Kamis malam kemarin saat aku duduk manis di dalam bus seperti biasa, aku melewati sebuah bangunan gereja katolik di daerah barito. Suasananya nampak sepi. Bangunan gereja gelap, tertutup rapat. Bahkan pagarnya pun nampak terkunci rapat. Teranglah, karena ini hari kamis malam. Tidak ada upacara apa-apa di tengah-tengah minggu ini. Gereja pun ditutup dan dikunci.
Aku jadi teringat saat-saat aku masih mengenakan seragam putih biru ku dan bersekolah dekat gereja itu.. kalau lagi rajin, setiap pagi, sebelum sekolah dimulai, aku suka menyempatkan diri datang ke gereja itu, bersama temanku untuk berdoa. Setiap pagi gereja tentu aja masih buka.. karena masih baru selesai misa harian..
Sebenarnya dulu sempat ada keinginan untuk sekali-kali ikut misa harian, tapi apa daya, mulainya jam 6, sedangkan aku baru sampai sekolah aja ½ 7.. hehehe.. jadi tak apalah.. ikut sisa-sisa berkatnya aja.
Pergi ke gereja, saat sedang tidak ada misa ternyata memberikan ”kedamaian” tersendiri buatku. Berlutut di depan altar, berdoa, menatap patung Yesus yang tersalip di atas altar... terkadang berdoa.. atau terkadang berdiam saja.. menikmati keheningan itu...
(entah, berdoa mohon apa aku waktu itu.. doa lugu bocah smp mungkin...)
beberapa tahun lalu, saat aku pergi ke gereja yang sama, untuk mengikuti misa pada malam hari.. aku lupa.. misa apa waktu itu.. misa mingguan biasa atau misa jumat pertama.. yang jelas itu misa termalam saat itu.. usai misa, aku dan pacarku bermaksud berdoa rosario bersama di dalam gereja.. menikmati keheningan gereja dan menikmati suasana khidmat yang sudah tercipta.. tapi doa kami jadi terusik lantaran suara petugas gereja yang sibuk mengunci pintu-pintu gereja dan mematikan lampu. Mau tidak mau kami jadi terburu-buru mendaraskan doa salam maria agar doa kami cepat selesai. Agar kami cepat keluar dari gereja yang mau di kunci itu.
Rasanya seperti ”terusir” dari Rumah Tuhanku sendiri.. saat kami ingin duduk menikmati perjumpaan kami dengan Tuhan di RumahNya sendiri.. kami harus terburu-buru karna Rumahnya akan segera dikunci.. miris jg perasaan kami waktu itu. Pacarku sampai ngedumel sepanjang jalan...
Sejak kejadian itu, aku jadi memperhatikan kebiasaan di gereja-gereja saat selesai mengikuti misa terakhir. Dan ternyata ngga hanya di gereja tadi saja pintu-pintu langsung di tutup dan lampu dimatikan. Di paroki ku pun juga seperti itu.
Saat kemarin aku kembali melewati gereja itu, aku jadi teringat kembali masa-masa aku memperhatikan ”pintu gereja yang tertutup” itu..
Aku jadi bertanya-tanya... kenapa Gereja harus tertutup dan terkunci? Bukankah gereja itu adalah Rumah Tuhan, dimana kita sewaktu-waktu dapat datang kesana, sesuka hati kita untuk sekedar berjumpa dan menyapa Tuhan kita sendiri. Apa yang membuat gereja menjadi seperti ”rumah duniawi” yang harus ikut-ikutan dikunci agar tidak sembarang tamu bisa datang. Agar setiap tamu yang datang harus minta ijin dulu kepada si empunya rumah. Agar tidak ada pencuri yang datang dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah Tuhan kita itu Allah yang Mahabaik. Yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin datang menjumpainya. Lalu kenapa dikunci.. seperti seakan-akan kalau ketemu Tuhan itu harus ada jadwal khususnya..
Kenapa Rumah Tuhan di sini tidak seperti di luar sana seperti yg kulihat di tivi2, dimana selalu terbuka, hingga kapan saja kita mau datang berdoa kepadaNya dan menjumpaiNya, kita dapat melakukannya. Tidak harus menunggu dibukakan untuk kita.
Apakah pintu Rumah Tuhan akan selalu ”tertutup” buatku ketika malam-malam aku ingin datang mampir dan berlutut di depan altarNya.. bersujud dan berdoa padaNya??
090627
Tidak ada komentar:
Posting Komentar