Rabu, 18 Agustus 2010

Surat Untuk Mentari

Wahai Sang Surya, Sang maha agung
bolehkah hambamu memohon sedikit kepada engkau
jangan lah engkau berterik-terik menyinari tempat abangku berada
kulitnya sudah legam kau bakar setiap hari
kasihan dia yang kelak kian menghitam
baiklah engkau bergeser sedikit agar dia tak terlalu kena panas

Wahai Penguasa Siang, sumber segala cahaya
sudilah dikau mengurangi panasmu di kota-kota besar
macam kota tempatku tinggal
karena penduduknya sekarang begitu manja
takut-takut bercengkerama dengan panasnya sinarmu
enggan merasakan cahayamu membakar kulit mereka
hingga mereka lebih suka membeli benda kotak yang mengeluarkan hawa dingin
dan berlama-lama dalam ruangan mewah mereka
sehingga mereka juga semakin gemar membeli mobil yang dingin
agar mereka tak perlu lagi berpanas-panas dalam angkutan umum
kasihan penduduk yang mencari makan di luar sana
tak mampu tinggal dalam ruangan berpendingin
apalagi berada dalam mobil yang sejuk
terpaksa kian hari kian terbakar terikmu

Wahai Mentari yang bersahaja
sudilah engkau melawan hujan yang masih menguasai musimmu
agar para petani di desa dapat menanami tanahnya
agar perut-perut mereka dapat dikenyangkan
dari hasil petak-petak sawah mereka
agar juga banjir tak meraja lela di negeri kami

Wahai Surya penguasa siang
permintaan terakhirku amatlah sederhana
janganlah engkau berlama-lama menyinari bumi
ijinkanlah rembulan sedikit lebih lama menemani malam
karena aku sungguh mencintai malamku
dalam malam aku dapat menjumpai sang bintang
dalam malam pula aku dapat bertemu dengannya di mimpiku

Wahai sang Matahari
terimalah suratku ini
permintaan sederhana dari seorang yang mungkin tak punya arti
namun ijinkanlah kusampaikan suratku ini
lewat perantaraan angin


salam hijau

2 komentar:

  1. Ck...ck..ck...puitis bgt nih... jadi mengingatkanku pd masa lalu yg menyenangkan tapi mengiris hati hehe...

    BalasHapus
  2. hehe.. mba yanti bs ajah.. emg knapa? kok menyenangkan tp mengiris hati...

    BalasHapus