Lagu itu lagi meledak2nya di belantika musik tanah air
Penyanyinya yang nyetrik dengan gaya rambut gimbalnya
Menjadi fenomena tersendiri
Dimana2 orang pada memakai istilah ”tak gendong kemana-mana”
Tapi kmarin minggu aku baru sadarin
Ada makna yg lebih mendalam dari lagu sederhana itu...
Bahwa Tuhan Yesuslah yang menyanyikan lagu itu untuk kita
Dia yang selalu menggendong kita kemana-mana
Di saat senang, di saat susah
Tanpa kita sadari
Kita hanya merasakan enaknya saja
Tidak terantuk batu yang tajam
Tidak melewati semak yang berduri
Karena Tuhanlah yang menggendong kita
Tatkala Tuhan sendiri yang menyanyikan lagu itu untuk kita
”tak gendong kemana-mana.. enak toh.. asik toh..”
Lalu.. apalagi yang perlu kita takutkan dan khawatirkan??
Karena Dia sendiri lah yang selalu menggendong kita...
Yang kita perlukan hanyalah percaya bahwa kita aman dalam gendongannya
Terima Kasih buat Romo Artoyo dan Mbah Surip
Yang memberi inspirasi buatku di minggu pagi kemarin...
Kamis, 29 Oktober 2009
enamjuliduaribusembilan
Ada sebuah cerita refleksi yang sangat menarik. Pada suatu hari Tuhan merasa lelah mendengar segala keluhan manusia. Dan Ia bermaksud untuk bersembunyi dari manusia. Maka Ia memanggil para malaikat-malaikatNya dan bertanya, dimana tempat terbaik untuk bersembunyi dari manusia. Salah seorang malaikatNya berkata, ”Sembunyilah di puncak gunung tertinggi, Tuhan. Maka manusia akan kesulitan menemukan Tuhan.” Malaikat yang lain lagi berkata, ”Sembunyi saja di dasar laut yang paling dalam. Manusia pun tidak dapat mencari sampai ke sana.” Lalu Tuhan bertanya pada malaikatNya yang paling pandai, ”Kemanakah aku harus bersembunyi dari manusia?” Lalu malaikatNya itu menjawab, ”Sembunyilah di hati manusia Tuhan. Karena di sanalah tempat manusia jarang menyentuhnya.”
Sudah berkali-kali aku membaca artikel ini, tapi tetap saja aku selalu merasa tersindir setiap membacanya. Ya.. hatiku lah sebagai hati manusia yang mungkin paling keras dan paling sulit di jamah olehNya. Aku menuntut dan memohon pada Tuhan ini itu. Dan Tuhan hanya meminta aku untuk percaya dan berserah kepadaNya. Dan kenapa aku sulit sekali melakukannya. Hanya permintaan sederhana dari Tuhan untuk percaya dan berserah kepadaNya. Bahwa segala yg aku minta padaNya akan dikabulkanNya, tapi menurut waktuNya, bukan waktuku sendiri. Karena hanya Ia lah yang tau apa yg terbaik untukku, melebihi diriku sendiri. Sering aku meminta padaNya untuk menyentuh hatiku dan mengubahnya menjadi yang baru. Agar aku tak lagi menjadi manusia lama yang selalu menutup pintu hatiku bagiNya.
Pada kotbah pastor kemarin minggu, dikatakan.. betapa sulitnya kita untuk menyediakan waktu kita untuk Tuhan. Walaupun itu hanya 1 ½ jam saja. Kita diberi waktu 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Dan Tuhan hanya meminta waktu kita 1 ½ jam saja untuk pergi ke gereja dan berjumpa denganNya. Hanya 1 ½ jam dari 168 jam yang diberikanNya untuk kita. Dan betapa itu begitu sulit kita lakukan. Banyak alasannya.. capeklah.. ngantuklah.. ngga punya waktulah.. dan lain lain.. dan bagaimana jika Tuhan sendiri yang berkata kepada kita, ”AnakKu, Aku capek mendengarkan ocehanmu..” Apakah yang akan terjadi kepada kita, manusia yang tak berdaya ini?
Ada juga yang mengatakan kalau bertemu dengan Tuhan tidak harus di dalam gereja. Gereja hanyalah sebuah bangunan. Sebuah sarana saja untuk bertemu denganNya. Itu memang benar. Aku pun menyetujui pendapat itu. Tapi lalu aku mempertanyakan pendapat itu. Dalam kondisi apakah pendapat itu berlaku? Saat kita sedang berada di puncak gunung, padahal seharusnya kita berada di dalam gereja, dan kita mengandaikan berada di puncak gunung adalah cara lain untuk bertemu denganNya. Betulkah kita benar-benar mengalami perjumpaan denganNya di puncak gunung itu?? Ataukah itu hanya bentuk pembelaan diri kita terhadap kata ”malas ke gereja” dan membuat kegiatan-kegiatan kita sebagai sebuah ”alasan” saja sebagai salah satu cara untuk bertemu dengan Tuhan...
Beruntung kita punya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dan merasa capek karena ”mengurusi” kita anak2Nya yang membandel. Yang masih selalu mencobai Tuhan dan menguji batas-batas kesabaranNya. Saat senang, kita lupa bersyukur padaNya. Dan saat susah, kita selalu mempertanyakan diriNya yang katanya Maha Baik. Lalu lantas manusia macam apa kita yang hanya ingat Tuhan saat kita susah dan lupa padaNya saat senang...?? Sudikah kita membuka pintu hati kita lebar-lebar, agar Tuhan dapat masuk ke dalamNya dan menyembuhkan segala luka hati kita? ada pepatah bagus mengatakan, Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang pecah, hanya jika kita memberikan kepingan-kepingannya...
Maka, Tuhan, Terimalah kepingan hatiku ini. ku tau aku tak layak di hadapanMu. dan ku tahu aku tak kan pernah layak. Tapi ku tahu Engkau Maha Rahim, Kau pasti akan selalu menerimaku.
Allah kita, tidak menunggu kita tuk menjadi sempurna tuk datang padaNya. Dia menunggu kita datang, sekarang. Saat ini.
Sudah berkali-kali aku membaca artikel ini, tapi tetap saja aku selalu merasa tersindir setiap membacanya. Ya.. hatiku lah sebagai hati manusia yang mungkin paling keras dan paling sulit di jamah olehNya. Aku menuntut dan memohon pada Tuhan ini itu. Dan Tuhan hanya meminta aku untuk percaya dan berserah kepadaNya. Dan kenapa aku sulit sekali melakukannya. Hanya permintaan sederhana dari Tuhan untuk percaya dan berserah kepadaNya. Bahwa segala yg aku minta padaNya akan dikabulkanNya, tapi menurut waktuNya, bukan waktuku sendiri. Karena hanya Ia lah yang tau apa yg terbaik untukku, melebihi diriku sendiri. Sering aku meminta padaNya untuk menyentuh hatiku dan mengubahnya menjadi yang baru. Agar aku tak lagi menjadi manusia lama yang selalu menutup pintu hatiku bagiNya.
Pada kotbah pastor kemarin minggu, dikatakan.. betapa sulitnya kita untuk menyediakan waktu kita untuk Tuhan. Walaupun itu hanya 1 ½ jam saja. Kita diberi waktu 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Dan Tuhan hanya meminta waktu kita 1 ½ jam saja untuk pergi ke gereja dan berjumpa denganNya. Hanya 1 ½ jam dari 168 jam yang diberikanNya untuk kita. Dan betapa itu begitu sulit kita lakukan. Banyak alasannya.. capeklah.. ngantuklah.. ngga punya waktulah.. dan lain lain.. dan bagaimana jika Tuhan sendiri yang berkata kepada kita, ”AnakKu, Aku capek mendengarkan ocehanmu..” Apakah yang akan terjadi kepada kita, manusia yang tak berdaya ini?
Ada juga yang mengatakan kalau bertemu dengan Tuhan tidak harus di dalam gereja. Gereja hanyalah sebuah bangunan. Sebuah sarana saja untuk bertemu denganNya. Itu memang benar. Aku pun menyetujui pendapat itu. Tapi lalu aku mempertanyakan pendapat itu. Dalam kondisi apakah pendapat itu berlaku? Saat kita sedang berada di puncak gunung, padahal seharusnya kita berada di dalam gereja, dan kita mengandaikan berada di puncak gunung adalah cara lain untuk bertemu denganNya. Betulkah kita benar-benar mengalami perjumpaan denganNya di puncak gunung itu?? Ataukah itu hanya bentuk pembelaan diri kita terhadap kata ”malas ke gereja” dan membuat kegiatan-kegiatan kita sebagai sebuah ”alasan” saja sebagai salah satu cara untuk bertemu dengan Tuhan...
Beruntung kita punya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dan merasa capek karena ”mengurusi” kita anak2Nya yang membandel. Yang masih selalu mencobai Tuhan dan menguji batas-batas kesabaranNya. Saat senang, kita lupa bersyukur padaNya. Dan saat susah, kita selalu mempertanyakan diriNya yang katanya Maha Baik. Lalu lantas manusia macam apa kita yang hanya ingat Tuhan saat kita susah dan lupa padaNya saat senang...?? Sudikah kita membuka pintu hati kita lebar-lebar, agar Tuhan dapat masuk ke dalamNya dan menyembuhkan segala luka hati kita? ada pepatah bagus mengatakan, Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang pecah, hanya jika kita memberikan kepingan-kepingannya...
Maka, Tuhan, Terimalah kepingan hatiku ini. ku tau aku tak layak di hadapanMu. dan ku tahu aku tak kan pernah layak. Tapi ku tahu Engkau Maha Rahim, Kau pasti akan selalu menerimaku.
Allah kita, tidak menunggu kita tuk menjadi sempurna tuk datang padaNya. Dia menunggu kita datang, sekarang. Saat ini.
Pintu Rumah Tuhan “tertutup” Buatku
Kamis malam kemarin saat aku duduk manis di dalam bus seperti biasa, aku melewati sebuah bangunan gereja katolik di daerah barito. Suasananya nampak sepi. Bangunan gereja gelap, tertutup rapat. Bahkan pagarnya pun nampak terkunci rapat. Teranglah, karena ini hari kamis malam. Tidak ada upacara apa-apa di tengah-tengah minggu ini. Gereja pun ditutup dan dikunci.
Aku jadi teringat saat-saat aku masih mengenakan seragam putih biru ku dan bersekolah dekat gereja itu.. kalau lagi rajin, setiap pagi, sebelum sekolah dimulai, aku suka menyempatkan diri datang ke gereja itu, bersama temanku untuk berdoa. Setiap pagi gereja tentu aja masih buka.. karena masih baru selesai misa harian..
Sebenarnya dulu sempat ada keinginan untuk sekali-kali ikut misa harian, tapi apa daya, mulainya jam 6, sedangkan aku baru sampai sekolah aja ½ 7.. hehehe.. jadi tak apalah.. ikut sisa-sisa berkatnya aja.
Pergi ke gereja, saat sedang tidak ada misa ternyata memberikan ”kedamaian” tersendiri buatku. Berlutut di depan altar, berdoa, menatap patung Yesus yang tersalip di atas altar... terkadang berdoa.. atau terkadang berdiam saja.. menikmati keheningan itu...
(entah, berdoa mohon apa aku waktu itu.. doa lugu bocah smp mungkin...)
beberapa tahun lalu, saat aku pergi ke gereja yang sama, untuk mengikuti misa pada malam hari.. aku lupa.. misa apa waktu itu.. misa mingguan biasa atau misa jumat pertama.. yang jelas itu misa termalam saat itu.. usai misa, aku dan pacarku bermaksud berdoa rosario bersama di dalam gereja.. menikmati keheningan gereja dan menikmati suasana khidmat yang sudah tercipta.. tapi doa kami jadi terusik lantaran suara petugas gereja yang sibuk mengunci pintu-pintu gereja dan mematikan lampu. Mau tidak mau kami jadi terburu-buru mendaraskan doa salam maria agar doa kami cepat selesai. Agar kami cepat keluar dari gereja yang mau di kunci itu.
Rasanya seperti ”terusir” dari Rumah Tuhanku sendiri.. saat kami ingin duduk menikmati perjumpaan kami dengan Tuhan di RumahNya sendiri.. kami harus terburu-buru karna Rumahnya akan segera dikunci.. miris jg perasaan kami waktu itu. Pacarku sampai ngedumel sepanjang jalan...
Sejak kejadian itu, aku jadi memperhatikan kebiasaan di gereja-gereja saat selesai mengikuti misa terakhir. Dan ternyata ngga hanya di gereja tadi saja pintu-pintu langsung di tutup dan lampu dimatikan. Di paroki ku pun juga seperti itu.
Saat kemarin aku kembali melewati gereja itu, aku jadi teringat kembali masa-masa aku memperhatikan ”pintu gereja yang tertutup” itu..
Aku jadi bertanya-tanya... kenapa Gereja harus tertutup dan terkunci? Bukankah gereja itu adalah Rumah Tuhan, dimana kita sewaktu-waktu dapat datang kesana, sesuka hati kita untuk sekedar berjumpa dan menyapa Tuhan kita sendiri. Apa yang membuat gereja menjadi seperti ”rumah duniawi” yang harus ikut-ikutan dikunci agar tidak sembarang tamu bisa datang. Agar setiap tamu yang datang harus minta ijin dulu kepada si empunya rumah. Agar tidak ada pencuri yang datang dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah Tuhan kita itu Allah yang Mahabaik. Yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin datang menjumpainya. Lalu kenapa dikunci.. seperti seakan-akan kalau ketemu Tuhan itu harus ada jadwal khususnya..
Kenapa Rumah Tuhan di sini tidak seperti di luar sana seperti yg kulihat di tivi2, dimana selalu terbuka, hingga kapan saja kita mau datang berdoa kepadaNya dan menjumpaiNya, kita dapat melakukannya. Tidak harus menunggu dibukakan untuk kita.
Apakah pintu Rumah Tuhan akan selalu ”tertutup” buatku ketika malam-malam aku ingin datang mampir dan berlutut di depan altarNya.. bersujud dan berdoa padaNya??
090627
Aku jadi teringat saat-saat aku masih mengenakan seragam putih biru ku dan bersekolah dekat gereja itu.. kalau lagi rajin, setiap pagi, sebelum sekolah dimulai, aku suka menyempatkan diri datang ke gereja itu, bersama temanku untuk berdoa. Setiap pagi gereja tentu aja masih buka.. karena masih baru selesai misa harian..
Sebenarnya dulu sempat ada keinginan untuk sekali-kali ikut misa harian, tapi apa daya, mulainya jam 6, sedangkan aku baru sampai sekolah aja ½ 7.. hehehe.. jadi tak apalah.. ikut sisa-sisa berkatnya aja.
Pergi ke gereja, saat sedang tidak ada misa ternyata memberikan ”kedamaian” tersendiri buatku. Berlutut di depan altar, berdoa, menatap patung Yesus yang tersalip di atas altar... terkadang berdoa.. atau terkadang berdiam saja.. menikmati keheningan itu...
(entah, berdoa mohon apa aku waktu itu.. doa lugu bocah smp mungkin...)
beberapa tahun lalu, saat aku pergi ke gereja yang sama, untuk mengikuti misa pada malam hari.. aku lupa.. misa apa waktu itu.. misa mingguan biasa atau misa jumat pertama.. yang jelas itu misa termalam saat itu.. usai misa, aku dan pacarku bermaksud berdoa rosario bersama di dalam gereja.. menikmati keheningan gereja dan menikmati suasana khidmat yang sudah tercipta.. tapi doa kami jadi terusik lantaran suara petugas gereja yang sibuk mengunci pintu-pintu gereja dan mematikan lampu. Mau tidak mau kami jadi terburu-buru mendaraskan doa salam maria agar doa kami cepat selesai. Agar kami cepat keluar dari gereja yang mau di kunci itu.
Rasanya seperti ”terusir” dari Rumah Tuhanku sendiri.. saat kami ingin duduk menikmati perjumpaan kami dengan Tuhan di RumahNya sendiri.. kami harus terburu-buru karna Rumahnya akan segera dikunci.. miris jg perasaan kami waktu itu. Pacarku sampai ngedumel sepanjang jalan...
Sejak kejadian itu, aku jadi memperhatikan kebiasaan di gereja-gereja saat selesai mengikuti misa terakhir. Dan ternyata ngga hanya di gereja tadi saja pintu-pintu langsung di tutup dan lampu dimatikan. Di paroki ku pun juga seperti itu.
Saat kemarin aku kembali melewati gereja itu, aku jadi teringat kembali masa-masa aku memperhatikan ”pintu gereja yang tertutup” itu..
Aku jadi bertanya-tanya... kenapa Gereja harus tertutup dan terkunci? Bukankah gereja itu adalah Rumah Tuhan, dimana kita sewaktu-waktu dapat datang kesana, sesuka hati kita untuk sekedar berjumpa dan menyapa Tuhan kita sendiri. Apa yang membuat gereja menjadi seperti ”rumah duniawi” yang harus ikut-ikutan dikunci agar tidak sembarang tamu bisa datang. Agar setiap tamu yang datang harus minta ijin dulu kepada si empunya rumah. Agar tidak ada pencuri yang datang dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Bukankah Tuhan kita itu Allah yang Mahabaik. Yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin datang menjumpainya. Lalu kenapa dikunci.. seperti seakan-akan kalau ketemu Tuhan itu harus ada jadwal khususnya..
Kenapa Rumah Tuhan di sini tidak seperti di luar sana seperti yg kulihat di tivi2, dimana selalu terbuka, hingga kapan saja kita mau datang berdoa kepadaNya dan menjumpaiNya, kita dapat melakukannya. Tidak harus menunggu dibukakan untuk kita.
Apakah pintu Rumah Tuhan akan selalu ”tertutup” buatku ketika malam-malam aku ingin datang mampir dan berlutut di depan altarNya.. bersujud dan berdoa padaNya??
090627
Menikmati Hidup untuk Saat Ini
090625
Masa lalu memang indah untuk di kenang
Tapi lebih baik lagi kita menyimpannya, dan memulai lembaran baru
Menggoreskan kenangan baru lagi di masa sekarang….
Masa depan adalah bagian dari impian..
Yang terpenting bagaimana proses kita mewujudkan impian itu di masa sekarang...
Siang ini aku menscanning ijazah dan transkrip kuliah ku.. Ku pikir aku perlu menyimpannya dalam bentuk softcopy
Sambil scanning, aku sambil melihat-lihat nilai-nilai ku semasa kuliah dulu
Hmmm... boleh berbangga hati juga atas apa yang telah aku peroleh.. Ngga mau sombong, tapi ternyata aku cuma nemuin satu nilai C diantara semua mata kuliah yg aku ambil. Hehe.. dan itu komputer grafis.. huh.. siapa itu dosennya? Aku belajar komputer grafis justru dari mas Kis si empunya digital printing di samping Untar sana...
Sudahlah tak usah membanggakan nilaiku yang toh sekarang juga ngga bisa kupakai tuk mencari sesuap nasi..
Dipikir-pikir... dulu aku (sedikit) menyesal.. karna masi lumayan malas kuliah dan mengerjakan tugas.. andai saja aku sedikit lebih rajin.. pasti aku akan bisa lulus dengan predikat cumlaude.. tapi toh.. sekarang pada kenyataannya, saat aku benar-benar terjun ke dunia kerja, nilai ku pun tidak ada artinya. Cumlaude pun tak bisa mengenyangkan perutku hanya bisa memuaskan egoku saja...Yang berarti justru bagaimana aku bisa menerapkan ilmuku sebaik-baiknya di dalam pekerjaanku...
Lagi-lagi..
Hidup itu terkadang dihiasi penyesalan.. andai saja aku begini.. pasti hasilnya akan begitu.. andai saja aku tidak melakukan ini.. pasti aku akan menjadi demikian..
Tak jarang juga kita hidup dengan terikat kenangan masa lalu, yang nampaknya lebih indah dari masa sekarang yang kita jalani... saat sekolah ternyata lebih enak.. kita bisa bebas nggak usah mikir yang rumit-rumit.. saat kuliah ternyata lebih enak.. kita punya sejuta waktu untuk mengeksplore diri kita lebih dalam lagi.. saat masih jomblo ternyata lebih enak kita punya banyak waktu untuk diri kita sendiri.. saat pacaran pun ternyata lebih enak.. ada yang memperhatikan dan menyayangi kita... kenapa kita ngga pernah berpikir.. saat sekaranglah yang paling enak.. kita bisa benar-benar menikmati hidup dan bersyukur betapa baiknya Tuhan.. kenapa kita malah justru berpikir saat sekarang lah saat yang paling susah.. paling berat.. hingga kita lupa bagaimana kita dikasihi Tuhan...
Masa depan juga ternyata tanpa kita sadari telah mengikat hidup kita.. kelak aku akan melakukan ini, melakukan itu.. berencana ini dan berencana itu.. terobsesi mewujudkan segala keinginan kita...entah bagaimana caranya
Tanpa kita sadari... kita tidak benar-benar hidup di masa sekarang... kita tidak benar-benar menikmati saat sekarang..
Kita tidak benar-benar menikmati saat sekarang kita menarik napas kita dan menghembuskannya lagi.. menikmati saat aku memainkan jemariku di keyboard untuk menuliskan ini..menikmati lagu yang mengalun di PC ku..
Dan tanpa kita sadari, masa-masa sekarang yang seharusnya kita nikmati sungguh-sungguh ternyata telah lewat dan berakhir.. dan yang ada hanya penyesalan.. kenapa aku tidak dapat menikmati saat masa itu tiba dengan sebaik-baiknya. Waktu tidak dapat diputar kembali.. dan tidak ada yang berpredikat ”selamanya” di dunia ini..
Kita tidak dapat bekerja selamanya.. kita tidak dapat bersenang-senang selamanya.. kita tidak dapat mencintai selamanya.. dan tentu saja kita tidak dapat hidup selamanya... suatu saat, apapun itu kita harus menghadapi akhir dari segala sesuatu...
Seperti lagu dari band kesukaanku.. judulnya ”akhirilah ini dengan indah” di salah satu syairnya mengatakan.. ”ketika selamanya pun harus berakhir, akhirilah ini dengan indah...” bahkan ”selamanya” pun akan berakhir juga.. maka inilah saatnya dimana kita menikmati setiap detik hidup kita saat ini.. bukan karena masa lalu kita dan bukan juga karena masa depan kita.. hanya saat ini.. hingga akhirnya saat ini pun harus berakhir dan digantikan dengan saat berikutnya, kita tidak akan menyesal karena saat ini telah berakhir.. bagaimana menjalani hidup ini... setiap tarikan napas kita nikmati keindahannya.. mensyukuri kenikmatan hidup dan membaginya ke orang-orang di sekitar kita..
Bahkan Tuhan Yesus pun mengajari kita untuk meminta rejeki pada hari ini.. hanya hari ini.. tak usah lah kita merisaukan hari esok.. dan tak perlu jugalah kita terbebani dengan masa lalu kita.. entah itu menyenangkan atau menyakitkan.. kita toh tak hidup dengan masa lalu.. kita hidup untuk masa sekarang... dan jangan sia-siakan lah masa sekarang itu..
Tidak perlu menunggu menjadi orang hebat dulu, kalau ingin membagi berkat dan kebahagiaan ke orang lain..
Hanya dengan menjadi diri sendiri dan membagi senyuman terbaikmu saja.. kau sudah mencerahkan hari orang lain..
Nikmatilah setiap detik.. setiap waktu hidupmu saat ini.. karena waktu tidak dapat berputar kembali.. dan jika saat ini telah lewat.. kita tidak akan menyesalinya... karena kita telah melewatinya dengan indah... Tuhan Memberkati..!!
Entah Mana yang Baik..
Pagi ini saat masi bermobil ke kantor.. aku tergelitik akan pembicaraan bapakku dan supirnya di bangku depan.. mataku terpejam sedang berusaha melanjutkan tidur pagiku yang terganggu. Sembari menunggu lelap membawaku ke alam mimpi.. aku jadi tertarik mendengarkan pembicaraan bapak dan supirnya..
Mobil kita lagi berhenti di lampu merah buncit tepatnya. Dan di samping kiri kami pemandangan (entah aku bisa sebut itu apa) empang, rawa, atau genangan banjir yang ngga pernah surut.. yang penuh ilalang dan sampah...
Bapakku melihat ada burung (entah apa namanya) bermain-main di tempat.. sebut saja rawa mini... itu..
Dan menunjukkannya ke pak supir.. ”Di.. ada burung-burung tuh.. lihat gak?”
Si supir menjawab.. ”Iya, Pak..”
“Sekarang udah jarang ya bisa lihat burung begitu.. jenis apa itu? Kuntul?”
Si supir diam saja
”Dulu di Jawa, di alun2 yang ada pohon beringinnya, kalo pagi atau sore itu pohon jadi putih semua.. sekarang udah ngga lagi..” Bapakku melanjutkan, ”Di sawah-sawah juga dulu banyak burung.. ada kuntul putih, kuntul hitam...”
telingaku jadi gatal mendengar ucapan bapakku..
ya.. aku ingat alun-alun kota blitar beberapa tahun silam saat aku ke sana.
Aku selalu suka melewati daerah itu.. pohon beringin itu selalu penuh dihinggapi burung-burung putih yang ngga tau apa namanya.. mungkin itu yang dimaksud bapak kuntul putih.. seperti bangau kecil, berkaki panjang dan berparuh panjang... (wah.. mesti lebih belajar banyak jenis2 burung dari teman-teman JGM nih. Hehehe..)
Mereka bersarang di pohon beringin alun-alun kota.. setiap pagi mereka terbang mencari makan dan kembali saat sore hari.. waktu kecil aku menyebutnya ”pohon burung” karna banyak sekali yang hinggap di sana.. makin lama.. semakin aku besar.. burung-burung yang hinggap dan bersarang di ”pohon burung” itu memang semakin berkurang.. nggak tau deh sekarang gimana... dah lama banget aku nggak pulang k blitar..
Jaman sekarang memang sudah banyak yang berubah.. pertumbuhan manusia dan segala kebutuhannya semakin besar..lahan-lahan kosong, yang dulu mungkin tempat tinggal para binatang-binatang itu sekarang sudah disulap jadi perumahan, pusat perbelanjaan, dan berbagai bangunan penunjang kebutuhan manusia lainnya... bahkan sawah pun kadang ikut di gusur...
Kalau dulu burung-burung itu bisa bersarang dimana saja mereka suka.. sekarang mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan alam yang tak lagi bersahabat dengan mereka.. hijrah ke tempat-tempat yang masih alami (yang sudah sangat jarang) atau ”terpaksa” nyarang di atap rumah orang.. sukur-sukur kalo selamet ngga dikandangin atau malah di goreng sama yang punya atap rumah.. hahaha...
Kalau dulu di sawah.. burung-burung yang dianggap sebagai ”hama” yang merugikan petani yang sudah hampir memanen padinya, paling-paling hanya ”digusahi” dengan bunyi-bunyian atau alat-alat tradisional yang sederhana, sekarang mungkin sudah ditangkapi.. bahkan ditembaki..dijadikan santapan sehari-hari..
Mungkin sekarang melihat pemandangan burung-burung beterbangan bebas sudah jadi kesempatan langka buat kita..
Makanya aku jadi bertanya-tanya.. manakah yang lebih baik.... sibuk menggusahi burung yang jadi hama di jaman dulu.. ataukah sekarang.. nyaris ngga bisa lihat burung lagi??
Aku jadi teringat pengalaman pertamaku ikut bird watching di pulau rambut yang dijadikan suaka alam buat para burung-burung bersama teman-teman dari JGM. Hamparan hutan dengan berbagai jenis burung yang hinggap dan bersarang di sana membuatku merasa.. gila.. inilah surganya para burung... tapi jg di sana ngga terlalu banyak burung yang bisa aku harapkan untuk kulihat.. mungkin (sekali lagi) karna habitat tempat mereka tinggal sudah mulai punah.. tergusur oleh populasi manusia dan segala kebutuhan egoisnya..
Yaah.. semoga.. dari segelintir kita yang masih peduli dengan alam.. bisa sedikit-sedikit membantu menyelamatkan mereka dari kepunahan.. jangan sampai kelak anak cucu kita ngga lagi bisa mengenal berbagai jenis binatang dan burung-burung karena telah punah... dan mereka kelak cuma disuguhi gambar-gambar di buku ensiklopedi atau dari internet.. jangan sampai deh...
Thanks God…Im coming home…
Hari ini ku terbangun dengan sensasi yang masih ada
Aku pulang...
Aku kembali lagi merasakan nyamannya tempat tidurku
Kembali lagi merasakan hangatnya tidur di balik selimut
Tapi sepertinya rasa itu tidak pernah hilang
Ini memang bukan pengalaman pertama
Tapi ini tetap menjadi pengalaman baru
Melakukan perjalanan panjang naik gunung yang sama
Tapi dengan teman-teman yang nyaris baru semuanya
Aku jadi semakin bisa merasakan
Mana teman terbaik dan mana yang bukan
Jarang ada yang berani keluar dari kenyamanan
Dan merasakan sensasi yang menjalar di setiap langkah kita mendaki
Dan menapak turun
Banyak yang bertanya-tanya padaku
Apa sih yang bikin lo mau naik gunung??
Berjalan jauh dengan medan yang nggak gampang
(sampai sekarang masi berharap ada lift di sana)
haha...
kaki sakit.. bahu sakit.. pinggang sakit..
dan sekarang jg baru aku ngerasain pantat sakit
ngga tau dah berapa kali aku terjatuh
dan selalu ingin terus bangun lagi
ngga terhitung berapa kali aku terantuk sana sini
atau napas yang dah tinggal senen-kamis
atau juga kaki yang kaku ngga bisa digerakkan dengan lincah
atau kepala pusing hebat dan mulai ngga bisa mikir
kaki lecet-lecet dan memar sana sini
kuku patah-patah...
menggigil kedinginan, kelaparan, menahan sakit perut...
apa yang bagus dari itu semua???
Dan hingga sampai sekarang badan rasanya ”nikmat”
Pegal semuaa..
Apa yang aku cari??
Banyak...
Aku mencari tantangan hidup
Aku mencari sahabat sejati diantara sahabat-sahabat yang ada
Aku mencari sahabat sejati di dalam diriku sendiri..
(layakkah aku disebut seorang sahabat??)
Aku mencari ciptaan Tuhan yang indah
Yang tersembunyi dan butuh pengorbanan besar untuk melihatnya
Dan yang terutama...
Aku mencari Tuhan di sana
Entah kenapa, saat kita merasa terlalu lelah dan capai
Saat kita merasa di titik ambang batas kekuatan kita
Aku merasa lebih dekat denganNYA
Aku.. ngga tau apa yg lebih aku cari
Mungkin perjalanan kali ini aku mencari jawabanNYA
Atas segala pertanyaan-pertanyaan yg telah kuutarakan di bawah sini
Mungkin saat di atas sana aku bisa lebih mendengar suaraNYA
Duduk di lembah surya kencana
Dikelilingi padang bunga edelweis yang nyaris mekar
Sambil ditiupi angin semilir yang dingin
Hening..
Tuhan aku datang...
Di sini..
Dengarlah segala doaku..
Terima kasih Tuhan..
Aku sudah pulang..
Dan kan kutunggu jawabMU
Aku pulang...
Aku kembali lagi merasakan nyamannya tempat tidurku
Kembali lagi merasakan hangatnya tidur di balik selimut
Tapi sepertinya rasa itu tidak pernah hilang
Ini memang bukan pengalaman pertama
Tapi ini tetap menjadi pengalaman baru
Melakukan perjalanan panjang naik gunung yang sama
Tapi dengan teman-teman yang nyaris baru semuanya
Aku jadi semakin bisa merasakan
Mana teman terbaik dan mana yang bukan
Jarang ada yang berani keluar dari kenyamanan
Dan merasakan sensasi yang menjalar di setiap langkah kita mendaki
Dan menapak turun
Banyak yang bertanya-tanya padaku
Apa sih yang bikin lo mau naik gunung??
Berjalan jauh dengan medan yang nggak gampang
(sampai sekarang masi berharap ada lift di sana)
haha...
kaki sakit.. bahu sakit.. pinggang sakit..
dan sekarang jg baru aku ngerasain pantat sakit
ngga tau dah berapa kali aku terjatuh
dan selalu ingin terus bangun lagi
ngga terhitung berapa kali aku terantuk sana sini
atau napas yang dah tinggal senen-kamis
atau juga kaki yang kaku ngga bisa digerakkan dengan lincah
atau kepala pusing hebat dan mulai ngga bisa mikir
kaki lecet-lecet dan memar sana sini
kuku patah-patah...
menggigil kedinginan, kelaparan, menahan sakit perut...
apa yang bagus dari itu semua???
Dan hingga sampai sekarang badan rasanya ”nikmat”
Pegal semuaa..
Apa yang aku cari??
Banyak...
Aku mencari tantangan hidup
Aku mencari sahabat sejati diantara sahabat-sahabat yang ada
Aku mencari sahabat sejati di dalam diriku sendiri..
(layakkah aku disebut seorang sahabat??)
Aku mencari ciptaan Tuhan yang indah
Yang tersembunyi dan butuh pengorbanan besar untuk melihatnya
Dan yang terutama...
Aku mencari Tuhan di sana
Entah kenapa, saat kita merasa terlalu lelah dan capai
Saat kita merasa di titik ambang batas kekuatan kita
Aku merasa lebih dekat denganNYA
Aku.. ngga tau apa yg lebih aku cari
Mungkin perjalanan kali ini aku mencari jawabanNYA
Atas segala pertanyaan-pertanyaan yg telah kuutarakan di bawah sini
Mungkin saat di atas sana aku bisa lebih mendengar suaraNYA
Duduk di lembah surya kencana
Dikelilingi padang bunga edelweis yang nyaris mekar
Sambil ditiupi angin semilir yang dingin
Hening..
Tuhan aku datang...
Di sini..
Dengarlah segala doaku..
Terima kasih Tuhan..
Aku sudah pulang..
Dan kan kutunggu jawabMU
Sesaat sebelum mendaki
Limajuniduaribusembilan
akhirnya semua akan tiba kembali pada masa ini
kepada saat-saat aku kembali menikmati pangkuan lembahnya
merasakan kembali desir anginnya berbisik
menelusup dalam setiap jengkal tubuhku
panggilannya adalah panggilan alam
walau kini sudah bukan yang pertama
tetapi bisikannya tetap tak akan pernah sama
selalu menggetarkan sukmaku
senja ini ketika akhirnya aku beranjak dari dunia
tak sabar menantikan hangat pelukan hutannya
di dalam setiap jengkal langkah yang kelak kubuat
dan hembusan napas yang kubuang
aku kembali dalam sejuta mimpi
dan hasrat untuk mengadu di pangkuannya
menemukan dirimu dalam hening di lembah surya kencana
tempat aku mengukir kenangan
dan tempat aku merajut harapan
dan taman edelweiss itu lah yang kelak menjadi saksi
bahwa aku pernah ada di sana
dan kelak akan selalu menjumpainya di sana
merasakan debaran yang tak pernah menghilang
hasrat untuk selalu menjawab setiap panggilannya
tunggu aku
aku kan datang kembali...
akhirnya semua akan tiba kembali pada masa ini
kepada saat-saat aku kembali menikmati pangkuan lembahnya
merasakan kembali desir anginnya berbisik
menelusup dalam setiap jengkal tubuhku
panggilannya adalah panggilan alam
walau kini sudah bukan yang pertama
tetapi bisikannya tetap tak akan pernah sama
selalu menggetarkan sukmaku
senja ini ketika akhirnya aku beranjak dari dunia
tak sabar menantikan hangat pelukan hutannya
di dalam setiap jengkal langkah yang kelak kubuat
dan hembusan napas yang kubuang
aku kembali dalam sejuta mimpi
dan hasrat untuk mengadu di pangkuannya
menemukan dirimu dalam hening di lembah surya kencana
tempat aku mengukir kenangan
dan tempat aku merajut harapan
dan taman edelweiss itu lah yang kelak menjadi saksi
bahwa aku pernah ada di sana
dan kelak akan selalu menjumpainya di sana
merasakan debaran yang tak pernah menghilang
hasrat untuk selalu menjawab setiap panggilannya
tunggu aku
aku kan datang kembali...
Tigabelasmeiduaribusembilan
Langit mendung menggayut
Resah dan gundah menghias mimpiku
Tatkala ku tau
Masa ini ternyata harus datang juga
Berharap ini semua hanyalah bunga tidur saja
Dan kelak, saat ku terbangun
Semuanya nampak baik-baik saja
Tapi ini semua nyata
Tuhan sedang mengasah hatiku kembali
Ku harus merasakan ini semua
Pahit...
Kita...
Aku dan kau..
Terkadang ku merasa begitu pedih
Menyesakkan hatiku
Rasanya menghimpit erat dadaku
Tapi kala kuingat pada Nya
Ku tahu Dia selalu menuntun kita
Dan tak sekalipun meninggalkan kita berdua
Tak akan hilang rasa itu
Tak akan ada yang bisa menggantikannya
Untuk saat ini, hingga ku tak tau kapan
Belahan jiwaku
Separuh hidupku...
Aku tak tau
Apakah itu engkau atau bukan
Yang ku tahu
Kan selalu kupertahankan rasa ini
Ku harus sadari
JalanNya terkadang tak kumengerti
Tapi pastilah baik adanya
Dia lebih mengerti diriku
Lebih daripada aku sendiri
Ia hanya butuh ku percaya
Bahwa Ia sedang berkarya dalam hidupku
Merajutkan rencanaNya dalam hidup kita
Kini..
Setelah semuanya berakhir
Ku tetap bersujud dihadapNya
memohon diturunkan mukjizatNya
karna ku percaya
kelak masa itu kan datang
saat kita kan dapat bersama kembali
ku tetap kan menunggu jawabNya
kan tetap ku cari jalanNya
yang kutau kan terbaik untuk kita
dan...
sebelum semuanya tiba
kau tetaplah lelaki terindah dalam hidupku...
Dan akan selalu begitu...
Resah dan gundah menghias mimpiku
Tatkala ku tau
Masa ini ternyata harus datang juga
Berharap ini semua hanyalah bunga tidur saja
Dan kelak, saat ku terbangun
Semuanya nampak baik-baik saja
Tapi ini semua nyata
Tuhan sedang mengasah hatiku kembali
Ku harus merasakan ini semua
Pahit...
Kita...
Aku dan kau..
Terkadang ku merasa begitu pedih
Menyesakkan hatiku
Rasanya menghimpit erat dadaku
Tapi kala kuingat pada Nya
Ku tahu Dia selalu menuntun kita
Dan tak sekalipun meninggalkan kita berdua
Tak akan hilang rasa itu
Tak akan ada yang bisa menggantikannya
Untuk saat ini, hingga ku tak tau kapan
Belahan jiwaku
Separuh hidupku...
Aku tak tau
Apakah itu engkau atau bukan
Yang ku tahu
Kan selalu kupertahankan rasa ini
Ku harus sadari
JalanNya terkadang tak kumengerti
Tapi pastilah baik adanya
Dia lebih mengerti diriku
Lebih daripada aku sendiri
Ia hanya butuh ku percaya
Bahwa Ia sedang berkarya dalam hidupku
Merajutkan rencanaNya dalam hidup kita
Kini..
Setelah semuanya berakhir
Ku tetap bersujud dihadapNya
memohon diturunkan mukjizatNya
karna ku percaya
kelak masa itu kan datang
saat kita kan dapat bersama kembali
ku tetap kan menunggu jawabNya
kan tetap ku cari jalanNya
yang kutau kan terbaik untuk kita
dan...
sebelum semuanya tiba
kau tetaplah lelaki terindah dalam hidupku...
Dan akan selalu begitu...
May I Cry on Your Shoulder???
Tuhan…
Kau tahu isi hatiku.. dan Kau pun tahu kesusahanku saat ini
Aku merasa tak punya daya apa-apa...
Begitu lemahnya hingga sepertinya kehilangan tenaga
Begitu resahnya sehingga seperti kehilangan asa
Tuhan...
Kau tahu apa yang mengganjal di hatiku
Dan Kau pun tahu.. malam-malamku tlah kuhabiskan dengan bersimpuh di hadapanMu
Bersujud memohon Kau angkat semua bebanku ini
Aku sendiri ya Tuhan...
Dan aku tau... aku tak akan kuat tanpaMu dan para malaikatMu
Aku butuh tempat untuk bersandar dan mengadu
Karna ku tahu, hanya Kaulah tempat ku menyandarkan kepalaku,
Menangis dan menumpahkan segala isi hatiku...
Tuhan...
Bolehkah sekali lagi.. malam ini.. aku menangis lagi di bahuMu
Agar ku dapat merasa tenang
Walaupun aku tahu, Kau tak suka aku menjadi cengeng dan lemah
Dan walau ku tahu Kau ingin menjadikanku wanita yang kuat dan hebat
Tapi ijinkanlah aku malam ini kembali
Menyerah dalam segala pertahananku
Dan kembali menangis di bahuMu, ya Tuhan...
Tuhan..
Ke dalam tanganMu kuserahkan segala hidupku
Segala bebanku..
Segala permohonanku..
Ku percaya, Kau memberikanku segala yang terbaik...
Kau tahu isi hatiku.. dan Kau pun tahu kesusahanku saat ini
Aku merasa tak punya daya apa-apa...
Begitu lemahnya hingga sepertinya kehilangan tenaga
Begitu resahnya sehingga seperti kehilangan asa
Tuhan...
Kau tahu apa yang mengganjal di hatiku
Dan Kau pun tahu.. malam-malamku tlah kuhabiskan dengan bersimpuh di hadapanMu
Bersujud memohon Kau angkat semua bebanku ini
Aku sendiri ya Tuhan...
Dan aku tau... aku tak akan kuat tanpaMu dan para malaikatMu
Aku butuh tempat untuk bersandar dan mengadu
Karna ku tahu, hanya Kaulah tempat ku menyandarkan kepalaku,
Menangis dan menumpahkan segala isi hatiku...
Tuhan...
Bolehkah sekali lagi.. malam ini.. aku menangis lagi di bahuMu
Agar ku dapat merasa tenang
Walaupun aku tahu, Kau tak suka aku menjadi cengeng dan lemah
Dan walau ku tahu Kau ingin menjadikanku wanita yang kuat dan hebat
Tapi ijinkanlah aku malam ini kembali
Menyerah dalam segala pertahananku
Dan kembali menangis di bahuMu, ya Tuhan...
Tuhan..
Ke dalam tanganMu kuserahkan segala hidupku
Segala bebanku..
Segala permohonanku..
Ku percaya, Kau memberikanku segala yang terbaik...
Sabtu, 24 Oktober 2009
Just “Bee” Myself
Kalau dalam bahasa Indonesianya menjadi diriku sendiri… tp sengaja kupelesetkan menjadi “bee” yang artinya “lebah”…
Lebah itu adalah binatang yang rajin bekerja, bergotongroyong dan mampu membuat keajaiban. Dia tidak akan menyerang kalau tidak diusik karena sekali dia menyengat, maka ia akan mati..
Tp dia akan menyengat jika dunia nya diganggu.
Mungkin itu yang aku rasakan beberapa hari ini. Banyak orang yang bilang kalau aku termasuk tipe orang yang easy going. Tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang ada di sekitar ku. Tak terlalu pusing jg dengan hal-hal remeh. Tapi ngga tau kenapa belakangan ini rasanya ketenanganku terusik. Jadi gampang naik darah dan bersikap ketus ke orang lain. Lebih mudah menancapkan sengatku ke orang lain. Kadang kalau emang udah kebangetan ya akhirnya diam...
Sminggu terakhir ini aku memutuskan sesuatu yang nampaknya besar dalam hidupku. Menutup buku kehidupanku yang lama, dan memulai lembaran yang baru. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi biarlah itu hanya menjadi kenangan saja dan pembelajaran.. sekarang yang ada dihadapan ku adalah masa depan. Dan itulah yang harus aku perjuangkan sekarang. Masa depanku. Hidup berdasarkan pilihanku sendiri. Hidup sebagai diriku sendiri, bukan berdasarkan citra diri dari orang lain. Karena aku hidup berdasarkan citra Bapaku.. bukan citra manusia...
Banyak teman yang bilang aku menjadi lebih ceria saat ini. Lebih terlihat bebas dan menjalani hidup dengan ringan. Mungkin karena aku sudah banyak belajar buat menjadi manusia yang sumeleh, nrimo ing pangdum... Tuhan yang Maha Besar di atas sana telah menyulam kehidupanku dengan begitu indahnya. Dan aku yang dibawah sini hanya melihat benang ruwetnya saja. Yang kuperlukan hanyalah percaya, bahwa Tuhan sedang membentuk diriku dengan keadaan yang ada pada diriku saat ini. Bersyukur atas segala sesuatu, tapi juga bukan berarti akhirnya nrimo aja dan ngga berusaha memperjuangkan hidupku sendiri. Tidak. Baru kali ini aku merasakan benar-benar menjalani hidupku sendiri. Belajar memperkaya diri dan belajar untuk menjadi lebih bijak menjalani hidup.
This is my own life and my life is always beautiful.... apapun itu dan bagaimanapun keadaannya. Beberapa hari lalu aku sempat berbicara panjang lebar dengan seorang teman. Bertukar cerita tentang perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan aku, pengalaman hidupku belum ada apa-apanya. Tapi entah kenapa, saat itu, saat dia lagi down dan aku hanya berusaha membuat dia kembali mewarnai hidupnya dengan warna-warna yang ceria, tidak lagi hanya abu-abu dan ungu, dan kemudian dia berkata, untuk saat ini kau adalah malaikatku..
Aku jadi merasa tersentuh. Sekitar setahun lalu aku menemukan istilah invisible angel. Aku menemukan kehadiran malaikat dalam diri salah seorang sahabatku di kala aku sedang kesusahan. Dan mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan hatinya dengan menjadi malaikat bagi orang lain lagi. "Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."
Ya… sahabatku memang benar-benar membantuku bangkit saat sayapku lupa bagaimana caranya untuk terbang. Dan aku percaya, suatu saat nanti, aku akan terbang benar-benar mengepakkan sayapku setinggi-tingginya…
Saat memutuskan untuk menjadi diriku sendiri, menyengat duniaku sendiri dengan sesuatu yang tidak biasa dan sesuatu yang lebih berguna buat orang lain di sekitarku, ada yang nyeletuk soal gaya rambutku. Dah bertahun-tahun lebih sejak kuliah, aku selalu memelihara rambutku gondrong. Dan dia nyeletuk bilang gimana tampangku kalau rambutku pendek macam indi barends… hehehe.. jadi tiba-tiba inget dengan salah satu niatku yang telah lama terkubur. Udah luama banget aku jadi menutup keinginanku yang satu itu.. punya rambut cepak. Alasannya.. you know why lah.. yang dulu lebih suka dengan cewek yang feminin, sedangkan aku, udah dibedakin dan didandanin kayak apaan juga, tomboynya juga masi gabisa ilang.
Aku jadi kepikiran terus buat potong pendek rambutku. Tp ingat dua minggu berturut-turut temanku nikahan. Dan nggak mungkin juga dong kebayaan tapi rambutku bondol. Maka, menahan-nahan nafsu yang satu itu, hingga jumat malam kemarin aku beneran nekat membabat habis rambutku. Mbak yang motong sampai berulang kali meyakinkan tekadku kalau aku bener-bener nggak bercanda. Sambil tertawa aku meyakinkan dia.
Lagi buang sial, Mbak? Pacarnya apa nggak marah, Mbak? Mamanya di rumah apa nggak marah, Mbak? Apa ada yg nyuruh potong pendek ya??
Dan siyalnya, si mbak yang motong rambutku seolah bisa membaca pikiranku semuanya. Tebakannya semua betul, walau aku ngga mau mengakuinya.. hahaha..
Tidak.. aku nggak lagi benar-benar membuang sial... aku hanya lagi benar-benar ingin menutup buku kehidupanku yang lama. Dan mulai membuka lembaran baru dalam kehidupanku. Dimulai dari melakukan sesuatu yang begitu aku inginkan sejak dulu, yang sudah terpendam dan kini muncul lagi ke permukaan. Potong rambut cepak...
Tidak.. pacarku juga nggak akan marah. Pacarku sekarang hanyalah eosku tercinta yang sekarang juga lagi sakit-sakitan. Dia ngga terlalu peduli dengan model rambutku kok. Hehehe..
Tidak.. mamaku juga nggak akan marah. Dari dulu juga dia lebih senang rambutku cepak. Rambutnya dia jg pendek terus. Papaku? Sama juga.
Jadi.. ngga ada alasan untuk tidak menahan tekadku itu.
Helai demi helai rambutku dipangkas habis dengan cepat dan lihai oleh si mbak. Aku memandangi rambut-rambut yang berjatuhan itu dengan hati semakin ringan. Setiap helai seolah membawa sehelai beban hidupku yang lalu. Dan semakin pendek, semakin ringan hati dan pundakku. Seolah beban hidupku sudah kuletakan di sudut sana. Sudah selesai.
Aku menjadi vivi-jungle-emping-jengkelit-jollyta-silvia-dan entah apapun nama panggilanku-yang baru. Yang lebih hidup. Yang lebih ceria. Yang lebih memandang positif hidup ini. Hidupku indah. Hidupku berwarna. Hanya jika aku dapat bersyukur dan dapat mengisinya dengan warna-warna yang indah...
Lebah itu adalah binatang yang rajin bekerja, bergotongroyong dan mampu membuat keajaiban. Dia tidak akan menyerang kalau tidak diusik karena sekali dia menyengat, maka ia akan mati..
Tp dia akan menyengat jika dunia nya diganggu.
Mungkin itu yang aku rasakan beberapa hari ini. Banyak orang yang bilang kalau aku termasuk tipe orang yang easy going. Tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang ada di sekitar ku. Tak terlalu pusing jg dengan hal-hal remeh. Tapi ngga tau kenapa belakangan ini rasanya ketenanganku terusik. Jadi gampang naik darah dan bersikap ketus ke orang lain. Lebih mudah menancapkan sengatku ke orang lain. Kadang kalau emang udah kebangetan ya akhirnya diam...
Sminggu terakhir ini aku memutuskan sesuatu yang nampaknya besar dalam hidupku. Menutup buku kehidupanku yang lama, dan memulai lembaran yang baru. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi biarlah itu hanya menjadi kenangan saja dan pembelajaran.. sekarang yang ada dihadapan ku adalah masa depan. Dan itulah yang harus aku perjuangkan sekarang. Masa depanku. Hidup berdasarkan pilihanku sendiri. Hidup sebagai diriku sendiri, bukan berdasarkan citra diri dari orang lain. Karena aku hidup berdasarkan citra Bapaku.. bukan citra manusia...
Banyak teman yang bilang aku menjadi lebih ceria saat ini. Lebih terlihat bebas dan menjalani hidup dengan ringan. Mungkin karena aku sudah banyak belajar buat menjadi manusia yang sumeleh, nrimo ing pangdum... Tuhan yang Maha Besar di atas sana telah menyulam kehidupanku dengan begitu indahnya. Dan aku yang dibawah sini hanya melihat benang ruwetnya saja. Yang kuperlukan hanyalah percaya, bahwa Tuhan sedang membentuk diriku dengan keadaan yang ada pada diriku saat ini. Bersyukur atas segala sesuatu, tapi juga bukan berarti akhirnya nrimo aja dan ngga berusaha memperjuangkan hidupku sendiri. Tidak. Baru kali ini aku merasakan benar-benar menjalani hidupku sendiri. Belajar memperkaya diri dan belajar untuk menjadi lebih bijak menjalani hidup.
This is my own life and my life is always beautiful.... apapun itu dan bagaimanapun keadaannya. Beberapa hari lalu aku sempat berbicara panjang lebar dengan seorang teman. Bertukar cerita tentang perjalanan hidup. Jika dibandingkan dengan aku, pengalaman hidupku belum ada apa-apanya. Tapi entah kenapa, saat itu, saat dia lagi down dan aku hanya berusaha membuat dia kembali mewarnai hidupnya dengan warna-warna yang ceria, tidak lagi hanya abu-abu dan ungu, dan kemudian dia berkata, untuk saat ini kau adalah malaikatku..
Aku jadi merasa tersentuh. Sekitar setahun lalu aku menemukan istilah invisible angel. Aku menemukan kehadiran malaikat dalam diri salah seorang sahabatku di kala aku sedang kesusahan. Dan mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan hatinya dengan menjadi malaikat bagi orang lain lagi. "Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."
Ya… sahabatku memang benar-benar membantuku bangkit saat sayapku lupa bagaimana caranya untuk terbang. Dan aku percaya, suatu saat nanti, aku akan terbang benar-benar mengepakkan sayapku setinggi-tingginya…
Saat memutuskan untuk menjadi diriku sendiri, menyengat duniaku sendiri dengan sesuatu yang tidak biasa dan sesuatu yang lebih berguna buat orang lain di sekitarku, ada yang nyeletuk soal gaya rambutku. Dah bertahun-tahun lebih sejak kuliah, aku selalu memelihara rambutku gondrong. Dan dia nyeletuk bilang gimana tampangku kalau rambutku pendek macam indi barends… hehehe.. jadi tiba-tiba inget dengan salah satu niatku yang telah lama terkubur. Udah luama banget aku jadi menutup keinginanku yang satu itu.. punya rambut cepak. Alasannya.. you know why lah.. yang dulu lebih suka dengan cewek yang feminin, sedangkan aku, udah dibedakin dan didandanin kayak apaan juga, tomboynya juga masi gabisa ilang.
Aku jadi kepikiran terus buat potong pendek rambutku. Tp ingat dua minggu berturut-turut temanku nikahan. Dan nggak mungkin juga dong kebayaan tapi rambutku bondol. Maka, menahan-nahan nafsu yang satu itu, hingga jumat malam kemarin aku beneran nekat membabat habis rambutku. Mbak yang motong sampai berulang kali meyakinkan tekadku kalau aku bener-bener nggak bercanda. Sambil tertawa aku meyakinkan dia.
Lagi buang sial, Mbak? Pacarnya apa nggak marah, Mbak? Mamanya di rumah apa nggak marah, Mbak? Apa ada yg nyuruh potong pendek ya??
Dan siyalnya, si mbak yang motong rambutku seolah bisa membaca pikiranku semuanya. Tebakannya semua betul, walau aku ngga mau mengakuinya.. hahaha..
Tidak.. aku nggak lagi benar-benar membuang sial... aku hanya lagi benar-benar ingin menutup buku kehidupanku yang lama. Dan mulai membuka lembaran baru dalam kehidupanku. Dimulai dari melakukan sesuatu yang begitu aku inginkan sejak dulu, yang sudah terpendam dan kini muncul lagi ke permukaan. Potong rambut cepak...
Tidak.. pacarku juga nggak akan marah. Pacarku sekarang hanyalah eosku tercinta yang sekarang juga lagi sakit-sakitan. Dia ngga terlalu peduli dengan model rambutku kok. Hehehe..
Tidak.. mamaku juga nggak akan marah. Dari dulu juga dia lebih senang rambutku cepak. Rambutnya dia jg pendek terus. Papaku? Sama juga.
Jadi.. ngga ada alasan untuk tidak menahan tekadku itu.
Helai demi helai rambutku dipangkas habis dengan cepat dan lihai oleh si mbak. Aku memandangi rambut-rambut yang berjatuhan itu dengan hati semakin ringan. Setiap helai seolah membawa sehelai beban hidupku yang lalu. Dan semakin pendek, semakin ringan hati dan pundakku. Seolah beban hidupku sudah kuletakan di sudut sana. Sudah selesai.
Aku menjadi vivi-jungle-emping-jengkelit-jollyta-silvia-dan entah apapun nama panggilanku-yang baru. Yang lebih hidup. Yang lebih ceria. Yang lebih memandang positif hidup ini. Hidupku indah. Hidupku berwarna. Hanya jika aku dapat bersyukur dan dapat mengisinya dengan warna-warna yang indah...
Langganan:
Postingan (Atom)