Sabtu, 24 Oktober 2009

Just “Bee” Myself

Kalau dalam bahasa Indonesianya menjadi diriku sendiri… tp sengaja kupelesetkan menjadi “bee” yang artinya “lebah”…

Lebah itu adalah binatang yang rajin bekerja, bergotongroyong dan mampu membuat keajaiban. Dia tidak akan menyerang kalau tidak diusik karena sekali dia menyengat, maka ia akan mati..
Tp dia akan menyengat jika dunia nya diganggu.


Mungkin itu yang aku rasakan beberapa hari ini. Banyak orang yang bilang kalau aku termasuk tipe orang yang easy going. Tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang ada di sekitar ku. Tak terlalu pusing jg dengan hal-hal remeh. Tapi ngga tau kenapa belakangan ini rasanya ketenanganku terusik. Jadi gampang naik darah dan bersikap ketus ke orang lain. Lebih mudah menancapkan sengatku ke orang lain. Kadang kalau emang udah kebangetan ya akhirnya diam...

Sminggu terakhir ini aku memutuskan sesuatu yang nampaknya besar dalam hidupku. Menutup buku kehidupanku yang lama, dan memulai lembaran yang baru. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi biarlah itu hanya menjadi kenangan saja dan pembelajaran.. sekarang yang ada dihadapan ku adalah masa depan. Dan itulah yang harus aku perjuangkan sekarang. Masa depanku. Hidup berdasarkan pilihanku sendiri. Hidup sebagai diriku sendiri, bukan berdasarkan citra diri dari orang lain. Karena aku hidup berdasarkan citra Bapaku.. bukan citra manusia...

Banyak teman yang bilang aku menjadi lebih ceria saat ini. Lebih terlihat bebas dan menjalani hidup dengan ringan. Mungkin karena aku sudah banyak belajar buat menjadi manusia yang sumeleh, nrimo ing pangdum... Tuhan yang Maha Besar di atas sana telah menyulam kehidupanku dengan begitu indahnya. Dan aku yang dibawah sini hanya melihat benang ruwetnya saja. Yang kuperlukan hanyalah percaya, bahwa Tuhan sedang membentuk diriku dengan keadaan yang ada pada diriku saat ini. Bersyukur atas segala sesuatu, tapi juga bukan berarti akhirnya nrimo aja dan ngga berusaha memperjuangkan hidupku sendiri. Tidak. Baru kali ini aku merasakan benar-benar menjalani hidupku sendiri. Belajar memperkaya diri dan belajar untuk menjadi lebih bijak menjalani hidup.

This is my own life and my life is always beautiful.... apapun itu dan bagaimanapun keadaannya. Beberapa hari lalu aku sempat berbicara panjang lebar dengan seorang teman. Bertukar cerita tentang perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan aku, pengalaman hidupku belum ada apa-apanya. Tapi entah kenapa, saat itu, saat dia lagi down dan aku hanya berusaha membuat dia kembali mewarnai hidupnya dengan warna-warna yang ceria, tidak lagi hanya abu-abu dan ungu, dan kemudian dia berkata, untuk saat ini kau adalah malaikatku..

Aku jadi merasa tersentuh. Sekitar setahun lalu aku menemukan istilah invisible angel. Aku menemukan kehadiran malaikat dalam diri salah seorang sahabatku di kala aku sedang kesusahan. Dan mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan hatinya dengan menjadi malaikat bagi orang lain lagi. "Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."

Ya… sahabatku memang benar-benar membantuku bangkit saat sayapku lupa bagaimana caranya untuk terbang. Dan aku percaya, suatu saat nanti, aku akan terbang benar-benar mengepakkan sayapku setinggi-tingginya…

Saat memutuskan untuk menjadi diriku sendiri, menyengat duniaku sendiri dengan sesuatu yang tidak biasa dan sesuatu yang lebih berguna buat orang lain di sekitarku, ada yang nyeletuk soal gaya rambutku. Dah bertahun-tahun lebih sejak kuliah, aku selalu memelihara rambutku gondrong. Dan dia nyeletuk bilang gimana tampangku kalau rambutku pendek macam indi barends… hehehe.. jadi tiba-tiba inget dengan salah satu niatku yang telah lama terkubur. Udah luama banget aku jadi menutup keinginanku yang satu itu.. punya rambut cepak. Alasannya.. you know why lah.. yang dulu lebih suka dengan cewek yang feminin, sedangkan aku, udah dibedakin dan didandanin kayak apaan juga, tomboynya juga masi gabisa ilang.

Aku jadi kepikiran terus buat potong pendek rambutku. Tp ingat dua minggu berturut-turut temanku nikahan. Dan nggak mungkin juga dong kebayaan tapi rambutku bondol. Maka, menahan-nahan nafsu yang satu itu, hingga jumat malam kemarin aku beneran nekat membabat habis rambutku. Mbak yang motong sampai berulang kali meyakinkan tekadku kalau aku bener-bener nggak bercanda. Sambil tertawa aku meyakinkan dia.

Lagi buang sial, Mbak? Pacarnya apa nggak marah, Mbak? Mamanya di rumah apa nggak marah, Mbak? Apa ada yg nyuruh potong pendek ya??
Dan siyalnya, si mbak yang motong rambutku seolah bisa membaca pikiranku semuanya. Tebakannya semua betul, walau aku ngga mau mengakuinya.. hahaha..

Tidak.. aku nggak lagi benar-benar membuang sial... aku hanya lagi benar-benar ingin menutup buku kehidupanku yang lama. Dan mulai membuka lembaran baru dalam kehidupanku. Dimulai dari melakukan sesuatu yang begitu aku inginkan sejak dulu, yang sudah terpendam dan kini muncul lagi ke permukaan. Potong rambut cepak...


Tidak.. pacarku juga nggak akan marah. Pacarku sekarang hanyalah eosku tercinta yang sekarang juga lagi sakit-sakitan. Dia ngga terlalu peduli dengan model rambutku kok. Hehehe..
Tidak.. mamaku juga nggak akan marah. Dari dulu juga dia lebih senang rambutku cepak. Rambutnya dia jg pendek terus. Papaku? Sama juga.
Jadi.. ngga ada alasan untuk tidak menahan tekadku itu.

Helai demi helai rambutku dipangkas habis dengan cepat dan lihai oleh si mbak. Aku memandangi rambut-rambut yang berjatuhan itu dengan hati semakin ringan. Setiap helai seolah membawa sehelai beban hidupku yang lalu. Dan semakin pendek, semakin ringan hati dan pundakku. Seolah beban hidupku sudah kuletakan di sudut sana. Sudah selesai.

Aku menjadi vivi-jungle-emping-jengkelit-jollyta-silvia-dan entah apapun nama panggilanku-yang baru. Yang lebih hidup. Yang lebih ceria. Yang lebih memandang positif hidup ini. Hidupku indah. Hidupku berwarna. Hanya jika aku dapat bersyukur dan dapat mengisinya dengan warna-warna yang indah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar