Sabtu, 25 Juli 2009

SURAT SAHABAT

“CATATAN PERJALANAN KE JONGGOL DESA CARIU”

Sahabat, Namaku vivi, aku biasa dipanggil Jungle atau Janggel, Gadis yang berasal dari hutan. Seperti arti dari nama asliku: Silvia;p


aku berasal dari desa bintaro di kota metropanas, jakarta. pada kesempatan kali ini, aku ingin bercerita mengenai perjalananku bersama sahabat-sahabat JSN lainnya di Jonggol, desa Cariu.

Kami berangkat dari titik masing2: UKI dan Rambutan.

Sabtu pagi, 21 april 2007, bertepatan dengan hari Kartini.

Untunglah, kami para wanita tidak diharuskan mengenakan kebaya pada saat itu;p Aku, Andrew dan Yonni memulai perjalanan kami dari terminal Lebak Bulus menuju Kampung Rambutan. Setelah saling menunggu beberapa lama, akhirnya kami berangkat juga sekitar pukul setengah delapan pagi dari Lebak Bulus, naik bus 509, menuju Kampung Rambutan.

Bus yang kami tumpangi sangat sepi, sehingga berkali-kali berhenti mencari penumpang.

Akhirnya, setelah berkali-kali mengetem, akhirnya sampailah juga kami di terminal Kampung Rambutan.
Sahabat, disana banyak sekali angkot dan bus yang berseliweran, sehingga aku bingung memilih angkot yang mana untuk melanjutkan perjalanan ini. Untunglah ada daftar trayek angkutan umum, sehingga kami bisa menemukan, kendaraan apakah yang akan kemudian kami naiki.

Kami naik angkot berwarna biru, nomor 121 tujuan Cileungsi, lewat tol Cibubur. Akhirnya kami sampai di terminal Cileungsi sekitar pukul sembilan lewat. Lebih cepat 30 menit lebih dari waktu janjian kami, yaitu pukul sepulu siang, di Ramayana Cileungsi.


Akhirnya, sambil menunggu waktu, kami jalan-jalan dulu di Ramayana.
Pukul sepuluh lewat, gerombolan teman-teman kami dari UKI menyusul. Mereka adalah Jonal, Nicko, Ones, Laura, Vitri, dan Elia.


Sahabat, untuk sampai ke Jonggol, sebenarnya kita harus naik angkot menuju pertigaan pasar Rebo, Jonggol, kemudian naik ojek menuju kantor lurah pasir angin, tetapi, untuk menghemat, dari Cileungsi kami menyarter angkot. Seorangnya bayar sepuluh ribu.


Setelah melewati perjalanan yang panjang, naik turun, berkelok-kelok kekanan kekiri dan banyak pemandangan eksotis di sekitar kami, seperti pegunungan benjol, akhirnya sampai juga kami bersembilan di villa Abah Adi Kurdi di Jonggol. Tempatnya lumayan luas, dikelilingi sawah, kambing, dan angsa. Untuk mencapai villa, kami harus berjalan dahulu melewati sawah dan kebun, juga kebonan…


Villa Abah, terdiri dari dua buah kamar tidur (yang tidak kami tempati juga) dilengkapi dua buah kamar mandi yang gelap gulita di lantai bawah. Di lantai atas ada aula dimana disitulah kami menghabiskan sisa minggu ini. Sampai dan makan siang.


Usai beristirahat sejenak, kami bermaksud berjalan-jalan, mencari objek foto, bertualang dan mengitari sawah hijau yang menghampar di sekitar kami, menggoda untuk dijelajahi. Kamipun berjalan-jalan…
Sahabat, kami bermain-main juga di kali tak jauh dari situ, ada kali, jembatan dan pohon kelapa…
Coba diulangi lagi : kali, jembatan dan pohon kelapa…


Jalan di kali, naik jembatan dan masuk perkampungan penduduk. Haus, dan beli air minum seadanya di sana, dan minta air putih.


Sahabat, karena kesalahpahaman, pemilik warung itu mengira kami ingin minum air kelapa, padahal kami hanya minta segelas air putih, jadilah kami yang hanya berbekal uang sepuluh ribu dipotong tiga ribu untuk beli lilin dan air minum “eksotis” kebingungan saat tiba2 diambilkan kelapa langsung dari pohonnya.
BAGAIMANA BAYARNYA???


Tapi tak urung ditenggak juga air kelapa yang menyegarkan nan eksotis itu sampai titik darah penghabisan. Bahkan aku dan Andrew tak ketinggalan membelah buah kelapa yang masih ada daging mudanya…
Berebutan kami semua makan daging kelapa yang manis itu…
Hmmmm…. Enaaaakkk…
Sahabat, ternyata sudah sore!! Kami harus kembali kerumah.


Sahabat, kami ingin menemukan jalan baru menuju rumah, yaitu melewati air terjun mini yang eksotis. Disana kami main-main air sejenak. Lalu tiba2 Jonal memanjat dinding air terjun itu hingga sampai ke atas. WOW.. Hebat…!!!


Tak lama Ones dan Andrew pun menyusul naik ke atas. Sahabat, dalam rangka hari Kartini, kami para wanita pun tak mau kalah. Kami tak ingin dikalahkan oleh kaum pria. Makanya, Fitri, Laura dan diakhiri oleh aku sendiri, turut naik memanjat dinding air terjun mini itu.


Awalnya aku merasa takut dan tidak yakin dapat melakukannya. Tapi tahukah kau tidak ada kata mustahil di dunia ini, bahkan kata IMPOSSIBLE yang artinya mustail pun merupakan singkatan dari I M POSSIBLE… makanya, aku pun memberanikan diri mencoba memanjat dinding itu. ternyata menegangkan, Sahabat!
Tersisa Nicko, Yonni, Elia, para sandal dan kamera EOS eksotisku di bawah. Kami berenam jalan dari atas, sementara sisanya jalan dari bawah, bertemu di satu titik.


Pulang ke villa, mandi, main2 sejenak dan MAKAN MALAM!!!
Main kartu cepek dan kemudian memulai sharing kami.

Bagaimana perasaan kamu masuk JSN? apa hal positif yang kamu lihat dari JSN? Apa harapan kamu bagi JSN kedepannya?
Sahabat, kali ini biar aku yang menjawabnya ya…


Aku senang ikut JSN, kalau satu tahun lalu aku nggak ada halangan, berarti aku sudah full mengikuti kegiatan JSN Jakarta;p


Aku memulai kegiatan ini diajak oleh si hitam Frater Kira ke Lembur Kosong yang tak kalah eksotisnya dengan jonggol dan cilember. Awalnya aku ikut pun hanya untuk mengenang masa setahun sebelumnya aku pernah kesana. Ternyata aku berkenalan dengan suatu dunia baru, JSN. Menurutku, ini komunitas paling santai, eksotis dan menyenangkan yang pernah aku temui. Aku merasa di sini solidaritas dan setia kawan kita sangat tinggi. Kita semua merasa menjadi sahabat, walaupun mungkin belum kenal sama sekali. Saling terbuka dan kerja samanya kuat sekali (walaupun kerjasamanya untuk ngerjain orang;p)


Walaupun sering atau jarang ikut kegiatan, tetapi kita semua adalah sahabat yang dapat saling menolong dan mendorong ke sungai;p kita saling mengenal kemampuan teman-teman kita masing-masing dan tidak saling beda membedakan.


Selain spiritualitasnya, aku juga senang akan spontanitas JSN
Banyak hal-hal spontan yang kita lakukan yang justru memacu adrenalin kita dan memacu semangat kebersamaan kita, seperti misalnya manjat air terjun eksotis tadi atau “spontan” merencanakan naik gunung gede yang eksotis juga;p


Sahabat, dengan JSN, aku seperti dapat melarikan diri sejenak dari penatnya dunia, dari kompleksnya masalah yang mungkin dihadapi di kehidupan nyata. Aku seperti berada dalam dunia mimpi eksotis yang sesaat, yang tak lama lagi akan membangunkanku juga akan duniaku yang nyata, di Jakarta nan panas dan sumpek.


Harapanku bagi JSN, supaya dapat berurat dan berakar, memperlebar jaringan persahabatan dan semakin berikhtiar untuk menyelamatkan lingkungan ini. Aku juga berharap, nasib JSN tidak sama seperti pohon cengkeh yang setahun lalu ditanam dan kini mati terbelit tali oleh si kambing. Jangan kita mudah mati terbelit rintangan yang mungkin kita hadapi di kemudian hari.


Sahabat, hampir di akhir sesi sharing kami yang eksotis, Arnie, dan 5 sahabat ATMI datang menyusul, mereka adalah Tony, Andre, Acong, Asep dan Abang (maaf, ketiga nama terakhir bukan maksud disamarkan, tetapi memang saya lupa namanya;p) beres-beres dan berakrab-akrab ria;p
Sahabat, hari sabtu ini diakhiri dengan tidur, berselimutkan sleepingbag dan hujan yang turun menyejukkan suasana eksotis (yang katanya dulu Jonggol dingin banget kalau malam, sekarang ngga ada dingin2nya sama sekali)


Sahabat, nyamuk di sini ganas-ganas sekali. Seluruh tangan dan kakiku yang eksotis habis diserangnya.

Minggu, 22 April 2007
Pagi eksotis ini diawali dengan mengucap syukur masih diberi ijin Yang Kuasa untuk melihat dunia satu hari lagi…


Sahabat, Aku, Andrew, Fitri dan Enos (Ups.. maas, Ones;p) berjalan-jalan pagi dengan tujuan awal menuju jembatan. Tapi, nyasar juga;p heheheh… hunting foto, melihat kesibukan pagi di sungai dan menikmati sejuknya udara pagi yang mahal di Jakarta ini, dan menikmati pemandangan eksotis pagi hari di jonggol;p
Sahabat, usai bertualang singkat, kami kembali ke villa, setengah delapan. Sarapan, melanjutkan sharing yang tertunda malam sebelumnya, e’ek, dan berangkat ke AIR TERJUN.


Sahabat, jalan yang kami tempuh menuju air terjun kira2 memakan waktu 2jam, sambil foto2 dan bersenda gurau ria.melewati perkampungan, jalan aspal, sungai, persawahan yang eksotis.


Oh ya, sahabat, kami melihat ular sawah.. 2 ekor lagi, di sawah yang sudah selesai dipanen. Wow, gerakannya eksotis sekali. Oh ya, di sini kaosnya Andrew sempat “hilang” untung dapat ditemukan lagi. Kami melanjutkan perjalanan melewati kompleks pervillaan. Ketemu kuda eksotis yang nyasar sendirian Dan… sampai!!


Sahabat, air terjunnya eksotis sekali! Kami semua langsung menceburkan diri dalam tetesan air yang terjun tiada habisnya turun dari atas sana.


Lagi2 diawali Jonal, memanjat lebing air terjun, disusul para pria dan wanita lainnya. Sahabat, akhirnya aku juga bisa naik 1 tahap;p tapi sayangnya aku nggak berani turunnya lagi. Heheheh…
Pukul 12siang kita kembali ke villa. Kali ini jalannya lebih dekat, tapi terjal juga. Tak lupa lewat kali dan persawahan yang panas terik membakar kulit kami yang sudah eksotis. Pulang ke villa, membersihkan diri, mandi dan makan siang!! Lalu kita packing dan pulang ke Jakarta!!
Tapi tunggu dulu sahabat… turun hujan yang cukup deras dan eksotis.
Wah.. gawat nich, bisa nggak pulang untunglah akhirnya reda

Sahabat, akhirnya kita pulang ke peradaban dunia, carter angkot ber16, nggak kuat nanjak dan banyak “insiden” kecil yang bergejolak di dalam angkot yang eksotis padat berisi itu. sahabat yang dari ATMI turun di pertigaan pasar rebo, untuk menyambung bus yang langsung ke Cikarang, sedangkan kami melanjutkan perjalanan ke Cileungsi.


Sahabat, malam telah datang ketika akhirnya kita sampai di Cileungsi. Hujan pun turun rintik-rintik.. tik..tik..tik.. di atas genting. Pohon dan kebun basah semua
Sahabat, hasrat kami makan bakso untuk memuaskan nafsu kami yang tak tertahankan itu akhirnya terpenuhi. Maka, dimalah berhujan riintik-rintik, kami ber10 makan bakso di warung pinggir jalan. Baksonya sungguh eksotis, Sahabat!!

Sahabat, di Cileungsi kami terpaksa berpisah…
Aku, Andrew dan Yonni kembali ke Kampung Rambutan, Laura, Fitri dan Enos.. eh Ones.. ke Kalideres, sisanya, Jonal, Arnie, dan Elia ke UKI. Kembali ke peradaban, kembali ke “kehidupan nyata” kembali ke rumah masing-masing…

Sahabat, ceritaku ini diakhiri sampai di sini dulu… tapi perjalananku bersama sahabat JSN semoga tidak berakhir sampai disini…
Sahabat, aku menunggu catatan perjalanan dari sahabat lainnya.
Semoga JSN tetap jaya, tetap berkarya bagi lingkungan dan sesama, tetap menjaga spiritualitasnya, tetap menjalin persahabatan, tetap berakar dan menjadi garam dan terang di lingkungan asalnya masing-masing…
Semoga pula JSN senantiasa setia menjaga eksotisme alam ciptaan Tuhan ini.
Selamat terlambat ulang tahun jsn (happy belated bday JSN!)

Tuhan Memberkati
VIVIjungle
Diiringi lagu “Sahabat” dari Audi yang eksotis


ditulis 10 mei 2007
gile.. ngga nyangka udah lewat 2 tahun lalu catper ini ditulis..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar