Sabtu, 25 Juli 2009

Catatan Pribadi Perjalanan “Kawah Ratu”









31 Mei-2Juni 2007
::perjalanan singkat sarat pergolakan emosi::

Kamis pagi, dengan segala persiapan yang telah dibawa, datanglah gejolak itu…
Antara ingin dan tak ingin..
Antara meneruskan rencana atau “kabur” saja dari semuanya…
Sungguh aku tak dapat mengungkapkannya…
Perasaan saat itu.
Jiwaku terbagi dua, pikiranku terbagi dua, keinginanku pun terbagi dua…
Tak tau bagaimana jawabnya, walaupun jawab itu sudah dituliskan rapi dalam pandanganku… Perjalanan ini harus tetap dilaksanakan…
Terlambat kurang lebih 2 jam dari waktu yang telah ditetapkan di UKI…
Dengan segala ke galauanku, aku tiba bersama Lau disana
Menanti dengan bosan, Nitha, Yonni dan Yosep yang hanya mengantar tenda, kompor dan juga kepergian kita… Jam sepuluh lewat resmi kami berempat berangkat dari UKI
Naik bus jurusan Sukabumi, turun di Cidahu, hampir kira-kira satu jam kemudian…
Raga sudah pergi, tapi hati masih tertinggal..
Masih galau…
Para ojek sudah menanti di depan jalan Cidahu yang juga daerah Cangkuang
(Cidahu: Bercinta dalam hutan, Cangkuang: bawa kacang, bawa uang)
Siap mengantar kita berempat dengan upah lima belas ribu per orang
Meluncurlah kita berempat, Diterpa angin malam yang mengigit
Diikuti cahaya bulan purnama yang menerangi jalan kita yang berkelok dan tak rata
Dikelilingi pemandangan malam yang eksotis
Menuju kaki gunung yang setahun lalu pernah kusapa…
Yang kini menyambut kita dengan angkuh dalam gelapnya malam…
Turun di gerbang pos penjagaan, minta ijin sebentar…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Tiga perempuan yang oleh penjaga pos diremehkan
dan dilarang pergi sampai ke puncak Salak karena berbahaya…
Tiga perempuan yang boleh bangga,
Walau diremehkan tapi toh berhasil menginjakkan kakinya di puncak Salak
Yang bahkan belum pernah dilakukan oleh si penjaga…
Jangan pandang enteng perempuan…
Jangan meremehkan perempuan…
Malam kian pekat jika tak ada sang purnama
Berjalan berempat ditemani cahaya sebatang senter yang meredup
Dan purnama yang berkilauan…
Tiga perempuan dan satu laki yang disebut Dewi…
Entah berapa jauh berjalan
Entah berapa lelah mendaki…
Sampailah di warung yang sepi
Hanya dua atau tiga yang berkemah di sana
Dan ada beberapa tenda kosong yang disiapkan untuk rombongan esok.
Tengah malam membangun tenda dengan sisa tenaga yang tersisa
Dengan segala kemampuan yang ada
Berdirilah tenda dengan wujud yang kurang sempurna
Siap menyelimuti kita dari dinginnya malam…
Pagi tiba setelah dingin yang mengigit tak mampu dikalahkan oleh kantung tidur pinjaman yang harganya selangit itu…
Udara sejuk menyapa dan membangunkan dari tidur yang kurang nikmat
Mulailah kita memasak nasi untuk sarapan pagi…
Nasi goreng, pempek goreng, baso goreng
Ditemani secangkir kopi panas
Mengisi perut kita bergantian…
Ada sesuatu hal yang terpaksa di sensor di sini
Demi kepentingan bersama…
Jam 8 pagi Jonal dan Yeti datang menyusul
Berleha sebentar
Kira-kira jam 10 mulai beranjak ke Kawah Ratu
Tempat yang dulu dari puncak terlihat eksotis
Kini akan kita capai, berenam saja…
Berjalan melintasi jalanan aspal yang menukik terjal
Yang kalau tak hati-hati bisa terguling sampai bawah…
Menumpang mobil bak dengan harap dapat mengurangi sedikit perjalanan
Salah masuk ke kawasan tertutup
Javana Spa
Balik arah…
Dan turun dari pick up dengan jarak yang lebih jauh dari sebelumnya
Mengulang kembali perjalanan di aspal
Sampai di portal, ada pos kancil berdiri
Mulailah kita menyusuri setapak demi setapak
Jalanan bebatuan yang licin
Menanjak menguras tenaga…
Berfoto sebentar di tangga bambu
Yang disampingnya dipagari besi,
Batas dengan Javana Spa
Jalan-foto-jalan-foto…
Sampai di persimpangan
Tempat dulu pernah kulewati
Tempat Kira menaruh dua botol air sepulang dari puncak setahun kemarin
Berhenti sebentar di warung
Beli nasi, beli bakwan, dan berfoto…
Jalan lagi…
Sampailah di hamparan padang rumput yang luas
Yang dikelilingi semak dan hutan
Diselimuti kabut yang eksotis
Beristirahat dan membuka perbekalan kita
Mengisi perut untuk makan siang
Nasi dan bakwan yang tadi dibeli di warung
Beserta sarden yang seketika itu juga dipanaskan…
Berjalan singkat lagi ditemani rintik kecil hujan
Dan sampailah kita berenam di Kawah Ratu
Dua jam perjalanan santai
Disertai foto-foto dan makan siang
Menuju ke daerah yang memang sungguh eksotis
Dengan bau belerang yang menusuk hidung
Tak mengurangi keindahannya…
Hamparan lembah kawah yang luas
Yang terdiri dari bebatuan naik dan turun
Dan semburan asap ringan menghiasi beberapa titik
Dikelilingi benteng pegunungan yang eksotis dari kejauhan
Beberapa aliran air panas yang menggelegak mendidih
Yang salah satunya hampir mematangkan selangkangan Jonal
Dan sungai kecil yang cukup deras alirannya
Yang mengalirkan air yang dingin dan sejuk
Ada beberapa titik yang berisi lumpur panas yang mengelegak
Mendidih…
Sama seperti lumpur yang merendam daerah timur pulau Jawa
Selama hampir setahun ini…
Sama…
Hanya saja di sini hanya sedikit
Dan tidak menyembur keluar…
Berenam turun ke kawah
Dan naik lagi ke bukit batu di tengahnya…
Semuanya kebagian difoto
Semuanya kebagian berpose sepuasnya
Hanya saja disini ada bagian lain
Yang terpaksa harus disensor…
Demi kepentingan bersama
Demi kebaikan bersama…
Puas menikmati keindahan Kawah Ratu yang sungguh eksotis
Menikmati satu lagi ciptaan Tuhan yang eksotis
Menikmati alam yang tak semua orang dapat mensyukurinya
Sedikit sedih karena tak banyak bagian dari kita yang dapat turut menikmatinya
Banyak sedih karena semua harus kulalui seperti terbang dengan sebelah sayap saja
2jam rasanya takkan pernah cukup
Memuaskan dahaga akan keeksotisannya
Tapi senja kan segera tiba
Hujanpun tlah datang kembali
Walau kembali hanya rintikan kecilnya saja
Tapi kami harus pulang
Berjalan cepat melintasi daerah yang tadi kita lalui
Di jalan turun berbatu
Adalagi insiden kecil
Aku terjungkal dan berbalet ria
Sedikit terkilir yang sampai sekarang masih sedikit terasa
Sedikit lecet tapi tak pernah membuatku jera
Pulang ke tempat tenda kita menunggu
Jam setengah empat
Satu setengah jam perjalanan pulang
Perkemahan tak lagi sesepi saat kita tinggalkan
Beberapa tenda baru beserta penghuninya sudah turut meramaikan suasana
Empat perempuan dan dua laki-laki
Yang baru turun dari Kawah Ratu menarik perhatian
Mencuri perhatian para pasukan motor yang berkemah diatasnya
Pulang dan masak makan sore
Mie, bihun dan bakso…
Hmmm….
Menu yang nikmat…
Hari semakin gelap…
Matahari entah sejak kapan mulai bersembunyi dari balik kabut
Hujan rintik mulai turun
Jonal harus segera pulang walau dengan berat hati
Harus…
Sayang sekali…
Terpaksa meninggalkan “kesunyian” dunia yang diiringi nyanyian
Dan alunan gitar dombreng-dombreng…
Malam datang menemani kita dengan rintikan hujannya yang mulai mencemaskan…
Teras tenda mulai tak mampu menampung air hujan yang menetes diatasnya
Malam nan gelap pun membuat Nita dan aku yang memayunginya
Mencangkul membuat parit mengelilingi tenda
Digoda laki-laki pengecut dari tenda sebelah belakang
Malam membawa kita untuk sharing dan diskusi ringan
Berlima Empat perempuan dan satu laki yang disebut Dewi
Sharing tentang ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan…
Bagaimana pengalaman kita tentang ketulusan kita yang tidak diterima baik orang lain…
Bagaimana kebersamaan kita biasa kita lalui dengan kenakalan…
Bagaimana kita menjadi seorang yang bisa menjadi pemimpin…
Malam kian larut…
Diskusi pun bergeser…
Dari ketulusan, kebersamaan dan kepemimpinan
Menjadi tentang setan, dan segala makhluknya…
Yang satu mulai tidur, pingsan dengan gas Nita
Yang satu lagi memaksa diri tuk tidur
Takut dengan tema diskusi yang bergeser
Hanya tiga yang bertahan…
Ditemani celetukan menjengkelkan dari tenda sebelah belakang
Sahutan-sahutan yang membuat panas…
Malam makin pekat…
Perut pun terasa kosong lagi…
Mie sisa bakso pun dipanaskan
Diiringi ocehan kian menyebalkan dari tenda sebelah belakang…
Tuhan,
Ampuni aku karena pada saat itu
Belum pernah aku begitu inginnya menyiram kuah mie mendidih
ke muka-muka penghuni tenda sebelah belakang itu
yang kelakuannya kian mengganggu…
pikir mereka, kita semua perempuan
yang bisa diganggunya seenaknya…
Malam ditutup dengan tidur…
Dan berakhir dengan bangun pagi keesokan harinya
Masih diiringi ocehan penghuni tenda sebelah belakang yang membangunkan
Sungguh…
Belum pernah aku begitu ingin menyiram muka-muka orang itu dengan air panas
Supaya mulut-mulut mereka yang lancang terdiam…
Dan sungguh aku begitu ingin menampar muka-muka orang itu
Supaya mereka tau, kita perempuan yang tak bisa dilecehkan
Walau hanya dengan kata-kata…
Sarapan pagi memeriahkan suasana
Bubur kacang hijau, mie+bihun sisa kemarin yang digoreng,
Nasi sisa kemarin di lapangan rumput yang juga digoreng….
Ternyata saat terang matahari muncul
Para makhluk penghuni tenda sebelah belakang
Sama pengecutnya dengan pantat mereka yang hanya mampu bersembunyi
Dari balik celana…
Mereka pun diam tak berkutik…
Entah karena ada satu laki diantara kami, yang disebut Dewi
Yang malam hari kemarin ribut dipanggil-panggil Dewi oleh mereka
Entah karena wajah kami perempuan terlalu cantik
Membuat mereka tak berkutik
Atau karena mereka memang tikus malam
Yang cuma berani ribut saat gelap
Yang cuma berani mengoceh saat dibelakang saja
Tak berani menunjukkan batang hidungnya yang ternyata masih beringus itu…
Tak berani pula menegakkan wajahnya yang masih bau kencur itu…
Hmmm…
Maafkan…
Kalau ucapanku jadi sarkastik…
Aku hanya membenci makhluk laki-laki yang seperti itu…
Berleha…
Hingga jam sebelas baru selesai berkemas dan membongkar tenda
Berputar dititik yang sama
Hingga hampir satu jam kemudian baru melangkahkan kaki ke arah yang tepat
Ke air terjun yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja
Hanya sekitar lima belas menit saja dari tempat berkemah
Air terjun yang dikelilingi rimba
Yang tanpa batu-batu sebagai jalanannya
Pastilah aku akan percaya hanya kami yang menginjakkan kaki disana
Beserta beberapa orang yang telah terlebih dulu sampai disana…
Langsung berkubang
Berenang di bawah kucuran air terjun
Hanya Yeti dan aku yang setia menjaga kekasihku dari air…
Jam satu kembali ke warung tempat menitipkan tenda dan beberapa barang lain
Warung yang pelatarannya pada malam-malam sebelumnya juga jadi tempat menginap…
Mandi…
Membersihkan diri dan raga…
Dan pulang..
Numpang angkot sampai jalan Cidahu lagi sambil bayar tujuh ribu saja
Kurang dari setengahnya harga ojek dua malam lalu…
Supir angkot yang baik itu pun bercerita banyak hal
Mulai dari air terjun yang lainnya
Yang belum sempat kita kunjungi…
Bercerita pengalamannya yang pernah latihan bertahan hidup di gunung selama dua minggu…
Bercerita bahwa segala binatang buas, ular, macan tutul, dan macan kumbang
Yang sebelumnya juga menghuni gunung salak
Terpaksa “dipindahkan” oleh pawang binatang masing-masing ke gunung sebelah
Gunung yang terlihat dari Kawah Ratu berada di sebelah kanan
Karena tempat asalnya untuk daerah wisata…
Bercerita tentang hantu merah yang muncul di air terjun #2 kalau ada yang menginap disana dan berbuat mesum…
Mengajarkan bagaimana mengeluarkan bisa ular
Kalau ularnya terlanjur mengigit kita…
Bercerita panjang lebar..
Kesana kemari…
Menghibur…
Sampai di bawah mampir makan sebentar di warung Padang …
Setelah kenyang mengisi perut
Naiklah kita ke bis yang membawa kita kembali ke UKI
Kawah Ratu..
Aku pulang kemana hatiku kutinggalkan
dan aku berjanji akan kembali lagi suatu saat nanti
Membawa teman yang lain
Mengunjungi air terjun yang lain…
Dan semoga saja saat itu aku tak lagi terbang dengan sebelah sayapku saja…
Kawah Ratu,
Tunggu aku kembali…
Mungkin beberapa bulan lagi
Mungkin masih tahun depannya lagi..
Tapi semoga saatnya tiba, keeksotisanmu masih belum berkurang…

Jungle nan Hijau
(sampai tulisan ini dturunkan ke blog ini, aku belum pernah kembali lagi ke kawah ratu. beberapa hari sewaktu kami pulang dari sana, 6 anak SMP tewas karna gas beracun di kawah ratu. dan sejak saat itu kawah ratu ditutup.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar