Dia masih terdiam saja. Memandangi dua cangkir yang bertengger di antara kita. Teh manis panas untukku dan kopi pahit untuknya. Asbak di dekat tangan kanannya hanya terisi sepuntung rokok setengah terisap yang sudah lama dimatikan. Asapnya pun sudah lama melayang entah kemana. Menari-nari diantara panasnya udara. Dia tak berani lagi menyalakan rokok setelah mendengarkan penuturanku. Hening menyelimuti kita berdua. Hanya derik kipas angin di sudut ruangan yang memecahkan sepi. Suasana kafe senja ini nampak sepi, tak seperti biasanya. Kita berdua duduk di sudut kafe, tempat favorit kita jika mengunjungi tempat ini. Aku pun hanya terdiam, tak berani mengucapkan sepatah kata lagi. Mencuri-curi pandang ke arah wajahnya yang menunduk. Berusaha mereka-reka apa yang ada di pikirannya. Rambutnya yang setengah gondrong berjatuhan menutupi sebagian wajahnya. Membuatku tak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya.
Wajahnya tak banyak berubah sejak pertama kali ku mengenalnya beberapa purnama lalu. Juga di kafe ini. Kafe ini.. meja ini dan cangkir-cangkir kopi yang telah terhirup selama tiap sore beberapa purnama terakhir ini menjadi saksi bisu dari segala hubungan yang terjadi di antara kita. Rambutnya tetap sedikit gondrong berantakan dengan poni-poni yang dibiarkannya menutupi sebagian dahinya. Wajahnya tirus, dan kini nampak semakin tirus karena kurang terawat. Dengan pakaian yang basah tersiram hujan sore itu, tiba-tiba ia berdiri dihadapanku dan mengambil tempat duduk dihadapanku. Meminum cangkir kopi milikku dengan tidak berdosa. Dari sore itulah awal perkenalan kami. Dia suka bercerita tentang apa saja. Tentang dirinya, tentang hidupnya, dan tentang segala hal. Aku hanya harus duduk di hadapannya dengan secangkir kopi di hadapan kami masing-masing dan menikmati cerita-ceritanya. Dan dia memang pencerita yang hebat. Mungkin memang sebanding dengan diriku yang pendengar yang hebat untuknya. Kami layaknya pasangan serasi yang membicarakan segala hal dalam kehidupan kami.
Hanya kafe itu tempat kita bertemu hingga saat ini. Tak ada tempat lainnya. Hanya secangkir kopi dan penganan yang menemani kami dari sore hingga terkadang larut malam. Mungkin inilah yang dinamakan cinta tumbuh berawal dari secangkir kopi. Tak pernah ada kata cinta yang terucap, tapi kita saling tahu perasaan masing-masing. Tapi hidup kami hanya sebatas kafe ini. Nyaris tak pernah kita bertemu di tempat lain. Hingga larut kita pun lantas pulang ke peraduan masing-masing. Aku nyaris tak mengenalnya. Tak tahu dimanakah rumahnya. Tak tahu bagaimana kehidupannya diluar kafe ini. Tak tahu seperti apakah teman-teman dan keluarga yang selama ini hidup bersamanya. Ketidaktahuannya akan diriku pun nyaris sama besarnya. Kita hidup hanya dari saling bertukar cerita.
Ekspresi wajahnya tetap tak bisa kutebak. Tak dapat kubaca apa yang ada dalam pikirannya. Senangkah?? Atau marahkah ia?? Dia memang orang yang tenang. Santai. Tanpa ekspresi. Cangkir kopi di hadapannya nyaris tak tersentuh.
Aku merasakan jantungku berdebar menantikan reaksinya. Rasanya aku nyaris mendengarkan debaran jantungku sendiri di tengah sepi yang menyayat ini. Oh Tuhan... jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan. Ia kembali menyalakan sebatang rokoknya lalu kemudian ia tersadar dan langsung cepat-cepat mematikannya. Aku semakin kalut menanti reaksinya. Berharap dan menanti dengan cemas, menunggu keputusan yang kuharapkan tidak terjadi.
“Kita harus menikah secepatnya.” Katanya akhirnya setelah sekian lama terbalut kebisuan. Aku nyaris tak percaya mendengar jawabannya akhirnya. Mungkin ini memang bukan lamaran teromantis yang pernah aku bayangkan. Tapi toh tetap saja dia mengutarakannya dengan ketenangannya yang luar biasa. Berbagai aura kelegaan mengalir menyelusup ke setiap sel-sel hidupku. Pria di hadapanku yang nyaris tak ku kenal selain kehidupannya dalam untaian cerita. Pria yang tak dapat kutebak isi hatinya. Tapi kini, akhirnya aku dapat membaca ekspresi yang ada di balik bola matanya yang bening cemerlang. Ia nampak bahagia. Tidak.. ia tidak marah.. ia tidak setakut ketika aku berjuang untuk mengutarakan kabar itu padanya. Ia tidak sekalut diriku yang berhari-hari tak tahu harus berbuat apa. Ia malah begitu bahagia. Begitu hidup. “Aku masih ngga percaya. Kita akan jadi orangtua...” Ujarnya sarat emosi. Tapi aku tahu, emosi yang membahagiakan.
Terima kasih Tuhan, karena Kaulah pemberi hidup. Dan Kau tahu, apa yang terbaik untuk kita berdua.
11 Agustus 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar