tuhan Sumber Gembiraku kita nyanyiin bareng, dari desk foto dan grafis, dengan gerak dan suara kita yang alakadarnya di acara natalan kantor.
Buat Teman2 unit sirkulasi SP yang data KTPnya dipakai buat daftar Pangrango tanpa sepengetahuan mereka. Dan untunglah sampe skarang mereka jg tetep ngga tau. Hehehe…
buat semuanya… sampe jumpa di perjalanan berikutnya.
dan yang terakhir
buat Tuhan dan segala keindahan alam ciptaanMu
terima kasih buat segala keindahan yang Kau ciptakan tuk mengisi detik2 ku di Pangrango. bintang2 terindah dalam hidupku, cuaca yang 10000% cerah terang benderang. dan lain lainnya
mohon maaf buat pangrango.. ternyata gue lebih cinta sama Gede daripada sama lo… hehehe… puncak dan suryakencananya lebih eksotis, walau lebih ramai dan kotor, tapi gatau kenapa hati gue menetap di surken. di pangrango, gue lebih menikmati proses perjalanan panjang waktu naik dan turunnya. perjuangannya merayapi hutan2nya yang eksotis. hehehe…
jadi.. tiba2 merindukan naik gede, apakah ada yang mau naik gede lagi?? yuks.. gue dah siap! kapan?? Hehehe…
dan ketika semuanya sudah berlalu,
yang ada hanya kenangan yang terpatri
dan harapan akan terulang kembali…
Tomorrow’s Journey
18 Desember 2008
sebelum pendakian pangrango..
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Tak berani memimpikannya
Ku hanya melakukannya dengan hati kosong
Tanganku gemetar dan dingin
Jantungku berdebar kencang
Dan hati kecilku berbisik...
Inilah saatnya
Saat untuk berjumpa dengan yang tercinta
Setelah sekian lama ku memimpikannya
Hanya mampu memandanginya dari kejauhan
Hanya sanggup mencumbu ujung kakinya
Sekarang ku dapat kesempatan
Tuk bercinta dalam padang eloknya
Dan kuharapkan cintaku kan diam menetap dalam lembah terdalamnya
Sama ketika semua pecinta lainnya menambatkan hatinya
Di setiap desir angin dan pelukan senyapnya
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Dan tetap juga tak berani memimpikannya
Tak berani pula percaya
Bahwa inilah saatnya
Menyambut cintanya yang telah setia menungguku
Yang selalu berbisik memanggilku dalam pesona dan keagungannya
Dan membuatku tak dapat lagi memalingkan wajahku
Dengan cintanya pula kini ku akan memantapkan langkahku
Membulatkan tekadku
Pangrango dan keeksotisan lembah mandalawangi
Terima kasih sudah menungguku
Berbulan lamanya
Kau tetap memegang janjimu tuk selalu menantiku
Menerima dan menyambut hangat cintamu
Esok aku kan datang ke dalam pelukmu
Dan kuterima sejuk tubuhmu menyelusup dalam relung-relung tubuhku
Sambut aku dan ijinkan ku menapaki jalanmu
Ijinkan ku merasakan eloknya lembahmu
dan kemudian, ijinkan ku pulang kembali
agar ku dapat terus memandangi agungmu dari kejauhan
sebelum pendakian pangrango..
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Tak berani memimpikannya
Ku hanya melakukannya dengan hati kosong
Tanganku gemetar dan dingin
Jantungku berdebar kencang
Dan hati kecilku berbisik...
Inilah saatnya
Saat untuk berjumpa dengan yang tercinta
Setelah sekian lama ku memimpikannya
Hanya mampu memandanginya dari kejauhan
Hanya sanggup mencumbu ujung kakinya
Sekarang ku dapat kesempatan
Tuk bercinta dalam padang eloknya
Dan kuharapkan cintaku kan diam menetap dalam lembah terdalamnya
Sama ketika semua pecinta lainnya menambatkan hatinya
Di setiap desir angin dan pelukan senyapnya
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Dan tetap juga tak berani memimpikannya
Tak berani pula percaya
Bahwa inilah saatnya
Menyambut cintanya yang telah setia menungguku
Yang selalu berbisik memanggilku dalam pesona dan keagungannya
Dan membuatku tak dapat lagi memalingkan wajahku
Dengan cintanya pula kini ku akan memantapkan langkahku
Membulatkan tekadku
Pangrango dan keeksotisan lembah mandalawangi
Terima kasih sudah menungguku
Berbulan lamanya
Kau tetap memegang janjimu tuk selalu menantiku
Menerima dan menyambut hangat cintamu
Esok aku kan datang ke dalam pelukmu
Dan kuterima sejuk tubuhmu menyelusup dalam relung-relung tubuhku
Sambut aku dan ijinkan ku menapaki jalanmu
Ijinkan ku merasakan eloknya lembahmu
dan kemudian, ijinkan ku pulang kembali
agar ku dapat terus memandangi agungmu dari kejauhan
antara kau dan aku
October 7, 2008
senja itu, ketika ku termenung dalam lembah
manakala langit berwarna lembayung syahdu
kumenemukan kau hadir dan menemaniku di sisi
tak ada kata yang kau ungkapkan
hanya berjuta debar menemani kebersamaan kita
dan dalam diam kita saling mengerti
mengerti arti kehadiran
bercakap dalam kebisuan
ku tahu kau tak akan lama singgah
dan kelak kau kan mengepakkan sayapmu dan kembali terbang
dan kutahu,
saat senja itu adalah milik kita berdua
dimana kau menjadi dirimu dan aku menjadi diriku
dan hanya kita berdua yang menyimpan kenangan itu
entahkah itu saat kita pertama bertemu
ataukah akan ada lagi pertemuan lainnya
yang kutahu kau kan selalu menjadi bagian dariku
dan menjadi malaikatku yang tak terlihat
hanya kau dan aku yang tahu
dengan janji yang tak terucapkan dan hanya untuk dimengerti
kau dan aku adalah sama
kita terlahir dari jiwa yang sama
kita terwujud dari mimpi yang sama
hanya saja kita dibesarkan dalam dunia yang berbeda
dan kita terpisahkan dalam alam yang berbeda
kelak pun kupercaya Tuhan kan menyatukan jiwa kita
waktuNya
after a friend's farewel party
July 27, 2008
Segala sesuatu terkadang harus berjalan tidak sesuai dengan yg kita inginkan
Pernahkan berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan kemudian mendapatkan jawabannya???
Sehari-dua hari… atau bahkan tahunan..
Ya, aku pernah mengalaminya.
Bertahun2 lampau, aku memohon sesuatu kepada Tuhan..
Hampir di setiap doaku, kupanjatkan permohonanku. Sampai seperti semacam hapalan luar kepala, seperti doa yg telah diformat dalam setiap doaku…
Hingga akhirnya ku menyerah dan tak pernah lagi kubawa dalam doaku
Tapi ternyata, bertahun2 kemudian Tuhan baru menjawab permohonanku itu, dan malahan aku ngga menyadarinya…
Baru telah terlewat, aku baru sadar, Tuhan telah menjawab doaku bertahun-tahun lampau
Rasanya…
Arrgghhh…
Ngga ngerti deh gimana mengungkapkannya…
Ya.. segala sesuatu berjalan bukan dengan waktu yang kita inginkan, tetapi dengan waktu yang Tuhan inginkan terjadi
Dan benar, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan
Kalau bagiNya waktunya belum tepat, maka itu tidak akan terjadi
Seperti akhir minggu ini
Harusnya aku dan beberapa kawan saat ini mungkin baru tiba dari melakukan sesuatu
Tetapi karena suatu dan lain hal, semuanya tidak terjadi.. BELUM.. ya.. belum waktunya Tuhan untuk terjadi kepada kita…
Sumpeh, rasanya kecewa setengah mati. Tapi dalam kekecewaan itu, aku sadar betul, aku berjalan di waktunya Tuhan, aku ngga mungkin mengerti rencanaNya, dan kali ini rencanaku tak sejalan dengan rencanaNya, dan aku pun (kami) harus menerima
Karena itu semua pasti jalan yang paling baik yang terjadi pada kita…
Hari ini, ku habiskan waktu bersama teman2 lamaku…
Waktu telah cepat berubah, tak kusangka, semuanya telah menjadi masa lampau…
Apa yang dulu kita resapi dan kita rasakan bersama kini telah menjadi sejarah kehidupan kita, yang telah mengukir lembaran kehidupan kita masing-masing
Dan kini, kita telah memilih jalan kita masing-masing
Dulu…
Rasanya semuanya masih abu-abu, senada dengan seragam kita yang terkadang juga abu-abu. Tapi kini semuanya terlihat jelas di depan mata.
Kita telah menempuh perjalanan hidup kita masing-masing, sesuai dengan pilihan kita
Tak ada yg serupa
Semuanya memiliki ciri khasnya tersendiri…
Hari ini, mungkin saat terakhirku bertemu dengan seorang teman kecilku untuk beberapa tahun ke depan
Orang yang dulu mungkin selalu jadi objek penderita diantara kami, tapi kuakui menjadi satu diantara yang menjadi hebat…
Dia telah memilih jalannya yang terbaik.. aku juga begitu, yang lain juga begitu…
Tak terasa, kini kita masing-masing telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan mampu hidup diatas kaki kita sendiri
Dan ternyata didikan dan kebersamaan kita tak
kan
lekang di makan waktu
Mungkin kita tak seakrab dahulu, tetapi ada sesuatu yang mengikat jemari kita hingga saling berpaut…
Selamat jalan teman, selamat meniti karir dan kehidupanmu di negeri orang
Ingatlah tuk selalu berada di jalanNya
Dan saat ini aku pun sedang mencari jalanku sendiri
Jalan yang menurutku masih cukup abu-abu
Belum terlalu terlihat jelas
Yang jelas, aku tahu dengan siapa aku akan menapaki jalan ini
Dengan Dia yang tak pernah meninggalkanku..
Hari esok dan kelak,
kan
ku kejar impianku sendiri
Impian sederhana yang entah kapan bisa terwujud
Sekarang, biarkan ku menemukan cintaNya diantara kehidupanku
Dalam sahabat, dalam saudara, dalam teman, dalam lingkungan, dan dalam alam…
Dahulu, kini dan nanti,
Ijinkan ku selalu melangkah dalam jalanMu ya Bapa
Dan jangan biarkan aku berpaling
Dan biarkan kuberlari dalam impiku yang Kau tahu apa
Pencapaian yang sesuai dengan kehendakMu dan sesuai dengan waktuMu
Berkati aku yang kecil ini ya Bapa
Dan berkati pula orang2 yang kusayangi
July 27, 2008
Segala sesuatu terkadang harus berjalan tidak sesuai dengan yg kita inginkan
Pernahkan berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan kemudian mendapatkan jawabannya???
Sehari-dua hari… atau bahkan tahunan..
Ya, aku pernah mengalaminya.
Bertahun2 lampau, aku memohon sesuatu kepada Tuhan..
Hampir di setiap doaku, kupanjatkan permohonanku. Sampai seperti semacam hapalan luar kepala, seperti doa yg telah diformat dalam setiap doaku…
Hingga akhirnya ku menyerah dan tak pernah lagi kubawa dalam doaku
Tapi ternyata, bertahun2 kemudian Tuhan baru menjawab permohonanku itu, dan malahan aku ngga menyadarinya…
Baru telah terlewat, aku baru sadar, Tuhan telah menjawab doaku bertahun-tahun lampau
Rasanya…
Arrgghhh…
Ngga ngerti deh gimana mengungkapkannya…
Ya.. segala sesuatu berjalan bukan dengan waktu yang kita inginkan, tetapi dengan waktu yang Tuhan inginkan terjadi
Dan benar, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan
Kalau bagiNya waktunya belum tepat, maka itu tidak akan terjadi
Seperti akhir minggu ini
Harusnya aku dan beberapa kawan saat ini mungkin baru tiba dari melakukan sesuatu
Tetapi karena suatu dan lain hal, semuanya tidak terjadi.. BELUM.. ya.. belum waktunya Tuhan untuk terjadi kepada kita…
Sumpeh, rasanya kecewa setengah mati. Tapi dalam kekecewaan itu, aku sadar betul, aku berjalan di waktunya Tuhan, aku ngga mungkin mengerti rencanaNya, dan kali ini rencanaku tak sejalan dengan rencanaNya, dan aku pun (kami) harus menerima
Karena itu semua pasti jalan yang paling baik yang terjadi pada kita…
Hari ini, ku habiskan waktu bersama teman2 lamaku…
Waktu telah cepat berubah, tak kusangka, semuanya telah menjadi masa lampau…
Apa yang dulu kita resapi dan kita rasakan bersama kini telah menjadi sejarah kehidupan kita, yang telah mengukir lembaran kehidupan kita masing-masing
Dan kini, kita telah memilih jalan kita masing-masing
Dulu…
Rasanya semuanya masih abu-abu, senada dengan seragam kita yang terkadang juga abu-abu. Tapi kini semuanya terlihat jelas di depan mata.
Kita telah menempuh perjalanan hidup kita masing-masing, sesuai dengan pilihan kita
Tak ada yg serupa
Semuanya memiliki ciri khasnya tersendiri…
Hari ini, mungkin saat terakhirku bertemu dengan seorang teman kecilku untuk beberapa tahun ke depan
Orang yang dulu mungkin selalu jadi objek penderita diantara kami, tapi kuakui menjadi satu diantara yang menjadi hebat…
Dia telah memilih jalannya yang terbaik.. aku juga begitu, yang lain juga begitu…
Tak terasa, kini kita masing-masing telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan mampu hidup diatas kaki kita sendiri
Dan ternyata didikan dan kebersamaan kita tak
kan
lekang di makan waktu
Mungkin kita tak seakrab dahulu, tetapi ada sesuatu yang mengikat jemari kita hingga saling berpaut…
Selamat jalan teman, selamat meniti karir dan kehidupanmu di negeri orang
Ingatlah tuk selalu berada di jalanNya
Dan saat ini aku pun sedang mencari jalanku sendiri
Jalan yang menurutku masih cukup abu-abu
Belum terlalu terlihat jelas
Yang jelas, aku tahu dengan siapa aku akan menapaki jalan ini
Dengan Dia yang tak pernah meninggalkanku..
Hari esok dan kelak,
kan
ku kejar impianku sendiri
Impian sederhana yang entah kapan bisa terwujud
Sekarang, biarkan ku menemukan cintaNya diantara kehidupanku
Dalam sahabat, dalam saudara, dalam teman, dalam lingkungan, dan dalam alam…
Dahulu, kini dan nanti,
Ijinkan ku selalu melangkah dalam jalanMu ya Bapa
Dan jangan biarkan aku berpaling
Dan biarkan kuberlari dalam impiku yang Kau tahu apa
Pencapaian yang sesuai dengan kehendakMu dan sesuai dengan waktuMu
Berkati aku yang kecil ini ya Bapa
Dan berkati pula orang2 yang kusayangi
Langganan:
Postingan (Atom)