Hari minggu pagi yang cerah. Matahari masih pun enggan memamerkan kegagahannya dengan panasnya yang menyengat tapi si kecil Samuel sudah sibuk mondar mandir sejak matahari masih belum terbit. Dia mengisi tas ranselnya yang sederhana dengan beberapa benda kesukaannya. Mainan mobil yang terbuat dari kayu yang dipahat, yang dahulu dibuatkan ayahnya, hadiah saat ia berulang tahun yang ke 6, yang selalu setia dibawa kemanapun ia hendak pergi. Satu setel pakaian ganti dan tempat air minum untuk berjaga-jaga kalau-kalau ia merasa haus. Uang sakunya yang tidak seberapa membuatnya harus berhemat dan tidak sembarangan menggunakannya.
Sang bunda mengintip dari dapur, tempatnya sibuk memasak di bantu putri sulungnya, Hana.
"Mau kemana, Nak? Sepagian begini sudah mulai sibuk." Tanya bunda pada Samuel.
"Aku mau bertemu Sang Guru, Bunda. Katanya Ia sedang ke kota kita. Banyak orang ramai ingin bertemu denganNya." Seru Samuel dengan hati riang.
"Benarkah dia akan datang ke kota kita??" Pandangan mata sang bunda nampak berbinar mendengar perkataan putra kecilnya. Samuel mengangguk dengan antusias. Bundanya kemudian mendadak sibuk membungkus beberapa makanan dan kemudian memberikannya kepada Samuel, "Bawalah ini, Nak. Mungkin kau akan pulang malam dan tak ada yang jual makanan." Sang Bunda memberikan bungkusan yang langsung diterima dengan gembira oleh Samuel.
"Terima kasih, Bunda!!" Sambil bersenandung riang ia memasukkan bungkusan bekal dari bundanya ke dalam tas ranselnya. Pria kecil itu memang selalu riang dan gembira. Hidupnya selalu penuh dengan semangat. Kehadirannya dimanapun, selalu membawa sukacita. "Aku pergi dulu." Ia mengecup pipi sang bunda sekilas, lalu berlari keluar rumah. Beberapa temannya sudah menunggunya untuk pergi bersama.
"Hati-hati!" Seru sang bunda sebelum Samuel menghilang dari pandangannya.
Samuel kecil berlari bersama temannya menuju pusat kota. Tempat Sang Guru akan duduk dan mengajar, atau begitulah yang ia dengar dari orang-orang di desanya. Kota tempatnya tinggal adalah kota kecil dengan penduduk yang tak seberapa jumlahnya. Mata pencaharian orang-orang pada umumnya adalah sebagai peternak atau petani di ladang. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demikian pula dengan keluarga Samuel. Ia dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang sederhana. Tapi ia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih dan sukacita, hingga ia pun tumbuh menjadi pria kecil yang selalu gembira dan penuh syukur.
Penduduk desanya sebagian besar sudah berbondong-bondong berkumpul di pusat kota. Tak ketinggalan Samuel dan teman-temannya. Pusat kota tampak ramai. Bahkan banyak penduduk dari kota lain pun yang turut datang untuk bertemu dengan Sang Guru seperti yang telah diberitakan dari mulut ke mulut.
"Apakah Ia sudah datang?" Bisik Kleo pada Samuel. Tubuh Samuel yang tak terlalu tinggi sibuk melompat-lompat untuk melihat ke sekeliling. Pandangan matanya tak berhenti mencari Sang Guru.
"Itu Dia!" Seru Samuel saat melihat kerumunan orang yang nampaknya berpusat pada satu orang saja. Dari jauh memang terdengar suaraNya mengajar pada orang banyak yang berkumpul di situ. Samuel kecil, Kleo dan teman-teman lainnya menyelinap diantara kerumunan orang banyak agar mendapat tempat yang lebih dekat lagi dengan Sang Guru. Agar mereka dapat mendengar Ia berbicara lebih jelas lagi.
"Nampaknya sudah sangat ramai orang berkumpul. Hendaklah kita menyepi sejenak ke puncak gunung." Ujar Sang Guru pada murid-muridNya yang berada di sekitarnya. Sang Guru pun bangkit dari sebongkah batu besar yang sejak tadi menjadi tempatNya duduk, kemudian Ia berjalan menuju ke pinggiran kota. Menyepi ke puncak gunung terdekat. Tapi nampaknya orang banyak itu tak berhenti sampai di situ mengikutiNya. Semua berduyun-duyun mengikuti Sang Guru mendaki gunung. Tak terkecuali dengan Samuel dan teman-temannya. Mereka pun mengikuti kerumunan orang banyak itu mendaki gunung bersama Sang Guru.
Di puncak gunung, Sang Guru kembali mengajar dan banyak orang yang sakit yang datang kepadaNya mohon penyembuhan. Ia banyak melakukan mukjizat dan pengajaran-pengajaran yang membuat orang semakin terkagum-kagum dengannya. Hari sudah menjelang sore, dan orang banyak itu tak satupun belum ada yang beranjak pulang. Bahkan nampaknya jumlah mereka semakin banyak.
"Guru, hari sudah mulai malam. Lebih baik kita suruh mereka semua pulang atau mencari penginapan." Ujar salah seorang muridNya yang sejak tadi sudah mulai merasa letih.
"Berikan mereka makanan." Perintah Sang Guru.
"Tapi bagaimana mungkin Guru! Jumlah mereka sangatlah banyak. Kalau kita belikan roti, palingan hanya dapat sepotong kecil saja, dan itu belum tentu cukup memberi makan mereka semua." Ujar seorang muridnya yang lain.
Samuel dan teman-temannya yang duduk tak jauh dari situ mendengar percakapan Sang Guru dengan murid-muridNya itu. Ia kemudian teringat akan bekal yang diberikan bundanya kepadanya. Dibukanya tas ransel yang sejak tadi tergantung di punggungnya, dikeluarkannya bungkusan bekal tadi.
"Paman, ini aku ada bekal sedikit, mungkin bisa dibagikan kepada yang lain." Ujarnya malu-malu pada salah seorang muridNya yang berdiri paling dekat dengannya.
"Terima kasih, Nak." Ujar Andreas lalu berjalan menghampiri Sang Guru, "Guru, ini ada bekal dari anak itu, untuk dibagikan." Andreas membuka bungkusan itu dan mengernyit ragu, "Tapi hanya ada lima roti dan dua buah ikan saja. Mana mungkin cukup untuk kita semua."
Sang Guru tersenyum pada Andreas, "Tidak apa. Ini cukup. Suruhlah orang banyak itu untuk duduk." Ujarnya. Ia menatap si kecil Samuel yang duduk diantara orang banyak itu sambil tersenyum lembut. Hati Samuel bergetar melihat tatapan lembut Sang Guru yang ditujukan kepadanya. Ada perasaan bahagia yang tak dapat diungkapkan dengan kata-katanya.
Sang Guru meletakkan bungkusan bekal milik Samuel ke sebuah dahan pohon tumbang yang tak jauh dari tempatNya berdiri. Kemudian Ia menengadah sambil merentangkan kedua tanganNya dan berdoa serta memberkati makanan yang tersaji di hadapanNya. Setelah berdoa Ia kemudian membagi-bagikan roti beserta ikan yang sudah diberkati itu kepada murid-muridNya untuk dibagikan kepada orang banyak.
Tanpa mereka sadari, Guru telah membuat mukjizat lagi. Sebanyak lebih dari 5000 orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak telah makan sampai kenyang, hanya dari bekal yang dibawa oleh Samuel, berupa lima buah roti dan dua potong ikan. Samuel memakan jatahnya dengan takjub dan terkagum-kagum. Setengah tak percaya, hanya dari bekal yang dia bawa, yang tidak seberapa itu mampu membuat semua orang banyak itu kenyang.
"Kumpulkanlah sisanya dan jangan biarkan ada yang terbuang." Ujar Sang Guru pada murid-muridNya. Orang banyak itu pun kemudian mengumpulkan sisanya dan semuanya ada 12 bakul penuh.
Inilah buah dari pemberian yang tanpa syarat. Pemberian total yang tulus dan tanpa syarat, dari apa yang si kecil Samuel miliki, untuk berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Tak perlu menjadi sempurna untuk dapat membantu sesama. Tak perlu menjadi berlebih untuk dapat membagi. Memberi dengan kekurangan yang ada, kelak Tuhan sendirilah yang akan mencukupkan.
*terinspirasi dari kisah Yesus memberi makan 5000 orang yang kuceritakan dengan gayaku sendiri :)
Selasa, 31 Juli 2012
Selasa, 24 Juli 2012
Bunyi Misterius di Bitchy
Beberapa bulan lalu saya mengalami kejadian misterius. Saat sedang berjalan-jalan dengan Bitchy pada saat maghrib, dalam perjalanan saya pergi ke Gereja. Saya ingat kala itu saya hendak tugas solis Novena Natal. Saat itu saya mendengar ada suara asing dari bagian kiri tubuh Bitchy...
tok.. tok. tok...
bunyinya macam ada orang yang mengetuk-ngetuk sesuatu.. Tadinya saya pikir itu bunyi dari balik tembok yang saya lewati. Tapi kemudian bunyi itu mengikuti terus. Tidak beraturan bunyinya. Kemudian saya pikir ada bagian dari tubuh Bitchy yang kendor dan terantuk-antuk karena goncangan. Saya perhatikan pun tak ada bagian yang kendor...
Bunyi itu kemudian timbul kembali dalam perjalanan saya ke rumah. Disertai bagian belakang Bitchy yang tiba2 jadi berat. Pikir saya waktu itu adalah ban Bitchy kempes. Tapi berhubung sudah malam dan jalanan juga sepi, saya terus paksakan berjalan sembari mencari tukang tambal ban di pinggir jalan. Setelah masuk daerah Bintaro Jaya, tiba-tiba Bitchy menjadi ringan kembali dan dapat berjalan seperti sedia kala. Saat saya cek juga bannya tak kempes...
Semenjak kejadian itu, saya jadi agak ngeri-ngeri porno eh parno kalau jalan magrib-magrib sendirian. Kali aja ada yang "nebeng" atau bagaimana. Bulan berganti bulan, saya dan Bitchy tetap setia berjalan-jalan bersama. Hubungan kami makin intens dan makin mesra. Kalau dulu saya jarang bercengkerama dengan Bitchy, sekarang frekuensi berhubungan kami semakin sering. Hampir tiap hari saya mengajak Bitchy ke stasiun, dan memintanya menunggu hingga waktu pulang kerja tiba.
Suatu hari dalam perjalanan ke stasiun di pagi hari yang cerah. Ada suara mengetuk-ngetuk kembali dari tubuh Bitchy bagian kiri. Saat itu saya sadar kalau jaket yang saya kenakan terbuka lebar. Retsleting jaket yang terbang-terbang terantuk-antuk bodi Bitchy hingga kemudian saya selipkan ke kaki saya supaya tak terbang-terbang tak karuan lagi.
Pagi ini.. saat saya berjalan-jalan dengan Bitchy ke stasiun.. suara misterius yang mengetuk-ngetuk itu muncul kembali. Kerennya saya.. saya langsung teringat suara misterius ketika magrib-magrib saya pergi jalan-jalan dengan Bitchy.. bukannya suara retsleting jaket yang terantuk-antuk bodi Bitchy. Langsung parno bin porno mendera hati saya. Sempat saya berhenti untuk mengecek apa ada bodi Bitchy yang kendor atau lepas. Tapi nihil.
Saya lanjutkan perjalanan dengan hati gundah gulana. Sampai akhirnya suara-suara mengetuk-ngetuk itu timbul lagi. Bagaikan ada "AHA" yang muncul di dalam kepala saya. Seperti mendadak ada bohlam lampu yang menyala di atas kepala saya. Saya baru ingat. Suara itu bukanlah suara gaib yang datang dari negeri antah berantah. Bukan pula suara bodi Bitchy yang kendor atau lepas. Tapi suara itu tak lain dan tak bukan adalah suara retsleting jaket saya yang terbang-terbang tertiup angin dan terantuk-antuk di badan Bitchy. Suara yang sama yang saya dengar pada waktu itu saya perg dengan Bitchy magrib-magrib.
Saya langsung tersadarkan diri dan berkata pada diri sendiri: "Culun kok permanen"
Makanya kalau jalan-jalan sama Bitchy sambil berdiri biar otaknya nggak kedudukan.. hahaha.. bukan begitu bukan???
tok.. tok. tok...
bunyinya macam ada orang yang mengetuk-ngetuk sesuatu.. Tadinya saya pikir itu bunyi dari balik tembok yang saya lewati. Tapi kemudian bunyi itu mengikuti terus. Tidak beraturan bunyinya. Kemudian saya pikir ada bagian dari tubuh Bitchy yang kendor dan terantuk-antuk karena goncangan. Saya perhatikan pun tak ada bagian yang kendor...
Bunyi itu kemudian timbul kembali dalam perjalanan saya ke rumah. Disertai bagian belakang Bitchy yang tiba2 jadi berat. Pikir saya waktu itu adalah ban Bitchy kempes. Tapi berhubung sudah malam dan jalanan juga sepi, saya terus paksakan berjalan sembari mencari tukang tambal ban di pinggir jalan. Setelah masuk daerah Bintaro Jaya, tiba-tiba Bitchy menjadi ringan kembali dan dapat berjalan seperti sedia kala. Saat saya cek juga bannya tak kempes...
Semenjak kejadian itu, saya jadi agak ngeri-ngeri porno eh parno kalau jalan magrib-magrib sendirian. Kali aja ada yang "nebeng" atau bagaimana. Bulan berganti bulan, saya dan Bitchy tetap setia berjalan-jalan bersama. Hubungan kami makin intens dan makin mesra. Kalau dulu saya jarang bercengkerama dengan Bitchy, sekarang frekuensi berhubungan kami semakin sering. Hampir tiap hari saya mengajak Bitchy ke stasiun, dan memintanya menunggu hingga waktu pulang kerja tiba.
Suatu hari dalam perjalanan ke stasiun di pagi hari yang cerah. Ada suara mengetuk-ngetuk kembali dari tubuh Bitchy bagian kiri. Saat itu saya sadar kalau jaket yang saya kenakan terbuka lebar. Retsleting jaket yang terbang-terbang terantuk-antuk bodi Bitchy hingga kemudian saya selipkan ke kaki saya supaya tak terbang-terbang tak karuan lagi.
Pagi ini.. saat saya berjalan-jalan dengan Bitchy ke stasiun.. suara misterius yang mengetuk-ngetuk itu muncul kembali. Kerennya saya.. saya langsung teringat suara misterius ketika magrib-magrib saya pergi jalan-jalan dengan Bitchy.. bukannya suara retsleting jaket yang terantuk-antuk bodi Bitchy. Langsung parno bin porno mendera hati saya. Sempat saya berhenti untuk mengecek apa ada bodi Bitchy yang kendor atau lepas. Tapi nihil.
Saya lanjutkan perjalanan dengan hati gundah gulana. Sampai akhirnya suara-suara mengetuk-ngetuk itu timbul lagi. Bagaikan ada "AHA" yang muncul di dalam kepala saya. Seperti mendadak ada bohlam lampu yang menyala di atas kepala saya. Saya baru ingat. Suara itu bukanlah suara gaib yang datang dari negeri antah berantah. Bukan pula suara bodi Bitchy yang kendor atau lepas. Tapi suara itu tak lain dan tak bukan adalah suara retsleting jaket saya yang terbang-terbang tertiup angin dan terantuk-antuk di badan Bitchy. Suara yang sama yang saya dengar pada waktu itu saya perg dengan Bitchy magrib-magrib.
Saya langsung tersadarkan diri dan berkata pada diri sendiri: "Culun kok permanen"
Makanya kalau jalan-jalan sama Bitchy sambil berdiri biar otaknya nggak kedudukan.. hahaha.. bukan begitu bukan???
Jumat, 20 Juli 2012
alone and lonely
“Have you ever been in a room surrounded by people, but still feel alone?” -A Cinderella Story (2004)
Pernahkah anda berada di tengah keramaian tetapi masih merasa kesepian??
I do. Belakangan ini aku merasakan itu. Berada diantara teman-teman dan orang yang aku kasihi, tapi entah mengapa rasanya ada kekosongan dari dalam diriku.
Rasanya tetap sepi.
Bukan hanya separuh bagian diriku yang rasanya hilang, tapi nampaknya memang jiwaku hampir kosong
Entah menguap kemana jiwaku itu
Rasanya seperti berada dalam ruangan gelap yang tertutup rapat
Tidak pengap. Aku masih dapat bernapas dengan baik. Tapi menyesakkan dengan caranya sendiri
Pernahkah anda merasa tak tahu harus berbuat apa sementara seharusnya banyak hal yang harus anda kerjakan??
I do. Dan aku hanya menatap nanar tumpukan kewajiban itu dengan pikiran kosong. Tak tahu harus memulai darimana. Kosong. Hampa.
Lagi-lagi karena ada rasa sepi merayap menjalar tubuhku
Rasanya seperti tercekik tangan yang tak nampak
Rasanya seperti menggenggam sesuatu tetapi saat dibuka kosong
Rasanya ..
Kosong
Hampa
Sepi
Sendiri
Ingin menghilang tapi nampaknya hening terlalu jahat dan mendorongku kembali pada keramaian
Ingin mengubur diri dalam-dalam tapi nampaknya bumi terlalu kejam dan memuntahkan ku kembali pada hiruk pikuk dunia
Please..
Bawa kembali jiwaku yang hilang
Rabu, 18 Juli 2012
Bangku Kayu di Persimpangan Jalan
![]() |
| gambar yang kutemukan ini tak terlalu mirip.. tapi cukup menggambarkan apa yg ingin kuceritakan.. |
Sore itu ketika matahari perlahan mulai merayap turun tuk beristirahat, aku berjalan melewati jalan yang biasa ku lewati. Kali ini aku berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Menikmati lembayung senja yang mulai menghapus jejaknya siang yang menyengat. Di persimpangan jalan ku mendapati bangku kayu yang biasanya selalu terisi kini nampak kosong. Entah mengapa hatiku berdesir tergoda untuk mencoba duduk di situ walau untuk sejenak. Bangku di persimpangan ini hanyalah bangku kayu biasa dengan beberapa sisi sudah terkelupas warna catnya. Setiap hari aku melewati jalan ini, bangku ini selalu terisi orang yang sekedar duduk bersenda gurau atau untuk beristirahat sejenak. Nampaknya kali ini adalah kesempatanku untuk mencicipi kenikmatan bangku kayu di persimpangan jalan ini.
Perlahan kuletakkan tubuhk u dalam pangkuan bangku kayu ini. Ya. Rasanya sungguh nyaman. Seperti rasa pulang kembali ke rumah. Aku duduk di sisi sebelah kiri, menyandarkan lenganku pada sandaran lengan kayunya yang sederhana. Membiarkan sisi sebelah kananku kosong. Aku menyecap rasa dari bangku ini yang bersatu dengan tubuhku. Gesekan kayunya pada pakaian di sepanjang punggung, bokong hingga ke pahaku. Sentuhan lembut kayunya yang membelai tanganku. Aku menikmati desiran angin yang berhembus pelan membelai lembut rambutku. Aku memejamkan mata menikmati damai yang terasa kala itu.
Dia datang, entah dari mana, tersenyum ke arahku dan dengan pandangan matanya seolah meminta ijinku untuk duduk di sisi sebelah kanan bangku yang kubiarkan kosong. Aku tersenyum mempersilahkannya. Dia duduk dalam diam sama seperti ketika pertama kali aku meletakkan tubuhku diatas bangku ini. Menikmati sensasi pertama kali tubuh kami menyatu dalam bangku ini. Aku tahu itu karna itu yang aku lihat dari ekspresi wajahnya yang berubah menjadi damai saat menyandarkan tubuhnya pada sandaran kayu.
Dia menoleh ke arahku, sembari mengulurkan lengannya sambil berkata, “Aga”. Dia tersenyum sambil menyebutkan namanya. Aku menyambut uluran tangannya dan menjabatnya erat. “Freya” sahutku sambil membalas senyumannya. Dari diam kami pun bercakap. Dari basa-basi hingga percakapan mendalam. Seputar hidup. Dari sore itu kemudian berlanjut ke sore-sore berikutnya.
Dan cinta pun terucap dari bibirnya tepat satu minggu kami berkenalan. Aku tersenyum menatap ke dalam matanya. Melihat ketulusan dari matanya. Tak percaya. Cinta tak peduli waktu, kapanpun dia akan terjatuh dan berlabuh. Begitu katanya. Dan ia pun tahu, perasaannya tak akan pernah dapat aku balas. Ya. Aku wanita yang akan segera menikah dengan pria yang aku cintai. Dan tak ada perasaan apapun yang tumbuh antara aku dan sang pria di persimpangan jalan – begitu aku menyebut Aga – selain perasaan nyaman layaknya bertemu sahabat lama.
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam setiap kesusahan, Ga. Hanya itu yang dapat aku berikan. Aku sahabatmu. Aku saudarimu. Tapi aku tak akan pernah dapat memberikan hatiku kepadamu. Karena hatiku sudah kuberikan pada orang lain.”
Dia tersenyum dengan senyuman yang biasa ia berikan kepadaku. Tapi kali ini sedikit lebih mengandung kepahitan. Aku tahu itu. Karena aku dapat merasakannya.
“Kalau begitu aku harus pergi. Karena aku tak bisa hanya menjadi sahabatmu. Anggap saja lah aku sebagai angin lalu, yang berhembus pada persimpangan jalan ini, dan tak akan pernah kembali, Frey. Aku doakan semoga engkau bahagia.”
“Cinta itu luas,Ga, bukan hanya pada pasanganmu saja, bahkan kamu bisa mendapatkannya dari orang yang baru saja kamu kenal, jangan mempersempit arti cinta...” sahutku.
“Tapi aku tak sekuat yang engkau kira, Frey. Menaklukan hati dan perasaan ini tak semudah menaklukan gunung yang kita daki. Maaf tapi aku harus menghilang dari hidupmu.” Aga bangkit dari bangku kayu itu. Di sisi sebelah kanan, bagian yang selalu didudukinya. Ia berbalik menatapku. Masih dengan tatapan lembut yang sama sewaktu pertama kali kami bertemu. Ia berdiri di hadapanku. Setengah menunduk ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. “Aku doakan kau bahagia, Frey. Dan aku doakan dia yang beruntung itu dapat menjagamu selamanya.”
Ketika ia hendak menarik tangannya, aku menahannya. Ada rasa pedih yang menjalar dari dalam hatiku. Rasanya seperti di sayat. Aku menahan tangannya yang hendak ditariknya.
“Sedih Ga membiarkan kamu pergi. Menyenangkan sekali punya teman sepertimu. Tapi kalau ini yang kau inginkan dan ini keputusanmu, aku hargai itu. Aku hanya berharap, suatu saat kita dapat bertemu lagi. Jika suatu saat kau sudah menemukan orang yang kau cintai lebih dari apapun, hubungi aku. Kau tau bagaimana menghubungiku. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, Ga.”
Dia tersenyum. Dan kali ini benar-benar menarik tangannya dan pergi dan tak berbalik ke belakang lagi. Aku hanya menatap punggungnya yang berjalan menjauh hingga menghilang dari pandanganku. Ada yang hilang dari perasaanku. Ada yang hilang dari hidupku. Salah satu teman terbaikku pergi. Rasanya ada satu ruang kosong di hati ini. Aku punya banyak teman yang pergi menjauh dari hidupku. Tetapi itu hanya fisik mereka saja yang pergi menjauh dariku. Hati kami masi saling bertautan. Komunikasi kami masih berlanjut walaupun hanya sebatas dunia maya. Tetapi baru kali ini rasanya aku ditinggalkan seorang teman dan membawa serta hatinya yang bertaut padaku. Menyisakan tempat kosong dalam persahabatan kami. Aku akan menjadi egois kalau membiarkannya tinggal sementara aku tahu pasti dia tak sanggup melihatku berbahagia dengan pria lain yang memang sudah lebih dulu kucintai dan akan selalu kucintai. Aku hanya berharap kelak ia dapat menemukan kebahagiaannya sendiri, dan bersedia berbesar hati menjumpaiku lagi. Kali ini benar-benar sebagai sahabat dan saudaraku.
Sore di kemudian hari tak lagi sama seperti sore-sore yang sebelumnya. Tak sama seperti ketika sebelum dia pergi dari hidupku. Bangku kayu di persimpangan jalan ini pun rasanya tak lagi sama seperti ketika pertama kali aku mendudukinya. Ada rasa gamang dan kosong yang tak pernah terisi. Sisi kanan bangku ini pun akan selalu kosong dan tak ada yang akan mengisinya. Tak ada lagi senda gurau dan canda tawa dua sahabat yang berbagi pengalaman hidup.
“Semoga kelak kau kembali, Ga.” Bisikku lembut. Pada bangku kayu ini. Berharap, suatu saat dia melewati persimpangan jalan ini, ketika aku tak ada, sang bangku kayu menyampaikan pesanku ini. “Selamanya kau akan tetap menjadi sahabatku.”
Dan isi hatiku ini biarlah hanya Tuhan, aku dan sang bangku kayu saja yang tahu. Tak akan ada yang berubah. Engkau tetap sahabatku, Ga. Aku tahu, aku egois kalau mengharapkanmu kembali sekarang. Tapi aku selalu berharap, kelak kau akan kembali menjadi sahabatku. Memamerkan pujaan hatimu yang jelas akan lebih cantik daripadaku. Dan tersenyum kembali seperti sedia kala dimana kita pertama kali berjumpa. Ada ruang kosong di hatiku yang telah kau tinggalkan, Ga. Dan rasanya tak akan pernah sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
