April 15, 2009
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu
Sepenuhnya aku…ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan…tuk mencintaimu
Setulusnya aku…akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku…
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
lirik lagu PADI di atas lagi jadi lagu minggu ini yang diputar terus oleh dek silvia dari bintaro.. lagu ini ditujukan untuk dirinya sendiri yang sudah mulai gila.. hehehe…
don’t know why, tiba2 gue pengen aja mendengarkan lagu ini.
am i waiting for an answer? answer of what? dunno….
belakangan gue memperhatikan otak gue lumayan korslet.
sepertinya sudah lama ngga diasah.
makanya gue lagi mengeram. pergi menyendiri mungkin salah satu jalannya.
berusaha meruncingkan pikiran gue lagi yang sepertinya belakangan ini mungkin berhenti berkembang. gue menjadi seperti orang yang ngga bisa berpikir dengan baik dan jernih. segala pikiran yang muncul di otak cuma pikiran2 ngawur yang bikin makin ruwet hidup yang sudah ruwet ini.
gue jg lagi berusaha menata diri agar jadi lebih lepas bebas. menjadi lebih aku. menjadi lebih “jungle” yang sebenarnya. mungkin selama ini gue udah banyak terkontaminasi dengan orang-orang di sekitar gue. jadi kadang lupa diri. lupa siapa gue sebenarnya.
i try to learn more..
berusaha belajar lebih banyak mendengar sekitar. melihat lebih jauh. tidak hanya melihat yang nampak saja, tapi jg melihat jauh ke dalam. berusaha menajamkan segala panca indera yang ada di dalam tubuh gue. menajamkan hati gue dan menyembuhkan segala luka yang mungkin ada. menajamkan segala pemberian Tuhan yang mungkin selama ini telah gue sia-siakan. manusia memang tidak boleh berhenti belajar dan berkembang. dan gue ngerasa gue pun tidak berhenti belajar dan berkembang, tapi sepertinya jalannya sangat lambat. dan itu ga bagus banget buat gue dan buat hidup gue. gue seperti berhenti berkembang. gue hanya menjadi diri gue yang sekarang ini. apa pun yang masuk ke dalam diri gue, baik atau buruk, tak begitu berpengaruh lagi buat hidup gue. berpengaruh hanya sesaat tapi lambat laun akan memudar.
hidup gue terlalu berjalan dengan santai dan lambat. terlalu bebas mengalir mengikuti alur. dan terlalu takut tuk melawan arus. mungkin ini saatnya gue bergerak dari kenyamanan ini dan mulai melangkah maju. melangkah lebih jauh lagi. beranikah gue? terus terang gue takut. gue ngga berani. tapi gue harus berani toh? apapun yang terjadi… takut atau ngga takut.. gue harus memaksakan diri gue menjadi berani.
mungkin gue memang sedang menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan sulit yang selalu melintas dalam pikiran gue. apakah tujuan hidupku? mungkin gue harus segera merealisasikan resolusi tahun ini yang bahkan nyaris ngga pernah gue buat. hidup tanpa tujuan yang jelas dan pasti. hidup cuma di awang-awang. cuma berani bermimpi tanpa berani merealisasikannya.
dan bener-bener ngga gue sangka.. gue pun telah kecewa dengan diri gue sendiri. bahwa gue sebegitu pengecutnya hingga gue ngga berani mewujudkan impian gue sendiri. cuma bisa ndherek mawon….
it’s your life, jungs! why u always stand behind someone’s dreams? it’s time to realize your own dream. life is so unpredictable. tapi knapa kita ngga terus aja berjalan melangkah, menikmati setiap sensasi yang kita temukan dalam hidup kita. berpikir.. hal baik yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah bonus. dan hal buruk yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah pembelajaran baru.
ini sebuah pergerakan besar yang mungkin gue lakukan dalam hidup gue. dan gue harus tidak tinggal diam. tidak hanya menanti jawaban itu tiba menghampiri gue tetapi gue sendiri yang akan mencarinya dan pasti akan gue temukan. Tuhan sendiri toh yang berkata… carilah, maka kamu akan menemukan, mintalah, maka kamu akan mendapatkan. ketuklah, maka pintu akan di bukakan bagimu…
So, mengapa gue ngga mencobanya sekarang? mencari.. meminta dan mengetuk.. dan pada siapa lagi gue akan memohon kalau bukan pada Tuhanku Allah dan Raja Segala Raja.
Kamis, 20 Agustus 2009
How R U Today??
Cerita lama yang masi membekas di hati...
Suatu hari saat gua pulang naik bus seorang diri.. beberapa minggu lalu...
Sore menjelang malam kala itu bus yang gue tumpangi penuh sesak. Gue berdiri di belakang berdesakan dengan kebanyakan kaum lelaki. Agak ngeri juga sih. Takut-takut kalau copet.. tapi gaya masih cuek ajah.
Saat sampai di stasiun cawang, penumpang kembali berdesakkan berebutan turun.
Gue otomatis terdesak kesana kemari. Seorang bapak yang duduk dibarisan paling belakang langsung memanggil gue buat duduk di sebelahnya yang kosong. Gue pun menurut, duduk di sebelahnya setelah arus penumpang yg turun bis itu sudah mereda. Gue melirik sekilas si bapak itu..
Bapak setengah baya dengan badan gemuk dan perut buncit. Gue duduk terhimpit diantaranya dan bapak lain di sebelah kiri gue. Dia mengajak gue ngobrol ringan.. “Pulang kerja?” Gue mengiyakan…
Hanya itu yang ditanyakannya… hehe. Bukan ngajak ngobrol ringan sih.. tepatnya cuman nanya 1 pertanyaan doang. Hehe.. Agak serem juga duduk di paling belakang bes, diantara bapak2 gituh. Tapi bukan jungle namanya kl ngga sok cuek dan sok pede.. agak jauh berjalan, ada beberapa penumpang lagi yang turun.. jadi busnya sudah lumayan kosong.. bapak samping kiriku jg sudah turun. Gue mulai merasa sedikit nyaman duduk d paling belakang bus. Rasa ngeri pun sirna sudah.
Tau2 bapak gemuk itu ngomong lagi, ”Dek, saya mau merokok. Pindah ke depan saja, nanti terganggu.” Gue pun lantas mengiyakan dan langsung pindah ke depan..
Taukah kalian.. 1 kalimat terakhir dari bapak itu cukup membekas buat gue.. mungkin bagi kalian itu kalimat sederhana yang ngga ada artinya. Tapi buktinya, sampe sekarang gue masih inget banget kata-kata itu... satu cara yang sederhana, bagi seorang bapak, untuk menghargai orang lain di sekitarnya.. menghargai orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya di bus. Terkadang kita sering tidak memperhatikan orang sekitar kita.. membuat orang sekitar kita merasa tidak nyaman akan keberadaan kita. Atau tidak menyadari kalau orang sekitar kita membutuhkan bantuan, ataupun hanya perhatian kecil, seperti memberikan tempat duduk di sebelahnya..
Bapak itu bisa saja mendiamkan gue dari awal, dan membiarkan orang lain menempati tempat duduk di sebelahnya. Tapi dia dengan perhatian yang tentu aja mudah dilakukan oleh siapa saja.. memanggil gue, memberikan tempat duduk di sebelahnya untuk gue... dan ngga hanya itu.. dia pun menyuruh gue pindah tatkala dia mau merokok.. karna mungkin gue akan merasa terganggu dengan asap rokoknya.. suatu bentuk kesopanan seorang perokok yang baru pertama kali ini gue rasain.. bahkan diantara temen2 gue yang perokok...
Selama gue hidup, belum pernah tuh ada temen bahkan sahabat gue yang perokok yang serius menghargai sesamanya yang bukan perokok. Paling kalau gue udah mulai nutup hidung atau kipas2, mereka baru nyadar dengan pindah tempat atau berusaha niup asepnya jauh dari gue.. bahkan parahnya malah ada yang cuek aja tetep ngebul di depan hidung gue..
Pelajaran hari ini... sudahkah kita bersikap peduli akan orang di sekitar kita hari ini???
Suatu hari saat gua pulang naik bus seorang diri.. beberapa minggu lalu...
Sore menjelang malam kala itu bus yang gue tumpangi penuh sesak. Gue berdiri di belakang berdesakan dengan kebanyakan kaum lelaki. Agak ngeri juga sih. Takut-takut kalau copet.. tapi gaya masih cuek ajah.
Saat sampai di stasiun cawang, penumpang kembali berdesakkan berebutan turun.
Gue otomatis terdesak kesana kemari. Seorang bapak yang duduk dibarisan paling belakang langsung memanggil gue buat duduk di sebelahnya yang kosong. Gue pun menurut, duduk di sebelahnya setelah arus penumpang yg turun bis itu sudah mereda. Gue melirik sekilas si bapak itu..
Bapak setengah baya dengan badan gemuk dan perut buncit. Gue duduk terhimpit diantaranya dan bapak lain di sebelah kiri gue. Dia mengajak gue ngobrol ringan.. “Pulang kerja?” Gue mengiyakan…
Hanya itu yang ditanyakannya… hehe. Bukan ngajak ngobrol ringan sih.. tepatnya cuman nanya 1 pertanyaan doang. Hehe.. Agak serem juga duduk di paling belakang bes, diantara bapak2 gituh. Tapi bukan jungle namanya kl ngga sok cuek dan sok pede.. agak jauh berjalan, ada beberapa penumpang lagi yang turun.. jadi busnya sudah lumayan kosong.. bapak samping kiriku jg sudah turun. Gue mulai merasa sedikit nyaman duduk d paling belakang bus. Rasa ngeri pun sirna sudah.
Tau2 bapak gemuk itu ngomong lagi, ”Dek, saya mau merokok. Pindah ke depan saja, nanti terganggu.” Gue pun lantas mengiyakan dan langsung pindah ke depan..
Taukah kalian.. 1 kalimat terakhir dari bapak itu cukup membekas buat gue.. mungkin bagi kalian itu kalimat sederhana yang ngga ada artinya. Tapi buktinya, sampe sekarang gue masih inget banget kata-kata itu... satu cara yang sederhana, bagi seorang bapak, untuk menghargai orang lain di sekitarnya.. menghargai orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya di bus. Terkadang kita sering tidak memperhatikan orang sekitar kita.. membuat orang sekitar kita merasa tidak nyaman akan keberadaan kita. Atau tidak menyadari kalau orang sekitar kita membutuhkan bantuan, ataupun hanya perhatian kecil, seperti memberikan tempat duduk di sebelahnya..
Bapak itu bisa saja mendiamkan gue dari awal, dan membiarkan orang lain menempati tempat duduk di sebelahnya. Tapi dia dengan perhatian yang tentu aja mudah dilakukan oleh siapa saja.. memanggil gue, memberikan tempat duduk di sebelahnya untuk gue... dan ngga hanya itu.. dia pun menyuruh gue pindah tatkala dia mau merokok.. karna mungkin gue akan merasa terganggu dengan asap rokoknya.. suatu bentuk kesopanan seorang perokok yang baru pertama kali ini gue rasain.. bahkan diantara temen2 gue yang perokok...
Selama gue hidup, belum pernah tuh ada temen bahkan sahabat gue yang perokok yang serius menghargai sesamanya yang bukan perokok. Paling kalau gue udah mulai nutup hidung atau kipas2, mereka baru nyadar dengan pindah tempat atau berusaha niup asepnya jauh dari gue.. bahkan parahnya malah ada yang cuek aja tetep ngebul di depan hidung gue..
Pelajaran hari ini... sudahkah kita bersikap peduli akan orang di sekitar kita hari ini???
Berharap aku tidak berjalan sendiri
Saat hati bergemuruh
Langkah ini terasa berat
Dada pun terasa sesak menghimpit
Jalan di hadapanku tampak abu-abu
Tak nampak jelas arah mana yang harus ku tuju
Aku layaknya manusia yang kehilangan
Kehilangan keinginan untuk berkeinginan
Atau memang aku menghilangkan diriku untuk berkeinginan
Hujan badai datang dalam hatiku
tak mampu membuatku bergeming dan memutuskan
Kaki ini pun terasa berat tuk melangkah maju
Lelah
Dan ada kalanya aku ingin terduduk
Bersimpuh dan memohon
Bolehkah aku menangis kali ini?
Bolehkah aku berhenti sejenak dan beristirahat
Entah walau di persimpangan seperti ini
Bukanlah tempat yang nyaman tuk beristirahat
Lelah..
Aku ternyata bukan malaikat
Dan tidak bisa jadi malaikat
Aku ternyata manusia gelap yang sok tau
Dan hanya punya keinginan yang dangkal
Dan kini pun tak layak lagi aku punya keinginan
Walau ingin…
Kalaupun mungkin waktu dapat terhentikan
Berhenti hanya pada saat kemarin saja
Agar ku tak merasakan ini
Agar ku tak usah memiliki keinginan apapun
Aku ternyata memang bukan malaikat
Dan tak mampu menjadi malaikat
Aku hanya manusia gelap yang sok tau
Dan aku lelah
Walau aku tahu aku tidak boleh berhenti
Aku hancur dan merasa sepi
Tak tau harus kemana dan tak tau harus bagaimana
Berdiri kaku dalam ketidakberdayaan
Hanya badai dalam hatikulah yang dapat menyadarkan aku
Bahwa aku masih hidup
Mata pun hanya melihat abu-abu
Kakipun akhirnya terpaksa terus melangkah dalam gelap ini
Hanya Tuhan yang tau jalanku
Dan dalam hening bibirku berbisik
Mendendangkan lagu yang dulu tak asing terdengar di telinga
When you walk
Through a storm
Hold your head, up high
And don't be afraid, of the dark
'Coz at the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song
Of the lark
Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed
And blown
Walk on, walk on
With hope, in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Alone
Walk on, walk on
With hope in your hearts
You'll never walk, alone
(Lyrics of Gerry And The Pacemakers - You'll Never Walk Alone )
Dan aku pun tau…
Aku tak pernah berjalan sendiri
Di dalam gelap ini aku yakin
Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk menjagaku
Aku memang bukanlah malaikat
Dan aku hanya mencoba berlagak menjadi malaikat
Tapi saat ini aku sedang lelah
Maka ijinkanlah aku memohon dikau tuk menjadi malaikatku kembali
Menemaniku di sisi kala ku kembali galau melangkah
Jangan pergi, dan yakinkan aku, kalau aku tak berjalan seorang diri…
090324
Langkah ini terasa berat
Dada pun terasa sesak menghimpit
Jalan di hadapanku tampak abu-abu
Tak nampak jelas arah mana yang harus ku tuju
Aku layaknya manusia yang kehilangan
Kehilangan keinginan untuk berkeinginan
Atau memang aku menghilangkan diriku untuk berkeinginan
Hujan badai datang dalam hatiku
tak mampu membuatku bergeming dan memutuskan
Kaki ini pun terasa berat tuk melangkah maju
Lelah
Dan ada kalanya aku ingin terduduk
Bersimpuh dan memohon
Bolehkah aku menangis kali ini?
Bolehkah aku berhenti sejenak dan beristirahat
Entah walau di persimpangan seperti ini
Bukanlah tempat yang nyaman tuk beristirahat
Lelah..
Aku ternyata bukan malaikat
Dan tidak bisa jadi malaikat
Aku ternyata manusia gelap yang sok tau
Dan hanya punya keinginan yang dangkal
Dan kini pun tak layak lagi aku punya keinginan
Walau ingin…
Kalaupun mungkin waktu dapat terhentikan
Berhenti hanya pada saat kemarin saja
Agar ku tak merasakan ini
Agar ku tak usah memiliki keinginan apapun
Aku ternyata memang bukan malaikat
Dan tak mampu menjadi malaikat
Aku hanya manusia gelap yang sok tau
Dan aku lelah
Walau aku tahu aku tidak boleh berhenti
Aku hancur dan merasa sepi
Tak tau harus kemana dan tak tau harus bagaimana
Berdiri kaku dalam ketidakberdayaan
Hanya badai dalam hatikulah yang dapat menyadarkan aku
Bahwa aku masih hidup
Mata pun hanya melihat abu-abu
Kakipun akhirnya terpaksa terus melangkah dalam gelap ini
Hanya Tuhan yang tau jalanku
Dan dalam hening bibirku berbisik
Mendendangkan lagu yang dulu tak asing terdengar di telinga
When you walk
Through a storm
Hold your head, up high
And don't be afraid, of the dark
'Coz at the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song
Of the lark
Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed
And blown
Walk on, walk on
With hope, in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Alone
Walk on, walk on
With hope in your hearts
You'll never walk, alone
(Lyrics of Gerry And The Pacemakers - You'll Never Walk Alone )
Dan aku pun tau…
Aku tak pernah berjalan sendiri
Di dalam gelap ini aku yakin
Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk menjagaku
Aku memang bukanlah malaikat
Dan aku hanya mencoba berlagak menjadi malaikat
Tapi saat ini aku sedang lelah
Maka ijinkanlah aku memohon dikau tuk menjadi malaikatku kembali
Menemaniku di sisi kala ku kembali galau melangkah
Jangan pergi, dan yakinkan aku, kalau aku tak berjalan seorang diri…
090324
Selasa, 18 Agustus 2009
“A Blessed Journey”
Perjalanan mencari Cinta Mandalawangi
Sebuah Catatan Perjalanan dan Refleksi Pendakian Gunung Pangrango20-21 Desember 2008
By Jungle (Silvia Widianti yang Jelita)
Mungkin ini adalah pendakian pertama dan terakhirku di tahun ini. Antara ingin ikut dan keraguan-keraguan yang timbul dalam hati. Mampukah aku menjalani semuanya ini. Tak berani berharap dan tak berani bermimpi. Mungkin ini untuk yang pertama kalinya bermimpi pun aku takut. Takut kalau kemudian aku terbangun dan mendapati itu semuanya hanyalah mimpi. Bener-bener sebuah perasaan yang aneh. Seorang jungle takut buat bermimpi. Lebih tepatnya aku takut membayangkan aku akan naik Pangrango. Aku tak pernah mengharapkan bisa naik gunung lagi tahun ini. Kupikir masa cutiku belum habis. Jadi walaupun aku sudah tau lama tuk naik Pangrango, aku lebih mengurungkan niatku dan sewaktu teman-teman merencanakan naik Sindoro, aku lebih memilih tuk naik sindoro. Mungkin aku lebih berani menghadapi tuk naik sindoro dibandingkan pangrango. Karena itu bukan gunung impianku. Kalo ngga jadi naik pun mungkin masih tak apa-apa.
Satu dorongan mungkin yang membuatku akhirnya berani tuk sedikit bermimpi dan memutuskan tuk ikut perjalanan kali ini. Dengan persiapan yang hampir ngga matang, aku memutuskan pergi. Antara takut tak mendapat ijin, takut kalo kondisi fisik ternyata masih belum fit. Banyak ketakutan yang berusaha kubuang jauh-jauh. Terlalu banyak berpikir nantinya malah membuatku ngga jadi pergi. Just let it flow… satu yang menjadi kekhawatiran terbesarku…. Andrew masih ada di Bali dan belum pasti pulang ke Jakarta. Kalo ngga ada Andrew berarti perjalanan ini batal. SIO (Surat Ijin Orangtua) pasti bakalan tidak keluar. Terus terang lagi badanku lagi dalam kondisi kelelahan dan ngga fit banget. Lembur terus-terusan seminggu, mempersiapkan acara natalan d kantor juga, dan sempat salah makan (sarapan pagi pakai kambing, makan siang pake duren, untung masih hidup…) hingga terasa banget beberapa hari aku kliyengan dah mirip orang mabok. Lelah mempersiapkan natal d kantor sambil kepala keliyengan bikin hatiku degdegan juga. Yang tadinya berniat mendekor aula lantai 6 sambil naik turun tangga 6 lantai buat sekalian pemanasan naik gunung jadi ngga berani terus-terusan… cukup beberapa kali naik turun tangga, habis itu sudah. Dari pada nanti natalan justru tepar, gaswat. Mudah-mudahan pula aku masih diberi kesehatan. Ocehan si kecil Aching d Sanggar Akar seminggu sebelum aku pergi mungkin juga salah satu penyulut gejolak liarku yang lama terkubur. Pelan-pelan tapi pasti aku mempersiapkan perjalanan ini. pelan-pelan pun keyakinanku mulai tumbuh. Pangrango… tunggu aku!
Aku benar-benar gugup sekali. Jantung berdegup kencang. Tangan dingin dan berkeringat. Ya… esok adalah hari keberangkatanku. Hari ini 2 pria terpenting dalam hidupku baru kembali ke Jakarta dan esok sudah ku tinggal pergi lagi. SIO sudah keluar. Beberapa teman ku kirim pesan singkat lewat ponsel atau YM, mohon doa restu dan doanya tuk perjalananku kali ini. Suatu kebiasaan yang sangat jarang ku lakukan. Dan kali ini aku benar-benar serius minta didoakan supaya benar-benar selamat. Serius tuk berpamitan dan supaya aku masih ingat pulang. (PS: sampe2 minta2 maaf segala.. hehehe…) pokoknya saat-saat aku benar-benar butuh dukungan dan kekuatan. Sampai meminjam kekuatan dari orang lain… (PS: buat sahabatku nun disana. Gue ngga jadi pinjam kekuatanmu. Cahaya putih yang turun dari langit itu untukmu saja. Sepertinya kau lebih membutuhkannya saat ini). Ngga lupa aku membawa amanat dari teman-teman yang minta di salamin dan di doakan di mandala wangi. (doakan aku dapat menginjakkan kaki di lembah mandala wangi ya, supaya aku bisa memanjatkan doa-doa buat kalian). Semakin banyak titipan doa, semakin kuat langkah dan niatku tuk sampai lembah mandala wangi. Padahal sebelumnya aku tak yakin kalau aku bisa sampai ke puncak. Kandang badak saja sudah puji Tuhan. Sekarang.. banyak titipan doa, makanya aku harus kuat sampai puncak!
This is the D day!!!
Pagi-pagi sudah dapat sms dari seorang saudara nun di sana, kalo dia juga ikutan degdegan karna aku mau pergi. Hah… asem.. yang hati sudah mulai tenang jadi degdegan lagi. oh Tuhan… akhirnya aku pergi juga. Pagi ini aku packing ulang tasku.. untuk yang keempat kalinya. Hehe.. saking gugupnya dari kemarin aku sampai 4 kali packing. Aku berangkat setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si moli… doakan aku pulang sama si selamet ya…
Tujuan pertamaku adalah terminal kampong rambutan. Naik angkot S08 turun di pasar jumat (IDR 4000) trus lanjut naik bus ke kampung rambutan 509 (IDR 3000). Dan saudara-saudara sekalian… aku menghimbau, jangan pernah ke kampung rambutan naik 509 kalo ngga super kepepet. Karena bis ini ngetem sampe 5x!!! bayangkan!! 5 x 15 menit = aku terlambat!!! Maaf teman-teman. Sampai di kampung rambutan semua sudah menungguku. Perkenalkan. Aku Jungle yang terlambat. Pasukan yang berangkat pagi kali ini adalah: Jungle, Fitri, Scott, Ai, Monik, Yeti, Pije, Jeremi, Andrew, Sabar.
Naik bus arah Cianjur yang lewat Cibodas (IDR 12000). Jam 10 berangkat.
Dan inilah perjalanan itu di mulai. Dalam hati berdoa, mohon restu. Mohon ampun. Mohon bisa sampai puncak. Mohon bisa mendoakan teman-teman. Mohon diberi keselamatan. Mohon diberi kekuatan. Mohon ngga kedinginan kalau ketemu sama badai. Mohon supaya yang menyusul pun di beri keselamatan. Banyak mohonnya.
Kira-kira jam ½ 12 sampailah kita di Cibodas. Menunggu phije, Jeremy dan Andrew yang beli sweater di FO, kita ngabur makan dulu. Lumayanlah pengganjal sampai malam tiba nanti. Udara sejuk cibodas sudah menyambut kami. Jantungku kembali berdebar. Oh Tuhan… sampailah kita di Pangrango. Masih juga tak berani percaya. Makan siang secukupnya, tak lupa membeli nasi tuk perbekalan nanti malam. Kemudian naik angkot sampai pos cibodas. (IDR 3000) di kaki cibodas kita langsung ke tempatnya bang Alpin yang sudah sabaraphael menunggu kita. Tempatnya lupa namanya. Beliau sepertinya yang membantu kita mendaftar. Repacking bawaan kita (terutama tas pink super cantikku yang harus muat dengan segala isinya). Jujur, ini pendakianku yang paling cantik. Tasnya aja mini begitu. Hahaha… jam ½ 2 kita mulai mendaki. Tujuan kita adalah kandang badak. Perjalanan panjang ini dimulai. Sebagian besar perjalananku ditemani ai. (spesial thanks buat ai yang dah spesial nemenin gue jg) agak lumayan jg pendakiannya sampai ke kandang badak. Kurang pemanasan juga nih ternyata aku. Lewat air panas beberapa teman jalan duluan membantu menyiapkan tenda. Kalau ngga salah Scott, Fitri, Sabar, Andrew, dan Jeremy. Sisanya kita di belakang.
Jam ½ 8 WIC (Waktu Indonesia bagian Cibodas) aku dan beberapa teman yg dibelakang sampai juga di kandang badak. Dah banyak yang pasang tenda di sana. Tenda kita jg baru berdiri 1. langsung deh kita menyiapkan makan malam sementara teman yang lainnya melanjutkan memasang tenda. Dingin mulai menggigit kulit-kulit telanjang kita. Berganti pakaian yang sudah basah selama perjalanan dengan yang layak, kemudian melanjutkan acara memasak dan makan malam. Semua dihajar rame-rame.
Waktunya kita tuk bercengkrama di bawah taburan bintang-bintang. Rasanya kesyahduan malam itu masih belum cukup juga, Tuhan menaburkan bintang-bintangnya di langit di atas kita tuk mewarnai malam kita di kandang badak. Bersenda gurau, duduk berhimpitan diatas matras dan ditemani cahaya lilin, bintang dan bulan… jadi mau nyanyi lagunya eros dan okta, cahaya bulan… wah.. harusnya kmarin kusetel juga tuh puisinya gie di kandang badak. Siyal.. hapeku langsung lobet sih… (pelajaran: kalo ke gunung harus bawa batere HP cadangan buat setel lagu eksotis romantis dan buat foto-foto d puncak). Berbagi cerita dan bermain tebakan. Aku, fitri, scott, sabar, monik, phije. Duduk berhimpitan saling berbagi kehangatan dan keempukan lemak, mulai ngobrol ngawur, ditemani bintang-bintang yang eksotis, musang yang mencuri-curi mengambil makanan kita, cerita-cerita anehnya sabar yang ngga pernah selesai. (sumpeh, selain kalimat pertamanya yang beli ketoprak yang diulang-ulang itu, aku dah lupa ceritanya sabar).
Jam 10 kita harus beranjak dari tempat nyaman kita dan mulai melangkah ke peraduan. Ke tenda masing-masing. Masih enggan juga sih meninggalkan bintang yang begitu indah. Tapi kita harus istirahat karna esok saat fajar datang kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita. Kalau seandainya tenda kita terbuat dari plastik transparan, alangkah indahnya, bisa berbaring di dalam tenda yang hangat sambil memandangi langit penuh bintang. Alangkah eksotisnya malam itu. Makasih Tuhan, Kau beri kita malam yang syahdu nan eksotis.
Tidur berimpitan dalam tenda. Ai, aku, monik, yeti dan fitri yang memilih tidur di depan pintu tenda supaya masih bisa melihat bintang. Kira-kira jam 3 kita dibangunkan. Kloter kedua sudah sampai sebagian. Elia dan Maria yang ditemani Geni. Spontan kita langsung bangun. Menyiapkan tempat buat Elia dan Maria tuk istirahat, sementara kita menyiapkan makanan alakadarnya (yang akhirnya cuman bengong bingung nyari kompor dan nesting) tak lama yang lainnya menyusul tiba, Andrew2, Ade, Goti dan Mario. Indomi, kopi dan tongseng tersaji tuk santap subuh kita. Berbagi pengalaman singkat dan cerita. Hingga tak terasa inilah waktunya kita tuk melanjutkan perjalanan ke puncak pangrango. Packing perbekalan secukupnya, ganti kostum dan bersiap. Senter sudah ada di tangan masing-masing. Kita siap berangkat. ade, Andrew2 dan Yeti memilih tuk tinggal d kandang badak. Fitri dan Scott berjalan di depan diikuti elia dan maria, aku dan phije dan seterusnya. Jam 5 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kandang Badak) kita berangkat. Melangkahkan kaki kita yang sudah sejenak beristirahat dan menggerakkan tubuh kita yang sudah mulai mendingin. Berjalan mencari-cari kehangatan di tengah sejuknya hutan pangrango.
Pangrango.. akhirnya aku berhasil juga menginjakkan kakiku dalam rindangnya hutanmu. Terima kasih kau sudah bersedia menungguku. Terima kasih kau sudah bersedia memanggilku tuk datang. Beberapa kali, kau menampakkan keagunganmu dari balik jendela lantai 5 gedung kantorku. Dan kini kau ijinkan aku tuk bercinta dengan sejuknya udara pagimu, dengan rimbunnya hutanmu, dengan pepohonan tumbang yang merintangi langkah kami, dengan candaan sahabat yang mewarnai sepi hutanmu. Ya.. ku telah kau ijinkan menjelajah hutanmu. Surya sudah mengintip di celah-celah rimbunnya pepohonanmu. Terang sudah datang menggantikan malam. Harapan tuk melihat matahari terbit dari puncakmu mungkin kita kubur dulu sementara. Aku memilih tuk berjalan menikmati hutanmu bersama sahabat.
Langkah-langkah kaki sudah mulai melemah seiring dengan terjalnya hutanmu yang kutapaki. Napas pun sudah semakin tersengal. Aku baru sadar, tadi aku belum sempat makan apa-apa. Cuma mencicip kuah tongseng Andrew2 yang sedap. Bertahan melawan kelemahan diri dan berjuang melawan napas yang kian tersengal. Tapi perut tak dapat berbohong lagi. Berdua dengan ai, duduk di batang pohon yang tumbang, entah di ketinggian berapa, yang jelas di seberang sana, kita sudah dapat melihat puncak gede yang eksotis, bergantian melahap pir yang sejak pagi tersimpan di kantong celanaku. Pir tersegar yang pernah kumakan. mantabBbbb! Lumayan, satu pir berdua cukup menambah energi kita yang sudah terkuras. Lama berjalan akhirnya membentuk satu formasi baru.. tim mencret yang terlambat sampai puncak… aku, ai, maria, fitri, scott, dan geni. (namanya tim mencret karna sambil jalan sambil nungguin maria yang sakit perut.. untung dia bisa mengeluarkan tabungannya di salah satu sudut di hutan pangrango…)
Sambil menunggu maria… kita melahap sarapan berikutnya.. sarapan ala bule nya scott.. roti dan selembar keju (untuk kita semua) dan selembar keju doang buat Geni. Minumnya… nutri sari rasa lemon tea (kayanya punya monik yang ditemukan dengan paksa di tas monik yg dbawa Geni) yang menurutku lebih mirip rasa air pipis. (walaupun jg belum pernah nyobain rasa air pipis).
Sarapan roti keju… dan di seberangnya pemandangan gunung gede serta di sisi lainnya pemandangan maria yang lagi asik nongkrong.. (hehehe.. piss mar!!!) rasanya eksotis dan syahdu.. hahahaha…
Perjalanan kita lanjutkan usai Maria melahap sarapannya. Syukurlah kawan, kau sudah sembuh. Ternyata obatnya: direm putus.. hehehe… Makin dekat dengan puncak napas makin senen-kemis. Ocehan-ocehan sudah mulai sepi. Tapi bukan Jungle namanya kalau ngga bisa menemukan obatnya. Menyanyi adalah obat berikutnya. Sambil mendengarkan Srengenge Nyunar-nya Djaduk yang terputar dari HP nya geni yang dah sekarat (siyal!! Hape gue malah dah meninggal) kita berjalan sambil bernyanyi.. pake gaya juga, Boss!! Hehehehe… wah… tu lagu emang sakti mandraguna…
Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah bunga di taman
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Hahaha.. rasanya langkah jadi ringan. Rasanya seluruh isi hutan pun ikut bernyanyi menyambut kehadiran kita. Semua ikut tersenyum mendengar kita bernyanyi. Semua ikut tertawa melihat gaya kita menari di tengah hutan. Matahari… angin.. burung.. bunga.. dan segala isi hutan… semua ikut bernyanyi bersama kita. Aku kamu dan semuanya turut merasakan betapa syahdunya saat itu.
Puas bernyanyi, hp pun sudah mati… kita melanjutkan langkah dengan jauh lebih ringan. Sampai akhirnya aku menyerah, memakailah alat bantu itu. Oxican!!
Hmmm.. lumayan segar setelah mendapat suplai oksigen bersih. Herman.. di gunung kan oksigennya juga bersih, kenapa juga harus pakai suplai oksigen tambahan. Melihat aku pakai oksigen, scott & geni malah jadi ngiri, dan ikut-ikutan nyobain. Halah.. dasar…
Perjalanan dilanjutkan hingga sampailah kita di puncak pangrango. 3000sekian mdpl. (nanti kulihat yg pastinya). Pukul 9 WJJ (Waktu Jam Jungle) kita tiba di puncak Pangrango, tempat teman-teman sudah menunggu kita.
Gunung yang agung yang telah berulang kali memanggilku tuk datang. Dan kini aku telah menjejakkan kakiku di sana. Di sambut teman-teman yang sudah tiba lebih dulu. Sibuk meladeni para fans yang ingin foto bersama kita, tim mencret yang akhirnya tiba. Mau tak mau kita menunda dulu sementara saat menikmati puncak pangrango.
Terima kasih Tuhan, Kau masih mengijinkanku tuk mencapai puncaknya. Dan ku tahu, Kau telah memberikanku teman seperjalanan yang hebat, yang telah menemaniku sampai di puncak Pangrango.
Perjalanan kita lanjutkan kembali. Puncak bukanlah tujuan terakhir dari perjalanan ini. masih ada lembah mandalawangi, tempat GIE begitu senang bercinta di sana. Dan kami pun harus menjejakkan kaki pula di sana. Perjalanan turun ke lembah mandalawangi tak terlalu lama. Mungkin memakan waktu sekitar 30menit jalanan menurun. Setengah berlari kita menyambut mandalawangi yang sudah menunggu kami. Berlari di balik rimbunnya pepohonan edelweiss yang sedang menguncup yang menghalangi pandangan mata kami tuk melihat surganya Pangrango. Dan langkahku terhenti di lembah penuh cinta itu.
Ini ternyata yang bernama mandalawangi yang terkenal itu. Yang membuat GIE begitu sering ke sini… di sinilah abu Gie ditebarkan. Di sinilah lembah yang katanya elok nan agung itu.
Kalau boleh hati kecilku berbisik jujur… aku lebih suka alun-alun suryakencana. Ada sedikit rasa kecewa menggumuli hatiku. Tempat inikah yang telah kuperjuangkan tuk dapat kulihat??
Tempat inikah yang begitu kucintai, bahkan sebelum aku melihatnya sendiri? Ada apakah dibalik pesona mandalawangi, hingga aku begitu ingin menjejakkan kakiku di sana dan memandanginya langsung.
Lama ku merenung… memandangi sekitar… berbicara banyak dengan hatiku dan memanjatkan banyak permohonan yang dititipkan padaku.
Tuhan memang terasa begitu dekat di sini.
Dalam sunyinya lembah, dimana hanya ada kita… kami dan hati kami masing-masing.
Atau memang suasana membuatku larut dalam kesendirian ini.
Tuhan sebenarnya tidak lebih terasa dekat di sini atau di manapun. Tuhan selalu dekat. Hanya hatiku dan hati kami yang mungkin menjauhkan diri dari Tuhan.
Ah.. aku hanyalah pencari Tuhan. yang kadang merasa Tuhan itu jauh kalau di Jakarta. Tuhan itu jauh kalau aku ada di kota, dimana godaan setan tuk berbuat dosa lebih banyak daripada di gunung. Banyak hal yang membuatku bergumul dalam hati. Ada sesuatu dalam lembah ini yang begitu merasuk ke dalam hatiku. Damai. Sunyi. Syahdu. Dan aku tak tau apa lagi. tak terdefinisikan dengan kata. Yang ku tahu memang di sini ada cinta itu. Cinta yang kucari dan kuharap dapat kutemui di mandalawangi. Cinta yang tak terdefinisikan juga terhadap siapa.. atau terhadap apa…
Syukur kepadaMu Tuhan
Sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kau angkat
Dosa kami Kau ampuni
Kau beri hidup Ilahi
Kami jadi putraMu
Kau tumbuhkan dalam hati
Pengharapan dan iman
Kau kobarkan cinta suci
Dan semangat berkurban
Kami Kau lahirkan pula
Untuk hidup bahagia
Dalam kerajaanMu
Kami hendak mengikuti
Jejak Yesus Sang Abdi
Mengamalkan cinta bakti
Di masyarakat kami
Syukur kepadaMu Tuhan
Atas baptis yang mulia
Tanda Rahmat dan iman
PS. 592
Lagu Syukur mengalun di lembah mandalawangi semakin membuat syahdu tempat ini. mandalawangi lebih tepat tuk disebut syahdu daripada eksotis. Hahaha…
Saatnya tuk minum susunya sabar di sini… asik! Waktu membuka perbekalan kita. Lumayan pemasukanku di sini. Susunya sabar. Jelly yang dimakan berdua dengan joroknya. (orang normal pasti nggilani kl liat kita makan jelly kayak gitu caranya) Pir yang dimakan rame2. (sebenernya tu pir kulitnya dah ngga berbentuk indah lagi. tapi makanan apapun d gunung terasa halal). Sup asparagus instant yang menggumpal, yang kita makan rame2 pake roti dan dicedoki pake kardus bekas susu… (ala bule lagi) (makasih buat Scott atas rotinya)
Puas makan dan minum, waktunya kita buat acara jumpa fans. Foto bersama! Ada yang niat bawa rok batik buat difoto di mandala wangi. Ada yang pake kaos yukensi, dan bulu keteknya kemana-mana dan akhirnya geli sendiri, ketawa sampe ngeces… (sampe skarang gue masi bersyukur ngga ketetesan ilernya yang rabies itu) hehehe… Ada juga yang di foto prewed dengan gaya yang bikin mules. Ada yang fotonya loncat-loncatan. Ada yang foto gaya India… ada yang nempel di setiap foto ada. Dah kaya penampakan aja.
Sa’ karepmu wae lah.. mau di foto gaya apapun di gunung, lagi-lagi.. di gunung, apapun terasa halal. Hehehe…
Saatnya buat packing kembali. Jam 11.30 WJJWMW (Waktu Jam Jungle Waktu diMandalaWangi) Saat kita tuk turun kembali ke kandang badak, tempat amuksi dan teman2 lain menunggu. Eh.. naik lagi ke puncak dulu ding, baru turun lagi. hehehe… lagi-lagi formasi teman seperjalananku kurang lebih sama. Dan lagi-lagi juga, kebiasaan paling jelek, kalo turun pasti kaki jadi sakit… doh nggle.. sampe kapan sih mesti begitu terus… ini yang paling nyusahin… di temple koyo.. dipasangin dekker dan dipijetin… lumayan ampuh sih. Menolong deh. Perjalanan turun kita lumayan santai banget. Banyak ngobrolnya dan bertukar cerita. Dan seperti biasa, dalam perjalanan turun yang paling mengakrabkan kita. Aku, ai, Mario, Geni, Fitri, Scott (ngilang2), Maria, dan kayaknya ada Sempet ada Goti deh… Saling curhat dan bertukar cerita. (ngga bertukar sih, banyakan Geni yang cerita, aku sama Mario yang jadi pendengar yang baik dan bijaksana, tidak sombong dan rajin menabung) Biasa.. mengalihkan perhatian dari kaki yang sakit dan rasa capek. Ceritanya juga mulai ngga jelas sebenarnya. Kalo di tulis pasti orang pada aneh bacanya. Hehehe…
Saat turun dan ngobrol banyak, aku semakin disadarkan dengan keadaan kita sekarang ini. Bagaimana hal yang seharusnya sudah terkonsep dalam pikiran kita masing-masing, kini mulai dilupakan. Bagaimana aku, kamu dan kita semua sebenarnya memiliki hubungan yang kuat, lebih dari sekedar teman biasa, lebih dari sekedar sahabat, tapi aku, kamu dan kita semua adalah saudara. saudara yang terlambat dipertemukan, yang untungnya masih diberi kesempatan tuk bertemu… saudara dalam satu keluarga besar JSN. Hal yang sering kita lupakan kalau kita sudah mulai asik dengan kegiatan kita masing-masing. Hal yang sering kita lupakan kalau kita mulai berbeda pendapat, mulai menggunakan hati yang sakit tuk membenci daripada mengampuni. Hal besar yang sering kita lupakan, bahwa nyatanya kita adalah satu saudara. sejelek apapun aku, ataupun kamu… seburuk apapun kamu atau kan dia, selama kita masih dibawah satu nama JSN, selayaknya kita semua adalah saudara.
Dan betapa kita telah sering asik dengan kesenangan kita sendiri tanpa ingat lagi tuk merangkul saudara-saudara yang telah lama pergi dan terlupakan.
Hal yang menyenangkan karena aku bisa turun dari puncak dan menguatkan konsep yang sudah mulai mengabur di dalam pikiranku. Makasi ya Gen, buat segala pencerahannya. Kita emang baru ketemu 2x, tapi lo dah banyak ngajarin gue sesuatu, terutama lo dah ngingetin gue bahwa kita semua masih saudara. sejelekjeleknya lo… dan semanis-manisnya gue… atau secupu-cupunya fitri… yang manis, yang kuat, yang sabar, yang menyebalkan, yang pemarah, yang manja, yang periang, semuanya satu. Yang di Jakarta yang di Solo, yang di Jogja, Kalimantan, Thailand, Nabire dan dimanapun. Semuanya satu. Dan kita harus tetap mengingat itu. Kejahilan-kejahilan… gurauan-gurauan, amarah, tawa, tangis, cinta, mungkin itu semuanya yang mewarnai hubungan diantara kita dan akan tetap berwarna terus selamanya.
Mungkin ada yang menganggap pemikiran aku terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Mungkin juga ada yang menganggap aku terlalu terbawa suasana karena di gunung, kita semua saling ketergantungan, kita merasa saling membutuhkan lalu aku menganggap kalian saudara karena aku membutuhkan kalian…. Terserah… tapi aku benar-benar merasa konsep persaudaraan kita ini sudah mulai memudar. Dan terima kasih karena aku masih diberikan kesempatan tuk menyadari hal itu, bahwa hubungan antara aku dan kalian… walaupun mungkin baru dipertemukan dalam perjalanan ini, ataupun sudah saling mengenal bertahun-tahun, seperti ada jalinan benang merah yang mengikatkan kita hingga membuat kita dapat langsung akrab dan merasa dekat. Kita memang dekat, karena hati kita semuanya berdekatan. Dan hanya kita sendiri yang dapat menjauhkannya.
Aku merasa, di tangan kiri kita seperti ada ikatan benang merah yang terjalin kuat satu sama lain. Saling berhubungan satu sama lain. Tidak kasat mata, tapi dapat kita rasakan dengan hati. Sedangkan di tangan kanan kita tergenggam sebuah gunting yang dapat memutuskannya. Hanya gunting yang ada di tangan kita yang dapat memutuskan ikatan tali di jari kita, sehingga membuat kita memisahkan diri dari jalinan benang merah tersebut. Dan itu adalah pilihan kita masing-masing. Ingin membuat gunting itu tidak akan pernah terpakai selamanya, atau ingin menggunakan gunting itu.
Kira-kira jam ½ 3 aku, Mario dan Geni (kalo ngga salah) sampai di kandang badak. Ai dan yang lainnya sudah duluan. Rasa lega lebih menjalariku. Akhirnya sampai juga. Amuksie menyambut kita. Muks.. lain kali kamu harus naik sampai puncak, ya.. kita temenin lagi deh.. hehehe…
Kita mulai istirahat, masak mi dan menghabiskan seluruh perbekalan adalah tujuan utama kita. Supaya beban yang kita bawa turun nantinya jadi ringan. Habis makan, kita semua lantas bersih-bersih dan packing lagi. siap tuk turun dan pulang.
Jam 4 kita beranjak turun dari kandang badak. Hari sudah mulai sore dan surya juga sudah mulai beranjak sembunyi. Kita mulai melangkah turun. Menapaki jalan menjauhi kandang badak, menjauhi pangrango dan gede. Lagi-lagi kakiku bermasalah. Dan kali ini malah badanku juga sudah mulai ngga bisa diajak kompromi. Aku baru sadar, di kandang badak tadi aku kurang mengisi energi. Kebanyakan nyuapin anak-anak burung.. hehehe… perut yang mules minta dilakukan pembuangan juga membuat badanku semakin lemas. Tapi ku tahan juga. Perjalanan pun terasa amat panjang dan tak berkesudahan. Kemalaman sudah pasti. Lelah pun sudah pasti. Badan rasanya melayang… (Nal.. seharusnya aku pake tuh energinya… tapi jadi malah ngga kepikiran) otak dah antara sadar dan ngga sadar. Tak lepas tanganku dan ai bergandengan sampai bawah. Sama-sama saling menguatkan. Dan kayanya banyakan ai yang menguatkan ku. Thanks ai!
Badan sama-sama lelah dan sudah tak bertenaga. Sebentar-sebentar maunya istirahat. Geni sudah mengingatkan tuk terus berjalan, jangan berhenti. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang ngga beres, tapi otak sudah ngga sanggup lagi tuk berpikir. Pelan pelan kita menapak turun melewati langkah demi langkah kita, semakin menjauhi kandang badak, gede dan pangrango. Hari semakin malam dan gelap semakin pekat. Tubuh pun tak kalah lelahnya. Makasih buat Geni yang bawain tasku sebentar dan andrew2 yang akhirnya bawain tasku sampai bawah, yang bikin langkahku jadi lumayan tapi kakinya jadi lecet…
Sampai lewat telaga, barulah kita ingat, apa yang menguatkan kita selama di perjalanan. CERITA!!! Dan disitulah cerita kita tak putus mengalir dari bibir kita masing-masing.. Aku, Ai, Maria, Mario, Ade dan Andrew yang berjalan di depan. Dan sampailah kita di basecamp. Rombongan terakhir (seperti biasa) kira2 jam ½ 9. monik, goti, geni, sudah menunggu kita.
Dan inilah akhir dari perjalanan kita. Perjalanan yang kunamakan a blessed journey. Perjalanan yang terberkati Tuhan. karena sejak awal aku merasakan Dia memberikan kemudahan bagi kita tuk dapat mendaki sampai puncak. Melewati rintangan dan membiarkan kita meninggalkan jejak-jejak kaki kita di sana. Tanpa berkatNya pastinya ini semua tidak akan terlaksana. Hujan pun enggan turun menghalangi langkah kita. Bintang pun seakan tersenyum menyambut kedatangan kita. Apalagi yang mau kita keluhkan???
Supir bus gila yang membawa kita sampe kampung rambutan kurasa.. hehehehe… yang bikin kita semua terpental-pental di dalamnya. lagi-lagi perjalanan ini toh masih diberkati, karena biarpun naik bus gila-gilaan tetap saja kita bisa sampai dengan selamat dan cepat pula.
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
akhirnya…
Special thanks to:
setelah sekian lama, bisa naik gunung lagi gue, terutama pangrango. semuanya seperti diberikan kemudahan dari Tuhan. gue pikir gue masih cuti gunung sampai taun depan, ternyata… skarang dah selesai masa cutinya. Banyak2 gue ucapkan terima kasih buat temen2 sekalian:
buat monik & ai yang mau susah payah mendaftarkan kita dan membuat mimpi ini akhirnya terwujud. terutama buat monik yg menjadikan ini nyata. bantuin melengkapi perlengkapan gue. Membuat segalanya menjadi mungkin.
buat ai dan gandengan tangannya yang kecil tapi kokoh yang dah nemenin dari naik sampe turun. ngga ada loe ngga rame. ocehan dan cerita2 lo bikin semangat. Terutama tangan kecil lo yang emang bener2 menguatkan.
buat andrew yang dah mbawain tas turun, yang dah nganterin pulang selamat sampe d rumah, yang dah ngasi dukungan moril spirituil. halagh.. lain kali kamu harus muncak ya, muks… ku temenin deh… sama tongsengmu. (kmarin ga berani makan, gara2 badan lagi ngawur). kapan2 kita harus bareng naik lagi.
buat sabar, yang kalo di rem putus.. lain kali bikin tebakan yang lebih bermutu lagi. masa dari kmaren ketebak terus. ngomong2 waktu lo beli ketoprak, bintangnya bagus ya… lo boleh bilang gue tulalit, tapi (semoga) gue dah meninggalkan kebodohan gue d mandala wangi, yang kemudian akhirnya lo pungut. skali2 bertobatlah jangan jadi NABO… dasar, BOJOK! hahaha… makasih karna lo telah membuktikan kesabaran namamu. dan maaf, lo bukan tumbal kok.
buat fitri cupskie…
lo tau isi hati gue, babe… terutama saat2 sebelum naik dan hal2 lain yang membuat konsentrasi gue terpecah. jangan berbuat mesum lagi sama ai d tengah hutan, apalagi sampe ketauan orang. Hehehe… gimana perjalanan kita berikutnya??
buat andri yang sabaraphael nemenin sampe atas dan turun lagi dan curhatan2nya yang nambah2in semangat buat terus jalan dan kelakuan2nya yang kadang2 aneh semoga kapan2 bisa foto india bareng lagi dan semoga lain waktu bisa bertualang bareng lagi. Makasih dah memberikan ku banyak pencerahan di hutan sana.
PS: lagi mikir2 manggil nama lo yang enak ap… susah nyebutnya.. akhirnya terpikir… lo gue panggil GENI aja ya.. bukan gendruk atau andri. lidah gue sering keselo nyebutnya… biar mirip sama kembaranmu.. goti dan geni.. halah… sampe di catper pun nama lo dah gue ganti dengan hormatnya…
buat mario, maria, ade, ai (lagi), andrew
atas ocehan ngga jelas tentang hal2 ngga jelas yang akhirnya justru menguatkan kita sama2 buat turun dengan selamat.
buat scott..makasi buat logistiknya, terutama roti keju itu… arrgghh.. rasanya eksotis banget ga sih?? makan roti keju, di tengah hutan pangrango, di seberang pemandangan puncak gede dan di balik semak pemandangan maria lagi ngerem putus…haha… oh ya.. tertarik tawaranmu ke ujung kulon, tapi maret ada trip lain. k makassar aja yuk, scott!!
buat goti…namamu ngga aneh kok. yang bikin kan gue. hahaha… sampe jumpa d petualangan berikutnya.
buat elia
lain kali harus lebih kuat dan berani lagi. jangan loyo dan ngoyo. kenali dirimu dan kekuatan dirimu. tapi proficiat dah sampai puncak
buat phije dan antek2nya…
phije… lo dah lebih baek dari salak kmaren. lain kali tambah smangat y. dan temen2nya phije.. jangan kapok naik gunung lagi.
buat Bang Alpin
makasih buat tempatnya tuk kita singgah sebelum dan sesudah muncak. makasih buat packingannya.
buat tim mencret yang barengan muncak..
ngga ada loe ngga rame!!
Buat Om Djaduk Feriyanto yang telah membuat lagu Srengenge Nyunar menjadi lebih memiliki jiwa. Apalagi kalau kita menyanyikannya di gunung. Terima kasih juga buat lagu syukur nya yang juga terasa semakin bermakna ketika kita menyanyikannya di lembah mandalawangi. 4 jempolku terangkat tuk Om Djaduk atas gubahannya. Hidup musik Indonesia!!!
Buat Teman2 tim Desk Foto dan Grafis SP yang semakin membuat lagu ini lebih dalam lagi artinya. Cerita dikit. Lagu ini dan lagu Tuhan Sumber Gembiraku kita nyanyiin bareng, dari desk foto dan grafis, dengan gerak dan suara kita yang alakadarnya di acara natalan kantor.
Buat Teman2 unit sirkulasi SP yang data KTPnya dipakai buat daftar Pangrango tanpa sepengetahuan mereka. Dan untunglah sampe skarang mereka jg tetep ngga tau. Hehehe…
buat semuanya… sampe jumpa di perjalanan berikutnya.
dan yang terakhir
buat Tuhan dan segala keindahan alam ciptaanMu
terima kasih buat segala keindahan yang Kau ciptakan tuk mengisi detik2 ku di Pangrango. bintang2 terindah dalam hidupku, cuaca yang 10000% cerah terang benderang. dan lain lainnya
mohon maaf buat pangrango.. ternyata gue lebih cinta sama Gede daripada sama lo… hehehe… puncak dan suryakencananya lebih eksotis, walau lebih ramai dan kotor, tapi gatau kenapa hati gue menetap di surken. di pangrango, gue lebih menikmati proses perjalanan panjang waktu naik dan turunnya. perjuangannya merayapi hutan2nya yang eksotis. hehehe…
jadi.. tiba2 merindukan naik gede, apakah ada yang mau naik gede lagi?? yuks.. gue dah siap! kapan?? Hehehe…
dan ketika semuanya sudah berlalu,
yang ada hanya kenangan yang terpatri
dan harapan akan terulang kembali…
Sebuah Catatan Perjalanan dan Refleksi Pendakian Gunung Pangrango20-21 Desember 2008
By Jungle (Silvia Widianti yang Jelita)
Mungkin ini adalah pendakian pertama dan terakhirku di tahun ini. Antara ingin ikut dan keraguan-keraguan yang timbul dalam hati. Mampukah aku menjalani semuanya ini. Tak berani berharap dan tak berani bermimpi. Mungkin ini untuk yang pertama kalinya bermimpi pun aku takut. Takut kalau kemudian aku terbangun dan mendapati itu semuanya hanyalah mimpi. Bener-bener sebuah perasaan yang aneh. Seorang jungle takut buat bermimpi. Lebih tepatnya aku takut membayangkan aku akan naik Pangrango. Aku tak pernah mengharapkan bisa naik gunung lagi tahun ini. Kupikir masa cutiku belum habis. Jadi walaupun aku sudah tau lama tuk naik Pangrango, aku lebih mengurungkan niatku dan sewaktu teman-teman merencanakan naik Sindoro, aku lebih memilih tuk naik sindoro. Mungkin aku lebih berani menghadapi tuk naik sindoro dibandingkan pangrango. Karena itu bukan gunung impianku. Kalo ngga jadi naik pun mungkin masih tak apa-apa.
Satu dorongan mungkin yang membuatku akhirnya berani tuk sedikit bermimpi dan memutuskan tuk ikut perjalanan kali ini. Dengan persiapan yang hampir ngga matang, aku memutuskan pergi. Antara takut tak mendapat ijin, takut kalo kondisi fisik ternyata masih belum fit. Banyak ketakutan yang berusaha kubuang jauh-jauh. Terlalu banyak berpikir nantinya malah membuatku ngga jadi pergi. Just let it flow… satu yang menjadi kekhawatiran terbesarku…. Andrew masih ada di Bali dan belum pasti pulang ke Jakarta. Kalo ngga ada Andrew berarti perjalanan ini batal. SIO (Surat Ijin Orangtua) pasti bakalan tidak keluar. Terus terang lagi badanku lagi dalam kondisi kelelahan dan ngga fit banget. Lembur terus-terusan seminggu, mempersiapkan acara natalan d kantor juga, dan sempat salah makan (sarapan pagi pakai kambing, makan siang pake duren, untung masih hidup…) hingga terasa banget beberapa hari aku kliyengan dah mirip orang mabok. Lelah mempersiapkan natal d kantor sambil kepala keliyengan bikin hatiku degdegan juga. Yang tadinya berniat mendekor aula lantai 6 sambil naik turun tangga 6 lantai buat sekalian pemanasan naik gunung jadi ngga berani terus-terusan… cukup beberapa kali naik turun tangga, habis itu sudah. Dari pada nanti natalan justru tepar, gaswat. Mudah-mudahan pula aku masih diberi kesehatan. Ocehan si kecil Aching d Sanggar Akar seminggu sebelum aku pergi mungkin juga salah satu penyulut gejolak liarku yang lama terkubur. Pelan-pelan tapi pasti aku mempersiapkan perjalanan ini. pelan-pelan pun keyakinanku mulai tumbuh. Pangrango… tunggu aku!
Aku benar-benar gugup sekali. Jantung berdegup kencang. Tangan dingin dan berkeringat. Ya… esok adalah hari keberangkatanku. Hari ini 2 pria terpenting dalam hidupku baru kembali ke Jakarta dan esok sudah ku tinggal pergi lagi. SIO sudah keluar. Beberapa teman ku kirim pesan singkat lewat ponsel atau YM, mohon doa restu dan doanya tuk perjalananku kali ini. Suatu kebiasaan yang sangat jarang ku lakukan. Dan kali ini aku benar-benar serius minta didoakan supaya benar-benar selamat. Serius tuk berpamitan dan supaya aku masih ingat pulang. (PS: sampe2 minta2 maaf segala.. hehehe…) pokoknya saat-saat aku benar-benar butuh dukungan dan kekuatan. Sampai meminjam kekuatan dari orang lain… (PS: buat sahabatku nun disana. Gue ngga jadi pinjam kekuatanmu. Cahaya putih yang turun dari langit itu untukmu saja. Sepertinya kau lebih membutuhkannya saat ini). Ngga lupa aku membawa amanat dari teman-teman yang minta di salamin dan di doakan di mandala wangi. (doakan aku dapat menginjakkan kaki di lembah mandala wangi ya, supaya aku bisa memanjatkan doa-doa buat kalian). Semakin banyak titipan doa, semakin kuat langkah dan niatku tuk sampai lembah mandala wangi. Padahal sebelumnya aku tak yakin kalau aku bisa sampai ke puncak. Kandang badak saja sudah puji Tuhan. Sekarang.. banyak titipan doa, makanya aku harus kuat sampai puncak!
This is the D day!!!
Pagi-pagi sudah dapat sms dari seorang saudara nun di sana, kalo dia juga ikutan degdegan karna aku mau pergi. Hah… asem.. yang hati sudah mulai tenang jadi degdegan lagi. oh Tuhan… akhirnya aku pergi juga. Pagi ini aku packing ulang tasku.. untuk yang keempat kalinya. Hehe.. saking gugupnya dari kemarin aku sampai 4 kali packing. Aku berangkat setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si moli… doakan aku pulang sama si selamet ya…
Tujuan pertamaku adalah terminal kampong rambutan. Naik angkot S08 turun di pasar jumat (IDR 4000) trus lanjut naik bus ke kampung rambutan 509 (IDR 3000). Dan saudara-saudara sekalian… aku menghimbau, jangan pernah ke kampung rambutan naik 509 kalo ngga super kepepet. Karena bis ini ngetem sampe 5x!!! bayangkan!! 5 x 15 menit = aku terlambat!!! Maaf teman-teman. Sampai di kampung rambutan semua sudah menungguku. Perkenalkan. Aku Jungle yang terlambat. Pasukan yang berangkat pagi kali ini adalah: Jungle, Fitri, Scott, Ai, Monik, Yeti, Pije, Jeremi, Andrew, Sabar.
Naik bus arah Cianjur yang lewat Cibodas (IDR 12000). Jam 10 berangkat.
Dan inilah perjalanan itu di mulai. Dalam hati berdoa, mohon restu. Mohon ampun. Mohon bisa sampai puncak. Mohon bisa mendoakan teman-teman. Mohon diberi keselamatan. Mohon diberi kekuatan. Mohon ngga kedinginan kalau ketemu sama badai. Mohon supaya yang menyusul pun di beri keselamatan. Banyak mohonnya.
Kira-kira jam ½ 12 sampailah kita di Cibodas. Menunggu phije, Jeremy dan Andrew yang beli sweater di FO, kita ngabur makan dulu. Lumayanlah pengganjal sampai malam tiba nanti. Udara sejuk cibodas sudah menyambut kami. Jantungku kembali berdebar. Oh Tuhan… sampailah kita di Pangrango. Masih juga tak berani percaya. Makan siang secukupnya, tak lupa membeli nasi tuk perbekalan nanti malam. Kemudian naik angkot sampai pos cibodas. (IDR 3000) di kaki cibodas kita langsung ke tempatnya bang Alpin yang sudah sabaraphael menunggu kita. Tempatnya lupa namanya. Beliau sepertinya yang membantu kita mendaftar. Repacking bawaan kita (terutama tas pink super cantikku yang harus muat dengan segala isinya). Jujur, ini pendakianku yang paling cantik. Tasnya aja mini begitu. Hahaha… jam ½ 2 kita mulai mendaki. Tujuan kita adalah kandang badak. Perjalanan panjang ini dimulai. Sebagian besar perjalananku ditemani ai. (spesial thanks buat ai yang dah spesial nemenin gue jg) agak lumayan jg pendakiannya sampai ke kandang badak. Kurang pemanasan juga nih ternyata aku. Lewat air panas beberapa teman jalan duluan membantu menyiapkan tenda. Kalau ngga salah Scott, Fitri, Sabar, Andrew, dan Jeremy. Sisanya kita di belakang.
Jam ½ 8 WIC (Waktu Indonesia bagian Cibodas) aku dan beberapa teman yg dibelakang sampai juga di kandang badak. Dah banyak yang pasang tenda di sana. Tenda kita jg baru berdiri 1. langsung deh kita menyiapkan makan malam sementara teman yang lainnya melanjutkan memasang tenda. Dingin mulai menggigit kulit-kulit telanjang kita. Berganti pakaian yang sudah basah selama perjalanan dengan yang layak, kemudian melanjutkan acara memasak dan makan malam. Semua dihajar rame-rame.
Waktunya kita tuk bercengkrama di bawah taburan bintang-bintang. Rasanya kesyahduan malam itu masih belum cukup juga, Tuhan menaburkan bintang-bintangnya di langit di atas kita tuk mewarnai malam kita di kandang badak. Bersenda gurau, duduk berhimpitan diatas matras dan ditemani cahaya lilin, bintang dan bulan… jadi mau nyanyi lagunya eros dan okta, cahaya bulan… wah.. harusnya kmarin kusetel juga tuh puisinya gie di kandang badak. Siyal.. hapeku langsung lobet sih… (pelajaran: kalo ke gunung harus bawa batere HP cadangan buat setel lagu eksotis romantis dan buat foto-foto d puncak). Berbagi cerita dan bermain tebakan. Aku, fitri, scott, sabar, monik, phije. Duduk berhimpitan saling berbagi kehangatan dan keempukan lemak, mulai ngobrol ngawur, ditemani bintang-bintang yang eksotis, musang yang mencuri-curi mengambil makanan kita, cerita-cerita anehnya sabar yang ngga pernah selesai. (sumpeh, selain kalimat pertamanya yang beli ketoprak yang diulang-ulang itu, aku dah lupa ceritanya sabar).
Jam 10 kita harus beranjak dari tempat nyaman kita dan mulai melangkah ke peraduan. Ke tenda masing-masing. Masih enggan juga sih meninggalkan bintang yang begitu indah. Tapi kita harus istirahat karna esok saat fajar datang kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita. Kalau seandainya tenda kita terbuat dari plastik transparan, alangkah indahnya, bisa berbaring di dalam tenda yang hangat sambil memandangi langit penuh bintang. Alangkah eksotisnya malam itu. Makasih Tuhan, Kau beri kita malam yang syahdu nan eksotis.
Tidur berimpitan dalam tenda. Ai, aku, monik, yeti dan fitri yang memilih tidur di depan pintu tenda supaya masih bisa melihat bintang. Kira-kira jam 3 kita dibangunkan. Kloter kedua sudah sampai sebagian. Elia dan Maria yang ditemani Geni. Spontan kita langsung bangun. Menyiapkan tempat buat Elia dan Maria tuk istirahat, sementara kita menyiapkan makanan alakadarnya (yang akhirnya cuman bengong bingung nyari kompor dan nesting) tak lama yang lainnya menyusul tiba, Andrew2, Ade, Goti dan Mario. Indomi, kopi dan tongseng tersaji tuk santap subuh kita. Berbagi pengalaman singkat dan cerita. Hingga tak terasa inilah waktunya kita tuk melanjutkan perjalanan ke puncak pangrango. Packing perbekalan secukupnya, ganti kostum dan bersiap. Senter sudah ada di tangan masing-masing. Kita siap berangkat. ade, Andrew2 dan Yeti memilih tuk tinggal d kandang badak. Fitri dan Scott berjalan di depan diikuti elia dan maria, aku dan phije dan seterusnya. Jam 5 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kandang Badak) kita berangkat. Melangkahkan kaki kita yang sudah sejenak beristirahat dan menggerakkan tubuh kita yang sudah mulai mendingin. Berjalan mencari-cari kehangatan di tengah sejuknya hutan pangrango.
Pangrango.. akhirnya aku berhasil juga menginjakkan kakiku dalam rindangnya hutanmu. Terima kasih kau sudah bersedia menungguku. Terima kasih kau sudah bersedia memanggilku tuk datang. Beberapa kali, kau menampakkan keagunganmu dari balik jendela lantai 5 gedung kantorku. Dan kini kau ijinkan aku tuk bercinta dengan sejuknya udara pagimu, dengan rimbunnya hutanmu, dengan pepohonan tumbang yang merintangi langkah kami, dengan candaan sahabat yang mewarnai sepi hutanmu. Ya.. ku telah kau ijinkan menjelajah hutanmu. Surya sudah mengintip di celah-celah rimbunnya pepohonanmu. Terang sudah datang menggantikan malam. Harapan tuk melihat matahari terbit dari puncakmu mungkin kita kubur dulu sementara. Aku memilih tuk berjalan menikmati hutanmu bersama sahabat.
Langkah-langkah kaki sudah mulai melemah seiring dengan terjalnya hutanmu yang kutapaki. Napas pun sudah semakin tersengal. Aku baru sadar, tadi aku belum sempat makan apa-apa. Cuma mencicip kuah tongseng Andrew2 yang sedap. Bertahan melawan kelemahan diri dan berjuang melawan napas yang kian tersengal. Tapi perut tak dapat berbohong lagi. Berdua dengan ai, duduk di batang pohon yang tumbang, entah di ketinggian berapa, yang jelas di seberang sana, kita sudah dapat melihat puncak gede yang eksotis, bergantian melahap pir yang sejak pagi tersimpan di kantong celanaku. Pir tersegar yang pernah kumakan. mantabBbbb! Lumayan, satu pir berdua cukup menambah energi kita yang sudah terkuras. Lama berjalan akhirnya membentuk satu formasi baru.. tim mencret yang terlambat sampai puncak… aku, ai, maria, fitri, scott, dan geni. (namanya tim mencret karna sambil jalan sambil nungguin maria yang sakit perut.. untung dia bisa mengeluarkan tabungannya di salah satu sudut di hutan pangrango…)
Sambil menunggu maria… kita melahap sarapan berikutnya.. sarapan ala bule nya scott.. roti dan selembar keju (untuk kita semua) dan selembar keju doang buat Geni. Minumnya… nutri sari rasa lemon tea (kayanya punya monik yang ditemukan dengan paksa di tas monik yg dbawa Geni) yang menurutku lebih mirip rasa air pipis. (walaupun jg belum pernah nyobain rasa air pipis).
Sarapan roti keju… dan di seberangnya pemandangan gunung gede serta di sisi lainnya pemandangan maria yang lagi asik nongkrong.. (hehehe.. piss mar!!!) rasanya eksotis dan syahdu.. hahahaha…
Perjalanan kita lanjutkan usai Maria melahap sarapannya. Syukurlah kawan, kau sudah sembuh. Ternyata obatnya: direm putus.. hehehe… Makin dekat dengan puncak napas makin senen-kemis. Ocehan-ocehan sudah mulai sepi. Tapi bukan Jungle namanya kalau ngga bisa menemukan obatnya. Menyanyi adalah obat berikutnya. Sambil mendengarkan Srengenge Nyunar-nya Djaduk yang terputar dari HP nya geni yang dah sekarat (siyal!! Hape gue malah dah meninggal) kita berjalan sambil bernyanyi.. pake gaya juga, Boss!! Hehehehe… wah… tu lagu emang sakti mandraguna…
Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah bunga di taman
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Hahaha.. rasanya langkah jadi ringan. Rasanya seluruh isi hutan pun ikut bernyanyi menyambut kehadiran kita. Semua ikut tersenyum mendengar kita bernyanyi. Semua ikut tertawa melihat gaya kita menari di tengah hutan. Matahari… angin.. burung.. bunga.. dan segala isi hutan… semua ikut bernyanyi bersama kita. Aku kamu dan semuanya turut merasakan betapa syahdunya saat itu.
Puas bernyanyi, hp pun sudah mati… kita melanjutkan langkah dengan jauh lebih ringan. Sampai akhirnya aku menyerah, memakailah alat bantu itu. Oxican!!
Hmmm.. lumayan segar setelah mendapat suplai oksigen bersih. Herman.. di gunung kan oksigennya juga bersih, kenapa juga harus pakai suplai oksigen tambahan. Melihat aku pakai oksigen, scott & geni malah jadi ngiri, dan ikut-ikutan nyobain. Halah.. dasar…
Perjalanan dilanjutkan hingga sampailah kita di puncak pangrango. 3000sekian mdpl. (nanti kulihat yg pastinya). Pukul 9 WJJ (Waktu Jam Jungle) kita tiba di puncak Pangrango, tempat teman-teman sudah menunggu kita.
Gunung yang agung yang telah berulang kali memanggilku tuk datang. Dan kini aku telah menjejakkan kakiku di sana. Di sambut teman-teman yang sudah tiba lebih dulu. Sibuk meladeni para fans yang ingin foto bersama kita, tim mencret yang akhirnya tiba. Mau tak mau kita menunda dulu sementara saat menikmati puncak pangrango.
Terima kasih Tuhan, Kau masih mengijinkanku tuk mencapai puncaknya. Dan ku tahu, Kau telah memberikanku teman seperjalanan yang hebat, yang telah menemaniku sampai di puncak Pangrango.
Perjalanan kita lanjutkan kembali. Puncak bukanlah tujuan terakhir dari perjalanan ini. masih ada lembah mandalawangi, tempat GIE begitu senang bercinta di sana. Dan kami pun harus menjejakkan kaki pula di sana. Perjalanan turun ke lembah mandalawangi tak terlalu lama. Mungkin memakan waktu sekitar 30menit jalanan menurun. Setengah berlari kita menyambut mandalawangi yang sudah menunggu kami. Berlari di balik rimbunnya pepohonan edelweiss yang sedang menguncup yang menghalangi pandangan mata kami tuk melihat surganya Pangrango. Dan langkahku terhenti di lembah penuh cinta itu.
Ini ternyata yang bernama mandalawangi yang terkenal itu. Yang membuat GIE begitu sering ke sini… di sinilah abu Gie ditebarkan. Di sinilah lembah yang katanya elok nan agung itu.
Kalau boleh hati kecilku berbisik jujur… aku lebih suka alun-alun suryakencana. Ada sedikit rasa kecewa menggumuli hatiku. Tempat inikah yang telah kuperjuangkan tuk dapat kulihat??
Tempat inikah yang begitu kucintai, bahkan sebelum aku melihatnya sendiri? Ada apakah dibalik pesona mandalawangi, hingga aku begitu ingin menjejakkan kakiku di sana dan memandanginya langsung.
Lama ku merenung… memandangi sekitar… berbicara banyak dengan hatiku dan memanjatkan banyak permohonan yang dititipkan padaku.
Tuhan memang terasa begitu dekat di sini.
Dalam sunyinya lembah, dimana hanya ada kita… kami dan hati kami masing-masing.
Atau memang suasana membuatku larut dalam kesendirian ini.
Tuhan sebenarnya tidak lebih terasa dekat di sini atau di manapun. Tuhan selalu dekat. Hanya hatiku dan hati kami yang mungkin menjauhkan diri dari Tuhan.
Ah.. aku hanyalah pencari Tuhan. yang kadang merasa Tuhan itu jauh kalau di Jakarta. Tuhan itu jauh kalau aku ada di kota, dimana godaan setan tuk berbuat dosa lebih banyak daripada di gunung. Banyak hal yang membuatku bergumul dalam hati. Ada sesuatu dalam lembah ini yang begitu merasuk ke dalam hatiku. Damai. Sunyi. Syahdu. Dan aku tak tau apa lagi. tak terdefinisikan dengan kata. Yang ku tahu memang di sini ada cinta itu. Cinta yang kucari dan kuharap dapat kutemui di mandalawangi. Cinta yang tak terdefinisikan juga terhadap siapa.. atau terhadap apa…
Syukur kepadaMu Tuhan
Sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kau angkat
Dosa kami Kau ampuni
Kau beri hidup Ilahi
Kami jadi putraMu
Kau tumbuhkan dalam hati
Pengharapan dan iman
Kau kobarkan cinta suci
Dan semangat berkurban
Kami Kau lahirkan pula
Untuk hidup bahagia
Dalam kerajaanMu
Kami hendak mengikuti
Jejak Yesus Sang Abdi
Mengamalkan cinta bakti
Di masyarakat kami
Syukur kepadaMu Tuhan
Atas baptis yang mulia
Tanda Rahmat dan iman
PS. 592
Lagu Syukur mengalun di lembah mandalawangi semakin membuat syahdu tempat ini. mandalawangi lebih tepat tuk disebut syahdu daripada eksotis. Hahaha…
Saatnya tuk minum susunya sabar di sini… asik! Waktu membuka perbekalan kita. Lumayan pemasukanku di sini. Susunya sabar. Jelly yang dimakan berdua dengan joroknya. (orang normal pasti nggilani kl liat kita makan jelly kayak gitu caranya) Pir yang dimakan rame2. (sebenernya tu pir kulitnya dah ngga berbentuk indah lagi. tapi makanan apapun d gunung terasa halal). Sup asparagus instant yang menggumpal, yang kita makan rame2 pake roti dan dicedoki pake kardus bekas susu… (ala bule lagi) (makasih buat Scott atas rotinya)
Puas makan dan minum, waktunya kita buat acara jumpa fans. Foto bersama! Ada yang niat bawa rok batik buat difoto di mandala wangi. Ada yang pake kaos yukensi, dan bulu keteknya kemana-mana dan akhirnya geli sendiri, ketawa sampe ngeces… (sampe skarang gue masi bersyukur ngga ketetesan ilernya yang rabies itu) hehehe… Ada juga yang di foto prewed dengan gaya yang bikin mules. Ada yang fotonya loncat-loncatan. Ada yang foto gaya India… ada yang nempel di setiap foto ada. Dah kaya penampakan aja.
Sa’ karepmu wae lah.. mau di foto gaya apapun di gunung, lagi-lagi.. di gunung, apapun terasa halal. Hehehe…
Saatnya buat packing kembali. Jam 11.30 WJJWMW (Waktu Jam Jungle Waktu diMandalaWangi) Saat kita tuk turun kembali ke kandang badak, tempat amuksi dan teman2 lain menunggu. Eh.. naik lagi ke puncak dulu ding, baru turun lagi. hehehe… lagi-lagi formasi teman seperjalananku kurang lebih sama. Dan lagi-lagi juga, kebiasaan paling jelek, kalo turun pasti kaki jadi sakit… doh nggle.. sampe kapan sih mesti begitu terus… ini yang paling nyusahin… di temple koyo.. dipasangin dekker dan dipijetin… lumayan ampuh sih. Menolong deh. Perjalanan turun kita lumayan santai banget. Banyak ngobrolnya dan bertukar cerita. Dan seperti biasa, dalam perjalanan turun yang paling mengakrabkan kita. Aku, ai, Mario, Geni, Fitri, Scott (ngilang2), Maria, dan kayaknya ada Sempet ada Goti deh… Saling curhat dan bertukar cerita. (ngga bertukar sih, banyakan Geni yang cerita, aku sama Mario yang jadi pendengar yang baik dan bijaksana, tidak sombong dan rajin menabung) Biasa.. mengalihkan perhatian dari kaki yang sakit dan rasa capek. Ceritanya juga mulai ngga jelas sebenarnya. Kalo di tulis pasti orang pada aneh bacanya. Hehehe…
Saat turun dan ngobrol banyak, aku semakin disadarkan dengan keadaan kita sekarang ini. Bagaimana hal yang seharusnya sudah terkonsep dalam pikiran kita masing-masing, kini mulai dilupakan. Bagaimana aku, kamu dan kita semua sebenarnya memiliki hubungan yang kuat, lebih dari sekedar teman biasa, lebih dari sekedar sahabat, tapi aku, kamu dan kita semua adalah saudara. saudara yang terlambat dipertemukan, yang untungnya masih diberi kesempatan tuk bertemu… saudara dalam satu keluarga besar JSN. Hal yang sering kita lupakan kalau kita sudah mulai asik dengan kegiatan kita masing-masing. Hal yang sering kita lupakan kalau kita mulai berbeda pendapat, mulai menggunakan hati yang sakit tuk membenci daripada mengampuni. Hal besar yang sering kita lupakan, bahwa nyatanya kita adalah satu saudara. sejelek apapun aku, ataupun kamu… seburuk apapun kamu atau kan dia, selama kita masih dibawah satu nama JSN, selayaknya kita semua adalah saudara.
Dan betapa kita telah sering asik dengan kesenangan kita sendiri tanpa ingat lagi tuk merangkul saudara-saudara yang telah lama pergi dan terlupakan.
Hal yang menyenangkan karena aku bisa turun dari puncak dan menguatkan konsep yang sudah mulai mengabur di dalam pikiranku. Makasi ya Gen, buat segala pencerahannya. Kita emang baru ketemu 2x, tapi lo dah banyak ngajarin gue sesuatu, terutama lo dah ngingetin gue bahwa kita semua masih saudara. sejelekjeleknya lo… dan semanis-manisnya gue… atau secupu-cupunya fitri… yang manis, yang kuat, yang sabar, yang menyebalkan, yang pemarah, yang manja, yang periang, semuanya satu. Yang di Jakarta yang di Solo, yang di Jogja, Kalimantan, Thailand, Nabire dan dimanapun. Semuanya satu. Dan kita harus tetap mengingat itu. Kejahilan-kejahilan… gurauan-gurauan, amarah, tawa, tangis, cinta, mungkin itu semuanya yang mewarnai hubungan diantara kita dan akan tetap berwarna terus selamanya.
Mungkin ada yang menganggap pemikiran aku terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Mungkin juga ada yang menganggap aku terlalu terbawa suasana karena di gunung, kita semua saling ketergantungan, kita merasa saling membutuhkan lalu aku menganggap kalian saudara karena aku membutuhkan kalian…. Terserah… tapi aku benar-benar merasa konsep persaudaraan kita ini sudah mulai memudar. Dan terima kasih karena aku masih diberikan kesempatan tuk menyadari hal itu, bahwa hubungan antara aku dan kalian… walaupun mungkin baru dipertemukan dalam perjalanan ini, ataupun sudah saling mengenal bertahun-tahun, seperti ada jalinan benang merah yang mengikatkan kita hingga membuat kita dapat langsung akrab dan merasa dekat. Kita memang dekat, karena hati kita semuanya berdekatan. Dan hanya kita sendiri yang dapat menjauhkannya.
Aku merasa, di tangan kiri kita seperti ada ikatan benang merah yang terjalin kuat satu sama lain. Saling berhubungan satu sama lain. Tidak kasat mata, tapi dapat kita rasakan dengan hati. Sedangkan di tangan kanan kita tergenggam sebuah gunting yang dapat memutuskannya. Hanya gunting yang ada di tangan kita yang dapat memutuskan ikatan tali di jari kita, sehingga membuat kita memisahkan diri dari jalinan benang merah tersebut. Dan itu adalah pilihan kita masing-masing. Ingin membuat gunting itu tidak akan pernah terpakai selamanya, atau ingin menggunakan gunting itu.
Kira-kira jam ½ 3 aku, Mario dan Geni (kalo ngga salah) sampai di kandang badak. Ai dan yang lainnya sudah duluan. Rasa lega lebih menjalariku. Akhirnya sampai juga. Amuksie menyambut kita. Muks.. lain kali kamu harus naik sampai puncak, ya.. kita temenin lagi deh.. hehehe…
Kita mulai istirahat, masak mi dan menghabiskan seluruh perbekalan adalah tujuan utama kita. Supaya beban yang kita bawa turun nantinya jadi ringan. Habis makan, kita semua lantas bersih-bersih dan packing lagi. siap tuk turun dan pulang.
Jam 4 kita beranjak turun dari kandang badak. Hari sudah mulai sore dan surya juga sudah mulai beranjak sembunyi. Kita mulai melangkah turun. Menapaki jalan menjauhi kandang badak, menjauhi pangrango dan gede. Lagi-lagi kakiku bermasalah. Dan kali ini malah badanku juga sudah mulai ngga bisa diajak kompromi. Aku baru sadar, di kandang badak tadi aku kurang mengisi energi. Kebanyakan nyuapin anak-anak burung.. hehehe… perut yang mules minta dilakukan pembuangan juga membuat badanku semakin lemas. Tapi ku tahan juga. Perjalanan pun terasa amat panjang dan tak berkesudahan. Kemalaman sudah pasti. Lelah pun sudah pasti. Badan rasanya melayang… (Nal.. seharusnya aku pake tuh energinya… tapi jadi malah ngga kepikiran) otak dah antara sadar dan ngga sadar. Tak lepas tanganku dan ai bergandengan sampai bawah. Sama-sama saling menguatkan. Dan kayanya banyakan ai yang menguatkan ku. Thanks ai!
Badan sama-sama lelah dan sudah tak bertenaga. Sebentar-sebentar maunya istirahat. Geni sudah mengingatkan tuk terus berjalan, jangan berhenti. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang ngga beres, tapi otak sudah ngga sanggup lagi tuk berpikir. Pelan pelan kita menapak turun melewati langkah demi langkah kita, semakin menjauhi kandang badak, gede dan pangrango. Hari semakin malam dan gelap semakin pekat. Tubuh pun tak kalah lelahnya. Makasih buat Geni yang bawain tasku sebentar dan andrew2 yang akhirnya bawain tasku sampai bawah, yang bikin langkahku jadi lumayan tapi kakinya jadi lecet…
Sampai lewat telaga, barulah kita ingat, apa yang menguatkan kita selama di perjalanan. CERITA!!! Dan disitulah cerita kita tak putus mengalir dari bibir kita masing-masing.. Aku, Ai, Maria, Mario, Ade dan Andrew yang berjalan di depan. Dan sampailah kita di basecamp. Rombongan terakhir (seperti biasa) kira2 jam ½ 9. monik, goti, geni, sudah menunggu kita.
Dan inilah akhir dari perjalanan kita. Perjalanan yang kunamakan a blessed journey. Perjalanan yang terberkati Tuhan. karena sejak awal aku merasakan Dia memberikan kemudahan bagi kita tuk dapat mendaki sampai puncak. Melewati rintangan dan membiarkan kita meninggalkan jejak-jejak kaki kita di sana. Tanpa berkatNya pastinya ini semua tidak akan terlaksana. Hujan pun enggan turun menghalangi langkah kita. Bintang pun seakan tersenyum menyambut kedatangan kita. Apalagi yang mau kita keluhkan???
Supir bus gila yang membawa kita sampe kampung rambutan kurasa.. hehehehe… yang bikin kita semua terpental-pental di dalamnya. lagi-lagi perjalanan ini toh masih diberkati, karena biarpun naik bus gila-gilaan tetap saja kita bisa sampai dengan selamat dan cepat pula.
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
akhirnya…
Special thanks to:
setelah sekian lama, bisa naik gunung lagi gue, terutama pangrango. semuanya seperti diberikan kemudahan dari Tuhan. gue pikir gue masih cuti gunung sampai taun depan, ternyata… skarang dah selesai masa cutinya. Banyak2 gue ucapkan terima kasih buat temen2 sekalian:
buat monik & ai yang mau susah payah mendaftarkan kita dan membuat mimpi ini akhirnya terwujud. terutama buat monik yg menjadikan ini nyata. bantuin melengkapi perlengkapan gue. Membuat segalanya menjadi mungkin.
buat ai dan gandengan tangannya yang kecil tapi kokoh yang dah nemenin dari naik sampe turun. ngga ada loe ngga rame. ocehan dan cerita2 lo bikin semangat. Terutama tangan kecil lo yang emang bener2 menguatkan.
buat andrew yang dah mbawain tas turun, yang dah nganterin pulang selamat sampe d rumah, yang dah ngasi dukungan moril spirituil. halagh.. lain kali kamu harus muncak ya, muks… ku temenin deh… sama tongsengmu. (kmarin ga berani makan, gara2 badan lagi ngawur). kapan2 kita harus bareng naik lagi.
buat sabar, yang kalo di rem putus.. lain kali bikin tebakan yang lebih bermutu lagi. masa dari kmaren ketebak terus. ngomong2 waktu lo beli ketoprak, bintangnya bagus ya… lo boleh bilang gue tulalit, tapi (semoga) gue dah meninggalkan kebodohan gue d mandala wangi, yang kemudian akhirnya lo pungut. skali2 bertobatlah jangan jadi NABO… dasar, BOJOK! hahaha… makasih karna lo telah membuktikan kesabaran namamu. dan maaf, lo bukan tumbal kok.
buat fitri cupskie…
lo tau isi hati gue, babe… terutama saat2 sebelum naik dan hal2 lain yang membuat konsentrasi gue terpecah. jangan berbuat mesum lagi sama ai d tengah hutan, apalagi sampe ketauan orang. Hehehe… gimana perjalanan kita berikutnya??
buat andri yang sabaraphael nemenin sampe atas dan turun lagi dan curhatan2nya yang nambah2in semangat buat terus jalan dan kelakuan2nya yang kadang2 aneh semoga kapan2 bisa foto india bareng lagi dan semoga lain waktu bisa bertualang bareng lagi. Makasih dah memberikan ku banyak pencerahan di hutan sana.
PS: lagi mikir2 manggil nama lo yang enak ap… susah nyebutnya.. akhirnya terpikir… lo gue panggil GENI aja ya.. bukan gendruk atau andri. lidah gue sering keselo nyebutnya… biar mirip sama kembaranmu.. goti dan geni.. halah… sampe di catper pun nama lo dah gue ganti dengan hormatnya…
buat mario, maria, ade, ai (lagi), andrew
atas ocehan ngga jelas tentang hal2 ngga jelas yang akhirnya justru menguatkan kita sama2 buat turun dengan selamat.
buat scott..makasi buat logistiknya, terutama roti keju itu… arrgghh.. rasanya eksotis banget ga sih?? makan roti keju, di tengah hutan pangrango, di seberang pemandangan puncak gede dan di balik semak pemandangan maria lagi ngerem putus…haha… oh ya.. tertarik tawaranmu ke ujung kulon, tapi maret ada trip lain. k makassar aja yuk, scott!!
buat goti…namamu ngga aneh kok. yang bikin kan gue. hahaha… sampe jumpa d petualangan berikutnya.
buat elia
lain kali harus lebih kuat dan berani lagi. jangan loyo dan ngoyo. kenali dirimu dan kekuatan dirimu. tapi proficiat dah sampai puncak
buat phije dan antek2nya…
phije… lo dah lebih baek dari salak kmaren. lain kali tambah smangat y. dan temen2nya phije.. jangan kapok naik gunung lagi.
buat Bang Alpin
makasih buat tempatnya tuk kita singgah sebelum dan sesudah muncak. makasih buat packingannya.
buat tim mencret yang barengan muncak..
ngga ada loe ngga rame!!
Buat Om Djaduk Feriyanto yang telah membuat lagu Srengenge Nyunar menjadi lebih memiliki jiwa. Apalagi kalau kita menyanyikannya di gunung. Terima kasih juga buat lagu syukur nya yang juga terasa semakin bermakna ketika kita menyanyikannya di lembah mandalawangi. 4 jempolku terangkat tuk Om Djaduk atas gubahannya. Hidup musik Indonesia!!!
Buat Teman2 tim Desk Foto dan Grafis SP yang semakin membuat lagu ini lebih dalam lagi artinya. Cerita dikit. Lagu ini dan lagu Tuhan Sumber Gembiraku kita nyanyiin bareng, dari desk foto dan grafis, dengan gerak dan suara kita yang alakadarnya di acara natalan kantor.
Buat Teman2 unit sirkulasi SP yang data KTPnya dipakai buat daftar Pangrango tanpa sepengetahuan mereka. Dan untunglah sampe skarang mereka jg tetep ngga tau. Hehehe…
buat semuanya… sampe jumpa di perjalanan berikutnya.
dan yang terakhir
buat Tuhan dan segala keindahan alam ciptaanMu
terima kasih buat segala keindahan yang Kau ciptakan tuk mengisi detik2 ku di Pangrango. bintang2 terindah dalam hidupku, cuaca yang 10000% cerah terang benderang. dan lain lainnya
mohon maaf buat pangrango.. ternyata gue lebih cinta sama Gede daripada sama lo… hehehe… puncak dan suryakencananya lebih eksotis, walau lebih ramai dan kotor, tapi gatau kenapa hati gue menetap di surken. di pangrango, gue lebih menikmati proses perjalanan panjang waktu naik dan turunnya. perjuangannya merayapi hutan2nya yang eksotis. hehehe…
jadi.. tiba2 merindukan naik gede, apakah ada yang mau naik gede lagi?? yuks.. gue dah siap! kapan?? Hehehe…
dan ketika semuanya sudah berlalu,
yang ada hanya kenangan yang terpatri
dan harapan akan terulang kembali…
Tomorrow’s Journey
18 Desember 2008
sebelum pendakian pangrango..
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Tak berani memimpikannya
Ku hanya melakukannya dengan hati kosong
Tanganku gemetar dan dingin
Jantungku berdebar kencang
Dan hati kecilku berbisik...
Inilah saatnya
Saat untuk berjumpa dengan yang tercinta
Setelah sekian lama ku memimpikannya
Hanya mampu memandanginya dari kejauhan
Hanya sanggup mencumbu ujung kakinya
Sekarang ku dapat kesempatan
Tuk bercinta dalam padang eloknya
Dan kuharapkan cintaku kan diam menetap dalam lembah terdalamnya
Sama ketika semua pecinta lainnya menambatkan hatinya
Di setiap desir angin dan pelukan senyapnya
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Dan tetap juga tak berani memimpikannya
Tak berani pula percaya
Bahwa inilah saatnya
Menyambut cintanya yang telah setia menungguku
Yang selalu berbisik memanggilku dalam pesona dan keagungannya
Dan membuatku tak dapat lagi memalingkan wajahku
Dengan cintanya pula kini ku akan memantapkan langkahku
Membulatkan tekadku
Pangrango dan keeksotisan lembah mandalawangi
Terima kasih sudah menungguku
Berbulan lamanya
Kau tetap memegang janjimu tuk selalu menantiku
Menerima dan menyambut hangat cintamu
Esok aku kan datang ke dalam pelukmu
Dan kuterima sejuk tubuhmu menyelusup dalam relung-relung tubuhku
Sambut aku dan ijinkan ku menapaki jalanmu
Ijinkan ku merasakan eloknya lembahmu
dan kemudian, ijinkan ku pulang kembali
agar ku dapat terus memandangi agungmu dari kejauhan
sebelum pendakian pangrango..
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Tak berani memimpikannya
Ku hanya melakukannya dengan hati kosong
Tanganku gemetar dan dingin
Jantungku berdebar kencang
Dan hati kecilku berbisik...
Inilah saatnya
Saat untuk berjumpa dengan yang tercinta
Setelah sekian lama ku memimpikannya
Hanya mampu memandanginya dari kejauhan
Hanya sanggup mencumbu ujung kakinya
Sekarang ku dapat kesempatan
Tuk bercinta dalam padang eloknya
Dan kuharapkan cintaku kan diam menetap dalam lembah terdalamnya
Sama ketika semua pecinta lainnya menambatkan hatinya
Di setiap desir angin dan pelukan senyapnya
Tak berani berharap
Tak berani berpikir
Dan tetap juga tak berani memimpikannya
Tak berani pula percaya
Bahwa inilah saatnya
Menyambut cintanya yang telah setia menungguku
Yang selalu berbisik memanggilku dalam pesona dan keagungannya
Dan membuatku tak dapat lagi memalingkan wajahku
Dengan cintanya pula kini ku akan memantapkan langkahku
Membulatkan tekadku
Pangrango dan keeksotisan lembah mandalawangi
Terima kasih sudah menungguku
Berbulan lamanya
Kau tetap memegang janjimu tuk selalu menantiku
Menerima dan menyambut hangat cintamu
Esok aku kan datang ke dalam pelukmu
Dan kuterima sejuk tubuhmu menyelusup dalam relung-relung tubuhku
Sambut aku dan ijinkan ku menapaki jalanmu
Ijinkan ku merasakan eloknya lembahmu
dan kemudian, ijinkan ku pulang kembali
agar ku dapat terus memandangi agungmu dari kejauhan
antara kau dan aku
October 7, 2008
senja itu, ketika ku termenung dalam lembah
manakala langit berwarna lembayung syahdu
kumenemukan kau hadir dan menemaniku di sisi
tak ada kata yang kau ungkapkan
hanya berjuta debar menemani kebersamaan kita
dan dalam diam kita saling mengerti
mengerti arti kehadiran
bercakap dalam kebisuan
ku tahu kau tak akan lama singgah
dan kelak kau kan mengepakkan sayapmu dan kembali terbang
dan kutahu,
saat senja itu adalah milik kita berdua
dimana kau menjadi dirimu dan aku menjadi diriku
dan hanya kita berdua yang menyimpan kenangan itu
entahkah itu saat kita pertama bertemu
ataukah akan ada lagi pertemuan lainnya
yang kutahu kau kan selalu menjadi bagian dariku
dan menjadi malaikatku yang tak terlihat
hanya kau dan aku yang tahu
dengan janji yang tak terucapkan dan hanya untuk dimengerti
kau dan aku adalah sama
kita terlahir dari jiwa yang sama
kita terwujud dari mimpi yang sama
hanya saja kita dibesarkan dalam dunia yang berbeda
dan kita terpisahkan dalam alam yang berbeda
kelak pun kupercaya Tuhan kan menyatukan jiwa kita
waktuNya
after a friend's farewel party
July 27, 2008
Segala sesuatu terkadang harus berjalan tidak sesuai dengan yg kita inginkan
Pernahkan berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan kemudian mendapatkan jawabannya???
Sehari-dua hari… atau bahkan tahunan..
Ya, aku pernah mengalaminya.
Bertahun2 lampau, aku memohon sesuatu kepada Tuhan..
Hampir di setiap doaku, kupanjatkan permohonanku. Sampai seperti semacam hapalan luar kepala, seperti doa yg telah diformat dalam setiap doaku…
Hingga akhirnya ku menyerah dan tak pernah lagi kubawa dalam doaku
Tapi ternyata, bertahun2 kemudian Tuhan baru menjawab permohonanku itu, dan malahan aku ngga menyadarinya…
Baru telah terlewat, aku baru sadar, Tuhan telah menjawab doaku bertahun-tahun lampau
Rasanya…
Arrgghhh…
Ngga ngerti deh gimana mengungkapkannya…
Ya.. segala sesuatu berjalan bukan dengan waktu yang kita inginkan, tetapi dengan waktu yang Tuhan inginkan terjadi
Dan benar, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan
Kalau bagiNya waktunya belum tepat, maka itu tidak akan terjadi
Seperti akhir minggu ini
Harusnya aku dan beberapa kawan saat ini mungkin baru tiba dari melakukan sesuatu
Tetapi karena suatu dan lain hal, semuanya tidak terjadi.. BELUM.. ya.. belum waktunya Tuhan untuk terjadi kepada kita…
Sumpeh, rasanya kecewa setengah mati. Tapi dalam kekecewaan itu, aku sadar betul, aku berjalan di waktunya Tuhan, aku ngga mungkin mengerti rencanaNya, dan kali ini rencanaku tak sejalan dengan rencanaNya, dan aku pun (kami) harus menerima
Karena itu semua pasti jalan yang paling baik yang terjadi pada kita…
Hari ini, ku habiskan waktu bersama teman2 lamaku…
Waktu telah cepat berubah, tak kusangka, semuanya telah menjadi masa lampau…
Apa yang dulu kita resapi dan kita rasakan bersama kini telah menjadi sejarah kehidupan kita, yang telah mengukir lembaran kehidupan kita masing-masing
Dan kini, kita telah memilih jalan kita masing-masing
Dulu…
Rasanya semuanya masih abu-abu, senada dengan seragam kita yang terkadang juga abu-abu. Tapi kini semuanya terlihat jelas di depan mata.
Kita telah menempuh perjalanan hidup kita masing-masing, sesuai dengan pilihan kita
Tak ada yg serupa
Semuanya memiliki ciri khasnya tersendiri…
Hari ini, mungkin saat terakhirku bertemu dengan seorang teman kecilku untuk beberapa tahun ke depan
Orang yang dulu mungkin selalu jadi objek penderita diantara kami, tapi kuakui menjadi satu diantara yang menjadi hebat…
Dia telah memilih jalannya yang terbaik.. aku juga begitu, yang lain juga begitu…
Tak terasa, kini kita masing-masing telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan mampu hidup diatas kaki kita sendiri
Dan ternyata didikan dan kebersamaan kita tak
kan
lekang di makan waktu
Mungkin kita tak seakrab dahulu, tetapi ada sesuatu yang mengikat jemari kita hingga saling berpaut…
Selamat jalan teman, selamat meniti karir dan kehidupanmu di negeri orang
Ingatlah tuk selalu berada di jalanNya
Dan saat ini aku pun sedang mencari jalanku sendiri
Jalan yang menurutku masih cukup abu-abu
Belum terlalu terlihat jelas
Yang jelas, aku tahu dengan siapa aku akan menapaki jalan ini
Dengan Dia yang tak pernah meninggalkanku..
Hari esok dan kelak,
kan
ku kejar impianku sendiri
Impian sederhana yang entah kapan bisa terwujud
Sekarang, biarkan ku menemukan cintaNya diantara kehidupanku
Dalam sahabat, dalam saudara, dalam teman, dalam lingkungan, dan dalam alam…
Dahulu, kini dan nanti,
Ijinkan ku selalu melangkah dalam jalanMu ya Bapa
Dan jangan biarkan aku berpaling
Dan biarkan kuberlari dalam impiku yang Kau tahu apa
Pencapaian yang sesuai dengan kehendakMu dan sesuai dengan waktuMu
Berkati aku yang kecil ini ya Bapa
Dan berkati pula orang2 yang kusayangi
July 27, 2008
Segala sesuatu terkadang harus berjalan tidak sesuai dengan yg kita inginkan
Pernahkan berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan kemudian mendapatkan jawabannya???
Sehari-dua hari… atau bahkan tahunan..
Ya, aku pernah mengalaminya.
Bertahun2 lampau, aku memohon sesuatu kepada Tuhan..
Hampir di setiap doaku, kupanjatkan permohonanku. Sampai seperti semacam hapalan luar kepala, seperti doa yg telah diformat dalam setiap doaku…
Hingga akhirnya ku menyerah dan tak pernah lagi kubawa dalam doaku
Tapi ternyata, bertahun2 kemudian Tuhan baru menjawab permohonanku itu, dan malahan aku ngga menyadarinya…
Baru telah terlewat, aku baru sadar, Tuhan telah menjawab doaku bertahun-tahun lampau
Rasanya…
Arrgghhh…
Ngga ngerti deh gimana mengungkapkannya…
Ya.. segala sesuatu berjalan bukan dengan waktu yang kita inginkan, tetapi dengan waktu yang Tuhan inginkan terjadi
Dan benar, manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan
Kalau bagiNya waktunya belum tepat, maka itu tidak akan terjadi
Seperti akhir minggu ini
Harusnya aku dan beberapa kawan saat ini mungkin baru tiba dari melakukan sesuatu
Tetapi karena suatu dan lain hal, semuanya tidak terjadi.. BELUM.. ya.. belum waktunya Tuhan untuk terjadi kepada kita…
Sumpeh, rasanya kecewa setengah mati. Tapi dalam kekecewaan itu, aku sadar betul, aku berjalan di waktunya Tuhan, aku ngga mungkin mengerti rencanaNya, dan kali ini rencanaku tak sejalan dengan rencanaNya, dan aku pun (kami) harus menerima
Karena itu semua pasti jalan yang paling baik yang terjadi pada kita…
Hari ini, ku habiskan waktu bersama teman2 lamaku…
Waktu telah cepat berubah, tak kusangka, semuanya telah menjadi masa lampau…
Apa yang dulu kita resapi dan kita rasakan bersama kini telah menjadi sejarah kehidupan kita, yang telah mengukir lembaran kehidupan kita masing-masing
Dan kini, kita telah memilih jalan kita masing-masing
Dulu…
Rasanya semuanya masih abu-abu, senada dengan seragam kita yang terkadang juga abu-abu. Tapi kini semuanya terlihat jelas di depan mata.
Kita telah menempuh perjalanan hidup kita masing-masing, sesuai dengan pilihan kita
Tak ada yg serupa
Semuanya memiliki ciri khasnya tersendiri…
Hari ini, mungkin saat terakhirku bertemu dengan seorang teman kecilku untuk beberapa tahun ke depan
Orang yang dulu mungkin selalu jadi objek penderita diantara kami, tapi kuakui menjadi satu diantara yang menjadi hebat…
Dia telah memilih jalannya yang terbaik.. aku juga begitu, yang lain juga begitu…
Tak terasa, kini kita masing-masing telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan mampu hidup diatas kaki kita sendiri
Dan ternyata didikan dan kebersamaan kita tak
kan
lekang di makan waktu
Mungkin kita tak seakrab dahulu, tetapi ada sesuatu yang mengikat jemari kita hingga saling berpaut…
Selamat jalan teman, selamat meniti karir dan kehidupanmu di negeri orang
Ingatlah tuk selalu berada di jalanNya
Dan saat ini aku pun sedang mencari jalanku sendiri
Jalan yang menurutku masih cukup abu-abu
Belum terlalu terlihat jelas
Yang jelas, aku tahu dengan siapa aku akan menapaki jalan ini
Dengan Dia yang tak pernah meninggalkanku..
Hari esok dan kelak,
kan
ku kejar impianku sendiri
Impian sederhana yang entah kapan bisa terwujud
Sekarang, biarkan ku menemukan cintaNya diantara kehidupanku
Dalam sahabat, dalam saudara, dalam teman, dalam lingkungan, dan dalam alam…
Dahulu, kini dan nanti,
Ijinkan ku selalu melangkah dalam jalanMu ya Bapa
Dan jangan biarkan aku berpaling
Dan biarkan kuberlari dalam impiku yang Kau tahu apa
Pencapaian yang sesuai dengan kehendakMu dan sesuai dengan waktuMu
Berkati aku yang kecil ini ya Bapa
Dan berkati pula orang2 yang kusayangi
Kamis, 06 Agustus 2009
Invisible Angel…
Untaian kata-kata indah menemani malam
Terbisikkan oleh angin yang menyelinap
Membuai hingga lelap menjumpai
Dan damai pun menyelimuti malam
Tak pernah sekalipun dia beranjak
Walau tak nyata namun ia ada
Bisikan suaranya memenuhi telinga
Sayapnya terasa melindungi jiwa
Menjaga dan takkan membiarkan terluka
Bahunya menopang tatkala duka menjelma
Memberikan penghiburan yang tak nampak
Dia yang selalu hadir dan tak pernah pergi
Selalu berada di sisi
Membisikkan kekuatan dan penghiburan
Mendendangkan nyanyian keceriaan
Menatang dengan sayapnya agar ku tak terantuk batu
Menggenggam tangan agar terus maju
Walau tak terlihat mata namun ia selalu hadir
Malaikat pelindungku
Yang selalu setia di sini
Yang hanya hadir dalam mimpiku
Dan tetaplah begitu selalu…
Dan aku menamainya “my invisible angle”
duajuliduaribudelapan
Terbisikkan oleh angin yang menyelinap
Membuai hingga lelap menjumpai
Dan damai pun menyelimuti malam
Tak pernah sekalipun dia beranjak
Walau tak nyata namun ia ada
Bisikan suaranya memenuhi telinga
Sayapnya terasa melindungi jiwa
Menjaga dan takkan membiarkan terluka
Bahunya menopang tatkala duka menjelma
Memberikan penghiburan yang tak nampak
Dia yang selalu hadir dan tak pernah pergi
Selalu berada di sisi
Membisikkan kekuatan dan penghiburan
Mendendangkan nyanyian keceriaan
Menatang dengan sayapnya agar ku tak terantuk batu
Menggenggam tangan agar terus maju
Walau tak terlihat mata namun ia selalu hadir
Malaikat pelindungku
Yang selalu setia di sini
Yang hanya hadir dalam mimpiku
Dan tetaplah begitu selalu…
Dan aku menamainya “my invisible angle”
duajuliduaribudelapan
Senin, 03 Agustus 2009
Demi Semakin Besarnya Kemuliaan Tuhan
Aku bertanya pada awan dan hujan
yang membasahi tanah kersang
Pada angin dan dedaunan
yang terbang oleh tiupannya
Aku bertanya pada api
yang meredup meninggalkan bara
Juga kepada para ombak
yang berlomba-lomba menuju pantai
Akupun bertanya pada keheningan
Yang seolah-olah tidak berbuat apa-apa
Atau pada keramaian
Yang seolah pun hanya membisingkan telinga
Kalau bukan pada diriNya,
Lantas kepada siapa hatiku harus berlabuh?
Kalau bukan untukNya
Lantas untuk siapa hidupku kupersembahkan?
Kalau bukan demi kemuliaanNya
Lantas untuk siapakah aku melayani dan berbagi?
Hanya kepada merekalah aku meratap
Meyakinkan diri bahwa waktulah yang akan membawa
Jawaban dari segala tanya
Bahwa nyatanya aku hidup bukan untuk diriku sendiri
Tapi untuk alat kemuliaanNya
Bahwa nyatanya hatiku bukan milik seseorang
Tapi hanyalah milikNya saja
Bahwa nyatanya segala yang kucari di dunia ini
Dengan segala ketidaksempurnaan yang kumiliki
Hanyalah untukNya
Dan Ia-lah yang akan menyempurnakan diriku,
hidupku dan hatiku
yang membasahi tanah kersang
Pada angin dan dedaunan
yang terbang oleh tiupannya
Aku bertanya pada api
yang meredup meninggalkan bara
Juga kepada para ombak
yang berlomba-lomba menuju pantai
Akupun bertanya pada keheningan
Yang seolah-olah tidak berbuat apa-apa
Atau pada keramaian
Yang seolah pun hanya membisingkan telinga
Kalau bukan pada diriNya,
Lantas kepada siapa hatiku harus berlabuh?
Kalau bukan untukNya
Lantas untuk siapa hidupku kupersembahkan?
Kalau bukan demi kemuliaanNya
Lantas untuk siapakah aku melayani dan berbagi?
Hanya kepada merekalah aku meratap
Meyakinkan diri bahwa waktulah yang akan membawa
Jawaban dari segala tanya
Bahwa nyatanya aku hidup bukan untuk diriku sendiri
Tapi untuk alat kemuliaanNya
Bahwa nyatanya hatiku bukan milik seseorang
Tapi hanyalah milikNya saja
Bahwa nyatanya segala yang kucari di dunia ini
Dengan segala ketidaksempurnaan yang kumiliki
Hanyalah untukNya
Dan Ia-lah yang akan menyempurnakan diriku,
hidupku dan hatiku
Langganan:
Postingan (Atom)