Angin…
Sampaikan pesanku pada burung pipit
Di puncak bukit nun di sana
Maafkan aku…
Ku tak bisa selamanya tinggal di puncak menjaganya
Aku hanyalah seekor kupu-kupu kecil
yang berbahagia dalam lembah yang indah
Di lembah ini ada setangkai bunga yang harus ku jaga
Yang telah kunanti sejak bibit
Hingga kini ia tlah berbunga indah
Dan tak sanggup ku melukainya setitikpun
Apalagi melihatnya layu
Aku telah memilikinya
Dan aku akan menjaga keabadian indahnya
Kan ku setia disini menjaga harumnya
Aku percaya kau kan dapat terbang sendiri
Melanglang duniamu yang tak kecil
Aku percaya kan
kau dapatkan pasangan jiwamu
Yang kan menemanimu sepanjang waktu
Maafkan aku yang tlah menjadi sahabatmu yang lemah
Kau adalah burung bebas yang tak memerlukan sandaran
Engkau adalah sang pipit yang kan hidup
Diantara badai dan kersangnya dunia
Angin…
Sampaikan perasaanku pada sang pipit
Aku hanyalah kupu-kupu kecil yang merindu lagu
Kicauanmu kan selalu menemani duniaku
Dalam sejuknya aroma pegunungan
Kan ku jaga kebahagiaanmu dari sudut sini
Agar nyanyianmu kan selalu tergaung
Memadahkan kemuliaan Sang Pencipta
Kelak kau pun boleh hidup bersama pasangan jiwamu
Di taman kecilku…
Angin…
Sampaikan terimakasihku padanya
Atas alunan melodi indah yang selalu dia nyanyikan
Atas kicauannya yang mewarnai dunia
Akan kekuatannya menjadi seekor pipit yang tegar
Dan aku hanya seekor kupu-kupu kecil yang tinggal di taman
Sedangkan kau seekor burung pipit yang bebas
Yang takkan membiarkan dirimu ditangkap pemburu
Dan dikurung dalam sangkar emas
Melainkan kau biarkan dirimu terbang
Melintasi pegunungan abadi
Angin…
Biarkanlah
Persahabatan kita menjadi misteri
Persaudaraan antara kita lebih kental daripada darah
Dan tak ada yang lebih kekal daripada persahabatan sejati
May 24, 2008
Kamis, 30 Juli 2009
Selasa, 28 Juli 2009
Dalam keteduhan rindangnya pepohonan
Dan sejuknya udara yang menghembus wajahku lembut
Ku menatap dirinya dalam-dalam
Dalam keindahan dan keagungannya, dia berdiri dalam diam
Menunggu dan tetap menungguku
Dengan cintanya ia mengirimkan kesejukan itu kepadaku
Sungguh kerinduan itu menelusup ke dalam hatiku
Dan jauh di dalam hatiku
Sebutir Kristal bening mengalir di sela-selanya
Sungguh tak kuasa ku menahan kesedihanku
Ingin rasanya ku berlari ke dalam pelukannya
Dan membisikkan segala kata cintaku yang telah lama kupendam
Tapi langkahku tertahan
Dan sengalan napasku menghalangi langkahku
Ku hanya dapat melihatnya dari kejauhan
Dan mengaguminya dalam hatiku
Dalam hati kubisikkan puisi cintaku padanya
Berharap angin sudi menyampaikan kepadanya
Mendung menghiasi hatiku dan langit di atasku pun seolah mengerti
Dinginnya udara pun seraya turut menjeritkan kepedihanku
Aku ingin menggapai cinta itu namun ku tak sanggup
Belum… belum saatnya..
Dan entah kapan saat itu tiba…
Dan ku hanya dapat memandanginya dari kejauhan saja
Menitipkan salamku padanya lewat angin
Maaf…
Maafkan aku yang tak berdaya menerima cintamu
Dan dari kejauhan ku dengar kau bisikkan kata cintamu
Dengan setia berjanji menanti ku datang padamu
Entah kapan ku bisa memelukmu
Ataukah aku hanya dapat memandangimu dan cintamu saja
Tanpa pernah mencicip hangatnya cintamu
Dan tak sadar jiwaku menjerit akan ke tidak dayaanku ini
Sungguh tak kuasa ku menahan piluku
Sabarlah, sayangku
Ku berharap aku akan dapat datang ke dalam pelukanmu
Suatu saat nanti
Dan kelak,
kan ku gapai cintamu dan ku simpan ke dalam lubuk hati terdalamku…
20 Mei 2008
saat pertama kali gagal naik pangrango.. hanya bisa lihat dari jauh dan membuat puisi ini untuknya.. aku mulai mencintai pangrango hanya dari puisinya GIE
Dan sejuknya udara yang menghembus wajahku lembut
Ku menatap dirinya dalam-dalam
Dalam keindahan dan keagungannya, dia berdiri dalam diam
Menunggu dan tetap menungguku
Dengan cintanya ia mengirimkan kesejukan itu kepadaku
Sungguh kerinduan itu menelusup ke dalam hatiku
Dan jauh di dalam hatiku
Sebutir Kristal bening mengalir di sela-selanya
Sungguh tak kuasa ku menahan kesedihanku
Ingin rasanya ku berlari ke dalam pelukannya
Dan membisikkan segala kata cintaku yang telah lama kupendam
Tapi langkahku tertahan
Dan sengalan napasku menghalangi langkahku
Ku hanya dapat melihatnya dari kejauhan
Dan mengaguminya dalam hatiku
Dalam hati kubisikkan puisi cintaku padanya
Berharap angin sudi menyampaikan kepadanya
Mendung menghiasi hatiku dan langit di atasku pun seolah mengerti
Dinginnya udara pun seraya turut menjeritkan kepedihanku
Aku ingin menggapai cinta itu namun ku tak sanggup
Belum… belum saatnya..
Dan entah kapan saat itu tiba…
Dan ku hanya dapat memandanginya dari kejauhan saja
Menitipkan salamku padanya lewat angin
Maaf…
Maafkan aku yang tak berdaya menerima cintamu
Dan dari kejauhan ku dengar kau bisikkan kata cintamu
Dengan setia berjanji menanti ku datang padamu
Entah kapan ku bisa memelukmu
Ataukah aku hanya dapat memandangimu dan cintamu saja
Tanpa pernah mencicip hangatnya cintamu
Dan tak sadar jiwaku menjerit akan ke tidak dayaanku ini
Sungguh tak kuasa ku menahan piluku
Sabarlah, sayangku
Ku berharap aku akan dapat datang ke dalam pelukanmu
Suatu saat nanti
Dan kelak,
kan ku gapai cintamu dan ku simpan ke dalam lubuk hati terdalamku…
20 Mei 2008
saat pertama kali gagal naik pangrango.. hanya bisa lihat dari jauh dan membuat puisi ini untuknya.. aku mulai mencintai pangrango hanya dari puisinya GIE
membutuhkan hening....
Kadang jika kita merasa sangat kesepian di dunia ini,
Tuhan mengirimkan seorang kembaran – cerminan diri –
untuk meredam dan meredakan perasaan berbeda dan keterasingan kita…taken from small miracles by Yitta Halberstam and Judith Leventhal
Kadang memang sungguh aku mendambakan hening di tengah keramaian
Tatkala aku merasakan kesepian
Merindukan kehadiran seseorang yang tak kunjung datang
Atau hanyalah sebuah alasan ketidaknyamanan atas ketiadaan ikatan batin yang menyengsarakan…
Aku lelah..
aku sungguh lelah…
Dan aku mendambakan dirinya..
Hening…
Dan aku merasakan rasa itu masih ada
Getaran itu masih ada
Tapi tak sanggup aku menggenggamnya…
Sering aku muak dengan keterasingan ini
Tak jarang aku ingin berteriak dari kelelahan ini
Dan aku benci karena aku tetap membutuhkan dirinya…
Hening..
kembaranku…
March 14, 2008
Tuhan mengirimkan seorang kembaran – cerminan diri –
untuk meredam dan meredakan perasaan berbeda dan keterasingan kita…taken from small miracles by Yitta Halberstam and Judith Leventhal
Kadang memang sungguh aku mendambakan hening di tengah keramaian
Tatkala aku merasakan kesepian
Merindukan kehadiran seseorang yang tak kunjung datang
Atau hanyalah sebuah alasan ketidaknyamanan atas ketiadaan ikatan batin yang menyengsarakan…
Aku lelah..
aku sungguh lelah…
Dan aku mendambakan dirinya..
Hening…
Dan aku merasakan rasa itu masih ada
Getaran itu masih ada
Tapi tak sanggup aku menggenggamnya…
Sering aku muak dengan keterasingan ini
Tak jarang aku ingin berteriak dari kelelahan ini
Dan aku benci karena aku tetap membutuhkan dirinya…
Hening..
kembaranku…
March 14, 2008
Suatu Hari di Muara Angke
Entah hari apa itu di minggu lalu waktu manusia yang cupu nan lemsky itu menghubungi gue. katanya Pak Sobirin menghubungi dia.. (ga jelas juga siapa yang menghubungi siapa duluan...) yang jelas dari pembicaraan ngga penting dengan lemsky, diputuskan, Sabtu untuk mengunjungi rumahnya, sekalian berlebaranan dan membawakan sesuatu bingkisan ala kadarnya mengingat kita selalu disambut baik disana...
Sempet mengajak seseorang juga, yang ngga kalah lemskynya juga yang sebenernya antusias gue ajak bahkan sampe mo baksos juga dengan menyumbangkan
baju2nya yang super mini itu yang menumpuk di lemari ngga terpakai...
tapi apa mau dikata... bajunya itu kan hanya cukup dipakai liliput, sedangkan penghuni desa nelayan sana semuanya manusia normal... mana ada yang cukup dengan baju2nya... akhirnya dia setuju untuk menahan hasratnya menyumbang baju2nya itu sampe saat baksos natal tiba....
toh akhirnya manusia liliput yang makannya banyak dan agak lemah otaknya itu ngga jadi ikut karena menunaikan hasratnya yang begitu menggebu itu... (tunggu aja catper darinya langsung...)
Beberapa orang gue hubungi, gue ajak ke sana, sekalian memeriahkan suasana.
Dan akhirnya hanya ber 5 aja yang menampakkan wajahnya...
(sempet tadinya gue pikir cuman ber4, tanpa nitha, kerna dia konfirm sms ke gue ternyata ngga sampe dan tau2 dia nongol, untung ngga keburu ditinggal;p)
Ada hal yang agak lucu kemarin...
pas nunggu di babe gado2 di depan Trisakti berduaan sama Muksie, tau2 dari arah terminal sana ada rombongan orang ber4 dateng menghampiri kita... salah satunya gue kenal sebagai peci yang kalo di jakarta dipanggil kopyah;p dalam hati gue dan muksie berkata..”wuiddih... ternyata si kopyah bawa banyak anak baru.. ada cewenya juga... lumayan nih.. jadi rame....” mereka ber4 menghampiri kita, tapi yang mandek di kita cuman kopyah sama seorang baru yang memperkenalkan dirinya sebagai Edwin, 2 orang cowo-cewe tadi langsung jalan gitu aja.. ternyata mereka bukan temen2nya si peci...
hihihi... GR-wati...
sambil menunggu entah apa yang ditunggu andrew mesen gado2 ditemani peci sama edwin sementara gue melanglang buana ke CL sambil jalan rada kepleset-pleset gara2 lantai licin, sendal juga sekarat mau mati gue langsung memanjat CL menuju Jonas Photo studio buat pemotretan di sana tapi berhubung Jonasnya lagi rame... menunggu 5 menit pun belum dilayani juga sama sang Bapak maka gue ngabur diem-diem dan langsung meluncur ke Fuji Film... sambil mengira-ngira, sudah berapa lamakah gue ngga menginjakkan kaki di sini dan menjelajahi CL...
terutama sih pertanyaan gue, sudah berapa lamakah gue ngga nyetak foto di CL???
sambil juga mengingat2, tempat cetak foto di CL tuh dimenong sadja???
sampe di Fuji, ternyata dia harus nunggu maksimal sejam deh...
Oh.. My GOD!! It’s so lambretta!!!
langsung gue meluncur lagi ke Konica Film (yang baru gue inget belakangan) dan Puji Tuhan Aleluya Konicanya aman dan bisa ditunggu...
hmmm...
ada yang menarik di sini...
Sambil nunggu dilayani resah dan gelisah
bapak konicanya sedang melayani seorang bapak yang beli kamera digital, trus lagi nyoba2 kameranya trus pak konicanya nyoba njepret ke si bapak yang beli kamera, si bapak yang beli bilang, fotonya sama mbak ini dong (sambil menunjuk ke gue, dan gue pura2 ngga denger sambil lihat arah lain dan masih menunggu dengan resah dan gelisah...)
Sambil memproses cetak fotonya bapak tadi, foto gue pun di proses juga
2 foto dari punya andrew dan 1 foto punya gue... Foto apakah itu sehingga gue ngotot banget buat nyetaknya??? Itu adalah Foto Pak Sobirin in action bersama dengan anak buahnya, waktu kita numpang kapalnya di pesta laut beberapa waktu lalu.. Yang setiap kali kita ke sana selalu ditanyain sama Pak Sobirinnya
dan selalu kita jawab sambil ngga enak hati, kalo kita lupa bawa...
MAKANYA... sodara-sodara....
Kemarin gue memaksakan diri untuk mengingat membawa foto2 itu...
Habis cetak foto yang di susul oleh muks dan Nitha yang tiba2 nongol kita ke Hero buat belanja (padahal, biar cepet gue suru mereka belanja duluan... tapi ngga mau... dasar...)
Matahari udah menyinari ubun-ubun kepala ketika kita akhirnya berangkat naik BOI
lumayan berdesakan sampai akhirnya BOI hanya milik kita ber5...
Seperti biasa sampai di Angke kita disambut bau menyengat amis bercampur sampah dan panas yang menusuk kulit...
Untung ngga sampai menghitamkan kulitku yang putih mulus bak sutera ini...
Dua rekan baru kita langsung terpesona melihat keadaan angke yang jauh dari indah... jika dilihat dari sudut yang sebenarnya... sampah2 menggunung, sempat kuledek juga mereka, untuk bersih muara angke, jangan hanya bersih gunung aja... hihihi... sepanjang hidupmu juga ngga akan selesai...
bau amis yang menyengat dari jajaran ikan asin yang dijemur, sampah dimana2 dan udara asin air laut menempel di kulit kita yang sudah mulai basah terguyur peluh...
berjalan entah berapa jauh lamanya sampai juga di kediaman Pak Birin...
langsung disambut hangat oleh istrinya...
Bentuk rumahnya selalu berubah setiap kali kita kesana.
hehehe.... ngobrol beberapa saat sama Ibu Sobirin, gue trus keluar duduk depan WC umum lanjut ngobrolnya sama Pak Sobirinnya... banyak yang diobrolin... terutama soal penggusuran itu.. paling lambat minggu depan, Pak sobirin harus pindah, karena daerah rumahnya mau dibuat jalan yang langsung ke dermaga..
dan katanya itu cuman sementara juga, kira2 setahun, mereka juga udah harus pindah lagi ke kali apa gitu namanya... katanya sekitar situ bakalan buat tempat feri berlabuh dan bakal dibikin hotel2 juga... hmmm... selalu begitu...
tempat orang2 kecil digusur demi kepuasan nafsu mencari kekayaan orang-orang tertentu aja... cuihhh!!! jadi mulai minggu depan Pak sobirin dan keluarganya pindah...untung cuman tinggal nyebrang jalan juga
Dia juga cerita gimana beternak kerang, bisnis sampingannya jualan kaos tangan bekas, soal penggusuran dan banyak lagi... dia juga sempet nanyain Frater Andre yang kita bilang pindah ke Pakistan, juga Bowo yang kita bilang pindah ke Tailand sama Jonal, buat jadi banci di sana... Ibu dan Bapak jadi pada bingung, ko kerjanya jauh2 bener... Gue dan Andrew hanya bisa mengiyakan aja...
Ngobrol ngalor ngidul ngulon ngetan...
sambil motret sana sini bocah-bocah yang bakat narsisnya mulai keliatan berpose kesana kemari... akhirnya kita mohon diri... Berlima kembali menapaki jalanan (kulitkerang) menuju dermaga, tempat kita dulu pernah berfoto erotis sambil diikuti bocah-bocah itu... (berasa kaya orang gila yang diikutin anak kecil, sambil diteriakin: “orang gila!!orang gila!!” Peci sama Edwin ngga mau diajak ke tempat pengupasan kerang, takut jadi ngga selera lagi... gue sih udah bebel... hehehe...
Berjalan2 di sekitar perkampungan nelayan membuat gue selalu bersyukur dengan apa yang telah gue miliki... paling nggak : tempat tinggal yang layak..
biarpun kecil, berantakan, tapi masih rumah gue sendiri yang layak di tinggali
yang ngga perlu khawatir kena gusur... yang masih berdiri di atas tanah yang normal, bukan diatas air kotor dan dikelilingi sampah dana kulit kerang
yang masih punya sepetak halaman buat gue tanamin apa aja sampai kaya hutan, bukannya laut hitam yang setiap malamnya pasang membanjiri halaman...
sampai ke dermaga tempat kita membuat kenangan foto erotis... (kalian yang foto telanjang, gue yang motret)
oh iya..
perlu diketahui teman2... bahwa kapal karatan yang telah menjadi tempat bersejarah itu sekarang udah ngga ada lagi lenyap!!! Gone With the Wind;p
jadi kemarin adalah kali terakhir kita melihatnya.. yang pas hari anak juni kemarin...
perjalanan bergayut melewati tanggul dan persampahan hingga akhirnya tiba di pembakaran ikan... langkah ini pun masih terus ke pelelangan yang sepi
hanya beberapa kuli berseliweran mengangkut cumi dan ikan beku lainnya
bersandarlah kita di samping pelelangan yang sepi, melahap jambu yang menyegarkan jiwa dan dahaga puas bersantai di pelelangan, kita melangkah pulang. melewati pasar ikan..
mampir sejenak oleh godaan otak-otak yang maha lezat. makanlah kita sampe bego disana Badan ini rasanya sudah lengket.. Perpaduan yang cantik antara keringat yang mengucur deras, udara asin dan amis di sekitar dan asap tukang otak-otak
menambah bumbu keharuman tubuh kita semua. lalu pulang ke rumah masing2 sambil tergoda lirak kiri lirak kanan melihat berbagai ikan segar (apalagi kepiting super jumbo) yang di jajakan disana...
Lain kali.. Pasti: Beli Ikan!!!
22 oktober 2007
Sempet mengajak seseorang juga, yang ngga kalah lemskynya juga yang sebenernya antusias gue ajak bahkan sampe mo baksos juga dengan menyumbangkan
baju2nya yang super mini itu yang menumpuk di lemari ngga terpakai...
tapi apa mau dikata... bajunya itu kan hanya cukup dipakai liliput, sedangkan penghuni desa nelayan sana semuanya manusia normal... mana ada yang cukup dengan baju2nya... akhirnya dia setuju untuk menahan hasratnya menyumbang baju2nya itu sampe saat baksos natal tiba....
toh akhirnya manusia liliput yang makannya banyak dan agak lemah otaknya itu ngga jadi ikut karena menunaikan hasratnya yang begitu menggebu itu... (tunggu aja catper darinya langsung...)
Beberapa orang gue hubungi, gue ajak ke sana, sekalian memeriahkan suasana.
Dan akhirnya hanya ber 5 aja yang menampakkan wajahnya...
(sempet tadinya gue pikir cuman ber4, tanpa nitha, kerna dia konfirm sms ke gue ternyata ngga sampe dan tau2 dia nongol, untung ngga keburu ditinggal;p)
Ada hal yang agak lucu kemarin...
pas nunggu di babe gado2 di depan Trisakti berduaan sama Muksie, tau2 dari arah terminal sana ada rombongan orang ber4 dateng menghampiri kita... salah satunya gue kenal sebagai peci yang kalo di jakarta dipanggil kopyah;p dalam hati gue dan muksie berkata..”wuiddih... ternyata si kopyah bawa banyak anak baru.. ada cewenya juga... lumayan nih.. jadi rame....” mereka ber4 menghampiri kita, tapi yang mandek di kita cuman kopyah sama seorang baru yang memperkenalkan dirinya sebagai Edwin, 2 orang cowo-cewe tadi langsung jalan gitu aja.. ternyata mereka bukan temen2nya si peci...
hihihi... GR-wati...
sambil menunggu entah apa yang ditunggu andrew mesen gado2 ditemani peci sama edwin sementara gue melanglang buana ke CL sambil jalan rada kepleset-pleset gara2 lantai licin, sendal juga sekarat mau mati gue langsung memanjat CL menuju Jonas Photo studio buat pemotretan di sana tapi berhubung Jonasnya lagi rame... menunggu 5 menit pun belum dilayani juga sama sang Bapak maka gue ngabur diem-diem dan langsung meluncur ke Fuji Film... sambil mengira-ngira, sudah berapa lamakah gue ngga menginjakkan kaki di sini dan menjelajahi CL...
terutama sih pertanyaan gue, sudah berapa lamakah gue ngga nyetak foto di CL???
sambil juga mengingat2, tempat cetak foto di CL tuh dimenong sadja???
sampe di Fuji, ternyata dia harus nunggu maksimal sejam deh...
Oh.. My GOD!! It’s so lambretta!!!
langsung gue meluncur lagi ke Konica Film (yang baru gue inget belakangan) dan Puji Tuhan Aleluya Konicanya aman dan bisa ditunggu...
hmmm...
ada yang menarik di sini...
Sambil nunggu dilayani resah dan gelisah
bapak konicanya sedang melayani seorang bapak yang beli kamera digital, trus lagi nyoba2 kameranya trus pak konicanya nyoba njepret ke si bapak yang beli kamera, si bapak yang beli bilang, fotonya sama mbak ini dong (sambil menunjuk ke gue, dan gue pura2 ngga denger sambil lihat arah lain dan masih menunggu dengan resah dan gelisah...)
Sambil memproses cetak fotonya bapak tadi, foto gue pun di proses juga
2 foto dari punya andrew dan 1 foto punya gue... Foto apakah itu sehingga gue ngotot banget buat nyetaknya??? Itu adalah Foto Pak Sobirin in action bersama dengan anak buahnya, waktu kita numpang kapalnya di pesta laut beberapa waktu lalu.. Yang setiap kali kita ke sana selalu ditanyain sama Pak Sobirinnya
dan selalu kita jawab sambil ngga enak hati, kalo kita lupa bawa...
MAKANYA... sodara-sodara....
Kemarin gue memaksakan diri untuk mengingat membawa foto2 itu...
Habis cetak foto yang di susul oleh muks dan Nitha yang tiba2 nongol kita ke Hero buat belanja (padahal, biar cepet gue suru mereka belanja duluan... tapi ngga mau... dasar...)
Matahari udah menyinari ubun-ubun kepala ketika kita akhirnya berangkat naik BOI
lumayan berdesakan sampai akhirnya BOI hanya milik kita ber5...
Seperti biasa sampai di Angke kita disambut bau menyengat amis bercampur sampah dan panas yang menusuk kulit...
Untung ngga sampai menghitamkan kulitku yang putih mulus bak sutera ini...
Dua rekan baru kita langsung terpesona melihat keadaan angke yang jauh dari indah... jika dilihat dari sudut yang sebenarnya... sampah2 menggunung, sempat kuledek juga mereka, untuk bersih muara angke, jangan hanya bersih gunung aja... hihihi... sepanjang hidupmu juga ngga akan selesai...
bau amis yang menyengat dari jajaran ikan asin yang dijemur, sampah dimana2 dan udara asin air laut menempel di kulit kita yang sudah mulai basah terguyur peluh...
berjalan entah berapa jauh lamanya sampai juga di kediaman Pak Birin...
langsung disambut hangat oleh istrinya...
Bentuk rumahnya selalu berubah setiap kali kita kesana.
hehehe.... ngobrol beberapa saat sama Ibu Sobirin, gue trus keluar duduk depan WC umum lanjut ngobrolnya sama Pak Sobirinnya... banyak yang diobrolin... terutama soal penggusuran itu.. paling lambat minggu depan, Pak sobirin harus pindah, karena daerah rumahnya mau dibuat jalan yang langsung ke dermaga..
dan katanya itu cuman sementara juga, kira2 setahun, mereka juga udah harus pindah lagi ke kali apa gitu namanya... katanya sekitar situ bakalan buat tempat feri berlabuh dan bakal dibikin hotel2 juga... hmmm... selalu begitu...
tempat orang2 kecil digusur demi kepuasan nafsu mencari kekayaan orang-orang tertentu aja... cuihhh!!! jadi mulai minggu depan Pak sobirin dan keluarganya pindah...untung cuman tinggal nyebrang jalan juga
Dia juga cerita gimana beternak kerang, bisnis sampingannya jualan kaos tangan bekas, soal penggusuran dan banyak lagi... dia juga sempet nanyain Frater Andre yang kita bilang pindah ke Pakistan, juga Bowo yang kita bilang pindah ke Tailand sama Jonal, buat jadi banci di sana... Ibu dan Bapak jadi pada bingung, ko kerjanya jauh2 bener... Gue dan Andrew hanya bisa mengiyakan aja...
Ngobrol ngalor ngidul ngulon ngetan...
sambil motret sana sini bocah-bocah yang bakat narsisnya mulai keliatan berpose kesana kemari... akhirnya kita mohon diri... Berlima kembali menapaki jalanan (kulitkerang) menuju dermaga, tempat kita dulu pernah berfoto erotis sambil diikuti bocah-bocah itu... (berasa kaya orang gila yang diikutin anak kecil, sambil diteriakin: “orang gila!!orang gila!!” Peci sama Edwin ngga mau diajak ke tempat pengupasan kerang, takut jadi ngga selera lagi... gue sih udah bebel... hehehe...
Berjalan2 di sekitar perkampungan nelayan membuat gue selalu bersyukur dengan apa yang telah gue miliki... paling nggak : tempat tinggal yang layak..
biarpun kecil, berantakan, tapi masih rumah gue sendiri yang layak di tinggali
yang ngga perlu khawatir kena gusur... yang masih berdiri di atas tanah yang normal, bukan diatas air kotor dan dikelilingi sampah dana kulit kerang
yang masih punya sepetak halaman buat gue tanamin apa aja sampai kaya hutan, bukannya laut hitam yang setiap malamnya pasang membanjiri halaman...
sampai ke dermaga tempat kita membuat kenangan foto erotis... (kalian yang foto telanjang, gue yang motret)
oh iya..
perlu diketahui teman2... bahwa kapal karatan yang telah menjadi tempat bersejarah itu sekarang udah ngga ada lagi lenyap!!! Gone With the Wind;p
jadi kemarin adalah kali terakhir kita melihatnya.. yang pas hari anak juni kemarin...
perjalanan bergayut melewati tanggul dan persampahan hingga akhirnya tiba di pembakaran ikan... langkah ini pun masih terus ke pelelangan yang sepi
hanya beberapa kuli berseliweran mengangkut cumi dan ikan beku lainnya
bersandarlah kita di samping pelelangan yang sepi, melahap jambu yang menyegarkan jiwa dan dahaga puas bersantai di pelelangan, kita melangkah pulang. melewati pasar ikan..
mampir sejenak oleh godaan otak-otak yang maha lezat. makanlah kita sampe bego disana Badan ini rasanya sudah lengket.. Perpaduan yang cantik antara keringat yang mengucur deras, udara asin dan amis di sekitar dan asap tukang otak-otak
menambah bumbu keharuman tubuh kita semua. lalu pulang ke rumah masing2 sambil tergoda lirak kiri lirak kanan melihat berbagai ikan segar (apalagi kepiting super jumbo) yang di jajakan disana...
Lain kali.. Pasti: Beli Ikan!!!
22 oktober 2007
Dia kini Memandang Seorang Diri Diatas Sana
Tulisan ini gue tulis saat 16 agustus, dua tahun lalu. sehari menjelang peringatan hari kemerdekaan kita...
dan sekarang gue masukin lagi d blog ini... beberapa minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan lagi...
Beberapa hari yang lalu, di angkot gue ngga sengaja mendengar pembicaraan dari penumpang lain..
Pembicaraan sepasang suami istri dengan penumpang lain. Dari pembicaraan yang ngga sengaja gue denger itu, suami istri ini baru pulang dari jualan bendera, menjelang 17an…
Katanya tahun ini sepi, ngga seramai tahun2 sebelumnya yang kadang jualannya suka kehabisan.
Dulu omset mereka bisa mencapai 8 juta, sekarang, dua juta aja belum bisa dibawa pulang.
Dulu perusahaan-perusahaan banyak pesan bendera, sampai kewalahan, sekarang pembeli sudah sepi.
Mungkin juga karena harga2 semakin mahal, orang semakin pikir2 untuk beli2 barang, katanya dulu di kantor hampir tiap tahun beli. Kusam dikit aja, udah beli baru. Sekarang udah sayang beli baru…
Bendera merah putih itu kini entah ada artinya buat kita apa hanya sebagai simbol yang makin lama makin hilang artinya dan hanya sekedar rutinitas semata aja…
Gue juga ngga tau..
Bahkan gue sendiri juga mulai merasa kehilangan makna kesakralan selembar bendera itu…
Dulu…
Waktu gue masih sekolah, yang kebetulah pas SD dan SMA jadi paskibra, gue masih merasakan kesakralannya selembar kain merah dan putih itu…
Rasanya jika benda itu ada ditangan, harus betul2 dijaga dengan sepenuh hati, kadang juga terngiang bagaimana perjuangan jaman dulu hingga bendera itu kini bisa berkibar dia langit biru Indonesia. Bahkan ada peraturan ngga tertulis, jika bendera itu menyentuh tanah, maka akan ada sanksinya bagi yang menjatuhkan bendera itu.
Mungkin bagi yang ngga pernah dengar “aturan” itu akan nganggep suatu aturan yang tolol. Masa selembar kain merah putih aja kalau nyentuh tanah dikit aja harus push up…
Hanya orang bodoh mungkin yang mematuhi aturan itu…
Dan mungkin gue salah satu orang bodoh itu.
Bukan karena hanya aturan itu semata, kalau gue menjatuhkan bendera itu lantas terpaksa push up hanya karena aturan yang nggak ada maknanya buat gue..
Sama sekali ngga gitu…
Bendera itu lebih dari sekedar selembar benang buat gue
Bendera itu pun lebih dari sekedar simbol kenegaraan buat gue
Tapi maknanya lebih dalam lagi.
Bagaimana demi mengibarkan sehelai kain itu, ribuan nyawa melayang memperjuangkannya…
Pertumpahan darah pun terjadi demi mempertahankannya untuk tetap berkibar…
Lalu…
Apa kini makna sang merah putih itu buat kita, manusia masa kini??
Yang umurnya sudah jauh di bawah para pejuang yang terdahulu
Yang hidup kita pun jauh dari peperangan memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankannya.
Apa bendera itu kini sudah ngga ada artinya?
Apa bahkan kini rasa nasionalisme kita pun sudah nggak ada?
Apakah kita pernah lagi memandang ke atas sana, mengagumi dan sungguh menghormatinya yang berkibar dengan anggunnya di atas sana?
Gue enggak…
Dan gue harap gue nggak akan melupakannya
Mungkin gue udah ngga pernah lagi masuk dalam jajaran petugas upacara yang bertugas sebaik-baiknya dan mengibarkan bendera itu, karena gue emang ngga pernah mengereknya langsung ke atas langit sana…
Mungkin gue juga udah ngga pernah menyentuhnya lagi, bahkan untuk mengibarkannya sendiri di rumah gue pun gue ngga sempat.
Tapi paling enggak, di tengah negara yang mungkin sudah kurang baik kelihatannya ini, gue tetap bangga bisa dilahirkan di sini, bisa dibesarkan di sini
Dan gue harap, dia tidak lagi sendirian di atas sana, tanpa ada yang memandanginya lagi
Tanpa ada yang mengharumkan namanya lagi..
Tanpa ada yang bangga akan kehadirannya lagi…
dan sekarang gue masukin lagi d blog ini... beberapa minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan lagi...
Beberapa hari yang lalu, di angkot gue ngga sengaja mendengar pembicaraan dari penumpang lain..
Pembicaraan sepasang suami istri dengan penumpang lain. Dari pembicaraan yang ngga sengaja gue denger itu, suami istri ini baru pulang dari jualan bendera, menjelang 17an…
Katanya tahun ini sepi, ngga seramai tahun2 sebelumnya yang kadang jualannya suka kehabisan.
Dulu omset mereka bisa mencapai 8 juta, sekarang, dua juta aja belum bisa dibawa pulang.
Dulu perusahaan-perusahaan banyak pesan bendera, sampai kewalahan, sekarang pembeli sudah sepi.
Mungkin juga karena harga2 semakin mahal, orang semakin pikir2 untuk beli2 barang, katanya dulu di kantor hampir tiap tahun beli. Kusam dikit aja, udah beli baru. Sekarang udah sayang beli baru…
Bendera merah putih itu kini entah ada artinya buat kita apa hanya sebagai simbol yang makin lama makin hilang artinya dan hanya sekedar rutinitas semata aja…
Gue juga ngga tau..
Bahkan gue sendiri juga mulai merasa kehilangan makna kesakralan selembar bendera itu…
Dulu…
Waktu gue masih sekolah, yang kebetulah pas SD dan SMA jadi paskibra, gue masih merasakan kesakralannya selembar kain merah dan putih itu…
Rasanya jika benda itu ada ditangan, harus betul2 dijaga dengan sepenuh hati, kadang juga terngiang bagaimana perjuangan jaman dulu hingga bendera itu kini bisa berkibar dia langit biru Indonesia. Bahkan ada peraturan ngga tertulis, jika bendera itu menyentuh tanah, maka akan ada sanksinya bagi yang menjatuhkan bendera itu.
Mungkin bagi yang ngga pernah dengar “aturan” itu akan nganggep suatu aturan yang tolol. Masa selembar kain merah putih aja kalau nyentuh tanah dikit aja harus push up…
Hanya orang bodoh mungkin yang mematuhi aturan itu…
Dan mungkin gue salah satu orang bodoh itu.
Bukan karena hanya aturan itu semata, kalau gue menjatuhkan bendera itu lantas terpaksa push up hanya karena aturan yang nggak ada maknanya buat gue..
Sama sekali ngga gitu…
Bendera itu lebih dari sekedar selembar benang buat gue
Bendera itu pun lebih dari sekedar simbol kenegaraan buat gue
Tapi maknanya lebih dalam lagi.
Bagaimana demi mengibarkan sehelai kain itu, ribuan nyawa melayang memperjuangkannya…
Pertumpahan darah pun terjadi demi mempertahankannya untuk tetap berkibar…
Lalu…
Apa kini makna sang merah putih itu buat kita, manusia masa kini??
Yang umurnya sudah jauh di bawah para pejuang yang terdahulu
Yang hidup kita pun jauh dari peperangan memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankannya.
Apa bendera itu kini sudah ngga ada artinya?
Apa bahkan kini rasa nasionalisme kita pun sudah nggak ada?
Apakah kita pernah lagi memandang ke atas sana, mengagumi dan sungguh menghormatinya yang berkibar dengan anggunnya di atas sana?
Gue enggak…
Dan gue harap gue nggak akan melupakannya
Mungkin gue udah ngga pernah lagi masuk dalam jajaran petugas upacara yang bertugas sebaik-baiknya dan mengibarkan bendera itu, karena gue emang ngga pernah mengereknya langsung ke atas langit sana…
Mungkin gue juga udah ngga pernah menyentuhnya lagi, bahkan untuk mengibarkannya sendiri di rumah gue pun gue ngga sempat.
Tapi paling enggak, di tengah negara yang mungkin sudah kurang baik kelihatannya ini, gue tetap bangga bisa dilahirkan di sini, bisa dibesarkan di sini
Dan gue harap, dia tidak lagi sendirian di atas sana, tanpa ada yang memandanginya lagi
Tanpa ada yang mengharumkan namanya lagi..
Tanpa ada yang bangga akan kehadirannya lagi…
Sabtu, 25 Juli 2009
Catatan Pribadi Perjalanan “Kawah Ratu”

31 Mei-2Juni 2007
::perjalanan singkat sarat pergolakan emosi::
Kamis pagi, dengan segala persiapan yang telah dibawa, datanglah gejolak itu…
Antara ingin dan tak ingin..
Antara meneruskan rencana atau “kabur” saja dari semuanya…
Sungguh aku tak dapat mengungkapkannya…
Perasaan saat itu.
Jiwaku terbagi dua, pikiranku terbagi dua, keinginanku pun terbagi dua…
Tak tau bagaimana jawabnya, walaupun jawab itu sudah dituliskan rapi dalam pandanganku… Perjalanan ini harus tetap dilaksanakan…
Terlambat kurang lebih 2 jam dari waktu yang telah ditetapkan di UKI…
Dengan segala ke galauanku, aku tiba bersama Lau disana
Menanti dengan bosan, Nitha, Yonni dan Yosep yang hanya mengantar tenda, kompor dan juga kepergian kita… Jam sepuluh lewat resmi kami berempat berangkat dari UKI
Naik bus jurusan Sukabumi, turun di Cidahu, hampir kira-kira satu jam kemudian…
Raga sudah pergi, tapi hati masih tertinggal..
Masih galau…
Para ojek sudah menanti di depan jalan Cidahu yang juga daerah Cangkuang
(Cidahu: Bercinta dalam hutan, Cangkuang: bawa kacang, bawa uang)
Siap mengantar kita berempat dengan upah lima belas ribu per orang
Meluncurlah kita berempat, Diterpa angin malam yang mengigit
Diikuti cahaya bulan purnama yang menerangi jalan kita yang berkelok dan tak rata
Dikelilingi pemandangan malam yang eksotis
Menuju kaki gunung yang setahun lalu pernah kusapa…
Yang kini menyambut kita dengan angkuh dalam gelapnya malam…
Turun di gerbang pos penjagaan, minta ijin sebentar…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Tiga perempuan yang oleh penjaga pos diremehkan
dan dilarang pergi sampai ke puncak Salak karena berbahaya…
Tiga perempuan yang boleh bangga,
Walau diremehkan tapi toh berhasil menginjakkan kakinya di puncak Salak
Yang bahkan belum pernah dilakukan oleh si penjaga…
Jangan pandang enteng perempuan…
Jangan meremehkan perempuan…
Malam kian pekat jika tak ada sang purnama
Berjalan berempat ditemani cahaya sebatang senter yang meredup
Dan purnama yang berkilauan…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Entah berapa jauh berjalan
Entah berapa lelah mendaki…
Sampailah di warung yang sepi
Hanya dua atau tiga yang berkemah di sana
Dan ada beberapa tenda kosong yang disiapkan untuk rombongan esok.
Tengah malam membangun tenda dengan sisa tenaga yang tersisa
Dengan segala kemampuan yang ada
Berdirilah tenda dengan wujud yang kurang sempurna
Siap menyelimuti kita dari dinginnya malam…
Pagi tiba setelah dingin yang mengigit tak mampu dikalahkan oleh kantung tidur pinjaman yang harganya selangit itu…
Udara sejuk menyapa dan membangunkan dari tidur yang kurang nikmat
Mulailah kita memasak nasi untuk sarapan pagi…
Nasi goreng, pempek goreng, baso goreng
Ditemani secangkir kopi panas
Mengisi perut kita bergantian…
Ada sesuatu hal yang terpaksa di sensor di sini
Demi kepentingan bersama…
Jam 8 pagi Jonal dan Yeti datang menyusul
Berleha sebentar
Kira-kira jam 10 mulai beranjak ke Kawah Ratu
Tempat yang dulu dari puncak terlihat eksotis
Kini akan kita capai, berenam saja…
Berjalan melintasi jalanan aspal yang menukik terjal
Yang kalau tak hati-hati bisa terguling sampai bawah…
Menumpang mobil bak dengan harap dapat mengurangi sedikit perjalanan
Salah masuk ke kawasan tertutup
Javana Spa
Balik arah…
Dan turun dari pick up dengan jarak yang lebih jauh dari sebelumnya
Mengulang kembali perjalanan di aspal
Sampai di portal, ada pos kancil berdiri
Mulailah kita menyusuri setapak demi setapak
Jalanan bebatuan yang licin
Menanjak menguras tenaga…
Berfoto sebentar di tangga bambu
Yang disampingnya dipagari besi,
Batas dengan Javana Spa
Jalan-foto-jalan-foto…
Sampai di persimpangan
Tempat dulu pernah kulewati
Tempat Kira menaruh dua botol air sepulang dari puncak setahun kemarin
Berhenti sebentar di warung
Beli nasi, beli bakwan, dan berfoto…
Jalan lagi…
Sampailah di hamparan padang rumput yang luas
Yang dikelilingi semak dan hutan
Diselimuti kabut yang eksotis
Beristirahat dan membuka perbekalan kita
Mengisi perut untuk makan siang
Nasi dan bakwan yang tadi dibeli di warung
Beserta sarden yang seketika itu juga dipanaskan…
Berjalan singkat lagi ditemani rintik kecil hujan
Dan sampailah kita berenam di Kawah Ratu
Dua jam perjalanan santai
Disertai foto-foto dan makan siang
Menuju ke daerah yang memang sungguh eksotis
Dengan bau belerang yang menusuk hidung
Tak mengurangi keindahannya…
Hamparan lembah kawah yang luas
Yang terdiri dari bebatuan naik dan turun
Dan semburan asap ringan menghiasi beberapa titik
Dikelilingi benteng pegunungan yang eksotis dari kejauhan
Beberapa aliran air panas yang menggelegak mendidih
Yang salah satunya hampir mematangkan selangkangan Jonal
Dan sungai kecil yang cukup deras alirannya
Yang mengalirkan air yang dingin dan sejuk
Ada beberapa titik yang berisi lumpur panas yang mengelegak
Mendidih…
Sama seperti lumpur yang merendam daerah timur pulau Jawa
Selama hampir setahun ini…
Sama…
Hanya saja di sini hanya sedikit
Dan tidak menyembur keluar…
Berenam turun ke kawah
Dan naik lagi ke bukit batu di tengahnya…
Semuanya kebagian difoto
Semuanya kebagian berpose sepuasnya
Hanya saja disini ada bagian lain
Yang terpaksa harus disensor…
Demi kepentingan bersama
Demi kebaikan bersama…
Puas menikmati keindahan Kawah Ratu yang sungguh eksotis
Menikmati satu lagi ciptaan Tuhan yang eksotis
Menikmati alam yang tak semua orang dapat mensyukurinya
Sedikit sedih karena tak banyak bagian dari kita yang dapat turut menikmatinya
Banyak sedih karena semua harus kulalui seperti terbang dengan sebelah sayap saja
2jam rasanya takkan pernah cukup
Memuaskan dahaga akan keeksotisannya
Tapi senja kan segera tiba
Hujanpun tlah datang kembali
Walau kembali hanya rintikan kecilnya saja
Tapi kami harus pulang
Berjalan cepat melintasi daerah yang tadi kita lalui
Di jalan turun berbatu
Adalagi insiden kecil
Aku terjungkal dan berbalet ria
Sedikit terkilir yang sampai sekarang masih sedikit terasa
Sedikit lecet tapi tak pernah membuatku jera
Pulang ke tempat tenda kita menunggu
Jam setengah empat
Satu setengah jam perjalanan pulang
Perkemahan tak lagi sesepi saat kita tinggalkan
Beberapa tenda baru beserta penghuninya sudah turut meramaikan suasana
Empat perempuan dan dua laki-laki
Yang baru turun dari Kawah Ratu menarik perhatian
Mencuri perhatian para pasukan motor yang berkemah diatasnya
Pulang dan masak makan sore
Mie, bihun dan bakso…
Hmmm….
Menu yang nikmat…
Hari semakin gelap…
Matahari entah sejak kapan mulai bersembunyi dari balik kabut
Hujan rintik mulai turun
Jonal harus segera pulang walau dengan berat hati
Harus…
Sayang sekali…
Terpaksa meninggalkan “kesunyian” dunia yang diiringi nyanyian
Dan alunan gitar dombreng-dombreng…
Malam datang menemani kita dengan rintikan hujannya yang mulai mencemaskan…
Teras tenda mulai tak mampu menampung air hujan yang menetes diatasnya
Malam nan gelap pun membuat Nita dan aku yang memayunginya
Mencangkul membuat parit mengelilingi tenda
Digoda laki-laki pengecut dari tenda sebelah belakang
Malam membawa kita untuk sharing dan diskusi ringan
Berlima Empat perempuan dan satu laki yang disebut Dewi
Sharing tentang ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan…
Bagaimana pengalaman kita tentang ketulusan kita yang tidak diterima baik orang lain…
Bagaimana kebersamaan kita biasa kita lalui dengan kenakalan…
Bagaimana kita menjadi seorang yang bisa menjadi pemimpin…
Malam kian larut…
Diskusi pun bergeser…
Dari ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan
Menjadi tentang setan, dan segala makhluknya…
Yang satu mulai tidur, pingsan dengan gas Nita
Yang satu lagi memaksa diri tuk tidur
Takut dengan tema diskusi yang bergeser
Hanya tiga yang bertahan…
Ditemani celetukan menjengkelkan dari tenda sebelah belakang
Sahutan-sahutan yang membuat panas…
Malam makin pekat…
Perut pun terasa kosong lagi…
Mie sisa bakso pun dipanaskan
Diiringi ocehan kian menyebalkan dari tenda sebelah belakang…
Tuhan,
Ampuni aku karena pada saat itu
Belum pernah aku begitu inginnya menyiram kuah mie mendidih
ke muka-muka penghuni tenda sebelah belakang itu
yang kelakuannya kian mengganggu…
pikir mereka, kita semua perempuan
yang bisa diganggunya seenaknya…
Malam ditutup dengan tidur…
Dan berakhir dengan bangun pagi keesokan harinya
Masih diiringi ocehan penghuni tenda sebelah belakang yang membangunkan
Sungguh…
Belum pernah aku begitu ingin menyiram muka-muka orang itu dengan air panas
Supaya mulut-mulut mereka yang lancang terdiam…
Dan sungguh aku begitu ingin menampar muka-muka orang itu
Supaya mereka tau, kita perempuan yang tak bisa dilecehkan
Walau hanya dengan kata-kata…
Sarapan pagi memeriahkan suasana
Bubur kacang hijau, mie+bihun sisa kemarin yang digoreng,
Nasi sisa kemarin di lapangan rumput yang juga digoreng….
Ternyata saat terang matahari muncul
Para makhluk penghuni tenda sebelah belakang
Sama pengecutnya dengan pantat mereka yang hanya mampu bersembunyi
Dari balik celana…
Mereka pun diam tak berkutik…
Entah karena ada satu laki diantara kami, yang disebut Dewi
Yang malam hari kemarin ribut dipanggil-panggil Dewi oleh mereka
Entah karena wajah kami perempuan terlalu cantik
Membuat mereka tak berkutik
Atau karena mereka memang tikus malam
Yang cuma berani ribut saat gelap
Yang cuma berani mengoceh saat dibelakang saja
Tak berani menunjukkan batang hidungnya yang ternyata masih beringus itu…
Tak berani pula menegakkan wajahnya yang masih bau kencur itu…
Hmmm…
Maafkan…
Kalau ucapanku jadi sarkastik…
Aku hanya membenci makhluk laki-laki yang seperti itu…
Berleha…
Hingga jam sebelas baru selesai berkemas dan membongkar tenda
Berputar dititik yang sama
Hingga hampir satu jam kemudian baru melangkahkan kaki ke arah yang tepat
Ke air terjun yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja
Hanya sekitar lima belas menit saja dari tempat berkemah
Air terjun yang dikelilingi rimba
Yang tanpa batu-batu sebagai jalanannya
Pastilah aku akan percaya hanya kami yang menginjakkan kaki disana
Beserta beberapa orang yang telah terlebih dulu sampai disana…
Langsung berkubang
Berenang di bawah kucuran air terjun
Hanya Yeti dan aku yang setia menjaga kekasihku dari air…
Jam satu kembali ke warung tempat menitipkan tenda dan beberapa barang lain
Warung yang pelatarannya pada malam-malam sebelumnya juga jadi tempat menginap…
Mandi…
Membersihkan diri dan raga…
Dan pulang..
Numpang angkot sampai jalan Cidahu lagi sambil bayar tujuh ribu saja
Kurang dari setengahnya harga ojek dua malam lalu…
Supir angkot yang baik itu pun bercerita banyak hal
Mulai dari air terjun yang lainnya
Yang belum sempat kita kunjungi…
Bercerita pengalamannya yang pernah latihan bertahan hidup di gunung selama dua minggu…
Bercerita bahwa segala binatang buas, ular, macan tutul, dan macan kumbang
Yang sebelumnya juga menghuni gunung salak
Terpaksa “dipindahkan” oleh pawang binatang masing-masing ke gunung sebelah
Gunung yang terlihat dari Kawah Ratu berada di sebelah kanan
Karena tempat asalnya untuk daerah wisata…
Bercerita tentang hantu merah yang muncul di air terjun #2 kalau ada yang menginap disana dan berbuat mesum…
Mengajarkan bagaimana mengeluarkan bisa ular
Kalau ularnya terlanjur mengigit kita…
Bercerita panjang lebar..
Kesana kemari…
Menghibur…
Sampai di bawah mampir makan sebentar di warung Padang …
Setelah kenyang mengisi perut
Naiklah kita ke bis yang membawa kita kembali ke UKI
Kawah Ratu..
Aku pulang kemana hatiku kutinggalkan
dan aku berjanji akan kembali lagi suatu saat nanti
Membawa teman yang lain
Mengunjungi air terjun yang lain…
Dan semoga saja saat itu aku tak lagi terbang dengan sebelah sayapku saja…
Kawah Ratu,
Tunggu aku kembali…
Mungkin beberapa bulan lagi
Mungkin masih tahun depannya lagi..
Tapi semoga saatnya tiba, keeksotisanmu masih belum berkurang…
Jungle nan Hijau
(sampai tulisan ini dturunkan ke blog ini, aku belum pernah kembali lagi ke kawah ratu. beberapa hari sewaktu kami pulang dari sana, 6 anak SMP tewas karna gas beracun di kawah ratu. dan sejak saat itu kawah ratu ditutup.)
::perjalanan singkat sarat pergolakan emosi::
Kamis pagi, dengan segala persiapan yang telah dibawa, datanglah gejolak itu…
Antara ingin dan tak ingin..
Antara meneruskan rencana atau “kabur” saja dari semuanya…
Sungguh aku tak dapat mengungkapkannya…
Perasaan saat itu.
Jiwaku terbagi dua, pikiranku terbagi dua, keinginanku pun terbagi dua…
Tak tau bagaimana jawabnya, walaupun jawab itu sudah dituliskan rapi dalam pandanganku… Perjalanan ini harus tetap dilaksanakan…
Terlambat kurang lebih 2 jam dari waktu yang telah ditetapkan di UKI…
Dengan segala ke galauanku, aku tiba bersama Lau disana
Menanti dengan bosan, Nitha, Yonni dan Yosep yang hanya mengantar tenda, kompor dan juga kepergian kita… Jam sepuluh lewat resmi kami berempat berangkat dari UKI
Naik bus jurusan Sukabumi, turun di Cidahu, hampir kira-kira satu jam kemudian…
Raga sudah pergi, tapi hati masih tertinggal..
Masih galau…
Para ojek sudah menanti di depan jalan Cidahu yang juga daerah Cangkuang
(Cidahu: Bercinta dalam hutan, Cangkuang: bawa kacang, bawa uang)
Siap mengantar kita berempat dengan upah lima belas ribu per orang
Meluncurlah kita berempat, Diterpa angin malam yang mengigit
Diikuti cahaya bulan purnama yang menerangi jalan kita yang berkelok dan tak rata
Dikelilingi pemandangan malam yang eksotis
Menuju kaki gunung yang setahun lalu pernah kusapa…
Yang kini menyambut kita dengan angkuh dalam gelapnya malam…
Turun di gerbang pos penjagaan, minta ijin sebentar…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Tiga perempuan yang oleh penjaga pos diremehkan
dan dilarang pergi sampai ke puncak Salak karena berbahaya…
Tiga perempuan yang boleh bangga,
Walau diremehkan tapi toh berhasil menginjakkan kakinya di puncak Salak
Yang bahkan belum pernah dilakukan oleh si penjaga…
Jangan pandang enteng perempuan…
Jangan meremehkan perempuan…
Malam kian pekat jika tak ada sang purnama
Berjalan berempat ditemani cahaya sebatang senter yang meredup
Dan purnama yang berkilauan…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Entah berapa jauh berjalan
Entah berapa lelah mendaki…
Sampailah di warung yang sepi
Hanya dua atau tiga yang berkemah di sana
Dan ada beberapa tenda kosong yang disiapkan untuk rombongan esok.
Tengah malam membangun tenda dengan sisa tenaga yang tersisa
Dengan segala kemampuan yang ada
Berdirilah tenda dengan wujud yang kurang sempurna
Siap menyelimuti kita dari dinginnya malam…
Pagi tiba setelah dingin yang mengigit tak mampu dikalahkan oleh kantung tidur pinjaman yang harganya selangit itu…
Udara sejuk menyapa dan membangunkan dari tidur yang kurang nikmat
Mulailah kita memasak nasi untuk sarapan pagi…
Nasi goreng, pempek goreng, baso goreng
Ditemani secangkir kopi panas
Mengisi perut kita bergantian…
Ada sesuatu hal yang terpaksa di sensor di sini
Demi kepentingan bersama…
Jam 8 pagi Jonal dan Yeti datang menyusul
Berleha sebentar
Kira-kira jam 10 mulai beranjak ke Kawah Ratu
Tempat yang dulu dari puncak terlihat eksotis
Kini akan kita capai, berenam saja…
Berjalan melintasi jalanan aspal yang menukik terjal
Yang kalau tak hati-hati bisa terguling sampai bawah…
Menumpang mobil bak dengan harap dapat mengurangi sedikit perjalanan
Salah masuk ke kawasan tertutup
Javana Spa
Balik arah…
Dan turun dari pick up dengan jarak yang lebih jauh dari sebelumnya
Mengulang kembali perjalanan di aspal
Sampai di portal, ada pos kancil berdiri
Mulailah kita menyusuri setapak demi setapak
Jalanan bebatuan yang licin
Menanjak menguras tenaga…
Berfoto sebentar di tangga bambu
Yang disampingnya dipagari besi,
Batas dengan Javana Spa
Jalan-foto-jalan-foto…
Sampai di persimpangan
Tempat dulu pernah kulewati
Tempat Kira menaruh dua botol air sepulang dari puncak setahun kemarin
Berhenti sebentar di warung
Beli nasi, beli bakwan, dan berfoto…
Jalan lagi…
Sampailah di hamparan padang rumput yang luas
Yang dikelilingi semak dan hutan
Diselimuti kabut yang eksotis
Beristirahat dan membuka perbekalan kita
Mengisi perut untuk makan siang
Nasi dan bakwan yang tadi dibeli di warung
Beserta sarden yang seketika itu juga dipanaskan…
Berjalan singkat lagi ditemani rintik kecil hujan
Dan sampailah kita berenam di Kawah Ratu
Dua jam perjalanan santai
Disertai foto-foto dan makan siang
Menuju ke daerah yang memang sungguh eksotis
Dengan bau belerang yang menusuk hidung
Tak mengurangi keindahannya…
Hamparan lembah kawah yang luas
Yang terdiri dari bebatuan naik dan turun
Dan semburan asap ringan menghiasi beberapa titik
Dikelilingi benteng pegunungan yang eksotis dari kejauhan
Beberapa aliran air panas yang menggelegak mendidih
Yang salah satunya hampir mematangkan selangkangan Jonal
Dan sungai kecil yang cukup deras alirannya
Yang mengalirkan air yang dingin dan sejuk
Ada beberapa titik yang berisi lumpur panas yang mengelegak
Mendidih…
Sama seperti lumpur yang merendam daerah timur pulau Jawa
Selama hampir setahun ini…
Sama…
Hanya saja di sini hanya sedikit
Dan tidak menyembur keluar…
Berenam turun ke kawah
Dan naik lagi ke bukit batu di tengahnya…
Semuanya kebagian difoto
Semuanya kebagian berpose sepuasnyaHanya saja disini ada bagian lain
Yang terpaksa harus disensor…
Demi kepentingan bersama
Demi kebaikan bersama…
Puas menikmati keindahan Kawah Ratu yang sungguh eksotis
Menikmati satu lagi ciptaan Tuhan yang eksotis
Menikmati alam yang tak semua orang dapat mensyukurinya
Sedikit sedih karena tak banyak bagian dari kita yang dapat turut menikmatinya
Banyak sedih karena semua harus kulalui seperti terbang dengan sebelah sayap saja
2jam rasanya takkan pernah cukup
Memuaskan dahaga akan keeksotisannya
Tapi senja kan segera tiba
Hujanpun tlah datang kembali
Walau kembali hanya rintikan kecilnya saja
Tapi kami harus pulang
Berjalan cepat melintasi daerah yang tadi kita lalui
Di jalan turun berbatu
Adalagi insiden kecil
Aku terjungkal dan berbalet ria
Sedikit terkilir yang sampai sekarang masih sedikit terasa
Sedikit lecet tapi tak pernah membuatku jera
Pulang ke tempat tenda kita menunggu
Jam setengah empat
Satu setengah jam perjalanan pulang
Perkemahan tak lagi sesepi saat kita tinggalkan
Beberapa tenda baru beserta penghuninya sudah turut meramaikan suasana
Empat perempuan dan dua laki-laki
Yang baru turun dari Kawah Ratu menarik perhatian
Mencuri perhatian para pasukan motor yang berkemah diatasnya
Pulang dan masak makan sore
Mie, bihun dan bakso…
Hmmm….
Menu yang nikmat…
Hari semakin gelap…
Matahari entah sejak kapan mulai bersembunyi dari balik kabut
Hujan rintik mulai turun
Jonal harus segera pulang walau dengan berat hati
Harus…
Sayang sekali…
Terpaksa meninggalkan “kesunyian” dunia yang diiringi nyanyian
Dan alunan gitar dombreng-dombreng…
Malam datang menemani kita dengan rintikan hujannya yang mulai mencemaskan…
Teras tenda mulai tak mampu menampung air hujan yang menetes diatasnya
Malam nan gelap pun membuat Nita dan aku yang memayunginya
Mencangkul membuat parit mengelilingi tenda
Digoda laki-laki pengecut dari tenda sebelah belakang
Malam membawa kita untuk sharing dan diskusi ringan
Berlima Empat perempuan dan satu laki yang disebut Dewi
Sharing tentang ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan…
Bagaimana pengalaman kita tentang ketulusan kita yang tidak diterima baik orang lain…
Bagaimana kebersamaan kita biasa kita lalui dengan kenakalan…
Bagaimana kita menjadi seorang yang bisa menjadi pemimpin…
Malam kian larut…
Diskusi pun bergeser…
Dari ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan
Menjadi tentang setan, dan segala makhluknya…
Yang satu mulai tidur, pingsan dengan gas Nita
Yang satu lagi memaksa diri tuk tidur
Takut dengan tema diskusi yang bergeser
Hanya tiga yang bertahan…
Ditemani celetukan menjengkelkan dari tenda sebelah belakang
Sahutan-sahutan yang membuat panas…
Malam makin pekat…
Perut pun terasa kosong lagi…
Mie sisa bakso pun dipanaskan
Diiringi ocehan kian menyebalkan dari tenda sebelah belakang…
Tuhan,
Ampuni aku karena pada saat itu
Belum pernah aku begitu inginnya menyiram kuah mie mendidih
ke muka-muka penghuni tenda sebelah belakang itu
yang kelakuannya kian mengganggu…
pikir mereka, kita semua perempuan
yang bisa diganggunya seenaknya…
Malam ditutup dengan tidur…
Dan berakhir dengan bangun pagi keesokan harinya
Masih diiringi ocehan penghuni tenda sebelah belakang yang membangunkan
Sungguh…
Belum pernah aku begitu ingin menyiram muka-muka orang itu dengan air panas
Supaya mulut-mulut mereka yang lancang terdiam…
Dan sungguh aku begitu ingin menampar muka-muka orang itu
Supaya mereka tau, kita perempuan yang tak bisa dilecehkan
Walau hanya dengan kata-kata…
Sarapan pagi memeriahkan suasana
Bubur kacang hijau, mie+bihun sisa kemarin yang digoreng,
Nasi sisa kemarin di lapangan rumput yang juga digoreng….
Ternyata saat terang matahari muncul
Para makhluk penghuni tenda sebelah belakang
Sama pengecutnya dengan pantat mereka yang hanya mampu bersembunyi
Dari balik celana…
Mereka pun diam tak berkutik…
Entah karena ada satu laki diantara kami, yang disebut Dewi
Yang malam hari kemarin ribut dipanggil-panggil Dewi oleh mereka
Entah karena wajah kami perempuan terlalu cantik
Membuat mereka tak berkutik
Atau karena mereka memang tikus malam
Yang cuma berani ribut saat gelap
Yang cuma berani mengoceh saat dibelakang saja
Tak berani menunjukkan batang hidungnya yang ternyata masih beringus itu…
Tak berani pula menegakkan wajahnya yang masih bau kencur itu…
Hmmm…
Maafkan…
Kalau ucapanku jadi sarkastik…
Aku hanya membenci makhluk laki-laki yang seperti itu…
Berleha…
Hingga jam sebelas baru selesai berkemas dan membongkar tenda
Berputar dititik yang sama
Hingga hampir satu jam kemudian baru melangkahkan kaki ke arah yang tepat
Ke air terjun yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja
Hanya sekitar lima belas menit saja dari tempat berkemah
Air terjun yang dikelilingi rimba
Yang tanpa batu-batu sebagai jalanannya
Pastilah aku akan percaya hanya kami yang menginjakkan kaki disana
Beserta beberapa orang yang telah terlebih dulu sampai disana…
Langsung berkubang
Berenang di bawah kucuran air terjun
Hanya Yeti dan aku yang setia menjaga kekasihku dari air…
Jam satu kembali ke warung tempat menitipkan tenda dan beberapa barang lain
Warung yang pelatarannya pada malam-malam sebelumnya juga jadi tempat menginap…
Mandi…
Membersihkan diri dan raga…
Dan pulang..
Numpang angkot sampai jalan Cidahu lagi sambil bayar tujuh ribu saja
Kurang dari setengahnya harga ojek dua malam lalu…
Supir angkot yang baik itu pun bercerita banyak hal
Mulai dari air terjun yang lainnya
Yang belum sempat kita kunjungi…
Bercerita pengalamannya yang pernah latihan bertahan hidup di gunung selama dua minggu…
Bercerita bahwa segala binatang buas, ular, macan tutul, dan macan kumbang
Yang sebelumnya juga menghuni gunung salak
Terpaksa “dipindahkan” oleh pawang binatang masing-masing ke gunung sebelah
Gunung yang terlihat dari Kawah Ratu berada di sebelah kanan
Karena tempat asalnya untuk daerah wisata…
Bercerita tentang hantu merah yang muncul di air terjun #2 kalau ada yang menginap disana dan berbuat mesum…
Mengajarkan bagaimana mengeluarkan bisa ular
Kalau ularnya terlanjur mengigit kita…
Bercerita panjang lebar..
Kesana kemari…
Menghibur…
Sampai di bawah mampir makan sebentar di warung Padang …
Setelah kenyang mengisi perut
Naiklah kita ke bis yang membawa kita kembali ke UKI
Kawah Ratu..
Aku pulang kemana hatiku kutinggalkan
dan aku berjanji akan kembali lagi suatu saat nanti
Membawa teman yang lain
Mengunjungi air terjun yang lain…
Dan semoga saja saat itu aku tak lagi terbang dengan sebelah sayapku saja…
Kawah Ratu,
Tunggu aku kembali…
Mungkin beberapa bulan lagi
Mungkin masih tahun depannya lagi..
Tapi semoga saatnya tiba, keeksotisanmu masih belum berkurang…
Jungle nan Hijau
(sampai tulisan ini dturunkan ke blog ini, aku belum pernah kembali lagi ke kawah ratu. beberapa hari sewaktu kami pulang dari sana, 6 anak SMP tewas karna gas beracun di kawah ratu. dan sejak saat itu kawah ratu ditutup.)
Catatan Perjalanan Gede

May 11, 2007 by silviajelita
Sebelumnya…
Catatan perjalanan ini panjang bener…
Bahkan mungkin bisa dibikin jadi buku…
Maka dari itu kalo yang males baca, mendingan jangan baca, daripada entar jadi bosen ato males, gara-gara kepanjangan…
Kalo yang pengen baca, mendingan juga pipis ato e’e dulu, karena catper gue ini ngga seru kalo dipotong2 dan mendingan cepetan siapin cemilan kaya popcorn, gorengan, kacang, keripik, ciki, nasi uduk, sate ayam, rujak, kesemek ato makanan lainnya
Biar ngga kelaperan pas baca catper gue ini…
Karena gue ngetiknya aja sampe kelaperan… Hihihi…
Halte UKI…Cerita ini berawal dari keberangkatan gue sebatang kara ke tempat yang belum pernah gue kunjungi sendirian. Nama gue berasa berubah menjadi Fifi Alobe deh… pada tau gak sapa itu Fifi Alone???
Arrggghhh… pada ngga gaul ya?? Jaman kecilnya dulu ngga gaul sama Hilman dan Boim Lebon yaaa???
Lupakan!!! Tempat yang gue datengin ini menurut gue asing dan sedikit membingungkan. Pasalnya, gue kesitu paling baru sekali-duakali-tigakali, itupun rame-rame bawa gerombolan sekampung…
Berangkat dari kantor jam7 malam, jalan sampai cawang atas dengan membawa tas gue yang besar dan super berat dan menenteng dua botol guea besar dan satu guea kecil. Naik bis apa aja yang ke UKI, P6. (padahal, setelah gue tau belakangan dari temen kantor gue, katanya ngapain jalan jauh2 sampe cawang atas??? Dari dpan kantor juga bisa naik langsung lewat PGC!!!) Lha??? Meneketehe??!!!
Turun disuatu perempatan yang terus terang ngebingungin banget buat gue, dengan gaya
pede dan sok tau, gue jalan ngikutin filing dan nanya arah UKI juga ke orang di bes sebelum turun. Pokonya tampang gue saat itu udah kpedean berat deh.. maklum, tempat asing, kalo ketauan celingukan ngga jelas tar malah dimacem2in lagi..
Telepon Jonal, dia sama yeti mereka pada masih di jalan. Daripada bengong nunggu, gue mendingan makan malem, kebetulan ada tukang sate padang dekat gue berdiri… Dan kebetulan juga cacing-cacing di perut gue udah berdisko…
Laparku sudah terobati dengan seporsi sate padang yang nikmat dan mak nyus…
Gue melanjutkan perjalanan ke arah UKi seperti yang ditunjukkin ama Jonal dan tukang sate padang ato kira-kira begitulah menurut penciuman gue. Lumayan juga jalannya untuk bawaan seberat itu dan bahu yang mulai cedera sebelum berangkat…
Sampailah gue di halte UKI dan duduk manis disana menunggu yang lain yang belum dateng. Gue ngsms Jonal kalau gue sudah sampai, menunggu di halte sambil baca Koran.
Mulanya, jauh sebelum berangkat, gue udah mikir, kalo gue bakalan jadi orang yang paling lama sampai di tempat janjian, gue orang yang bakalan paling di tungguin. Tapi, nyatanya, Sahabat, gue orang yang paling pertama sampai dari jadwal yang ditentukan, dan gue jugalah orang yang paling pertama dateng…
DI HALTE YANG SALAH!!!!!!!!
Hahaha… Hahahahahahaa….
Lama gue membaca Koran, gue melihat jauh kedepan, ada plang tulisan jurusan Bogor, ada diarah seberang, berlawanan dengan tempatku menunggu… Deg..deg… apa gue salah halte?? Nengok kiri kanan.. Sambil masang tampang sok pede…
Makin jauh gue memandang ke depan gue melihat halte di seberang jalan, satu-satunya halte di depan UKI, tepatnya di seberang UKI, bukan tiga halte berjejer tempat gue duduk. (soalnya gue inget kata Jonal, itu halte satu-satunya depan UKI) Nah pan, halte yang gue dudukin juga halte satu-satunya depan UKI,
ternyata oh ternyata, maksutnya halte seberang UKI…
OOOoooo… Gitu to???
Dengan keyakinan penuh kalau gue salah halte gue langsung berjalan ke halte seberang lewat jembatan busway. Sampai tangga turun, gue lihat Jonal mau menjemput gue, dari halte yang salah. Ternyata, di halte yang benar, sudah menunggu Jonal dan Yeti, dan beberapa pengamen yang mengiringi kita bertiga dengan lagu rohaninya… udah berasa kayak ikut kebaktian aja deh…
Ups…
Ada insiden kecil, pas gue baru nyampe halte, ngarasa ada yang longgar, ternyata ada yang “lepas” makanya gue, ditemeni Yeti nyari2 WC umum, ngebetulin sesuatu yang terlepas itu…sekalian pipis de… rugi udah bayar seribu perak, cuman betulin “itu” doang, mendingan sekalian pipis…
Heheheh… aman…
Niko dan Johan & Yosep menyusul datang, seperti biasa nyalamin kita semua, sampai nggak lupa, dengan gaya sok akrab JSN-nya menyalami cowok yang duduk samping Yeti, kiranya dia salah satu rombongan kita, nyatanya cowok itu masuk dalam rombongan pengamen…
Hahaha…
Gue sama Yeti cuma bisa ngakak ngeliat tampang bloon si mas disalamin dengan gaya sok akrab Johan dan Niko dan ngeliat tampang Johan dan Niko yang kepedean mengira dia rombongan kita…
Lanjut…
Satu per satu temen2 pada berdatangan, sampai arnie yang berangkatnya nyusul aja ikut dateng, hmmm… Gue tau, pasti arnie kangen sama kita2 yang pada mo berangkat;p Terakhir yang datang, rombongannya Andrew, ade, dan acut…
Berangkatlah kita!!
Gue, Jonal, Yeti, Niko, Johan, Yosep, Ones, Laura, Nitha, Fitri, Yonni, Andrew, Acut, dan Ade…
Naik bus jurusan bogor, jam setengah sepuluh malam, bayar sepuluh ribu perak!!
Mahal BO!! Turun d Ciawi (baca: Chaiyaweee, harap dibaca sambil menjontorkan bibir dengan eksotis;p)
Lalu dari Ciawi (baca: Chaiyaweee), kira2 jam setengah sebelas, naek bus lagi jurusan bandung lautan asmara, turun di pasar cipanas, bayar lagi delapan ribu perak…
Sampai dipasar cipanas, makan dulu… (lagi;p)
Makan sate, KAMBING!!! Rame2 sambil dikebulin asep satenya, gue udah berasa jadi daging asep aja… Dari situ kita carter sampe kaki gunung putri, ngga tau deh apa namanya…
Bayar lagi seorang lima ribu perak… tebak, udah berapa duit tuch uat ongkos??? Itung sendiri lah…
Sampailah kita di bawah gunung putri, awal perjalanan kita ke Gede…
Hmmm… udara dingin langsung menyelusup ke balik kemeja gue yang tipis dan eksotis, yang memang dirancang bukan buat naek gunung….
Hyaaaa iyyyaaaaalllaaaaahhhh….
Pada Pendakian Ini….Sampai bawah gunung putri, mendaftar di pos pendaftaran, lalu mulai mendaki sampai nemuin tempat enak buat nge camp… berhubung udah malem banget, udah subuh malah, jam setengah satu kita mule mendaki.
Diterangi cahaya bulan purnama yang romantis-eksotis-kelimis, kita mule melewati ladang2an (yang kayanya tiga taun lalu berasa luas banget dan jauh banget, taunya engga juga)
Target tujuan kita rumah panggung nan angker itu, untungnya, sebelum sampe rumah panggung uda ada tanah yg rada lapang buat kemping…
Bikin tenda alakadarnya buat yg cewe2, yang cowo + fitri tidur diluar…
Ngantuk banget bow…
Pagi menjelang,Dingin bow…
Maklum, masih pake kemeja eksotis yang sama dengan kemarin buat ngantor…
Bangun, pipis sekalian ganti baju di semak2, biar setan2 disana muntah2 ngeliat gue ganti baju, hahaha….
Sarapan bubur instant sama madu sama secangkir kupi anget;p
Hmmmm… sedaaaaaap…
Eittssss maksud gue buburnya ga dicampur sama madu lho, makannya misah;p
Belum pernah gue ngerasain makanan senikmat ini ditengah hutan;p
Abis makan, beberes bentar alias peking…
Dan berangkat lagi!!! Kira2 udah jam setengah tuju-an deh..
Jalanlah kita dibagi dua rombongan…
Gue termasuk orang yang ngga jelas jalannya, kadang ikut rombongan belakang, kadang ikut rombongan depan, sampai akhirnya kedua rombongan itu bener-bener misah jauuuuh banget…
Dan gue, terjebak ditengah-tengah, cuman bertiga sama Yeti dan Ade.
Yang gue tau, posisi kita serba salah, ngejar yang depan, kejauhan
Nungguin yang belakang juga kejauhan, kelamaan berenti bikin udara malah Dingin..
Mana kadang2 keliatan mendung lagi.. bushet.. saat itu gue cuman takut keujanan
Pasalnya, dari kita bertiga ngga ada yang bawa ponco.. dan ngga mungkin juga kita neduh, otomatislah kalo keujanan bakalan ujan2an…
Yang ada kita cuma bisa berdoa aja semoga mataharinya nongol lagi…
Sampe di HM33, ones dari belakang nyusulin, Katanya yang dibelakang dah sampe HM28, kepayahan gara2 barang bawaannya keberatan, udah bawa tenda 2biji, sama pada bawa kerir yang segede2 menhir, ditambah bawain kerirnya si lemsky yang dari awal di senayan juga udah dihina dan dicerca supaya ga bawa kerir segede gitu eeee… tetep aja ngotot dibawa juga…
Akhirnya juga dia kewalahan sendiri… Hahaha… Belagu sih lo, Lems;p
Ones minta yang depan suruh nungguin, manaaaaa mungkiiinnnn??? Membaca saja sulit… Dan sepertinya… teman-teman mau main denganku;p Mereka aje udah jauh, kira2 1jam-an deh jaraknya sama gue, gimana nyusulnya…???? Oia.. sebagai info, yang depan tuch nita, laura, acut, yosep, niko, yonni. Yang belakang Andrew, jonal, ones, johan sama lemsky
Yasudahlah…
Gue bertiga jalan makin cepet berharap bisa nyusulin yang didepan, masalahnya… Diteriakin aja gak nyaut… Saat itu gue rada dilemma juga;p
Apalagi mo ga mau gue harus jadi lider diantara bertiga ini… lantaran walopun dateng dari arah sebaliknya, tetep aja gue yang pernah menginjakkan kaki di situ, kentut di situ, makan di situ, e’e disitu juga…
Hari mangkin siang, yang ada di tas cuman makanan alakadarnya… ya terpaksalah makan dulu alakadarnya itu…
Lalu jalan lagi, kadang jalannya barengan sama rombongan entah darimana, pokonya ada yang rambutnya kribo juga, trus juga jalannya sambil dikerubungin ama tawon…
Hmmm…
Gue emang semanis madu;p
Yang gue bingung tu tawon dua biji setia banget ngintilin gue dari pertama tempat nge-kemp sampe atas… Kadang nongol, kadang ngilang Kok kuat bener terbangnya.. Hmmm….
Gue curiga tu tawon sebenernya ga cuman dua biji, mereka sekampung, dan esafetan ngintilin gue… toh gue juga ga bisa bedain itu tawon yang sama ato ga…
Makin kepuncak, yang ngintilin udah bukan tawon lagi, tapi laler!! Tau deh gue emang belom mandi… tapi gue kan masih tetep eksotis;p Nah.. udah pada capek tuch.. dan gue, entah dapet kekuatan darimana, masih nyante2 aja… (Bener2 dilindungi Tuhan gue;p) mana jalannya makin nanjak lagi… ngosngosan sih iya.. tapi masih bisa ngebut juga… apalagi yang di HM 40 apa 41 tuch.. bushet.. terjal bener nanjaknya.. Hehehe… jadi malu gue…
Untung, waktu dulu ditengah keputusasaan gue mendaki salak bareng Jonal, ada kata-katanya yang bener: kalo mo puncak tuh puunnya pendek2) dan memang makin lama puunnya makin pendek, jadi gue percaya dan yakin kalo emang udah mo nyampe puncak… Lagian juga jalannya kan ngga menipu dan muter2 kaya di salak… tapi juga pas dimana gitu, ada rombongan bapak2 pake tas kerja selempang turun dengan ngebut ke bawah, dengan peralatan alakadarnya… (BUSHEETTT) dan bilang udah deket, ngga nyampe setengah kilo lagi… makin semangatlah gue jalan..
Sampe di HM43 mule kecium bau kentutnya temen2 JSN yang uda nyampe duluan… dan mulelah ada lorong poon yang lain dari yang lain..
surya kencana
Dan belum pernah gue ngerasa seyakin ini, kita uda nyampe surya kencana!!!
Langsung aja gue teriakin anak2 dan emang ada jawaban…. Bo.. mereka langsung menyerbu menyambut gue, layaknya para fans gitu;p Hmmm… jadi malu… Ketempat mereka pada ngumpul dan ngaso… Nah trus gue bilang tuh, yang dibelakang uda pada kewalahan, bawa 2tenda eksotis dan menhir2, minta bantuannya segera… makanya Niko ma Yonni (kalo gasalah inget) nyusulin mereka turun lagi.. Sekarang jam setengah satu…
Sementara gue, yang masih berasa kelebihan energi, ngajakin laura ngambil aer di mata aer surya kencana yang kira2 tiga taun lalu gue kunjungin… Yeti ama Dede pengen ikut, ya ikutlah… (belum tau dia, jauhnya sebujugbuneng…) Makanya ampe tengah jalan nyerah, tadinya mo nungguin kita, taunya pada balik juga kedinginan…Bekabut Bo!! Nyampe daerah mata aer, dengan gaya pedenya gue nyariin dimanakan batu yang keluar aernya???
Ternyata nyarinya ga semudah yang gue bayangkan, gue lupa tempatnya!!!!
Yudah deh, ngambilnya aer kali aja yang keliatannya bening…
Baliknya, kerepotan sendiri gue ama laura bawa 8 ato 6 botol akua gede… sambil nyusurin sunge, berharap nemu mata aernya, pan tu sungey arah alirannya berlawanan ama arah kita jalan pulang, berarti asalnya kan dari arah kita dateng.
Kok jadi belibet gitu ya??? Pokonya gitu deh… Pulang kerepotan dan keberatan bawa tu akua, jadi ribet sendiri gue ama laura, pokonya berbagai gaya dilakuin buat ngangkat tu kantong plastik akua, segimana caranya supaya ngga berat.. nyari2 kayu yah, biar bisa dijinjing… pokonya semua gaya yang oke dicoba… (tapi emang belom sempet nyoba gaya anjing alias dogi stail si…)
Nampak kejauhan, di jalan setapak alun-alun surya kencana yang luas dan diselimuti kabut dan angin kencang yang membuat rerumputan dan hamparan pohon edelweiss yang masih kuncup menari-nari, nampaklah dua sosok makhluk berjalan mendekti kami… Ternyata vitri lemski membawa trangianya dan Enos membawa rapornya..:D Katanya mo nyuci trangia.. Alamaaaakkk…. Kurang kerjaan pisan ya, bocah…
Gue ma laura bilangin… kalo ke mata aernya mah masih jauh bener, ngapain jauh2 cuman nyuci, mending pake aer yang gue bawa aja, mereka ngga mau…
ato ga, lo jalan ketengah padang, keluar dari jalan setapak, disana ada aliran aer, nyuci aja disitu, tapi mereka bingung juga, abisan kabut tebel banget, tar kalo keluar jalur setapaknya ngga bisa balik, mending jalan yang pasti aja, tapi jauh…
pulang juga ga mau, akhirnya, gue ama laura meninggalkan mereka bedua yang masih dalam suasana dilematis, nangkring manyun aja di tengah-tengah padang berkabut surya kencana yang sungguh eksotis…
Membawa botol akua dengan fasilitas untuk membawanya yang ngga memadai, jadi terasa berat juga.. untunglah akhirnya kita sampe… Lumayan juga ngambil aer dua jam sendiri jalannya. Ternyata yang rombongan belakang udah pada nyampe… Wuih… kita berdua disisain nasi bungkus, makanlah kita nasi bungkus sebungkus berdua, gue ama laura… sungguh eksotis..
Trus bikin mie… Yang laen udah pada bikin tenda… Dan pada mule masak2 depan tenda…
Hmmm… nikmat, apalagi ada kentangnya nita yang niat banget dibawa plus botol minyak gorengnya… Puas makan dengan rakusnya, mule pada bobo deh… sambil nungguin yang nyusul pagi ini nyampe…. Sambil bobo bergosip dengan jonal dn niko…
Isi gosipnya tentu aja disensor;p Eh iya.. sambil pijet-pijetan juga.. Maap ya, Nal, bis mijetin gue dapet hadiah yang harum semerbak… Buset, pantat gue terbuat dari apakah, sampe ngga berenti2nya kentut mulu… Haha…
Pada bobo siang, ampe sore, kira2 magrib-an deh, mule pada kelaperan lagi, mule masak2 lagi deh… Heran, ngapain jauh2 ke gunung kalo kerjaannya makan mulu… Itu mah di Jakarta juga bisa…
Disini pula gue mule ngerasa ada yang janggal dari anak2 JSN..
Ternyata pada bisa egois juga, pada bisa individualis juga
Hmmm… mana yang katanya rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi,
Ternyata begitu di gunung keliatan, ngga mau direpotin buat temennya sendiri,
Mikirin urusan perutnya sendiri juga… Hmmm…. Itu tidak baik, kawan…
Sambil mule gelap,memantau temen2 yang nyusul, tapi belom kejawap juga pake hate…
Udah jam setengah 7-an baru terjawab, mereka sudah sampe di surya kencana…
Acing, Novi, Arni, Fr Setyo, Bowo sama Tomas… Bikin tenda juga, yang tempatnya rada jauh dikit dari kita… (sebenernya juga ngga jauh, cuman kealingan ama semak2 jadinya ngga keliatan deh) masak-masak lagi… tapi persediaan airnya menipis, kawan…
akhirnya, jonal, ndru, ones, laura (dan entah sapa lagi) ngambil aer (tapi ngga sejauh gue sama laura ngambil..) gue nunggu di tendanya bowo dkk, sambil turut memberi mereka “hadiah” juga.. hahaha… semuanya pada pingsan…
oia… Bowo jeleeeekkk!!!, masa pundak gue yg lagi memar gara2 bawa tas, digigit seenaknya, ampe biru!!!!
Yang ambil aer pada pulang, masak2 lagi… Buset… Makan terus… ampe mampus….
Terus tidur deh… Hmmm… kaya di salak dulu, kelamaan tidur, ampe badan pada pegel semua…
Apalagi si ikan Lele Yosep, tidurnya maruk banget, heran, kenapa orang sekurus dia butuh ruang yang lebar buat tidur, gue ampe kegencet di pintu tenda, mana pas dimuka gue ada kakinya ones lagi… lumayan, buat digigitin;p Pokonya, ngga tau lagi deh bentuk kepala gue kaya apa…udah kegencet kemana-mana Satu yang kurang disini: TENDA…
Bayangin aja, tenda berkapasitan 7 orang normal, ditidurin buat 9orang yang termasuk nita sama fitri lagi, yang pantat ama betisnya aja udah memenuhi satu lapangan bola. (eh.. gue hiperbola ya;P)
Apa ngga kaya sarden tuch… Oh ya..
Satu yang lupa gue certain, hal yang paling gue inget di gunung gede waktu gue naik tiga taun lalu adalah dinginnya yang bikin usus-usus beserta cacingcacing di perut gue ikut gemeteran, gigi gemeletukan, badan mengigil hebat..pokonya belum pernah gue merasa sedingin itu dalam hidup gue…
Lalu gue inget, dulu gue naek pas musim kemarau yang konon katanya sakitnya karma diguna-guna…halaah…. Maksud gue konon katanya kalo pas musim kemarau malah lebih dingin dari pada musim ujan.. Ai see.. ai see… Emang bener, dingin sih, tapi masih bisa gue tahan, ngga terlalu menggigil seperti yang gue inget dulu…
Yah, setidaknya, sleeping bag 60ribu gue ditambah jaket Microsoft kaka gue, ditambah kaos JSN dan kaos Holly Spirit gue serta sarung tangan dan kaos kaki… Hehe.. perlengkapan perangnya tebel juga yach… Tapi, emang bener, dulu, waktu gue naek gede, kostumnya ngga jauh beda, sleeping bag pinjeman, jaket Microsoft yang sama, kaosnya kinoi, kaos ijo kegemaran gue sendiri, plus sarung tangan dan kaos kaki, tetep aja tuch gue mengigil gemeteran…
Pagi menjelang, Surya Kencana, 6 Mei 2007Gue tau bener, di surya kencana itu kalo pagi benerbener eksotis…
Pancaran sinar matahari pagi yang menyelimuti perbukitan yang mengelilingi lembah, bener2 indah banget… Di ujung surya kencana juga bisa lihat awan-awan bergulung-gulung menyelimuti puncak gunung entah apa… Bener-bener pemandangan yang indah… kaya kata Kira: to see as God see..
Ya disini inilah… mana hamparan padang edelweiss yang masih kuncup itu bener2 indah, itu aja masih kuncup, coba waktu mekar kaya tiga taun lalu gue disana, Bener2 eksotis…
Gue bersyukur banget masih bisa dapet kesempatan buat lihat pemandangan itu lagi. Paling ngga puas bener deh, setelah perjalanan mendaki yang nyapein, kita bisa ngeliat pemandangan yang sungguh eksotis, ngga kaya di salak, perjuangan pendakiannya ngga sebanding dengan apa yang ada dipucaknya… Mau nenda aja susah, duluL
Tapi ternyata ngantuk dan lelah gue nggak terkalahkan, makanya gue lebih memilih ngumpet di balik sleeping bag gue, dan juga masak mie pake kornet buat sarapan. Kalo kata Bondan Winarno : “hmm.. Endang Bambang Gulindang”;D
Persiapan, peking dan mulai perjalanaan pulang…
Poto2 sebentar trus ngambil aer di tempat kemarin. Mendaki dulu ke puncak, baru nanti turun… Mengarungi alun2 surya kencana nan luas… Mulailah mendaki.. Entah karena belum pemanasan, ato karena memang udara semakin menipis… Gue ndakinya berasa ngosngosan banget, pokonya rasanya napaasnya udah ngap banget de. Bushet… Manthrabbbssss…
Dan dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah pagi itu, Gue tiba2 mendapat panggilan dari Alam, buat menghadiri mitting bentar.. So, berangkatlah gue ke semak2 untuk melangsungkan niat luhur dan mulia gue. Sekitar 5-10 menit proses kontraksi itu berlangsung;p
Melanjutkan pendakian, kali ini badan udah rada entengan setelah meninggalkan sedikit “beban” dari perut…
Naik.. naik… kepuncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan
Kulihat saja
Banyak pohon ngga jelas:D
Para cecowo-cecowo yang udah naik duluan balik turun lagi, ngebantuin yang pada kewalahan “lagi” naik ke puncak bawa beban berat…
Puncak Gede
Puncak Gede masih seindah bayangan gue, bahkan jauh lebih indah dari yang gue inget… Jauh dibawah, ditengah2 ada kawah lengkap dengan belerangnya, dikelilingi tebing batu yang bener2 eksotis… Pokonya ngga bisa diungkapkan kata2 bagaimana ngeliat indahnya puncak gede… Saat itu gue nyesel ngga bawa kamera EOS canggih gue, kalo bawa, pastinya semuanya bakalan kerekam dengan baik. Berasa di negeri di atas awan…
Indah..
Eksotis…
Menakjubkan…
….
(silahkan isi sendiri)
satu jam-an menikmati keindahan puncak gede yang ngga ada habisnya, kita terpaksa harus berjalan pulang.. turun gunung kira2 jam setengah sebelas-an… lewat jalan yang berbatu dan berpasir dikiri kanannya jurang siap menangkap kalau kita terjatuh.. tapi gue yakin malaikatNya melindungi dan nggak akan membiarkan kita jatuh…
Turun Gunung
Perjalanan turun selalu menyiksa gue. Kali ini penderitaannya udah dimulai sejak mulai turun.,
Gue tau, dari awal perjalanan, kesalahan terbesar gue adalah, gue ngga make sepatu yang nyaman dan bener. Gue pake sepatu kaka gue yang jug ague pake dulu naek gede..
Hasilnya, dulu kuku jempol gue pada mati, itemn semua, gara2 sepatunya kesempitan, sedangkan sepatu keren gue yang menemani gue ke salak “hilang” entah kemana, ada insiden mengenai hilangnya tu sepatu de…
Intinya gue terrpaksa pake sepatu sempit itu lagi lantaran satu2nya sepatu yang gue punya, buat jalan di trotoar pas ujan aja licin, gimana buat naek gunung???
Mangkanya, begitu turun rada ngebut, jari2 gue menjerit menderita karena kegencet…
Sungguh malang .. mo pake sandal jepit gue juga naga2nya licin, akhirnya pake sandal swallownya yosep yang kalo di kaki gue kaya sepatu katak:p Kegedean, Bo!!
Tapi, ternyata, Swallow menjawab semua tantangan.. daya cengkeramnya kuat bo!! Ngga licin, cuman rada sakit aja kalo kepentok batu.. Palingan juga tereak: WADAAAWWW!!!
Selebihnya… aman… Lumayan juga rada bisa ngebut, walopun mesti ati2 takut kena batu…
Disini rada mencar juga, lantaran banyak jalan buat turun, dan berhubung pada asyik turun sendiri2 jadi mencar2 deh.. Pada lewat jalan masing2… Salah satu hal yang gue seselin dalam perjalanan turun ini… Gara2 mencar2, gue gaatau jalan lewat tanjakan setan, akhirnya ga bisa lewat sana lagi deh...Huhuhu… Padahal salah satu tujuan gue ke gede lagi adalah buat ngerasain eksotismenya tanjakan setan lagi… ups… katanyaa jaangan sebut nama itu lagi.. yadeh… Tanjakan rante… Hehehe… Dulu kan lewat sananya naik, sekarang gue pengen ngerasain turun dari sana … Pasti lebih eksotis… walopun gue tau keeksotisan tanjakan rante masih kalah dengan keeksotisan tanjakan Cidaho yang sungguh-sungguh mantap itu:P
Kandang Badak hingga Air Panas
Kumpul di Kandang, BADAK!!! Setelah berpencar kesana kemari, berkumpullah kita menjadi satu tumplek blek di Kandang, BADAK!! Yang dateng duluan cuman bawa makanan ala kadarnya, kompornya dibawa sama yang belakang, yang pada lewat tanjakan, SETAN!!!
Yasudahlah… makan siang ala kadarnya… biscuit, kornet, coklat, madu, dll…
Gak berapa lama, rombongan belaakang, yang gue lupa sapa aja, HAYO… Ngaku!!! Ngaku!!! Nyusul sambil mamerin kalo bis lewat tanjakan, SETAN!!! Huhuhu… ngiri…ngiri… Bodo..
Yang penting kita langsung masak2, berpencar jadi 3 kompor. Mari memasak!!!
Ehh.. aernyaa abis, Ayo, Niko, kita ngambil aer di belakang pondok di kandang, Badak!!!
Ayo!!.. cepetan masak2nya.. nanti keburu ujan… Yang ganjen, pada bikin teh madu, Bo…
Gaya banget… tapi huhuhu… masa gue ngga kebagian teh madunya, gue kan yang bawa madunya sampe dikerubutin tawon. Sungguh teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya……………..
Puas kenyang makan sepuasnya, kita ngelanjutin jalannya lagi.. Seperti biasa, nona Nitha yang memimpin…
Turun… turun… dari puncak gunung… banyak hal-hal eksotis… (dinyanyikan dengan nada lagu naik2 ke puncak gunung:P) Nitha, laura dan Yeti memimpin sodara-sodara, dan menghilang ditelan bumi.. eee.. ternyata mereka menunggu di air terjun entah apa namanya, yang jelas sangat eksotis… Pokoknya cantik sekali… tapi waktu sudah sangat sore, kira2 jaam 3an… ntar kalo mampir lagi bisa kemaleman dech… Lanjut turun, lewati sungai berbaatu yang airnya jernih..Duduk2 bentar, basahin kaki dan ngisi aer buat persediaan.. Lanjut jalan lagi…
Masih semangat juga Bo…:P Nah… ini salah satu bagian yang paling seru: AIR PANAS…
Sepanjang ingatan gue (karena dulu lewat situ malem2) Aer panas cuman jalur yang dialirin aer yang panas banget… Gue nggak nyadar dulu, kalo jalannya batu2 udah gitu sampingnya tebing dan jurang… Cuman dilindungin sama tali baja yang rada karatan dan ngga yakin deh bakalan kuat nopang badan kita… Beruntung juga gue disini pake sandal, jadi bisa terapi aer panas, yang bisa menghilangkkan rasa pegel… Tapi bujug buneng, aernya panas bener, harusnya kita lewat sini bawa telor, trus direndem deh, ntar juga mateng… Pokonya, kalo ngga mau kena tu aer yang panasnya luar biasa, harus ati2
Lewat2 batu-batunya, jangan kepleset… Tapi makin kesonoan, makin anget aernya, makanya gue malah beraani nyebur2in kaki gue, lumayan, ngurangin rasa pegel:P
Dan, Sahabat…. Jalur aer paanas ini bener2 eksotis… Harus ati2 tapi juga seru banget ngelewatinnya…. Duh… daerah mana sich di jalur Gede yang ngga eksotis…??? Kayanya semuanya gue bilang eksotis deh…
Yang kuat tetap kuat, yang lemah semakin lemah…
Lewat aer panas jarak dengan yang depan semakin jauh, sama yang belakang juga Jalan turun terus, kadang naek… Dan akhirnya ditungguin juga di sebuah pondok… Pos percabangan antara mo ke aer terjun cibeureum dan jalan turun… Sebenernya, gue pengen banget tuch ke sono, pasalnya dulu belom sempet, Tapi bagaimana mungkiiiiiin, hari sudah semakin sore…
Mau pulang besok, memangnya??? Ternyata oh ternyata, di pondokan itu, kita bertemu dengaan yang namanya Kelik pelipur lara… eh bukan deng, Kelik doang, dia itu, katanya anggota angkatan pertama JSN yang dulu di Jonggol… salah satu “domba yang hilang” yang setaun ngga kedengeran kabarnya akhirnya ketemu juga di Gede… Jodoh memang… Mulai lagi ngelanjutin jalan pulang.. tuh kan, pulangnya jalannya kejauhan, gue udah firasat memang, soalnya kita naeknya cuman sampe surya kencana, tapi pulangnya ke puncak dulu baru turun… udah gitu kesiangan pula, makanya akhirnya kesorean, kena ujan pula… Tapi masih bisa dinikmati..:P
Lewat jembatan kayu, mulai terasa egosentrisnya.. Jalannya udah mule makin mencar2, dan yang gue tau belakangan, banyak yang cuman jalan berdua2, padahal, hari udah sore banget, menjelang gelap malah. Gue juga cuman jalan berdua sama acing, ditengah hutan, dikala hari mule gelap… Makin gelap dan makin mencekam.. Apalagi setelah melewati telaga biru yang aernya ijo… Suasana makin mencekam… Dan kondisi kaki gue juga makin melemah…
Pembalut yang gue pinjem dari jonal buat ngebalut kaki gue yang selalu cedera
Uda gue kasi ke lemsky yang kakinya keseleo Makanya, dengan kekuatan satu kaki gue ma acing jalan pelan2.. Senternya juga cuman satu lagi… Huhuhu… Saat ini gue baru ngerasain rasanya sendirian (berdua maksudnya). Gimana rasanya ditinggalin ngga berdaya di tengah utan, Malem2 lagi
Yang kalo ada apa2 juga udah ga bisa ngelawan, cuman bisa berdoa aja. Sementara yang masih pada kuat2 udah ngacir jauh ke depan, Enggan nungguin yang udah pada cedera ini, takut, kalo jalannya melambat malah bikin cape, Jadi mendingan ngacir aja… Hmmm… Pribadi… gue emang ngga mau dikasianin… Gue juga ngga mau ngerepotin orang dalam perjalanan ini…
Tapi, berdua ama acing doang ditengah ketakberdayaan ini cukup membuat gue berpikir…
Seberapa peduli teman2 yang lain dengan teman2nya yang tertinggal???
Gue tau, gue juga bukan yang paling belakang, entah sejauh apa jaraknya, di belakang gue dan acing ada jonal, fitri dan ones… Tapi, mau nungguin juga “berbahaya”
Makanya gue dan acing memutuskan jalan terus, pelan dan pasti, sambil berdoa aja, minta perlindungan…
Ada kejadian menarik saat gue cuman jalan ama acing, dan menurut gue, dari serangkaian perjalanan gue, saat2 ini adalah bagian yang paling seru, yang cuman gue sama acing yang tau rasanya… Pas gue nyenterin rada jauh kedepan, pas belokan, gue liat ada orang duduk dipojokan.. Spontan gue nanya ama acing, “sapa yang duduk di situ, Cing??” pikiran gue saat itu amat positif, gue memang berpikir, mungkin aja ada temen yang nungguin Tapi reaksi acing ternyata jadi kaget, sambil megang tangan gue dia juga bertanya2… Makin deket, bentuknya makin ngga mirip orang, makin mirip sesuatu yg putih2… Makin mencekamlah suasana… dan mo ga mau, kita harus lewatin “sesuatu” itu… Sambil berdoa dalam hati, kita lewatin “sesuatu” yang putih2 itu… Taunya cuman daon…. Sial… Bikin jantungan aja…
Maka, sejak saat itu, geu jadi males nyorot jauh kedepan, daripada keliatan yang seharusnya ngga diliat… Kadang gue juga denger suara samara di belakang, gue nengok, berharap temen2 di rombongan belakang, tapi gue senterin ngga ada apa2… Kata acing, “dah, ga usah nengok ke belakang lagi, jalan aja terus…” Daripada ternyata yang dibelakang juga yang seharusnya ngga diliat… hehehe.
Gue tau, gua dan acing ngga sendirian… Setidaknya Tuhan gue menemani, makanya ditengah kegalauan kita berdua, Dia mengutus dua “malaikatnya” buat nungguin gue ma acing…
Hehehe… sebenernya mereka cuman 2 pendaki yang sebelumnya di telaga ngeduluin kita, tapi mungkin mereka tau, kita cuman 2 cewe manis yang jalan sendirian di tengah hutan, makanya ditungguin, dideket poon beduri yang melintang… Kata mereka, takut kita megang tu poon, makanya ditungguin… Terima kasih, Tuhan… Belum pernah gue merasa selega ini dalam idup gue… Lolos dari lobang kentut:P akhirnya mereka berdua nyuruh kita jalan duluan, ditungguin dari belakang… Dan ngga berapa jauh, ada Johan ama Novi lagi setop bentar di pos, lagilagi terimakasih,Tuhan… Gue langsung duduk dengan leganya, melihat kita be2 udah dalam situasi yang aman, 2 cowo itu mendului kita lagi… Ngga lama, ternyata Jonal, Fitri dan Ones nyusul juga (ternyata merea emang ngga jauh dari kita!!!) Maka jalanlah kita lagi ber tujuh… (tujuh, angka yang bagus…) terberkatilah kita… Tapi ternyata kaki gue udah minta ampun… jalan gue makin melambat… Johan akhirnya bawain tas gue… Akhirnya… setelah sepanjang perjalanan gue bertekad untuk mandiri dan ngga ngerepotin orang, gue menyerah juga. Thanks ya, Johan… Hujan pun turun lagi dengan derasnya menemani langkah kita… Makin kebawah makin deras… Syukur Alhamdulilah Puji Tuhan Aleluya… Sampailah kita di warung tempat yang lainnya menunggu…
Ternyata oh ternyata… yang nasibnya sama kaya gue dan acing “ditinggalkan” ngga hanya kita berdua… banyak yang emang cuman jalannya berduaberdua… Kenapa sih??? Ngga seneng ya jalannya rombongan??? Apa males nungguin temennya yang lain??? Apa ngga peduli dengan temennya yang lain??? Saat itu gue bener2 kecewa ama JSN… mana semangat kebersamaannya,
Kenapa justru di saat yang paling sulit, kebersamaan itu malah menghilang… Maaf, kalo pada tersinggung, ato pada ngga merasa seperti itu… Gue ngga bermaksud menghakimi siapapun, bukan hak gue menghakimi… Bukan maksud gue untuk memusuhi siapapun atau menuduh siapapun… Ini cuman ungkapan hati gue yang paling dalam, di saat paling lemah dalam hidup gue, gue merasa ditinggalkan (walopun memang ada temen2 rombongan belakang yang amat baik hati..:P hingga akhirnya, paling ngga gue ngerasain kebersamaan itu ada di rombongan belakang, rombongan bertujuh…) dan gue merasa temen2 yang lain juga ditinggalkan ato meninggalkan…
Beristirahat, minum teh anget yang datengnya lama banget… menunggu ujan reda, tapi juga ga reda2… Lalu pulang ke rumah…
Perjalanan Pulang
Ceritanya ternyata ngga selese sampe situ.. Naek angkot carteran sampe jalan raya puncak…
Naek bes ke kampung rambutan… Bo… disini ada insiden, tapi biarlah yang bersangkutan yang cerita:P Tapi lagilagi… ada teman yang dilupakan… Masa tau2 Yeti nyaris ketinggalan, padahal dia mo turun di Ciawi juga.. Dan sampe Kampung Rambutan, ternyata si ikan lele Yosep juga ditinggal Niko yang mo barengan ke depok.. Hahaha… Le….leee…. Malang benar nasibmu…
Di Kampung rambutan berpisah ke tujuan masing-masing…
Itu Sudah….
Si Jungle
You’ll Never Walk Alone
(pake kata2nya Bowo, karna kesempatan ini berasa banget kata2 itu)
Sebelumnya…
Catatan perjalanan ini panjang bener…
Bahkan mungkin bisa dibikin jadi buku…
Maka dari itu kalo yang males baca, mendingan jangan baca, daripada entar jadi bosen ato males, gara-gara kepanjangan…
Kalo yang pengen baca, mendingan juga pipis ato e’e dulu, karena catper gue ini ngga seru kalo dipotong2 dan mendingan cepetan siapin cemilan kaya popcorn, gorengan, kacang, keripik, ciki, nasi uduk, sate ayam, rujak, kesemek ato makanan lainnya
Biar ngga kelaperan pas baca catper gue ini…
Karena gue ngetiknya aja sampe kelaperan… Hihihi…
Halte UKI…Cerita ini berawal dari keberangkatan gue sebatang kara ke tempat yang belum pernah gue kunjungi sendirian. Nama gue berasa berubah menjadi Fifi Alobe deh… pada tau gak sapa itu Fifi Alone???
Arrggghhh… pada ngga gaul ya?? Jaman kecilnya dulu ngga gaul sama Hilman dan Boim Lebon yaaa???
Lupakan!!! Tempat yang gue datengin ini menurut gue asing dan sedikit membingungkan. Pasalnya, gue kesitu paling baru sekali-duakali-tigakali, itupun rame-rame bawa gerombolan sekampung…
Berangkat dari kantor jam7 malam, jalan sampai cawang atas dengan membawa tas gue yang besar dan super berat dan menenteng dua botol guea besar dan satu guea kecil. Naik bis apa aja yang ke UKI, P6. (padahal, setelah gue tau belakangan dari temen kantor gue, katanya ngapain jalan jauh2 sampe cawang atas??? Dari dpan kantor juga bisa naik langsung lewat PGC!!!) Lha??? Meneketehe??!!!
Turun disuatu perempatan yang terus terang ngebingungin banget buat gue, dengan gaya
pede dan sok tau, gue jalan ngikutin filing dan nanya arah UKI juga ke orang di bes sebelum turun. Pokonya tampang gue saat itu udah kpedean berat deh.. maklum, tempat asing, kalo ketauan celingukan ngga jelas tar malah dimacem2in lagi..
Telepon Jonal, dia sama yeti mereka pada masih di jalan. Daripada bengong nunggu, gue mendingan makan malem, kebetulan ada tukang sate padang dekat gue berdiri… Dan kebetulan juga cacing-cacing di perut gue udah berdisko…
Laparku sudah terobati dengan seporsi sate padang yang nikmat dan mak nyus…
Gue melanjutkan perjalanan ke arah UKi seperti yang ditunjukkin ama Jonal dan tukang sate padang ato kira-kira begitulah menurut penciuman gue. Lumayan juga jalannya untuk bawaan seberat itu dan bahu yang mulai cedera sebelum berangkat…
Sampailah gue di halte UKI dan duduk manis disana menunggu yang lain yang belum dateng. Gue ngsms Jonal kalau gue sudah sampai, menunggu di halte sambil baca Koran.
Mulanya, jauh sebelum berangkat, gue udah mikir, kalo gue bakalan jadi orang yang paling lama sampai di tempat janjian, gue orang yang bakalan paling di tungguin. Tapi, nyatanya, Sahabat, gue orang yang paling pertama sampai dari jadwal yang ditentukan, dan gue jugalah orang yang paling pertama dateng…
DI HALTE YANG SALAH!!!!!!!!
Hahaha… Hahahahahahaa….
Lama gue membaca Koran, gue melihat jauh kedepan, ada plang tulisan jurusan Bogor, ada diarah seberang, berlawanan dengan tempatku menunggu… Deg..deg… apa gue salah halte?? Nengok kiri kanan.. Sambil masang tampang sok pede…
Makin jauh gue memandang ke depan gue melihat halte di seberang jalan, satu-satunya halte di depan UKI, tepatnya di seberang UKI, bukan tiga halte berjejer tempat gue duduk. (soalnya gue inget kata Jonal, itu halte satu-satunya depan UKI) Nah pan, halte yang gue dudukin juga halte satu-satunya depan UKI,
ternyata oh ternyata, maksutnya halte seberang UKI…
OOOoooo… Gitu to???
Dengan keyakinan penuh kalau gue salah halte gue langsung berjalan ke halte seberang lewat jembatan busway. Sampai tangga turun, gue lihat Jonal mau menjemput gue, dari halte yang salah. Ternyata, di halte yang benar, sudah menunggu Jonal dan Yeti, dan beberapa pengamen yang mengiringi kita bertiga dengan lagu rohaninya… udah berasa kayak ikut kebaktian aja deh…
Ups…
Ada insiden kecil, pas gue baru nyampe halte, ngarasa ada yang longgar, ternyata ada yang “lepas” makanya gue, ditemeni Yeti nyari2 WC umum, ngebetulin sesuatu yang terlepas itu…sekalian pipis de… rugi udah bayar seribu perak, cuman betulin “itu” doang, mendingan sekalian pipis…
Heheheh… aman…
Niko dan Johan & Yosep menyusul datang, seperti biasa nyalamin kita semua, sampai nggak lupa, dengan gaya sok akrab JSN-nya menyalami cowok yang duduk samping Yeti, kiranya dia salah satu rombongan kita, nyatanya cowok itu masuk dalam rombongan pengamen…
Hahaha…
Gue sama Yeti cuma bisa ngakak ngeliat tampang bloon si mas disalamin dengan gaya sok akrab Johan dan Niko dan ngeliat tampang Johan dan Niko yang kepedean mengira dia rombongan kita…
Lanjut…
Satu per satu temen2 pada berdatangan, sampai arnie yang berangkatnya nyusul aja ikut dateng, hmmm… Gue tau, pasti arnie kangen sama kita2 yang pada mo berangkat;p Terakhir yang datang, rombongannya Andrew, ade, dan acut…
Berangkatlah kita!!
Gue, Jonal, Yeti, Niko, Johan, Yosep, Ones, Laura, Nitha, Fitri, Yonni, Andrew, Acut, dan Ade…
Naik bus jurusan bogor, jam setengah sepuluh malam, bayar sepuluh ribu perak!!
Mahal BO!! Turun d Ciawi (baca: Chaiyaweee, harap dibaca sambil menjontorkan bibir dengan eksotis;p)
Lalu dari Ciawi (baca: Chaiyaweee), kira2 jam setengah sebelas, naek bus lagi jurusan bandung lautan asmara, turun di pasar cipanas, bayar lagi delapan ribu perak…
Sampai dipasar cipanas, makan dulu… (lagi;p)
Makan sate, KAMBING!!! Rame2 sambil dikebulin asep satenya, gue udah berasa jadi daging asep aja… Dari situ kita carter sampe kaki gunung putri, ngga tau deh apa namanya…
Bayar lagi seorang lima ribu perak… tebak, udah berapa duit tuch uat ongkos??? Itung sendiri lah…
Sampailah kita di bawah gunung putri, awal perjalanan kita ke Gede…
Hmmm… udara dingin langsung menyelusup ke balik kemeja gue yang tipis dan eksotis, yang memang dirancang bukan buat naek gunung….
Hyaaaa iyyyaaaaalllaaaaahhhh….
Pada Pendakian Ini….Sampai bawah gunung putri, mendaftar di pos pendaftaran, lalu mulai mendaki sampai nemuin tempat enak buat nge camp… berhubung udah malem banget, udah subuh malah, jam setengah satu kita mule mendaki.
Diterangi cahaya bulan purnama yang romantis-eksotis-kelimis, kita mule melewati ladang2an (yang kayanya tiga taun lalu berasa luas banget dan jauh banget, taunya engga juga)
Target tujuan kita rumah panggung nan angker itu, untungnya, sebelum sampe rumah panggung uda ada tanah yg rada lapang buat kemping…
Bikin tenda alakadarnya buat yg cewe2, yang cowo + fitri tidur diluar…
Ngantuk banget bow…
Pagi menjelang,Dingin bow…
Maklum, masih pake kemeja eksotis yang sama dengan kemarin buat ngantor…
Bangun, pipis sekalian ganti baju di semak2, biar setan2 disana muntah2 ngeliat gue ganti baju, hahaha….
Sarapan bubur instant sama madu sama secangkir kupi anget;p
Hmmmm… sedaaaaaap…
Eittssss maksud gue buburnya ga dicampur sama madu lho, makannya misah;p
Belum pernah gue ngerasain makanan senikmat ini ditengah hutan;p
Abis makan, beberes bentar alias peking…
Dan berangkat lagi!!! Kira2 udah jam setengah tuju-an deh..
Jalanlah kita dibagi dua rombongan…
Gue termasuk orang yang ngga jelas jalannya, kadang ikut rombongan belakang, kadang ikut rombongan depan, sampai akhirnya kedua rombongan itu bener-bener misah jauuuuh banget…
Dan gue, terjebak ditengah-tengah, cuman bertiga sama Yeti dan Ade.
Yang gue tau, posisi kita serba salah, ngejar yang depan, kejauhan
Nungguin yang belakang juga kejauhan, kelamaan berenti bikin udara malah Dingin..
Mana kadang2 keliatan mendung lagi.. bushet.. saat itu gue cuman takut keujanan
Pasalnya, dari kita bertiga ngga ada yang bawa ponco.. dan ngga mungkin juga kita neduh, otomatislah kalo keujanan bakalan ujan2an…
Yang ada kita cuma bisa berdoa aja semoga mataharinya nongol lagi…
Sampe di HM33, ones dari belakang nyusulin, Katanya yang dibelakang dah sampe HM28, kepayahan gara2 barang bawaannya keberatan, udah bawa tenda 2biji, sama pada bawa kerir yang segede2 menhir, ditambah bawain kerirnya si lemsky yang dari awal di senayan juga udah dihina dan dicerca supaya ga bawa kerir segede gitu eeee… tetep aja ngotot dibawa juga…
Akhirnya juga dia kewalahan sendiri… Hahaha… Belagu sih lo, Lems;p
Ones minta yang depan suruh nungguin, manaaaaa mungkiiinnnn??? Membaca saja sulit… Dan sepertinya… teman-teman mau main denganku;p Mereka aje udah jauh, kira2 1jam-an deh jaraknya sama gue, gimana nyusulnya…???? Oia.. sebagai info, yang depan tuch nita, laura, acut, yosep, niko, yonni. Yang belakang Andrew, jonal, ones, johan sama lemsky
Yasudahlah…
Gue bertiga jalan makin cepet berharap bisa nyusulin yang didepan, masalahnya… Diteriakin aja gak nyaut… Saat itu gue rada dilemma juga;p
Apalagi mo ga mau gue harus jadi lider diantara bertiga ini… lantaran walopun dateng dari arah sebaliknya, tetep aja gue yang pernah menginjakkan kaki di situ, kentut di situ, makan di situ, e’e disitu juga…
Hari mangkin siang, yang ada di tas cuman makanan alakadarnya… ya terpaksalah makan dulu alakadarnya itu…
Lalu jalan lagi, kadang jalannya barengan sama rombongan entah darimana, pokonya ada yang rambutnya kribo juga, trus juga jalannya sambil dikerubungin ama tawon…
Hmmm…
Gue emang semanis madu;p
Yang gue bingung tu tawon dua biji setia banget ngintilin gue dari pertama tempat nge-kemp sampe atas… Kadang nongol, kadang ngilang Kok kuat bener terbangnya.. Hmmm….
Gue curiga tu tawon sebenernya ga cuman dua biji, mereka sekampung, dan esafetan ngintilin gue… toh gue juga ga bisa bedain itu tawon yang sama ato ga…
Makin kepuncak, yang ngintilin udah bukan tawon lagi, tapi laler!! Tau deh gue emang belom mandi… tapi gue kan masih tetep eksotis;p Nah.. udah pada capek tuch.. dan gue, entah dapet kekuatan darimana, masih nyante2 aja… (Bener2 dilindungi Tuhan gue;p) mana jalannya makin nanjak lagi… ngosngosan sih iya.. tapi masih bisa ngebut juga… apalagi yang di HM 40 apa 41 tuch.. bushet.. terjal bener nanjaknya.. Hehehe… jadi malu gue…
Untung, waktu dulu ditengah keputusasaan gue mendaki salak bareng Jonal, ada kata-katanya yang bener: kalo mo puncak tuh puunnya pendek2) dan memang makin lama puunnya makin pendek, jadi gue percaya dan yakin kalo emang udah mo nyampe puncak… Lagian juga jalannya kan ngga menipu dan muter2 kaya di salak… tapi juga pas dimana gitu, ada rombongan bapak2 pake tas kerja selempang turun dengan ngebut ke bawah, dengan peralatan alakadarnya… (BUSHEETTT) dan bilang udah deket, ngga nyampe setengah kilo lagi… makin semangatlah gue jalan..
Sampe di HM43 mule kecium bau kentutnya temen2 JSN yang uda nyampe duluan… dan mulelah ada lorong poon yang lain dari yang lain..
surya kencana
Dan belum pernah gue ngerasa seyakin ini, kita uda nyampe surya kencana!!!
Langsung aja gue teriakin anak2 dan emang ada jawaban…. Bo.. mereka langsung menyerbu menyambut gue, layaknya para fans gitu;p Hmmm… jadi malu… Ketempat mereka pada ngumpul dan ngaso… Nah trus gue bilang tuh, yang dibelakang uda pada kewalahan, bawa 2tenda eksotis dan menhir2, minta bantuannya segera… makanya Niko ma Yonni (kalo gasalah inget) nyusulin mereka turun lagi.. Sekarang jam setengah satu…
Sementara gue, yang masih berasa kelebihan energi, ngajakin laura ngambil aer di mata aer surya kencana yang kira2 tiga taun lalu gue kunjungin… Yeti ama Dede pengen ikut, ya ikutlah… (belum tau dia, jauhnya sebujugbuneng…) Makanya ampe tengah jalan nyerah, tadinya mo nungguin kita, taunya pada balik juga kedinginan…Bekabut Bo!! Nyampe daerah mata aer, dengan gaya pedenya gue nyariin dimanakan batu yang keluar aernya???
Ternyata nyarinya ga semudah yang gue bayangkan, gue lupa tempatnya!!!!
Yudah deh, ngambilnya aer kali aja yang keliatannya bening…
Baliknya, kerepotan sendiri gue ama laura bawa 8 ato 6 botol akua gede… sambil nyusurin sunge, berharap nemu mata aernya, pan tu sungey arah alirannya berlawanan ama arah kita jalan pulang, berarti asalnya kan dari arah kita dateng.
Kok jadi belibet gitu ya??? Pokonya gitu deh… Pulang kerepotan dan keberatan bawa tu akua, jadi ribet sendiri gue ama laura, pokonya berbagai gaya dilakuin buat ngangkat tu kantong plastik akua, segimana caranya supaya ngga berat.. nyari2 kayu yah, biar bisa dijinjing… pokonya semua gaya yang oke dicoba… (tapi emang belom sempet nyoba gaya anjing alias dogi stail si…)
Nampak kejauhan, di jalan setapak alun-alun surya kencana yang luas dan diselimuti kabut dan angin kencang yang membuat rerumputan dan hamparan pohon edelweiss yang masih kuncup menari-nari, nampaklah dua sosok makhluk berjalan mendekti kami… Ternyata vitri lemski membawa trangianya dan Enos membawa rapornya..:D Katanya mo nyuci trangia.. Alamaaaakkk…. Kurang kerjaan pisan ya, bocah…
Gue ma laura bilangin… kalo ke mata aernya mah masih jauh bener, ngapain jauh2 cuman nyuci, mending pake aer yang gue bawa aja, mereka ngga mau…
ato ga, lo jalan ketengah padang, keluar dari jalan setapak, disana ada aliran aer, nyuci aja disitu, tapi mereka bingung juga, abisan kabut tebel banget, tar kalo keluar jalur setapaknya ngga bisa balik, mending jalan yang pasti aja, tapi jauh…
pulang juga ga mau, akhirnya, gue ama laura meninggalkan mereka bedua yang masih dalam suasana dilematis, nangkring manyun aja di tengah-tengah padang berkabut surya kencana yang sungguh eksotis…
Membawa botol akua dengan fasilitas untuk membawanya yang ngga memadai, jadi terasa berat juga.. untunglah akhirnya kita sampe… Lumayan juga ngambil aer dua jam sendiri jalannya. Ternyata yang rombongan belakang udah pada nyampe… Wuih… kita berdua disisain nasi bungkus, makanlah kita nasi bungkus sebungkus berdua, gue ama laura… sungguh eksotis..
Trus bikin mie… Yang laen udah pada bikin tenda… Dan pada mule masak2 depan tenda…
Hmmm… nikmat, apalagi ada kentangnya nita yang niat banget dibawa plus botol minyak gorengnya… Puas makan dengan rakusnya, mule pada bobo deh… sambil nungguin yang nyusul pagi ini nyampe…. Sambil bobo bergosip dengan jonal dn niko…
Isi gosipnya tentu aja disensor;p Eh iya.. sambil pijet-pijetan juga.. Maap ya, Nal, bis mijetin gue dapet hadiah yang harum semerbak… Buset, pantat gue terbuat dari apakah, sampe ngga berenti2nya kentut mulu… Haha…
Pada bobo siang, ampe sore, kira2 magrib-an deh, mule pada kelaperan lagi, mule masak2 lagi deh… Heran, ngapain jauh2 ke gunung kalo kerjaannya makan mulu… Itu mah di Jakarta juga bisa…
Disini pula gue mule ngerasa ada yang janggal dari anak2 JSN..
Ternyata pada bisa egois juga, pada bisa individualis juga
Hmmm… mana yang katanya rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi,
Ternyata begitu di gunung keliatan, ngga mau direpotin buat temennya sendiri,
Mikirin urusan perutnya sendiri juga… Hmmm…. Itu tidak baik, kawan…
Sambil mule gelap,memantau temen2 yang nyusul, tapi belom kejawap juga pake hate…
Udah jam setengah 7-an baru terjawab, mereka sudah sampe di surya kencana…
Acing, Novi, Arni, Fr Setyo, Bowo sama Tomas… Bikin tenda juga, yang tempatnya rada jauh dikit dari kita… (sebenernya juga ngga jauh, cuman kealingan ama semak2 jadinya ngga keliatan deh) masak-masak lagi… tapi persediaan airnya menipis, kawan…
akhirnya, jonal, ndru, ones, laura (dan entah sapa lagi) ngambil aer (tapi ngga sejauh gue sama laura ngambil..) gue nunggu di tendanya bowo dkk, sambil turut memberi mereka “hadiah” juga.. hahaha… semuanya pada pingsan…
oia… Bowo jeleeeekkk!!!, masa pundak gue yg lagi memar gara2 bawa tas, digigit seenaknya, ampe biru!!!!
Yang ambil aer pada pulang, masak2 lagi… Buset… Makan terus… ampe mampus….
Terus tidur deh… Hmmm… kaya di salak dulu, kelamaan tidur, ampe badan pada pegel semua…
Apalagi si ikan Lele Yosep, tidurnya maruk banget, heran, kenapa orang sekurus dia butuh ruang yang lebar buat tidur, gue ampe kegencet di pintu tenda, mana pas dimuka gue ada kakinya ones lagi… lumayan, buat digigitin;p Pokonya, ngga tau lagi deh bentuk kepala gue kaya apa…udah kegencet kemana-mana Satu yang kurang disini: TENDA…
Bayangin aja, tenda berkapasitan 7 orang normal, ditidurin buat 9orang yang termasuk nita sama fitri lagi, yang pantat ama betisnya aja udah memenuhi satu lapangan bola. (eh.. gue hiperbola ya;P)
Apa ngga kaya sarden tuch… Oh ya..
Satu yang lupa gue certain, hal yang paling gue inget di gunung gede waktu gue naik tiga taun lalu adalah dinginnya yang bikin usus-usus beserta cacingcacing di perut gue ikut gemeteran, gigi gemeletukan, badan mengigil hebat..pokonya belum pernah gue merasa sedingin itu dalam hidup gue…
Lalu gue inget, dulu gue naek pas musim kemarau yang konon katanya sakitnya karma diguna-guna…halaah…. Maksud gue konon katanya kalo pas musim kemarau malah lebih dingin dari pada musim ujan.. Ai see.. ai see… Emang bener, dingin sih, tapi masih bisa gue tahan, ngga terlalu menggigil seperti yang gue inget dulu…
Yah, setidaknya, sleeping bag 60ribu gue ditambah jaket Microsoft kaka gue, ditambah kaos JSN dan kaos Holly Spirit gue serta sarung tangan dan kaos kaki… Hehe.. perlengkapan perangnya tebel juga yach… Tapi, emang bener, dulu, waktu gue naek gede, kostumnya ngga jauh beda, sleeping bag pinjeman, jaket Microsoft yang sama, kaosnya kinoi, kaos ijo kegemaran gue sendiri, plus sarung tangan dan kaos kaki, tetep aja tuch gue mengigil gemeteran…
Pagi menjelang, Surya Kencana, 6 Mei 2007Gue tau bener, di surya kencana itu kalo pagi benerbener eksotis…
Pancaran sinar matahari pagi yang menyelimuti perbukitan yang mengelilingi lembah, bener2 indah banget… Di ujung surya kencana juga bisa lihat awan-awan bergulung-gulung menyelimuti puncak gunung entah apa… Bener-bener pemandangan yang indah… kaya kata Kira: to see as God see..
Ya disini inilah… mana hamparan padang edelweiss yang masih kuncup itu bener2 indah, itu aja masih kuncup, coba waktu mekar kaya tiga taun lalu gue disana, Bener2 eksotis…
Gue bersyukur banget masih bisa dapet kesempatan buat lihat pemandangan itu lagi. Paling ngga puas bener deh, setelah perjalanan mendaki yang nyapein, kita bisa ngeliat pemandangan yang sungguh eksotis, ngga kaya di salak, perjuangan pendakiannya ngga sebanding dengan apa yang ada dipucaknya… Mau nenda aja susah, duluL
Tapi ternyata ngantuk dan lelah gue nggak terkalahkan, makanya gue lebih memilih ngumpet di balik sleeping bag gue, dan juga masak mie pake kornet buat sarapan. Kalo kata Bondan Winarno : “hmm.. Endang Bambang Gulindang”;D
Persiapan, peking dan mulai perjalanaan pulang…
Poto2 sebentar trus ngambil aer di tempat kemarin. Mendaki dulu ke puncak, baru nanti turun… Mengarungi alun2 surya kencana nan luas… Mulailah mendaki.. Entah karena belum pemanasan, ato karena memang udara semakin menipis… Gue ndakinya berasa ngosngosan banget, pokonya rasanya napaasnya udah ngap banget de. Bushet… Manthrabbbssss…
Dan dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah pagi itu, Gue tiba2 mendapat panggilan dari Alam, buat menghadiri mitting bentar.. So, berangkatlah gue ke semak2 untuk melangsungkan niat luhur dan mulia gue. Sekitar 5-10 menit proses kontraksi itu berlangsung;p
Melanjutkan pendakian, kali ini badan udah rada entengan setelah meninggalkan sedikit “beban” dari perut…
Naik.. naik… kepuncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan
Kulihat saja
Banyak pohon ngga jelas:D
Para cecowo-cecowo yang udah naik duluan balik turun lagi, ngebantuin yang pada kewalahan “lagi” naik ke puncak bawa beban berat…
Puncak Gede
Puncak Gede masih seindah bayangan gue, bahkan jauh lebih indah dari yang gue inget… Jauh dibawah, ditengah2 ada kawah lengkap dengan belerangnya, dikelilingi tebing batu yang bener2 eksotis… Pokonya ngga bisa diungkapkan kata2 bagaimana ngeliat indahnya puncak gede… Saat itu gue nyesel ngga bawa kamera EOS canggih gue, kalo bawa, pastinya semuanya bakalan kerekam dengan baik. Berasa di negeri di atas awan…
Indah..
Eksotis…
Menakjubkan…
….
(silahkan isi sendiri)
satu jam-an menikmati keindahan puncak gede yang ngga ada habisnya, kita terpaksa harus berjalan pulang.. turun gunung kira2 jam setengah sebelas-an… lewat jalan yang berbatu dan berpasir dikiri kanannya jurang siap menangkap kalau kita terjatuh.. tapi gue yakin malaikatNya melindungi dan nggak akan membiarkan kita jatuh…
Turun Gunung
Perjalanan turun selalu menyiksa gue. Kali ini penderitaannya udah dimulai sejak mulai turun.,
Gue tau, dari awal perjalanan, kesalahan terbesar gue adalah, gue ngga make sepatu yang nyaman dan bener. Gue pake sepatu kaka gue yang jug ague pake dulu naek gede..
Hasilnya, dulu kuku jempol gue pada mati, itemn semua, gara2 sepatunya kesempitan, sedangkan sepatu keren gue yang menemani gue ke salak “hilang” entah kemana, ada insiden mengenai hilangnya tu sepatu de…
Intinya gue terrpaksa pake sepatu sempit itu lagi lantaran satu2nya sepatu yang gue punya, buat jalan di trotoar pas ujan aja licin, gimana buat naek gunung???
Mangkanya, begitu turun rada ngebut, jari2 gue menjerit menderita karena kegencet…
Sungguh malang .. mo pake sandal jepit gue juga naga2nya licin, akhirnya pake sandal swallownya yosep yang kalo di kaki gue kaya sepatu katak:p Kegedean, Bo!!
Tapi, ternyata, Swallow menjawab semua tantangan.. daya cengkeramnya kuat bo!! Ngga licin, cuman rada sakit aja kalo kepentok batu.. Palingan juga tereak: WADAAAWWW!!!
Selebihnya… aman… Lumayan juga rada bisa ngebut, walopun mesti ati2 takut kena batu…
Disini rada mencar juga, lantaran banyak jalan buat turun, dan berhubung pada asyik turun sendiri2 jadi mencar2 deh.. Pada lewat jalan masing2… Salah satu hal yang gue seselin dalam perjalanan turun ini… Gara2 mencar2, gue gaatau jalan lewat tanjakan setan, akhirnya ga bisa lewat sana lagi deh...Huhuhu… Padahal salah satu tujuan gue ke gede lagi adalah buat ngerasain eksotismenya tanjakan setan lagi… ups… katanyaa jaangan sebut nama itu lagi.. yadeh… Tanjakan rante… Hehehe… Dulu kan lewat sananya naik, sekarang gue pengen ngerasain turun dari sana … Pasti lebih eksotis… walopun gue tau keeksotisan tanjakan rante masih kalah dengan keeksotisan tanjakan Cidaho yang sungguh-sungguh mantap itu:P
Kandang Badak hingga Air Panas
Kumpul di Kandang, BADAK!!! Setelah berpencar kesana kemari, berkumpullah kita menjadi satu tumplek blek di Kandang, BADAK!! Yang dateng duluan cuman bawa makanan ala kadarnya, kompornya dibawa sama yang belakang, yang pada lewat tanjakan, SETAN!!!
Yasudahlah… makan siang ala kadarnya… biscuit, kornet, coklat, madu, dll…
Gak berapa lama, rombongan belaakang, yang gue lupa sapa aja, HAYO… Ngaku!!! Ngaku!!! Nyusul sambil mamerin kalo bis lewat tanjakan, SETAN!!! Huhuhu… ngiri…ngiri… Bodo..
Yang penting kita langsung masak2, berpencar jadi 3 kompor. Mari memasak!!!
Ehh.. aernyaa abis, Ayo, Niko, kita ngambil aer di belakang pondok di kandang, Badak!!!
Ayo!!.. cepetan masak2nya.. nanti keburu ujan… Yang ganjen, pada bikin teh madu, Bo…
Gaya banget… tapi huhuhu… masa gue ngga kebagian teh madunya, gue kan yang bawa madunya sampe dikerubutin tawon. Sungguh teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya……………..
Puas kenyang makan sepuasnya, kita ngelanjutin jalannya lagi.. Seperti biasa, nona Nitha yang memimpin…
Turun… turun… dari puncak gunung… banyak hal-hal eksotis… (dinyanyikan dengan nada lagu naik2 ke puncak gunung:P) Nitha, laura dan Yeti memimpin sodara-sodara, dan menghilang ditelan bumi.. eee.. ternyata mereka menunggu di air terjun entah apa namanya, yang jelas sangat eksotis… Pokoknya cantik sekali… tapi waktu sudah sangat sore, kira2 jaam 3an… ntar kalo mampir lagi bisa kemaleman dech… Lanjut turun, lewati sungai berbaatu yang airnya jernih..Duduk2 bentar, basahin kaki dan ngisi aer buat persediaan.. Lanjut jalan lagi…
Masih semangat juga Bo…:P Nah… ini salah satu bagian yang paling seru: AIR PANAS…
Sepanjang ingatan gue (karena dulu lewat situ malem2) Aer panas cuman jalur yang dialirin aer yang panas banget… Gue nggak nyadar dulu, kalo jalannya batu2 udah gitu sampingnya tebing dan jurang… Cuman dilindungin sama tali baja yang rada karatan dan ngga yakin deh bakalan kuat nopang badan kita… Beruntung juga gue disini pake sandal, jadi bisa terapi aer panas, yang bisa menghilangkkan rasa pegel… Tapi bujug buneng, aernya panas bener, harusnya kita lewat sini bawa telor, trus direndem deh, ntar juga mateng… Pokonya, kalo ngga mau kena tu aer yang panasnya luar biasa, harus ati2
Lewat2 batu-batunya, jangan kepleset… Tapi makin kesonoan, makin anget aernya, makanya gue malah beraani nyebur2in kaki gue, lumayan, ngurangin rasa pegel:P
Dan, Sahabat…. Jalur aer paanas ini bener2 eksotis… Harus ati2 tapi juga seru banget ngelewatinnya…. Duh… daerah mana sich di jalur Gede yang ngga eksotis…??? Kayanya semuanya gue bilang eksotis deh…
Yang kuat tetap kuat, yang lemah semakin lemah…
Lewat aer panas jarak dengan yang depan semakin jauh, sama yang belakang juga Jalan turun terus, kadang naek… Dan akhirnya ditungguin juga di sebuah pondok… Pos percabangan antara mo ke aer terjun cibeureum dan jalan turun… Sebenernya, gue pengen banget tuch ke sono, pasalnya dulu belom sempet, Tapi bagaimana mungkiiiiiin, hari sudah semakin sore…
Mau pulang besok, memangnya??? Ternyata oh ternyata, di pondokan itu, kita bertemu dengaan yang namanya Kelik pelipur lara… eh bukan deng, Kelik doang, dia itu, katanya anggota angkatan pertama JSN yang dulu di Jonggol… salah satu “domba yang hilang” yang setaun ngga kedengeran kabarnya akhirnya ketemu juga di Gede… Jodoh memang… Mulai lagi ngelanjutin jalan pulang.. tuh kan, pulangnya jalannya kejauhan, gue udah firasat memang, soalnya kita naeknya cuman sampe surya kencana, tapi pulangnya ke puncak dulu baru turun… udah gitu kesiangan pula, makanya akhirnya kesorean, kena ujan pula… Tapi masih bisa dinikmati..:P
Lewat jembatan kayu, mulai terasa egosentrisnya.. Jalannya udah mule makin mencar2, dan yang gue tau belakangan, banyak yang cuman jalan berdua2, padahal, hari udah sore banget, menjelang gelap malah. Gue juga cuman jalan berdua sama acing, ditengah hutan, dikala hari mule gelap… Makin gelap dan makin mencekam.. Apalagi setelah melewati telaga biru yang aernya ijo… Suasana makin mencekam… Dan kondisi kaki gue juga makin melemah…
Pembalut yang gue pinjem dari jonal buat ngebalut kaki gue yang selalu cedera
Uda gue kasi ke lemsky yang kakinya keseleo Makanya, dengan kekuatan satu kaki gue ma acing jalan pelan2.. Senternya juga cuman satu lagi… Huhuhu… Saat ini gue baru ngerasain rasanya sendirian (berdua maksudnya). Gimana rasanya ditinggalin ngga berdaya di tengah utan, Malem2 lagi
Yang kalo ada apa2 juga udah ga bisa ngelawan, cuman bisa berdoa aja. Sementara yang masih pada kuat2 udah ngacir jauh ke depan, Enggan nungguin yang udah pada cedera ini, takut, kalo jalannya melambat malah bikin cape, Jadi mendingan ngacir aja… Hmmm… Pribadi… gue emang ngga mau dikasianin… Gue juga ngga mau ngerepotin orang dalam perjalanan ini…
Tapi, berdua ama acing doang ditengah ketakberdayaan ini cukup membuat gue berpikir…
Seberapa peduli teman2 yang lain dengan teman2nya yang tertinggal???
Gue tau, gue juga bukan yang paling belakang, entah sejauh apa jaraknya, di belakang gue dan acing ada jonal, fitri dan ones… Tapi, mau nungguin juga “berbahaya”
Makanya gue dan acing memutuskan jalan terus, pelan dan pasti, sambil berdoa aja, minta perlindungan…
Ada kejadian menarik saat gue cuman jalan ama acing, dan menurut gue, dari serangkaian perjalanan gue, saat2 ini adalah bagian yang paling seru, yang cuman gue sama acing yang tau rasanya… Pas gue nyenterin rada jauh kedepan, pas belokan, gue liat ada orang duduk dipojokan.. Spontan gue nanya ama acing, “sapa yang duduk di situ, Cing??” pikiran gue saat itu amat positif, gue memang berpikir, mungkin aja ada temen yang nungguin Tapi reaksi acing ternyata jadi kaget, sambil megang tangan gue dia juga bertanya2… Makin deket, bentuknya makin ngga mirip orang, makin mirip sesuatu yg putih2… Makin mencekamlah suasana… dan mo ga mau, kita harus lewatin “sesuatu” itu… Sambil berdoa dalam hati, kita lewatin “sesuatu” yang putih2 itu… Taunya cuman daon…. Sial… Bikin jantungan aja…
Maka, sejak saat itu, geu jadi males nyorot jauh kedepan, daripada keliatan yang seharusnya ngga diliat… Kadang gue juga denger suara samara di belakang, gue nengok, berharap temen2 di rombongan belakang, tapi gue senterin ngga ada apa2… Kata acing, “dah, ga usah nengok ke belakang lagi, jalan aja terus…” Daripada ternyata yang dibelakang juga yang seharusnya ngga diliat… hehehe.
Gue tau, gua dan acing ngga sendirian… Setidaknya Tuhan gue menemani, makanya ditengah kegalauan kita berdua, Dia mengutus dua “malaikatnya” buat nungguin gue ma acing…
Hehehe… sebenernya mereka cuman 2 pendaki yang sebelumnya di telaga ngeduluin kita, tapi mungkin mereka tau, kita cuman 2 cewe manis yang jalan sendirian di tengah hutan, makanya ditungguin, dideket poon beduri yang melintang… Kata mereka, takut kita megang tu poon, makanya ditungguin… Terima kasih, Tuhan… Belum pernah gue merasa selega ini dalam idup gue… Lolos dari lobang kentut:P akhirnya mereka berdua nyuruh kita jalan duluan, ditungguin dari belakang… Dan ngga berapa jauh, ada Johan ama Novi lagi setop bentar di pos, lagilagi terimakasih,Tuhan… Gue langsung duduk dengan leganya, melihat kita be2 udah dalam situasi yang aman, 2 cowo itu mendului kita lagi… Ngga lama, ternyata Jonal, Fitri dan Ones nyusul juga (ternyata merea emang ngga jauh dari kita!!!) Maka jalanlah kita lagi ber tujuh… (tujuh, angka yang bagus…) terberkatilah kita… Tapi ternyata kaki gue udah minta ampun… jalan gue makin melambat… Johan akhirnya bawain tas gue… Akhirnya… setelah sepanjang perjalanan gue bertekad untuk mandiri dan ngga ngerepotin orang, gue menyerah juga. Thanks ya, Johan… Hujan pun turun lagi dengan derasnya menemani langkah kita… Makin kebawah makin deras… Syukur Alhamdulilah Puji Tuhan Aleluya… Sampailah kita di warung tempat yang lainnya menunggu…
Ternyata oh ternyata… yang nasibnya sama kaya gue dan acing “ditinggalkan” ngga hanya kita berdua… banyak yang emang cuman jalannya berduaberdua… Kenapa sih??? Ngga seneng ya jalannya rombongan??? Apa males nungguin temennya yang lain??? Apa ngga peduli dengan temennya yang lain??? Saat itu gue bener2 kecewa ama JSN… mana semangat kebersamaannya,
Kenapa justru di saat yang paling sulit, kebersamaan itu malah menghilang… Maaf, kalo pada tersinggung, ato pada ngga merasa seperti itu… Gue ngga bermaksud menghakimi siapapun, bukan hak gue menghakimi… Bukan maksud gue untuk memusuhi siapapun atau menuduh siapapun… Ini cuman ungkapan hati gue yang paling dalam, di saat paling lemah dalam hidup gue, gue merasa ditinggalkan (walopun memang ada temen2 rombongan belakang yang amat baik hati..:P hingga akhirnya, paling ngga gue ngerasain kebersamaan itu ada di rombongan belakang, rombongan bertujuh…) dan gue merasa temen2 yang lain juga ditinggalkan ato meninggalkan…
Beristirahat, minum teh anget yang datengnya lama banget… menunggu ujan reda, tapi juga ga reda2… Lalu pulang ke rumah…
Perjalanan Pulang
Ceritanya ternyata ngga selese sampe situ.. Naek angkot carteran sampe jalan raya puncak…
Naek bes ke kampung rambutan… Bo… disini ada insiden, tapi biarlah yang bersangkutan yang cerita:P Tapi lagilagi… ada teman yang dilupakan… Masa tau2 Yeti nyaris ketinggalan, padahal dia mo turun di Ciawi juga.. Dan sampe Kampung Rambutan, ternyata si ikan lele Yosep juga ditinggal Niko yang mo barengan ke depok.. Hahaha… Le….leee…. Malang benar nasibmu…
Di Kampung rambutan berpisah ke tujuan masing-masing…
Itu Sudah….
Si Jungle
You’ll Never Walk Alone
(pake kata2nya Bowo, karna kesempatan ini berasa banget kata2 itu)
SURAT SAHABAT
“CATATAN PERJALANAN KE JONGGOL DESA CARIU”
Sahabat, Namaku vivi, aku biasa dipanggil Jungle atau Janggel, Gadis yang berasal dari hutan. Seperti arti dari nama asliku: Silvia;p
aku berasal dari desa bintaro di kota metropanas, jakarta. pada kesempatan kali ini, aku ingin bercerita mengenai perjalananku bersama sahabat-sahabat JSN lainnya di Jonggol, desa Cariu.
Kami berangkat dari titik masing2: UKI dan Rambutan.
Sabtu pagi, 21 april 2007, bertepatan dengan hari Kartini.
Untunglah, kami para wanita tidak diharuskan mengenakan kebaya pada saat itu;p Aku, Andrew dan Yonni memulai perjalanan kami dari terminal Lebak Bulus menuju Kampung Rambutan. Setelah saling menunggu beberapa lama, akhirnya kami berangkat juga sekitar pukul setengah delapan pagi dari Lebak Bulus, naik bus 509, menuju Kampung Rambutan.
Bus yang kami tumpangi sangat sepi, sehingga berkali-kali berhenti mencari penumpang.
Akhirnya, setelah berkali-kali mengetem, akhirnya sampailah juga kami di terminal Kampung Rambutan.
Sahabat, disana banyak sekali angkot dan bus yang berseliweran, sehingga aku bingung memilih angkot yang mana untuk melanjutkan perjalanan ini. Untunglah ada daftar trayek angkutan umum, sehingga kami bisa menemukan, kendaraan apakah yang akan kemudian kami naiki.
Kami naik angkot berwarna biru, nomor 121 tujuan Cileungsi, lewat tol Cibubur. Akhirnya kami sampai di terminal Cileungsi sekitar pukul sembilan lewat. Lebih cepat 30 menit lebih dari waktu janjian kami, yaitu pukul sepulu siang, di Ramayana Cileungsi.
Akhirnya, sambil menunggu waktu, kami jalan-jalan dulu di Ramayana.
Pukul sepuluh lewat, gerombolan teman-teman kami dari UKI menyusul. Mereka adalah Jonal, Nicko, Ones, Laura, Vitri, dan Elia.
Sahabat, untuk sampai ke Jonggol, sebenarnya kita harus naik angkot menuju pertigaan pasar Rebo, Jonggol, kemudian naik ojek menuju kantor lurah pasir angin, tetapi, untuk menghemat, dari Cileungsi kami menyarter angkot. Seorangnya bayar sepuluh ribu.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, naik turun, berkelok-kelok kekanan kekiri dan banyak pemandangan eksotis di sekitar kami, seperti pegunungan benjol, akhirnya sampai juga kami bersembilan di villa Abah Adi Kurdi di Jonggol. Tempatnya lumayan luas, dikelilingi sawah, kambing, dan angsa. Untuk mencapai villa, kami harus berjalan dahulu melewati sawah dan kebun, juga kebonan…
Villa Abah, terdiri dari dua buah kamar tidur (yang tidak kami tempati juga) dilengkapi dua buah kamar mandi yang gelap gulita di lantai bawah. Di lantai atas ada aula dimana disitulah kami menghabiskan sisa minggu ini. Sampai dan makan siang.
Usai beristirahat sejenak, kami bermaksud berjalan-jalan, mencari objek foto, bertualang dan mengitari sawah hijau yang menghampar di sekitar kami, menggoda untuk dijelajahi. Kamipun berjalan-jalan…
Sahabat, kami bermain-main juga di kali tak jauh dari situ, ada kali, jembatan dan pohon kelapa…
Coba diulangi lagi : kali, jembatan dan pohon kelapa…
Jalan di kali, naik jembatan dan masuk perkampungan penduduk. Haus, dan beli air minum seadanya di sana, dan minta air putih.
Sahabat, karena kesalahpahaman, pemilik warung itu mengira kami ingin minum air kelapa, padahal kami hanya minta segelas air putih, jadilah kami yang hanya berbekal uang sepuluh ribu dipotong tiga ribu untuk beli lilin dan air minum “eksotis” kebingungan saat tiba2 diambilkan kelapa langsung dari pohonnya.
BAGAIMANA BAYARNYA???
Tapi tak urung ditenggak juga air kelapa yang menyegarkan nan eksotis itu sampai titik darah penghabisan. Bahkan aku dan Andrew tak ketinggalan membelah buah kelapa yang masih ada daging mudanya…
Berebutan kami semua makan daging kelapa yang manis itu…
Hmmmm…. Enaaaakkk…
Sahabat, ternyata sudah sore!! Kami harus kembali kerumah.
Sahabat, kami ingin menemukan jalan baru menuju rumah, yaitu melewati air terjun mini yang eksotis. Disana kami main-main air sejenak. Lalu tiba2 Jonal memanjat dinding air terjun itu hingga sampai ke atas. WOW.. Hebat…!!!
Tak lama Ones dan Andrew pun menyusul naik ke atas. Sahabat, dalam rangka hari Kartini, kami para wanita pun tak mau kalah. Kami tak ingin dikalahkan oleh kaum pria. Makanya, Fitri, Laura dan diakhiri oleh aku sendiri, turut naik memanjat dinding air terjun mini itu.
Awalnya aku merasa takut dan tidak yakin dapat melakukannya. Tapi tahukah kau tidak ada kata mustahil di dunia ini, bahkan kata IMPOSSIBLE yang artinya mustail pun merupakan singkatan dari I M POSSIBLE… makanya, aku pun memberanikan diri mencoba memanjat dinding itu. ternyata menegangkan, Sahabat!
Tersisa Nicko, Yonni, Elia, para sandal dan kamera EOS eksotisku di bawah. Kami berenam jalan dari atas, sementara sisanya jalan dari bawah, bertemu di satu titik.
Pulang ke villa, mandi, main2 sejenak dan MAKAN MALAM!!!
Main kartu cepek dan kemudian memulai sharing kami.
Bagaimana perasaan kamu masuk JSN? apa hal positif yang kamu lihat dari JSN? Apa harapan kamu bagi JSN kedepannya?
Sahabat, kali ini biar aku yang menjawabnya ya…
Aku senang ikut JSN, kalau satu tahun lalu aku nggak ada halangan, berarti aku sudah full mengikuti kegiatan JSN Jakarta;p
Aku memulai kegiatan ini diajak oleh si hitam Frater Kira ke Lembur Kosong yang tak kalah eksotisnya dengan jonggol dan cilember. Awalnya aku ikut pun hanya untuk mengenang masa setahun sebelumnya aku pernah kesana. Ternyata aku berkenalan dengan suatu dunia baru, JSN. Menurutku, ini komunitas paling santai, eksotis dan menyenangkan yang pernah aku temui. Aku merasa di sini solidaritas dan setia kawan kita sangat tinggi. Kita semua merasa menjadi sahabat, walaupun mungkin belum kenal sama sekali. Saling terbuka dan kerja samanya kuat sekali (walaupun kerjasamanya untuk ngerjain orang;p)
Walaupun sering atau jarang ikut kegiatan, tetapi kita semua adalah sahabat yang dapat saling menolong dan mendorong ke sungai;p kita saling mengenal kemampuan teman-teman kita masing-masing dan tidak saling beda membedakan.
Selain spiritualitasnya, aku juga senang akan spontanitas JSN
Banyak hal-hal spontan yang kita lakukan yang justru memacu adrenalin kita dan memacu semangat kebersamaan kita, seperti misalnya manjat air terjun eksotis tadi atau “spontan” merencanakan naik gunung gede yang eksotis juga;p
Sahabat, dengan JSN, aku seperti dapat melarikan diri sejenak dari penatnya dunia, dari kompleksnya masalah yang mungkin dihadapi di kehidupan nyata. Aku seperti berada dalam dunia mimpi eksotis yang sesaat, yang tak lama lagi akan membangunkanku juga akan duniaku yang nyata, di Jakarta nan panas dan sumpek.
Harapanku bagi JSN, supaya dapat berurat dan berakar, memperlebar jaringan persahabatan dan semakin berikhtiar untuk menyelamatkan lingkungan ini. Aku juga berharap, nasib JSN tidak sama seperti pohon cengkeh yang setahun lalu ditanam dan kini mati terbelit tali oleh si kambing. Jangan kita mudah mati terbelit rintangan yang mungkin kita hadapi di kemudian hari.
Sahabat, hampir di akhir sesi sharing kami yang eksotis, Arnie, dan 5 sahabat ATMI datang menyusul, mereka adalah Tony, Andre, Acong, Asep dan Abang (maaf, ketiga nama terakhir bukan maksud disamarkan, tetapi memang saya lupa namanya;p) beres-beres dan berakrab-akrab ria;p
Sahabat, hari sabtu ini diakhiri dengan tidur, berselimutkan sleepingbag dan hujan yang turun menyejukkan suasana eksotis (yang katanya dulu Jonggol dingin banget kalau malam, sekarang ngga ada dingin2nya sama sekali)
Sahabat, nyamuk di sini ganas-ganas sekali. Seluruh tangan dan kakiku yang eksotis habis diserangnya.
Minggu, 22 April 2007
Pagi eksotis ini diawali dengan mengucap syukur masih diberi ijin Yang Kuasa untuk melihat dunia satu hari lagi…
Sahabat, Aku, Andrew, Fitri dan Enos (Ups.. maas, Ones;p) berjalan-jalan pagi dengan tujuan awal menuju jembatan. Tapi, nyasar juga;p heheheh… hunting foto, melihat kesibukan pagi di sungai dan menikmati sejuknya udara pagi yang mahal di Jakarta ini, dan menikmati pemandangan eksotis pagi hari di jonggol;p
Sahabat, usai bertualang singkat, kami kembali ke villa, setengah delapan. Sarapan, melanjutkan sharing yang tertunda malam sebelumnya, e’ek, dan berangkat ke AIR TERJUN.
Sahabat, jalan yang kami tempuh menuju air terjun kira2 memakan waktu 2jam, sambil foto2 dan bersenda gurau ria.melewati perkampungan, jalan aspal, sungai, persawahan yang eksotis.
Oh ya, sahabat, kami melihat ular sawah.. 2 ekor lagi, di sawah yang sudah selesai dipanen. Wow, gerakannya eksotis sekali. Oh ya, di sini kaosnya Andrew sempat “hilang” untung dapat ditemukan lagi. Kami melanjutkan perjalanan melewati kompleks pervillaan. Ketemu kuda eksotis yang nyasar sendirian Dan… sampai!!
Sahabat, air terjunnya eksotis sekali! Kami semua langsung menceburkan diri dalam tetesan air yang terjun tiada habisnya turun dari atas sana.
Lagi2 diawali Jonal, memanjat lebing air terjun, disusul para pria dan wanita lainnya. Sahabat, akhirnya aku juga bisa naik 1 tahap;p tapi sayangnya aku nggak berani turunnya lagi. Heheheh…
Pukul 12siang kita kembali ke villa. Kali ini jalannya lebih dekat, tapi terjal juga. Tak lupa lewat kali dan persawahan yang panas terik membakar kulit kami yang sudah eksotis. Pulang ke villa, membersihkan diri, mandi dan makan siang!! Lalu kita packing dan pulang ke Jakarta!!
Tapi tunggu dulu sahabat… turun hujan yang cukup deras dan eksotis.
Wah.. gawat nich, bisa nggak pulang untunglah akhirnya reda
Sahabat, akhirnya kita pulang ke peradaban dunia, carter angkot ber16, nggak kuat nanjak dan banyak “insiden” kecil yang bergejolak di dalam angkot yang eksotis padat berisi itu. sahabat yang dari ATMI turun di pertigaan pasar rebo, untuk menyambung bus yang langsung ke Cikarang, sedangkan kami melanjutkan perjalanan ke Cileungsi.
Sahabat, malam telah datang ketika akhirnya kita sampai di Cileungsi. Hujan pun turun rintik-rintik.. tik..tik..tik.. di atas genting. Pohon dan kebun basah semua
Sahabat, hasrat kami makan bakso untuk memuaskan nafsu kami yang tak tertahankan itu akhirnya terpenuhi. Maka, dimalah berhujan riintik-rintik, kami ber10 makan bakso di warung pinggir jalan. Baksonya sungguh eksotis, Sahabat!!
Sahabat, di Cileungsi kami terpaksa berpisah…
Aku, Andrew dan Yonni kembali ke Kampung Rambutan, Laura, Fitri dan Enos.. eh Ones.. ke Kalideres, sisanya, Jonal, Arnie, dan Elia ke UKI. Kembali ke peradaban, kembali ke “kehidupan nyata” kembali ke rumah masing-masing…
Sahabat, ceritaku ini diakhiri sampai di sini dulu… tapi perjalananku bersama sahabat JSN semoga tidak berakhir sampai disini…
Sahabat, aku menunggu catatan perjalanan dari sahabat lainnya.
Semoga JSN tetap jaya, tetap berkarya bagi lingkungan dan sesama, tetap menjaga spiritualitasnya, tetap menjalin persahabatan, tetap berakar dan menjadi garam dan terang di lingkungan asalnya masing-masing…
Semoga pula JSN senantiasa setia menjaga eksotisme alam ciptaan Tuhan ini.
Selamat terlambat ulang tahun jsn (happy belated bday JSN!)
Tuhan Memberkati
VIVIjungle
Diiringi lagu “Sahabat” dari Audi yang eksotis
ditulis 10 mei 2007
gile.. ngga nyangka udah lewat 2 tahun lalu catper ini ditulis..
Sahabat, Namaku vivi, aku biasa dipanggil Jungle atau Janggel, Gadis yang berasal dari hutan. Seperti arti dari nama asliku: Silvia;p
aku berasal dari desa bintaro di kota metropanas, jakarta. pada kesempatan kali ini, aku ingin bercerita mengenai perjalananku bersama sahabat-sahabat JSN lainnya di Jonggol, desa Cariu.
Kami berangkat dari titik masing2: UKI dan Rambutan.
Sabtu pagi, 21 april 2007, bertepatan dengan hari Kartini.
Untunglah, kami para wanita tidak diharuskan mengenakan kebaya pada saat itu;p Aku, Andrew dan Yonni memulai perjalanan kami dari terminal Lebak Bulus menuju Kampung Rambutan. Setelah saling menunggu beberapa lama, akhirnya kami berangkat juga sekitar pukul setengah delapan pagi dari Lebak Bulus, naik bus 509, menuju Kampung Rambutan.
Bus yang kami tumpangi sangat sepi, sehingga berkali-kali berhenti mencari penumpang.
Akhirnya, setelah berkali-kali mengetem, akhirnya sampailah juga kami di terminal Kampung Rambutan.
Sahabat, disana banyak sekali angkot dan bus yang berseliweran, sehingga aku bingung memilih angkot yang mana untuk melanjutkan perjalanan ini. Untunglah ada daftar trayek angkutan umum, sehingga kami bisa menemukan, kendaraan apakah yang akan kemudian kami naiki.
Kami naik angkot berwarna biru, nomor 121 tujuan Cileungsi, lewat tol Cibubur. Akhirnya kami sampai di terminal Cileungsi sekitar pukul sembilan lewat. Lebih cepat 30 menit lebih dari waktu janjian kami, yaitu pukul sepulu siang, di Ramayana Cileungsi.
Akhirnya, sambil menunggu waktu, kami jalan-jalan dulu di Ramayana.
Pukul sepuluh lewat, gerombolan teman-teman kami dari UKI menyusul. Mereka adalah Jonal, Nicko, Ones, Laura, Vitri, dan Elia.
Sahabat, untuk sampai ke Jonggol, sebenarnya kita harus naik angkot menuju pertigaan pasar Rebo, Jonggol, kemudian naik ojek menuju kantor lurah pasir angin, tetapi, untuk menghemat, dari Cileungsi kami menyarter angkot. Seorangnya bayar sepuluh ribu.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, naik turun, berkelok-kelok kekanan kekiri dan banyak pemandangan eksotis di sekitar kami, seperti pegunungan benjol, akhirnya sampai juga kami bersembilan di villa Abah Adi Kurdi di Jonggol. Tempatnya lumayan luas, dikelilingi sawah, kambing, dan angsa. Untuk mencapai villa, kami harus berjalan dahulu melewati sawah dan kebun, juga kebonan…
Villa Abah, terdiri dari dua buah kamar tidur (yang tidak kami tempati juga) dilengkapi dua buah kamar mandi yang gelap gulita di lantai bawah. Di lantai atas ada aula dimana disitulah kami menghabiskan sisa minggu ini. Sampai dan makan siang.
Usai beristirahat sejenak, kami bermaksud berjalan-jalan, mencari objek foto, bertualang dan mengitari sawah hijau yang menghampar di sekitar kami, menggoda untuk dijelajahi. Kamipun berjalan-jalan…
Sahabat, kami bermain-main juga di kali tak jauh dari situ, ada kali, jembatan dan pohon kelapa…
Coba diulangi lagi : kali, jembatan dan pohon kelapa…
Jalan di kali, naik jembatan dan masuk perkampungan penduduk. Haus, dan beli air minum seadanya di sana, dan minta air putih.
Sahabat, karena kesalahpahaman, pemilik warung itu mengira kami ingin minum air kelapa, padahal kami hanya minta segelas air putih, jadilah kami yang hanya berbekal uang sepuluh ribu dipotong tiga ribu untuk beli lilin dan air minum “eksotis” kebingungan saat tiba2 diambilkan kelapa langsung dari pohonnya.
BAGAIMANA BAYARNYA???
Tapi tak urung ditenggak juga air kelapa yang menyegarkan nan eksotis itu sampai titik darah penghabisan. Bahkan aku dan Andrew tak ketinggalan membelah buah kelapa yang masih ada daging mudanya…
Berebutan kami semua makan daging kelapa yang manis itu…
Hmmmm…. Enaaaakkk…
Sahabat, ternyata sudah sore!! Kami harus kembali kerumah.
Sahabat, kami ingin menemukan jalan baru menuju rumah, yaitu melewati air terjun mini yang eksotis. Disana kami main-main air sejenak. Lalu tiba2 Jonal memanjat dinding air terjun itu hingga sampai ke atas. WOW.. Hebat…!!!
Tak lama Ones dan Andrew pun menyusul naik ke atas. Sahabat, dalam rangka hari Kartini, kami para wanita pun tak mau kalah. Kami tak ingin dikalahkan oleh kaum pria. Makanya, Fitri, Laura dan diakhiri oleh aku sendiri, turut naik memanjat dinding air terjun mini itu.
Awalnya aku merasa takut dan tidak yakin dapat melakukannya. Tapi tahukah kau tidak ada kata mustahil di dunia ini, bahkan kata IMPOSSIBLE yang artinya mustail pun merupakan singkatan dari I M POSSIBLE… makanya, aku pun memberanikan diri mencoba memanjat dinding itu. ternyata menegangkan, Sahabat!
Tersisa Nicko, Yonni, Elia, para sandal dan kamera EOS eksotisku di bawah. Kami berenam jalan dari atas, sementara sisanya jalan dari bawah, bertemu di satu titik.
Pulang ke villa, mandi, main2 sejenak dan MAKAN MALAM!!!
Main kartu cepek dan kemudian memulai sharing kami.
Bagaimana perasaan kamu masuk JSN? apa hal positif yang kamu lihat dari JSN? Apa harapan kamu bagi JSN kedepannya?
Sahabat, kali ini biar aku yang menjawabnya ya…
Aku senang ikut JSN, kalau satu tahun lalu aku nggak ada halangan, berarti aku sudah full mengikuti kegiatan JSN Jakarta;p
Aku memulai kegiatan ini diajak oleh si hitam Frater Kira ke Lembur Kosong yang tak kalah eksotisnya dengan jonggol dan cilember. Awalnya aku ikut pun hanya untuk mengenang masa setahun sebelumnya aku pernah kesana. Ternyata aku berkenalan dengan suatu dunia baru, JSN. Menurutku, ini komunitas paling santai, eksotis dan menyenangkan yang pernah aku temui. Aku merasa di sini solidaritas dan setia kawan kita sangat tinggi. Kita semua merasa menjadi sahabat, walaupun mungkin belum kenal sama sekali. Saling terbuka dan kerja samanya kuat sekali (walaupun kerjasamanya untuk ngerjain orang;p)
Walaupun sering atau jarang ikut kegiatan, tetapi kita semua adalah sahabat yang dapat saling menolong dan mendorong ke sungai;p kita saling mengenal kemampuan teman-teman kita masing-masing dan tidak saling beda membedakan.
Selain spiritualitasnya, aku juga senang akan spontanitas JSN
Banyak hal-hal spontan yang kita lakukan yang justru memacu adrenalin kita dan memacu semangat kebersamaan kita, seperti misalnya manjat air terjun eksotis tadi atau “spontan” merencanakan naik gunung gede yang eksotis juga;p
Sahabat, dengan JSN, aku seperti dapat melarikan diri sejenak dari penatnya dunia, dari kompleksnya masalah yang mungkin dihadapi di kehidupan nyata. Aku seperti berada dalam dunia mimpi eksotis yang sesaat, yang tak lama lagi akan membangunkanku juga akan duniaku yang nyata, di Jakarta nan panas dan sumpek.
Harapanku bagi JSN, supaya dapat berurat dan berakar, memperlebar jaringan persahabatan dan semakin berikhtiar untuk menyelamatkan lingkungan ini. Aku juga berharap, nasib JSN tidak sama seperti pohon cengkeh yang setahun lalu ditanam dan kini mati terbelit tali oleh si kambing. Jangan kita mudah mati terbelit rintangan yang mungkin kita hadapi di kemudian hari.
Sahabat, hampir di akhir sesi sharing kami yang eksotis, Arnie, dan 5 sahabat ATMI datang menyusul, mereka adalah Tony, Andre, Acong, Asep dan Abang (maaf, ketiga nama terakhir bukan maksud disamarkan, tetapi memang saya lupa namanya;p) beres-beres dan berakrab-akrab ria;p
Sahabat, hari sabtu ini diakhiri dengan tidur, berselimutkan sleepingbag dan hujan yang turun menyejukkan suasana eksotis (yang katanya dulu Jonggol dingin banget kalau malam, sekarang ngga ada dingin2nya sama sekali)
Sahabat, nyamuk di sini ganas-ganas sekali. Seluruh tangan dan kakiku yang eksotis habis diserangnya.
Minggu, 22 April 2007
Pagi eksotis ini diawali dengan mengucap syukur masih diberi ijin Yang Kuasa untuk melihat dunia satu hari lagi…
Sahabat, Aku, Andrew, Fitri dan Enos (Ups.. maas, Ones;p) berjalan-jalan pagi dengan tujuan awal menuju jembatan. Tapi, nyasar juga;p heheheh… hunting foto, melihat kesibukan pagi di sungai dan menikmati sejuknya udara pagi yang mahal di Jakarta ini, dan menikmati pemandangan eksotis pagi hari di jonggol;p
Sahabat, usai bertualang singkat, kami kembali ke villa, setengah delapan. Sarapan, melanjutkan sharing yang tertunda malam sebelumnya, e’ek, dan berangkat ke AIR TERJUN.
Sahabat, jalan yang kami tempuh menuju air terjun kira2 memakan waktu 2jam, sambil foto2 dan bersenda gurau ria.melewati perkampungan, jalan aspal, sungai, persawahan yang eksotis.
Oh ya, sahabat, kami melihat ular sawah.. 2 ekor lagi, di sawah yang sudah selesai dipanen. Wow, gerakannya eksotis sekali. Oh ya, di sini kaosnya Andrew sempat “hilang” untung dapat ditemukan lagi. Kami melanjutkan perjalanan melewati kompleks pervillaan. Ketemu kuda eksotis yang nyasar sendirian Dan… sampai!!
Sahabat, air terjunnya eksotis sekali! Kami semua langsung menceburkan diri dalam tetesan air yang terjun tiada habisnya turun dari atas sana.
Lagi2 diawali Jonal, memanjat lebing air terjun, disusul para pria dan wanita lainnya. Sahabat, akhirnya aku juga bisa naik 1 tahap;p tapi sayangnya aku nggak berani turunnya lagi. Heheheh…
Pukul 12siang kita kembali ke villa. Kali ini jalannya lebih dekat, tapi terjal juga. Tak lupa lewat kali dan persawahan yang panas terik membakar kulit kami yang sudah eksotis. Pulang ke villa, membersihkan diri, mandi dan makan siang!! Lalu kita packing dan pulang ke Jakarta!!
Tapi tunggu dulu sahabat… turun hujan yang cukup deras dan eksotis.
Wah.. gawat nich, bisa nggak pulang untunglah akhirnya reda
Sahabat, akhirnya kita pulang ke peradaban dunia, carter angkot ber16, nggak kuat nanjak dan banyak “insiden” kecil yang bergejolak di dalam angkot yang eksotis padat berisi itu. sahabat yang dari ATMI turun di pertigaan pasar rebo, untuk menyambung bus yang langsung ke Cikarang, sedangkan kami melanjutkan perjalanan ke Cileungsi.
Sahabat, malam telah datang ketika akhirnya kita sampai di Cileungsi. Hujan pun turun rintik-rintik.. tik..tik..tik.. di atas genting. Pohon dan kebun basah semua
Sahabat, hasrat kami makan bakso untuk memuaskan nafsu kami yang tak tertahankan itu akhirnya terpenuhi. Maka, dimalah berhujan riintik-rintik, kami ber10 makan bakso di warung pinggir jalan. Baksonya sungguh eksotis, Sahabat!!
Sahabat, di Cileungsi kami terpaksa berpisah…
Aku, Andrew dan Yonni kembali ke Kampung Rambutan, Laura, Fitri dan Enos.. eh Ones.. ke Kalideres, sisanya, Jonal, Arnie, dan Elia ke UKI. Kembali ke peradaban, kembali ke “kehidupan nyata” kembali ke rumah masing-masing…
Sahabat, ceritaku ini diakhiri sampai di sini dulu… tapi perjalananku bersama sahabat JSN semoga tidak berakhir sampai disini…
Sahabat, aku menunggu catatan perjalanan dari sahabat lainnya.
Semoga JSN tetap jaya, tetap berkarya bagi lingkungan dan sesama, tetap menjaga spiritualitasnya, tetap menjalin persahabatan, tetap berakar dan menjadi garam dan terang di lingkungan asalnya masing-masing…
Semoga pula JSN senantiasa setia menjaga eksotisme alam ciptaan Tuhan ini.
Selamat terlambat ulang tahun jsn (happy belated bday JSN!)
Tuhan Memberkati
VIVIjungle
Diiringi lagu “Sahabat” dari Audi yang eksotis
ditulis 10 mei 2007
gile.. ngga nyangka udah lewat 2 tahun lalu catper ini ditulis..
Antara Sakit dan Bersyukur
belum lama ini gue baru aja sakit gejala tipes, dan sampe dirawat di RS segala. hmmm sebenernya kalo diliat2 penyakitnya memang ngga seberapa dibandingin orang2 lain yang mungkin punya sakit yang lebih parah dari gue.. tapi entah kenapa, baru sakit gini aja rasanya udah kaya orang mau mati..
makan dibatasi, dari segala makanan yang kebetulan gue suka tapi justru membahayakan keadaan lambung gue, kaya makanan yang pedes2 dan yang asem2 semuanya harus gue jauhkan dari kehidupan gue..
kegiatan juga harus dibatasi, ngga boleh terlalu capek lah, nggak bisa banyak geraklah.. maklum, penyakit gue ini katanya udah kumatan dari yang lalu, dan menurut mitos dari orang2 yang gue kenal, kalo dapet sakit tipes sampe 3kali, bakalan dapet hadiah tanah 2×1 m plus nisannya. hehehe.. dan gue masih belum mau mati dulu. paling ngga gue ngerasa belum berguna bagi orang sekitar gue.
pokoke banyak eh yang hilang semenjak gue sakit, terutama banyak panggilan2 interview yang terpaksa atau gue tolak lantaran gue masih sakit padahal status gue yang pengangguran sejati udah menjerit2 minta diganti, tapi ada juga yang emang sengaja gue tolak dengan senang hati.
tapi setelah gue merefleksikannya lebih dalam lagi dari segala penyakit gue ini masih banyak yang bisa gue syukurin..
1. gue masuk rumah sakit bisa sekamar sama kakak gue, yang padahal saat itu kebutuhan akan kamar di rumah sakit yang bersangkutan lagi tinggi,maklum, musimnya penyakit.
2. gue cuman perlu dirawat 2 hari saja, berhubung kemauan gue untuk sembuh sangat kuat. tapi tetep aja, yang namanya tipes, tetep harus istirahat total. pfyuhhh.. itu sih yang susah, mengingat gue orangnya nggak bisa diem banget.
3. gue bisa merasakan berapa sehat itu merupakan harta yang mahal dan ngga bisa dibeli dengan apapun, dan sayang banget bagi orang yang dikaruniai kesehatan tapi nggak bisa mensyukurinya
4. gue juga bisa dengan tidak sengaja "melepaskan" pekerjaan yang sebenernya gue ingini, tapi gue juga ngga yakin juga untuk menjalaninya, tentu aja dengan alasan sakit gue itu.
5. gue juga bisa bersyukur banget, gue cuma dikasi penyakit yang selalu berhubungan dengan pencernaan doang, nggak lebih, dan gue juga masih diijinin buat idup sama yang diatas, mengingat betapa sembarangannya gue menjaga hidup gue, misalnya, makan sembarangan, hidup sembarangan, apalagi kalo inget pengalaman waktu naek salak yang menurut gue antara hidup dan mati itu, gue masih bisa bersyukur gue masih diberi idup, walaupun menurut gue belum bisa bikin orang lain seneng.
dan masih banyak lagi yang bisa gue syukuri
sekarang yang gue lakukan hanyalah melanjutkan idup, dan yang terpenting selalu menjaga kesehatan, apalagi kehidupan gue rentan sekali dengan penyakit, terutama memang penyakit perut.
hmmm..
pertanyaan untuk direfleksikan:
bersyukurkah kita??
written on march 21, 2007
makan dibatasi, dari segala makanan yang kebetulan gue suka tapi justru membahayakan keadaan lambung gue, kaya makanan yang pedes2 dan yang asem2 semuanya harus gue jauhkan dari kehidupan gue..
kegiatan juga harus dibatasi, ngga boleh terlalu capek lah, nggak bisa banyak geraklah.. maklum, penyakit gue ini katanya udah kumatan dari yang lalu, dan menurut mitos dari orang2 yang gue kenal, kalo dapet sakit tipes sampe 3kali, bakalan dapet hadiah tanah 2×1 m plus nisannya. hehehe.. dan gue masih belum mau mati dulu. paling ngga gue ngerasa belum berguna bagi orang sekitar gue.
pokoke banyak eh yang hilang semenjak gue sakit, terutama banyak panggilan2 interview yang terpaksa atau gue tolak lantaran gue masih sakit padahal status gue yang pengangguran sejati udah menjerit2 minta diganti, tapi ada juga yang emang sengaja gue tolak dengan senang hati.
tapi setelah gue merefleksikannya lebih dalam lagi dari segala penyakit gue ini masih banyak yang bisa gue syukurin..
1. gue masuk rumah sakit bisa sekamar sama kakak gue, yang padahal saat itu kebutuhan akan kamar di rumah sakit yang bersangkutan lagi tinggi,maklum, musimnya penyakit.
2. gue cuman perlu dirawat 2 hari saja, berhubung kemauan gue untuk sembuh sangat kuat. tapi tetep aja, yang namanya tipes, tetep harus istirahat total. pfyuhhh.. itu sih yang susah, mengingat gue orangnya nggak bisa diem banget.
3. gue bisa merasakan berapa sehat itu merupakan harta yang mahal dan ngga bisa dibeli dengan apapun, dan sayang banget bagi orang yang dikaruniai kesehatan tapi nggak bisa mensyukurinya
4. gue juga bisa dengan tidak sengaja "melepaskan" pekerjaan yang sebenernya gue ingini, tapi gue juga ngga yakin juga untuk menjalaninya, tentu aja dengan alasan sakit gue itu.
5. gue juga bisa bersyukur banget, gue cuma dikasi penyakit yang selalu berhubungan dengan pencernaan doang, nggak lebih, dan gue juga masih diijinin buat idup sama yang diatas, mengingat betapa sembarangannya gue menjaga hidup gue, misalnya, makan sembarangan, hidup sembarangan, apalagi kalo inget pengalaman waktu naek salak yang menurut gue antara hidup dan mati itu, gue masih bisa bersyukur gue masih diberi idup, walaupun menurut gue belum bisa bikin orang lain seneng.
dan masih banyak lagi yang bisa gue syukuri
sekarang yang gue lakukan hanyalah melanjutkan idup, dan yang terpenting selalu menjaga kesehatan, apalagi kehidupan gue rentan sekali dengan penyakit, terutama memang penyakit perut.
hmmm..
pertanyaan untuk direfleksikan:
bersyukurkah kita??
written on march 21, 2007
Apa Gue Takut???
hmmm..
bingung harus mulai dari mana..
setelah lulus dari kuliah tiba-tiba gue merasa kehilangan arah. kehilangan tujuan…
yang tadinya hidup gue sudah ada yang menentukan tujuannya, sekarang harus gue sendiri yang menentukan.. lama gue pikir2, sampe berbulan2 malah.. gue ngerasa gue takut.. takut memulai hidup gue yang baru, takut melihat dunia yang baru…
ada yang bilang sama gue, kalo gue tu tipe orang yang pregmatis.. yang seneng ketenangan dan takut dengan hal yang baru… hmmm.. ternyata memang bener juga.. gue sepertinya memang takut dengan hal2 baru di depan gue yang menunggu untuk gue jalani…tapi setelah gue refleksi lebih dalam lagi, gue bukannya taku dengan hal baru, bukannya gue takut untuk mencoba hal yang baru, gue suka tantangan kok..gue suka menguji nyali gue.. gue termasuk orang yang rada nekad juga..
mungkin sepertinya di balik itu semua hanyalah karena gue takut sendirian.. gue takut kalo di dunia yang baru itu gue akan sendirian, gue takut kalo gue harus menjalaninya sendirian, tanpa ada yang bisa nemenin gue untuk menjalaninya bareng.paling ga, kalo ada temennya, apapun akan berani gue hadapi. kalo ada seseorang disebelah gue, ato paling ngga gue tau dia ada tepat dibelakang gue, gue akan menjadi berani. hmmm…
sepertinya memang gue rada pengecut yah…
nggak berani kalo sendiri, beraninya keroyokan..
hehehe…
gue pernah dikasih tau, di Alkitab sendiri aja, katanya Yesus mengucapkan kata "jangan takut!" sampe 365 kali, hal ini supaya kita setiap hari ngga boleh takut, karena Dia ada di samping kita, dan selalu menemani kita. dan gue percaya banget itu, segalanya gue serahin ke Dia. tapi kenapa tetep aja gue takut sih? tetep aja gue merasa khawatir? apa karena gue memang belum sepenuhnya menyerahkan hidup gue ke Dia ya??
Hayooo Gle… Mulai sekarang gue ngga boleh takut. mulai sekarang gue harus mencoba untuk menjadi seorang pemberani;p
"You’ll never walk alone"
written on march 26, 2007
bingung harus mulai dari mana..
setelah lulus dari kuliah tiba-tiba gue merasa kehilangan arah. kehilangan tujuan…
yang tadinya hidup gue sudah ada yang menentukan tujuannya, sekarang harus gue sendiri yang menentukan.. lama gue pikir2, sampe berbulan2 malah.. gue ngerasa gue takut.. takut memulai hidup gue yang baru, takut melihat dunia yang baru…
ada yang bilang sama gue, kalo gue tu tipe orang yang pregmatis.. yang seneng ketenangan dan takut dengan hal yang baru… hmmm.. ternyata memang bener juga.. gue sepertinya memang takut dengan hal2 baru di depan gue yang menunggu untuk gue jalani…tapi setelah gue refleksi lebih dalam lagi, gue bukannya taku dengan hal baru, bukannya gue takut untuk mencoba hal yang baru, gue suka tantangan kok..gue suka menguji nyali gue.. gue termasuk orang yang rada nekad juga..
mungkin sepertinya di balik itu semua hanyalah karena gue takut sendirian.. gue takut kalo di dunia yang baru itu gue akan sendirian, gue takut kalo gue harus menjalaninya sendirian, tanpa ada yang bisa nemenin gue untuk menjalaninya bareng.paling ga, kalo ada temennya, apapun akan berani gue hadapi. kalo ada seseorang disebelah gue, ato paling ngga gue tau dia ada tepat dibelakang gue, gue akan menjadi berani. hmmm…
sepertinya memang gue rada pengecut yah…
nggak berani kalo sendiri, beraninya keroyokan..
hehehe…
gue pernah dikasih tau, di Alkitab sendiri aja, katanya Yesus mengucapkan kata "jangan takut!" sampe 365 kali, hal ini supaya kita setiap hari ngga boleh takut, karena Dia ada di samping kita, dan selalu menemani kita. dan gue percaya banget itu, segalanya gue serahin ke Dia. tapi kenapa tetep aja gue takut sih? tetep aja gue merasa khawatir? apa karena gue memang belum sepenuhnya menyerahkan hidup gue ke Dia ya??
Hayooo Gle… Mulai sekarang gue ngga boleh takut. mulai sekarang gue harus mencoba untuk menjadi seorang pemberani;p
"You’ll never walk alone"
written on march 26, 2007
Jumat, 24 Juli 2009
To See As God See

Satu minggu yang lalu, selama beberapa hari gue begitu terpesona dengan keindahan langit di atasku…
Langit biru yang menggelap, seiring senja, dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih
Kadang dipercantik dengan warna jingga
Ngga pernah putus gue berucap kagum dengan keindahan langit itu...
”Nggak kaya di Indonesia...”
kayaknya langit yang seperti itu cuma bisa gue lihat di gambar, foto, atau di filem2
ngga nyangka gue bisa melihatnya sendiri dengan mata kepala gue sendiri
di atas kepala gue sendiri...
kalo gue bawa kamera, pasti udah jeprat-jepret sampe berbusa-busa kali...
itulah kenapa gue selalu cinta hujan...
karena, habis hujan, pasti selalu datang langit biru yang bersih dan gumpalan2 awan selembut kapas menghiasinya...
itulah kenapa juga gue selalu cinta hujan...
karena, dalam hujan, langit seperti di cuci bersih
itulah kenapa juga, gue selalu cinta hujan,
karena gue dilahirkan di bulan berhujan
dan di hari ulang tahunku selalu dihiasi langit biru yang indah...
bumi juga seperti di cuci bersih
sama seperti diri kita juga seperti dicuci bersih,
dari dosa-dosa kita kepada alam...
dan sungguh kasihan, kenapa banyak orang yang bersedih karena kehadiran hujan
karena banyak bencanakah karena hujan?
Banjir, longsor???
Kenapakah bisa terjadi seperti itu??
Apakah itu hukuman alam kepada manusia?
Atau reaksi alam atas kekejaman manusia padanya?
Maka gue pun mulai belajar melihat, seperti yang Tuhan lihat...
To see as GOD see...
Bagaimana Tuhan memandang bumi ciptaannya
Bagaimana kita pun seharusnya memandang bumi tempat kita berpijak dan langit tempat kita berlindung…
Langit yang indah
Langit yang cerah dan mempesona
Dimana disana tersimpan begitu banyak rahasia alam yang tak tergantikan
ditulis pada 16 Januari 2008
Langit biru yang menggelap, seiring senja, dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih
Kadang dipercantik dengan warna jingga
Ngga pernah putus gue berucap kagum dengan keindahan langit itu...
”Nggak kaya di Indonesia...”
kayaknya langit yang seperti itu cuma bisa gue lihat di gambar, foto, atau di filem2
ngga nyangka gue bisa melihatnya sendiri dengan mata kepala gue sendiri
di atas kepala gue sendiri...
kalo gue bawa kamera, pasti udah jeprat-jepret sampe berbusa-busa kali...
itulah kenapa gue selalu cinta hujan...
karena, habis hujan, pasti selalu datang langit biru yang bersih dan gumpalan2 awan selembut kapas menghiasinya...
itulah kenapa juga gue selalu cinta hujan...
karena, dalam hujan, langit seperti di cuci bersih
itulah kenapa juga, gue selalu cinta hujan,
karena gue dilahirkan di bulan berhujan
dan di hari ulang tahunku selalu dihiasi langit biru yang indah...
bumi juga seperti di cuci bersih
sama seperti diri kita juga seperti dicuci bersih,
dari dosa-dosa kita kepada alam...
dan sungguh kasihan, kenapa banyak orang yang bersedih karena kehadiran hujan
karena banyak bencanakah karena hujan?
Banjir, longsor???
Kenapakah bisa terjadi seperti itu??
Apakah itu hukuman alam kepada manusia?
Atau reaksi alam atas kekejaman manusia padanya?
Maka gue pun mulai belajar melihat, seperti yang Tuhan lihat...
To see as GOD see...
Bagaimana Tuhan memandang bumi ciptaannya
Bagaimana kita pun seharusnya memandang bumi tempat kita berpijak dan langit tempat kita berlindung…
Langit yang indah
Langit yang cerah dan mempesona
Dimana disana tersimpan begitu banyak rahasia alam yang tak tergantikan
ditulis pada 16 Januari 2008
Love n a Cup of Coffee
Dia masih terdiam saja. Memandangi dua cangkir yang bertengger di antara kita. Teh manis panas untukku dan kopi pahit untuknya. Asbak di dekat tangan kanannya hanya terisi sepuntung rokok setengah terisap yang sudah lama dimatikan. Asapnya pun sudah lama melayang entah kemana. Menari-nari diantara panasnya udara. Dia tak berani lagi menyalakan rokok setelah mendengarkan penuturanku. Hening menyelimuti kita berdua. Hanya derik kipas angin di sudut ruangan yang memecahkan sepi. Suasana kafe senja ini nampak sepi, tak seperti biasanya. Kita berdua duduk di sudut kafe, tempat favorit kita jika mengunjungi tempat ini. Aku pun hanya terdiam, tak berani mengucapkan sepatah kata lagi. Mencuri-curi pandang ke arah wajahnya yang menunduk. Berusaha mereka-reka apa yang ada di pikirannya. Rambutnya yang setengah gondrong berjatuhan menutupi sebagian wajahnya. Membuatku tak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya.
Wajahnya tak banyak berubah sejak pertama kali ku mengenalnya beberapa purnama lalu. Juga di kafe ini. Kafe ini.. meja ini dan cangkir-cangkir kopi yang telah terhirup selama tiap sore beberapa purnama terakhir ini menjadi saksi bisu dari segala hubungan yang terjadi di antara kita. Rambutnya tetap sedikit gondrong berantakan dengan poni-poni yang dibiarkannya menutupi sebagian dahinya. Wajahnya tirus, dan kini nampak semakin tirus karena kurang terawat. Dengan pakaian yang basah tersiram hujan sore itu, tiba-tiba ia berdiri dihadapanku dan mengambil tempat duduk dihadapanku. Meminum cangkir kopi milikku dengan tidak berdosa. Dari sore itulah awal perkenalan kami. Dia suka bercerita tentang apa saja. Tentang dirinya, tentang hidupnya, dan tentang segala hal. Aku hanya harus duduk di hadapannya dengan secangkir kopi di hadapan kami masing-masing dan menikmati cerita-ceritanya. Dan dia memang pencerita yang hebat. Mungkin memang sebanding dengan diriku yang pendengar yang hebat untuknya. Kami layaknya pasangan serasi yang membicarakan segala hal dalam kehidupan kami.
Hanya kafe itu tempat kita bertemu hingga saat ini. Tak ada tempat lainnya. Hanya secangkir kopi dan penganan yang menemani kami dari sore hingga terkadang larut malam. Mungkin inilah yang dinamakan cinta tumbuh berawal dari secangkir kopi. Tak pernah ada kata cinta yang terucap, tapi kita saling tahu perasaan masing-masing. Tapi hidup kami hanya sebatas kafe ini. Nyaris tak pernah kita bertemu di tempat lain. Hingga larut kita pun lantas pulang ke peraduan masing-masing. Aku nyaris tak mengenalnya. Tak tahu dimanakah rumahnya. Tak tahu bagaimana kehidupannya diluar kafe ini. Tak tahu seperti apakah teman-teman dan keluarga yang selama ini hidup bersamanya. Ketidaktahuannya akan diriku pun nyaris sama besarnya. Kita hidup hanya dari saling bertukar cerita.
Ekspresi wajahnya tetap tak bisa kutebak. Tak dapat kubaca apa yang ada dalam pikirannya. Senangkah?? Atau marahkah ia?? Dia memang orang yang tenang. Santai. Tanpa ekspresi. Cangkir kopi di hadapannya nyaris tak tersentuh.
Aku merasakan jantungku berdebar menantikan reaksinya. Rasanya aku nyaris mendengarkan debaran jantungku sendiri di tengah sepi yang menyayat ini. Oh Tuhan... jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan. Ia kembali menyalakan sebatang rokoknya lalu kemudian ia tersadar dan langsung cepat-cepat mematikannya. Aku semakin kalut menanti reaksinya. Berharap dan menanti dengan cemas, menunggu keputusan yang kuharapkan tidak terjadi.
“Kita harus menikah secepatnya.” Katanya akhirnya setelah sekian lama terbalut kebisuan. Aku nyaris tak percaya mendengar jawabannya akhirnya. Mungkin ini memang bukan lamaran teromantis yang pernah aku bayangkan. Tapi toh tetap saja dia mengutarakannya dengan ketenangannya yang luar biasa. Berbagai aura kelegaan mengalir menyelusup ke setiap sel-sel hidupku. Pria di hadapanku yang nyaris tak ku kenal selain kehidupannya dalam untaian cerita. Pria yang tak dapat kutebak isi hatinya. Tapi kini, akhirnya aku dapat membaca ekspresi yang ada di balik bola matanya yang bening cemerlang. Ia nampak bahagia. Tidak.. ia tidak marah.. ia tidak setakut ketika aku berjuang untuk mengutarakan kabar itu padanya. Ia tidak sekalut diriku yang berhari-hari tak tahu harus berbuat apa. Ia malah begitu bahagia. Begitu hidup. “Aku masih ngga percaya. Kita akan jadi orangtua...” Ujarnya sarat emosi. Tapi aku tahu, emosi yang membahagiakan.
Terima kasih Tuhan, karena Kaulah pemberi hidup. Dan Kau tahu, apa yang terbaik untuk kita berdua.
11 Agustus 2008
Wajahnya tak banyak berubah sejak pertama kali ku mengenalnya beberapa purnama lalu. Juga di kafe ini. Kafe ini.. meja ini dan cangkir-cangkir kopi yang telah terhirup selama tiap sore beberapa purnama terakhir ini menjadi saksi bisu dari segala hubungan yang terjadi di antara kita. Rambutnya tetap sedikit gondrong berantakan dengan poni-poni yang dibiarkannya menutupi sebagian dahinya. Wajahnya tirus, dan kini nampak semakin tirus karena kurang terawat. Dengan pakaian yang basah tersiram hujan sore itu, tiba-tiba ia berdiri dihadapanku dan mengambil tempat duduk dihadapanku. Meminum cangkir kopi milikku dengan tidak berdosa. Dari sore itulah awal perkenalan kami. Dia suka bercerita tentang apa saja. Tentang dirinya, tentang hidupnya, dan tentang segala hal. Aku hanya harus duduk di hadapannya dengan secangkir kopi di hadapan kami masing-masing dan menikmati cerita-ceritanya. Dan dia memang pencerita yang hebat. Mungkin memang sebanding dengan diriku yang pendengar yang hebat untuknya. Kami layaknya pasangan serasi yang membicarakan segala hal dalam kehidupan kami.
Hanya kafe itu tempat kita bertemu hingga saat ini. Tak ada tempat lainnya. Hanya secangkir kopi dan penganan yang menemani kami dari sore hingga terkadang larut malam. Mungkin inilah yang dinamakan cinta tumbuh berawal dari secangkir kopi. Tak pernah ada kata cinta yang terucap, tapi kita saling tahu perasaan masing-masing. Tapi hidup kami hanya sebatas kafe ini. Nyaris tak pernah kita bertemu di tempat lain. Hingga larut kita pun lantas pulang ke peraduan masing-masing. Aku nyaris tak mengenalnya. Tak tahu dimanakah rumahnya. Tak tahu bagaimana kehidupannya diluar kafe ini. Tak tahu seperti apakah teman-teman dan keluarga yang selama ini hidup bersamanya. Ketidaktahuannya akan diriku pun nyaris sama besarnya. Kita hidup hanya dari saling bertukar cerita.
Ekspresi wajahnya tetap tak bisa kutebak. Tak dapat kubaca apa yang ada dalam pikirannya. Senangkah?? Atau marahkah ia?? Dia memang orang yang tenang. Santai. Tanpa ekspresi. Cangkir kopi di hadapannya nyaris tak tersentuh.
Aku merasakan jantungku berdebar menantikan reaksinya. Rasanya aku nyaris mendengarkan debaran jantungku sendiri di tengah sepi yang menyayat ini. Oh Tuhan... jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan. Ia kembali menyalakan sebatang rokoknya lalu kemudian ia tersadar dan langsung cepat-cepat mematikannya. Aku semakin kalut menanti reaksinya. Berharap dan menanti dengan cemas, menunggu keputusan yang kuharapkan tidak terjadi.
“Kita harus menikah secepatnya.” Katanya akhirnya setelah sekian lama terbalut kebisuan. Aku nyaris tak percaya mendengar jawabannya akhirnya. Mungkin ini memang bukan lamaran teromantis yang pernah aku bayangkan. Tapi toh tetap saja dia mengutarakannya dengan ketenangannya yang luar biasa. Berbagai aura kelegaan mengalir menyelusup ke setiap sel-sel hidupku. Pria di hadapanku yang nyaris tak ku kenal selain kehidupannya dalam untaian cerita. Pria yang tak dapat kutebak isi hatinya. Tapi kini, akhirnya aku dapat membaca ekspresi yang ada di balik bola matanya yang bening cemerlang. Ia nampak bahagia. Tidak.. ia tidak marah.. ia tidak setakut ketika aku berjuang untuk mengutarakan kabar itu padanya. Ia tidak sekalut diriku yang berhari-hari tak tahu harus berbuat apa. Ia malah begitu bahagia. Begitu hidup. “Aku masih ngga percaya. Kita akan jadi orangtua...” Ujarnya sarat emosi. Tapi aku tahu, emosi yang membahagiakan.
Terima kasih Tuhan, karena Kaulah pemberi hidup. Dan Kau tahu, apa yang terbaik untuk kita berdua.
11 Agustus 2008
Bercinta dengan Hujan
Malam ini dia kembali datang mengunjungi
Dalam desiran angin yang mernerpa
Mengiringi kedatangannya
Menyentuh lembut kulitku dengan kesejukkannya
Aku menatap matanya yang dalam dan jernih
Dan kulihat cinta di kedalaman matanya
Kemurnian dan kesuciannya tak lekang waktu
Ia menyapaku dengan bahasa kalbu
Dan sejenak kita terdiam dan saling bertatap
Seolah pandangan dapat berbicara segalanya
Lama tak ku nikmati kehadirannya
Jantungku berdegup merasakan nikmat pesonanya
Senyumnya mendamaikan jiwaku
Titik-titik airnya menelusup membasahi jiwaku yang kersang
Dengan hembusan anginnya
Membawaku melayang menjumpainya
Mendekati kalbunya dan merasakan belaian cintanya
Aku melayang dan menggapai kenikmatannya
Belaian angin menelusup lembut disela sela tubuhku
Tetes airnya membasahi relung-relung jiwa sepiku
Dinginnya menyelimutiku dengan kehangatan
Aku berlari berpacu dengan angin
Agar semakin kurasakan cintanya menerpa wajahku
Berharap dapat terbang lebih tinggi lagi
Lebih tinggi menggapai dirinya
Dan cintanya..
Tak dapat ku berlama-lama merasakan sejuk cintanya
Karena dia kan pergi kembali
Membasahi jiwa yang kering di dunia yang lain
Dan kutau dia kan datang kembali
Menjumpaiku di saat jiwaku ingin bercinta kembali dengannya
Dan merindu akan perjumpaan dengannya
Dalam desiran angin yang mernerpa
Mengiringi kedatangannya
Menyentuh lembut kulitku dengan kesejukkannya
Aku menatap matanya yang dalam dan jernih
Dan kulihat cinta di kedalaman matanya
Kemurnian dan kesuciannya tak lekang waktu
Ia menyapaku dengan bahasa kalbu
Dan sejenak kita terdiam dan saling bertatap
Seolah pandangan dapat berbicara segalanya
Lama tak ku nikmati kehadirannya
Jantungku berdegup merasakan nikmat pesonanya
Senyumnya mendamaikan jiwaku
Titik-titik airnya menelusup membasahi jiwaku yang kersang
Dengan hembusan anginnya
Membawaku melayang menjumpainya
Mendekati kalbunya dan merasakan belaian cintanya
Aku melayang dan menggapai kenikmatannya
Belaian angin menelusup lembut disela sela tubuhku
Tetes airnya membasahi relung-relung jiwa sepiku
Dinginnya menyelimutiku dengan kehangatan
Aku berlari berpacu dengan angin
Agar semakin kurasakan cintanya menerpa wajahku
Berharap dapat terbang lebih tinggi lagi
Lebih tinggi menggapai dirinya
Dan cintanya..
Tak dapat ku berlama-lama merasakan sejuk cintanya
Karena dia kan pergi kembali
Membasahi jiwa yang kering di dunia yang lain
Dan kutau dia kan datang kembali
Menjumpaiku di saat jiwaku ingin bercinta kembali dengannya
Dan merindu akan perjumpaan dengannya
Langganan:
Postingan (Atom)