Senin, 30 Agustus 2010

berbincang denganNya

"kenapa kau menangis lagi, anakKu?" suaranya yang teduh dan hangat tiba-tiba membuyarkan isakanku

"aku rindu padanya, Tuhan." keluhku sambil berusaha menghapus air mataku. Ia tertawa melihatku.


"kamu itu lucu. kangen kok sampai nangis." ujarNya. kata-katanya persis dengan kata-kata mas kris ku yang satunya lagi. aku diam saja. toh aku juga ngga tahu harus menjawab apa. aku sendiri juga bingung.


"Tuhan, sampai kapan aku harus menunggu? sampai kapan aku harus bersabar?" tanyaku setengah menjerit. pedih rasanya harus merasakan keadaan ini. kadang saat aku benar-benar tak tahan dengan keadaan ini, aku hanya bisa menangis dalam diam. seolah menyembunyikan tangisku, hingga aku pun tak mau Tuhan tau.
konyol memang. apa sih yang dapat disembunyikan dari mas KRIS ku yang satu itu.


"anakKu, sabarlah sedikit lebih lama lagi. Aku sudah menyediakan rencana yang indah untukmu. dan rencanaKu itu baik adanya. engkau hanya perlu sedikit lebih bersabar. ingatlah selalu anakKu, kau takkan pernah Aku tinggalkan." Ia mengambil tempat duduk di sampingku, agar dapat merengkuhku dalam pelukannya. "Ingatkah kau?" lanjutnya lagi, "sewaktu malam-malammu terasa sepi sendiri. sampai-sampai air matamu pun enggan keluar menemanimu. hingga akhirnya kau pun tertidur dalam kesedihanmu sendiri?" aku mengangguk...


"saat itu aku mengirimkannya untuk hadir dalam mimpimu. untuk memelukmu dalam mimpimu. setiap malam. setiap saat kapanpun kau mau. kau tinggal memejamkan matamu, dan dia hadir menemani mimpimu. Maaf sayangKu. untuk sementara ini Aku hanya dapat mengirimnya dalam mimpimu saja."
aku mengusap air mataku dalam diam.


"suatu saat. jika waktunya telah sempurna bagiKu, kau pun akan merasakan keindahan dan kedamaian itu. percayalah anakKu, aku tahu apa yang mnenjadi kebutuhanmu. bukan semata hanya memenuhi keinginanmu saja."
kini air mataku sudah surut sepenuhnya.


"tidurlah, sayang. sudah larut malam. toh dia pun sudah tidur juga bukan? tidurlah, dan sambut esok dengan senyumanmu yang tercantik." Ia memelukku sekilas dan mengecup keningku sebelum pergi.


"selamat malam, mas Kris." aku menutup mataku, memeluk bantal kesayanganku, dan menghadirkan dia kembali dalam mimpiku.


"selamat malam juga, mas kris"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar