Hari minggu pagi yang cerah. Matahari masih pun enggan memamerkan kegagahannya dengan panasnya yang menyengat tapi si kecil Samuel sudah sibuk mondar mandir sejak matahari masih belum terbit. Dia mengisi tas ranselnya yang sederhana dengan beberapa benda kesukaannya. Mainan mobil yang terbuat dari kayu yang dipahat, yang dahulu dibuatkan ayahnya, hadiah saat ia berulang tahun yang ke 6, yang selalu setia dibawa kemanapun ia hendak pergi. Satu setel pakaian ganti dan tempat air minum untuk berjaga-jaga kalau-kalau ia merasa haus. Uang sakunya yang tidak seberapa membuatnya harus berhemat dan tidak sembarangan menggunakannya.
Sang bunda mengintip dari dapur, tempatnya sibuk memasak di bantu putri sulungnya, Hana.
"Mau kemana, Nak? Sepagian begini sudah mulai sibuk." Tanya bunda pada Samuel.
"Aku mau bertemu Sang Guru, Bunda. Katanya Ia sedang ke kota kita. Banyak orang ramai ingin bertemu denganNya." Seru Samuel dengan hati riang.
"Benarkah dia akan datang ke kota kita??" Pandangan mata sang bunda nampak berbinar mendengar perkataan putra kecilnya. Samuel mengangguk dengan antusias. Bundanya kemudian mendadak sibuk membungkus beberapa makanan dan kemudian memberikannya kepada Samuel, "Bawalah ini, Nak. Mungkin kau akan pulang malam dan tak ada yang jual makanan." Sang Bunda memberikan bungkusan yang langsung diterima dengan gembira oleh Samuel.
"Terima kasih, Bunda!!" Sambil bersenandung riang ia memasukkan bungkusan bekal dari bundanya ke dalam tas ranselnya. Pria kecil itu memang selalu riang dan gembira. Hidupnya selalu penuh dengan semangat. Kehadirannya dimanapun, selalu membawa sukacita. "Aku pergi dulu." Ia mengecup pipi sang bunda sekilas, lalu berlari keluar rumah. Beberapa temannya sudah menunggunya untuk pergi bersama.
"Hati-hati!" Seru sang bunda sebelum Samuel menghilang dari pandangannya.
Samuel kecil berlari bersama temannya menuju pusat kota. Tempat Sang Guru akan duduk dan mengajar, atau begitulah yang ia dengar dari orang-orang di desanya. Kota tempatnya tinggal adalah kota kecil dengan penduduk yang tak seberapa jumlahnya. Mata pencaharian orang-orang pada umumnya adalah sebagai peternak atau petani di ladang. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demikian pula dengan keluarga Samuel. Ia dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang sederhana. Tapi ia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih dan sukacita, hingga ia pun tumbuh menjadi pria kecil yang selalu gembira dan penuh syukur.
Penduduk desanya sebagian besar sudah berbondong-bondong berkumpul di pusat kota. Tak ketinggalan Samuel dan teman-temannya. Pusat kota tampak ramai. Bahkan banyak penduduk dari kota lain pun yang turut datang untuk bertemu dengan Sang Guru seperti yang telah diberitakan dari mulut ke mulut.
"Apakah Ia sudah datang?" Bisik Kleo pada Samuel. Tubuh Samuel yang tak terlalu tinggi sibuk melompat-lompat untuk melihat ke sekeliling. Pandangan matanya tak berhenti mencari Sang Guru.
"Itu Dia!" Seru Samuel saat melihat kerumunan orang yang nampaknya berpusat pada satu orang saja. Dari jauh memang terdengar suaraNya mengajar pada orang banyak yang berkumpul di situ. Samuel kecil, Kleo dan teman-teman lainnya menyelinap diantara kerumunan orang banyak agar mendapat tempat yang lebih dekat lagi dengan Sang Guru. Agar mereka dapat mendengar Ia berbicara lebih jelas lagi.
"Nampaknya sudah sangat ramai orang berkumpul. Hendaklah kita menyepi sejenak ke puncak gunung." Ujar Sang Guru pada murid-muridNya yang berada di sekitarnya. Sang Guru pun bangkit dari sebongkah batu besar yang sejak tadi menjadi tempatNya duduk, kemudian Ia berjalan menuju ke pinggiran kota. Menyepi ke puncak gunung terdekat. Tapi nampaknya orang banyak itu tak berhenti sampai di situ mengikutiNya. Semua berduyun-duyun mengikuti Sang Guru mendaki gunung. Tak terkecuali dengan Samuel dan teman-temannya. Mereka pun mengikuti kerumunan orang banyak itu mendaki gunung bersama Sang Guru.
Di puncak gunung, Sang Guru kembali mengajar dan banyak orang yang sakit yang datang kepadaNya mohon penyembuhan. Ia banyak melakukan mukjizat dan pengajaran-pengajaran yang membuat orang semakin terkagum-kagum dengannya. Hari sudah menjelang sore, dan orang banyak itu tak satupun belum ada yang beranjak pulang. Bahkan nampaknya jumlah mereka semakin banyak.
"Guru, hari sudah mulai malam. Lebih baik kita suruh mereka semua pulang atau mencari penginapan." Ujar salah seorang muridNya yang sejak tadi sudah mulai merasa letih.
"Berikan mereka makanan." Perintah Sang Guru.
"Tapi bagaimana mungkin Guru! Jumlah mereka sangatlah banyak. Kalau kita belikan roti, palingan hanya dapat sepotong kecil saja, dan itu belum tentu cukup memberi makan mereka semua." Ujar seorang muridnya yang lain.
Samuel dan teman-temannya yang duduk tak jauh dari situ mendengar percakapan Sang Guru dengan murid-muridNya itu. Ia kemudian teringat akan bekal yang diberikan bundanya kepadanya. Dibukanya tas ransel yang sejak tadi tergantung di punggungnya, dikeluarkannya bungkusan bekal tadi.
"Paman, ini aku ada bekal sedikit, mungkin bisa dibagikan kepada yang lain." Ujarnya malu-malu pada salah seorang muridNya yang berdiri paling dekat dengannya.
"Terima kasih, Nak." Ujar Andreas lalu berjalan menghampiri Sang Guru, "Guru, ini ada bekal dari anak itu, untuk dibagikan." Andreas membuka bungkusan itu dan mengernyit ragu, "Tapi hanya ada lima roti dan dua buah ikan saja. Mana mungkin cukup untuk kita semua."
Sang Guru tersenyum pada Andreas, "Tidak apa. Ini cukup. Suruhlah orang banyak itu untuk duduk." Ujarnya. Ia menatap si kecil Samuel yang duduk diantara orang banyak itu sambil tersenyum lembut. Hati Samuel bergetar melihat tatapan lembut Sang Guru yang ditujukan kepadanya. Ada perasaan bahagia yang tak dapat diungkapkan dengan kata-katanya.
Sang Guru meletakkan bungkusan bekal milik Samuel ke sebuah dahan pohon tumbang yang tak jauh dari tempatNya berdiri. Kemudian Ia menengadah sambil merentangkan kedua tanganNya dan berdoa serta memberkati makanan yang tersaji di hadapanNya. Setelah berdoa Ia kemudian membagi-bagikan roti beserta ikan yang sudah diberkati itu kepada murid-muridNya untuk dibagikan kepada orang banyak.
Tanpa mereka sadari, Guru telah membuat mukjizat lagi. Sebanyak lebih dari 5000 orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak telah makan sampai kenyang, hanya dari bekal yang dibawa oleh Samuel, berupa lima buah roti dan dua potong ikan. Samuel memakan jatahnya dengan takjub dan terkagum-kagum. Setengah tak percaya, hanya dari bekal yang dia bawa, yang tidak seberapa itu mampu membuat semua orang banyak itu kenyang.
"Kumpulkanlah sisanya dan jangan biarkan ada yang terbuang." Ujar Sang Guru pada murid-muridNya. Orang banyak itu pun kemudian mengumpulkan sisanya dan semuanya ada 12 bakul penuh.
Inilah buah dari pemberian yang tanpa syarat. Pemberian total yang tulus dan tanpa syarat, dari apa yang si kecil Samuel miliki, untuk berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Tak perlu menjadi sempurna untuk dapat membantu sesama. Tak perlu menjadi berlebih untuk dapat membagi. Memberi dengan kekurangan yang ada, kelak Tuhan sendirilah yang akan mencukupkan.
*terinspirasi dari kisah Yesus memberi makan 5000 orang yang kuceritakan dengan gayaku sendiri :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar