Senin, 30 Mei 2011

Salam Damai

Sejak kecil aku selalu rutin diajak kedua orang tuaku pergi ke gereja. Dari belum mengerti tentang urut-urutan perayaan misa dan kerjanya hanya tidur saja di bangku umat atau lari kesana kemari di pelataran gereja, sampai aku mulai menggandeng pacarku sendiri untuk pergi misa, ke gereja bersama menjadi suatu kebutuhan dan tradisi dalam keluarga kami. Saat yang paling ku suka dalam misa adalah saat "Salam Damai". 


Dulu waktu masih jomblo tulen, aku senang bersalam-salaman dengan orang-orang sekitar tempat dudukku, sambil mataku berbelanja kesana kemari, kali aja ada cewek cakep yang beruntung yang bisa ku ajak salaman, sukur-sukur dari salaman bisa lanjut ke tukeran nomer HP. Satu yang istimewa di setiap lagu Salam Damai berkumandang, selama puluhan tahun, ayah dan ibuku yang selalu duduk berdampingan diapit kami anak-anaknya, selalu bersalaman berdua sambil dihiasi cipika cipiki layaknya anak ABG. lalu kalau sudah, baru menyalami, memeluk serta men-cipika cipiki kami anak2nya satu persatu. Dan entah mengapa, walaupun kami semua laki-laki yang mengapit ibuku-sang wanita tercantik di keluarga kami- kami tak pernah merasa jengah dan malu sampai sebesar ini masih dipeluk dan dicium kedua orang tuaku.


Salam damai juga menjadi ajang "perdamaian" dan ajang bermaaf-maafan kalau diantara kami ada yang lagi berseteru, berkelahi ato ngambek2an seperti yang biasa terjadi pada ayah dan ibu. Pernah, sewaktu kami kecil, ibu mendiamkan ayah karena masalah yang tak kami mengerti, sampai hampir seminggu ibu dan ayah tak bertegur sapa, tapi saat Salam Damai di gereja, spontan ibu memeluk dan mencium ayah- sebenarnya pasti karena kebiasaan spontan saja- tapi karena itu mereka berdua jadi berdamai dan mesra kembali. Aku sendiri pernah bertengkar dengan abangku sampai beberapa minggu aku rela tak pergi gereja bersama keluargaku, hanya karena belum mau berbaikan saat "Salam Damai" . Tapi akhirnya aku sadar sendiri, dan pergi gereja bersama, hanya karena ingin berbaikan dengan abangku saat "Salam Damai".


Minggu pagi ini aku sudah berdandan rapi dan bersiap hendak ke gereja, keluargaku sudah pergi misa kemarin sabtu. Ada urusan yang harus ku selesaikan. Dengan motorku, aku melaju menembus pagi yang masih sepi, sejuk dan basah sehabis diguyur hujan tadi malam. Nampaknya orang-orang masih enggan beranjak dari peraduan. Tapi dengan tekad bulatku, ku kesampingkan keinginan besarku untuk bermalas-malasan di balik selimut.


Wanita di hadapanku masih saja cantik seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Dia sudah rapi menungguku. Dan tanpa banyak bicara, dengan muka yang masih ditekuk masam, ia duduk di boncenganku. Malam kemarin aku hanya mengirimkannya pesan singkat untuk menjemput ke rumahnya, pergi misa bersama. Sudah hampir satu minggu ini dia mendiamkanku. Aku sendiri tak tahu apa duduk permasalahannya. Yang aku tahu, selama hampir satu minggu terakhir ini hidupku seperti tersiksa. Untung dia membalas pesan singkatku dengan sangat singkat. Hanya satu patah kata "OK" membuat hatiku melambung. Setidaknya dia masih ingin bertemu denganku. Masih ingin pergi ke Gereja bersamaku.


Aku menyentuh sekilas kantong celanaku, memastikan benda itu masih ada pada tempatnya. Sepanjang misa kami sibuk berkonsentrasi mengikuti perayaan dengan khidmat, sampai tiba saatnya "Salam Damai" dinyanyikan. Dia tahu, kebiasaan di keluargaku, dimana saat lagu Salam Damai dikumandangkan, berarti segala pertengkaran dan perselisihan harus diselesaikan, tidak ada lagi permusuhan, yang ada hanya Damai.
Tak kusangka, dia sendiri yang langsung menyodorkan tangannya menyalamiku. Dengan senyum terindah yang pernah kulihat, dia menatap mataku dalam-dalam. Oh Tuhan, sungguh damai rasanya hatiku. Aku tahu, segala amarah-entah apa itu- dihatinya lenyaplah sudah. Dari bibirnya dia hanya mengisyaratkan kata "Maaf" tanpa suara yang membuat hatiku merasakan inilah rumah yang sesungguhnya. Inilah kedamaian yang sesungguhnya.



Dan kini, keyakinan itu, keyakinan yang masih tetap sama seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya semakin menguatkanku. Ku keluarkan dengan perlahan benda yang sejak tadi tersimpan rapi di kantong celanaku, dan kuletakkan dalam genggamannya sambil berbisik, "Jadilah Isteriku, pendampingku selama sisa hidupku." sesaat sebelum kami berlutut dan menyanyikan "Anak Domba Allah" dengan khusyuk.
Sempat terlintas di wajahnya, senyum manisnya, dan aku pun tahu jawabannya. Dia menggenggam cincin itu erat-erat di dadanya seolah tak ingin terlepas dari genggamannya, dan bernyanyi dengan sepenuh hati. 


Terima kasih, Tuhan. Damai Kristus menyertai hatiku dan hatinya. Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar