Kamis, 29 Oktober 2009

enamjuliduaribusembilan

Ada sebuah cerita refleksi yang sangat menarik. Pada suatu hari Tuhan merasa lelah mendengar segala keluhan manusia. Dan Ia bermaksud untuk bersembunyi dari manusia. Maka Ia memanggil para malaikat-malaikatNya dan bertanya, dimana tempat terbaik untuk bersembunyi dari manusia. Salah seorang malaikatNya berkata, ”Sembunyilah di puncak gunung tertinggi, Tuhan. Maka manusia akan kesulitan menemukan Tuhan.” Malaikat yang lain lagi berkata, ”Sembunyi saja di dasar laut yang paling dalam. Manusia pun tidak dapat mencari sampai ke sana.” Lalu Tuhan bertanya pada malaikatNya yang paling pandai, ”Kemanakah aku harus bersembunyi dari manusia?” Lalu malaikatNya itu menjawab, ”Sembunyilah di hati manusia Tuhan. Karena di sanalah tempat manusia jarang menyentuhnya.”

Sudah berkali-kali aku membaca artikel ini, tapi tetap saja aku selalu merasa tersindir setiap membacanya. Ya.. hatiku lah sebagai hati manusia yang mungkin paling keras dan paling sulit di jamah olehNya. Aku menuntut dan memohon pada Tuhan ini itu. Dan Tuhan hanya meminta aku untuk percaya dan berserah kepadaNya. Dan kenapa aku sulit sekali melakukannya. Hanya permintaan sederhana dari Tuhan untuk percaya dan berserah kepadaNya. Bahwa segala yg aku minta padaNya akan dikabulkanNya, tapi menurut waktuNya, bukan waktuku sendiri. Karena hanya Ia lah yang tau apa yg terbaik untukku, melebihi diriku sendiri. Sering aku meminta padaNya untuk menyentuh hatiku dan mengubahnya menjadi yang baru. Agar aku tak lagi menjadi manusia lama yang selalu menutup pintu hatiku bagiNya.

Pada kotbah pastor kemarin minggu, dikatakan.. betapa sulitnya kita untuk menyediakan waktu kita untuk Tuhan. Walaupun itu hanya 1 ½ jam saja. Kita diberi waktu 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Dan Tuhan hanya meminta waktu kita 1 ½ jam saja untuk pergi ke gereja dan berjumpa denganNya. Hanya 1 ½ jam dari 168 jam yang diberikanNya untuk kita. Dan betapa itu begitu sulit kita lakukan. Banyak alasannya.. capeklah.. ngantuklah.. ngga punya waktulah.. dan lain lain.. dan bagaimana jika Tuhan sendiri yang berkata kepada kita, ”AnakKu, Aku capek mendengarkan ocehanmu..” Apakah yang akan terjadi kepada kita, manusia yang tak berdaya ini?

Ada juga yang mengatakan kalau bertemu dengan Tuhan tidak harus di dalam gereja. Gereja hanyalah sebuah bangunan. Sebuah sarana saja untuk bertemu denganNya. Itu memang benar. Aku pun menyetujui pendapat itu. Tapi lalu aku mempertanyakan pendapat itu. Dalam kondisi apakah pendapat itu berlaku? Saat kita sedang berada di puncak gunung, padahal seharusnya kita berada di dalam gereja, dan kita mengandaikan berada di puncak gunung adalah cara lain untuk bertemu denganNya. Betulkah kita benar-benar mengalami perjumpaan denganNya di puncak gunung itu?? Ataukah itu hanya bentuk pembelaan diri kita terhadap kata ”malas ke gereja” dan membuat kegiatan-kegiatan kita sebagai sebuah ”alasan” saja sebagai salah satu cara untuk bertemu dengan Tuhan...

Beruntung kita punya Tuhan yang tidak pernah mengeluh dan merasa capek karena ”mengurusi” kita anak2Nya yang membandel. Yang masih selalu mencobai Tuhan dan menguji batas-batas kesabaranNya. Saat senang, kita lupa bersyukur padaNya. Dan saat susah, kita selalu mempertanyakan diriNya yang katanya Maha Baik. Lalu lantas manusia macam apa kita yang hanya ingat Tuhan saat kita susah dan lupa padaNya saat senang...?? Sudikah kita membuka pintu hati kita lebar-lebar, agar Tuhan dapat masuk ke dalamNya dan menyembuhkan segala luka hati kita? ada pepatah bagus mengatakan, Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang pecah, hanya jika kita memberikan kepingan-kepingannya...
Maka, Tuhan, Terimalah kepingan hatiku ini. ku tau aku tak layak di hadapanMu. dan ku tahu aku tak kan pernah layak. Tapi ku tahu Engkau Maha Rahim, Kau pasti akan selalu menerimaku.
Allah kita, tidak menunggu kita tuk menjadi sempurna tuk datang padaNya. Dia menunggu kita datang, sekarang. Saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar