![]() |
| gambar yang kutemukan ini tak terlalu mirip.. tapi cukup menggambarkan apa yg ingin kuceritakan.. |
Sore itu ketika matahari perlahan mulai merayap turun tuk beristirahat, aku berjalan melewati jalan yang biasa ku lewati. Kali ini aku berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Menikmati lembayung senja yang mulai menghapus jejaknya siang yang menyengat. Di persimpangan jalan ku mendapati bangku kayu yang biasanya selalu terisi kini nampak kosong. Entah mengapa hatiku berdesir tergoda untuk mencoba duduk di situ walau untuk sejenak. Bangku di persimpangan ini hanyalah bangku kayu biasa dengan beberapa sisi sudah terkelupas warna catnya. Setiap hari aku melewati jalan ini, bangku ini selalu terisi orang yang sekedar duduk bersenda gurau atau untuk beristirahat sejenak. Nampaknya kali ini adalah kesempatanku untuk mencicipi kenikmatan bangku kayu di persimpangan jalan ini.
Perlahan kuletakkan tubuhk u dalam pangkuan bangku kayu ini. Ya. Rasanya sungguh nyaman. Seperti rasa pulang kembali ke rumah. Aku duduk di sisi sebelah kiri, menyandarkan lenganku pada sandaran lengan kayunya yang sederhana. Membiarkan sisi sebelah kananku kosong. Aku menyecap rasa dari bangku ini yang bersatu dengan tubuhku. Gesekan kayunya pada pakaian di sepanjang punggung, bokong hingga ke pahaku. Sentuhan lembut kayunya yang membelai tanganku. Aku menikmati desiran angin yang berhembus pelan membelai lembut rambutku. Aku memejamkan mata menikmati damai yang terasa kala itu.
Dia datang, entah dari mana, tersenyum ke arahku dan dengan pandangan matanya seolah meminta ijinku untuk duduk di sisi sebelah kanan bangku yang kubiarkan kosong. Aku tersenyum mempersilahkannya. Dia duduk dalam diam sama seperti ketika pertama kali aku meletakkan tubuhku diatas bangku ini. Menikmati sensasi pertama kali tubuh kami menyatu dalam bangku ini. Aku tahu itu karna itu yang aku lihat dari ekspresi wajahnya yang berubah menjadi damai saat menyandarkan tubuhnya pada sandaran kayu.
Dia menoleh ke arahku, sembari mengulurkan lengannya sambil berkata, “Aga”. Dia tersenyum sambil menyebutkan namanya. Aku menyambut uluran tangannya dan menjabatnya erat. “Freya” sahutku sambil membalas senyumannya. Dari diam kami pun bercakap. Dari basa-basi hingga percakapan mendalam. Seputar hidup. Dari sore itu kemudian berlanjut ke sore-sore berikutnya.
Dan cinta pun terucap dari bibirnya tepat satu minggu kami berkenalan. Aku tersenyum menatap ke dalam matanya. Melihat ketulusan dari matanya. Tak percaya. Cinta tak peduli waktu, kapanpun dia akan terjatuh dan berlabuh. Begitu katanya. Dan ia pun tahu, perasaannya tak akan pernah dapat aku balas. Ya. Aku wanita yang akan segera menikah dengan pria yang aku cintai. Dan tak ada perasaan apapun yang tumbuh antara aku dan sang pria di persimpangan jalan – begitu aku menyebut Aga – selain perasaan nyaman layaknya bertemu sahabat lama.
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam setiap kesusahan, Ga. Hanya itu yang dapat aku berikan. Aku sahabatmu. Aku saudarimu. Tapi aku tak akan pernah dapat memberikan hatiku kepadamu. Karena hatiku sudah kuberikan pada orang lain.”
Dia tersenyum dengan senyuman yang biasa ia berikan kepadaku. Tapi kali ini sedikit lebih mengandung kepahitan. Aku tahu itu. Karena aku dapat merasakannya.
“Kalau begitu aku harus pergi. Karena aku tak bisa hanya menjadi sahabatmu. Anggap saja lah aku sebagai angin lalu, yang berhembus pada persimpangan jalan ini, dan tak akan pernah kembali, Frey. Aku doakan semoga engkau bahagia.”
“Cinta itu luas,Ga, bukan hanya pada pasanganmu saja, bahkan kamu bisa mendapatkannya dari orang yang baru saja kamu kenal, jangan mempersempit arti cinta...” sahutku.
“Tapi aku tak sekuat yang engkau kira, Frey. Menaklukan hati dan perasaan ini tak semudah menaklukan gunung yang kita daki. Maaf tapi aku harus menghilang dari hidupmu.” Aga bangkit dari bangku kayu itu. Di sisi sebelah kanan, bagian yang selalu didudukinya. Ia berbalik menatapku. Masih dengan tatapan lembut yang sama sewaktu pertama kali kami bertemu. Ia berdiri di hadapanku. Setengah menunduk ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. “Aku doakan kau bahagia, Frey. Dan aku doakan dia yang beruntung itu dapat menjagamu selamanya.”
Ketika ia hendak menarik tangannya, aku menahannya. Ada rasa pedih yang menjalar dari dalam hatiku. Rasanya seperti di sayat. Aku menahan tangannya yang hendak ditariknya.
“Sedih Ga membiarkan kamu pergi. Menyenangkan sekali punya teman sepertimu. Tapi kalau ini yang kau inginkan dan ini keputusanmu, aku hargai itu. Aku hanya berharap, suatu saat kita dapat bertemu lagi. Jika suatu saat kau sudah menemukan orang yang kau cintai lebih dari apapun, hubungi aku. Kau tau bagaimana menghubungiku. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, Ga.”
Dia tersenyum. Dan kali ini benar-benar menarik tangannya dan pergi dan tak berbalik ke belakang lagi. Aku hanya menatap punggungnya yang berjalan menjauh hingga menghilang dari pandanganku. Ada yang hilang dari perasaanku. Ada yang hilang dari hidupku. Salah satu teman terbaikku pergi. Rasanya ada satu ruang kosong di hati ini. Aku punya banyak teman yang pergi menjauh dari hidupku. Tetapi itu hanya fisik mereka saja yang pergi menjauh dariku. Hati kami masi saling bertautan. Komunikasi kami masih berlanjut walaupun hanya sebatas dunia maya. Tetapi baru kali ini rasanya aku ditinggalkan seorang teman dan membawa serta hatinya yang bertaut padaku. Menyisakan tempat kosong dalam persahabatan kami. Aku akan menjadi egois kalau membiarkannya tinggal sementara aku tahu pasti dia tak sanggup melihatku berbahagia dengan pria lain yang memang sudah lebih dulu kucintai dan akan selalu kucintai. Aku hanya berharap kelak ia dapat menemukan kebahagiaannya sendiri, dan bersedia berbesar hati menjumpaiku lagi. Kali ini benar-benar sebagai sahabat dan saudaraku.
Sore di kemudian hari tak lagi sama seperti sore-sore yang sebelumnya. Tak sama seperti ketika sebelum dia pergi dari hidupku. Bangku kayu di persimpangan jalan ini pun rasanya tak lagi sama seperti ketika pertama kali aku mendudukinya. Ada rasa gamang dan kosong yang tak pernah terisi. Sisi kanan bangku ini pun akan selalu kosong dan tak ada yang akan mengisinya. Tak ada lagi senda gurau dan canda tawa dua sahabat yang berbagi pengalaman hidup.
“Semoga kelak kau kembali, Ga.” Bisikku lembut. Pada bangku kayu ini. Berharap, suatu saat dia melewati persimpangan jalan ini, ketika aku tak ada, sang bangku kayu menyampaikan pesanku ini. “Selamanya kau akan tetap menjadi sahabatku.”
Dan isi hatiku ini biarlah hanya Tuhan, aku dan sang bangku kayu saja yang tahu. Tak akan ada yang berubah. Engkau tetap sahabatku, Ga. Aku tahu, aku egois kalau mengharapkanmu kembali sekarang. Tapi aku selalu berharap, kelak kau akan kembali menjadi sahabatku. Memamerkan pujaan hatimu yang jelas akan lebih cantik daripadaku. Dan tersenyum kembali seperti sedia kala dimana kita pertama kali berjumpa. Ada ruang kosong di hatiku yang telah kau tinggalkan, Ga. Dan rasanya tak akan pernah sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar