Perjalanan mencari Cinta Mandalawangi
Sebuah Catatan Perjalanan dan Refleksi Pendakian Gunung Pangrango20-21 Desember 2008
By Jungle (Silvia Widianti yang Jelita)
Mungkin ini adalah pendakian pertama dan terakhirku di tahun ini. Antara ingin ikut dan keraguan-keraguan yang timbul dalam hati. Mampukah aku menjalani semuanya ini. Tak berani berharap dan tak berani bermimpi. Mungkin ini untuk yang pertama kalinya bermimpi pun aku takut. Takut kalau kemudian aku terbangun dan mendapati itu semuanya hanyalah mimpi. Bener-bener sebuah perasaan yang aneh. Seorang jungle takut buat bermimpi. Lebih tepatnya aku takut membayangkan aku akan naik Pangrango. Aku tak pernah mengharapkan bisa naik gunung lagi tahun ini. Kupikir masa cutiku belum habis. Jadi walaupun aku sudah tau lama tuk naik Pangrango, aku lebih mengurungkan niatku dan sewaktu teman-teman merencanakan naik Sindoro, aku lebih memilih tuk naik sindoro. Mungkin aku lebih berani menghadapi tuk naik sindoro dibandingkan pangrango. Karena itu bukan gunung impianku. Kalo ngga jadi naik pun mungkin masih tak apa-apa.
Satu dorongan mungkin yang membuatku akhirnya berani tuk sedikit bermimpi dan memutuskan tuk ikut perjalanan kali ini. Dengan persiapan yang hampir ngga matang, aku memutuskan pergi. Antara takut tak mendapat ijin, takut kalo kondisi fisik ternyata masih belum fit. Banyak ketakutan yang berusaha kubuang jauh-jauh. Terlalu banyak berpikir nantinya malah membuatku ngga jadi pergi. Just let it flow… satu yang menjadi kekhawatiran terbesarku…. Andrew masih ada di Bali dan belum pasti pulang ke Jakarta. Kalo ngga ada Andrew berarti perjalanan ini batal. SIO (Surat Ijin Orangtua) pasti bakalan tidak keluar. Terus terang lagi badanku lagi dalam kondisi kelelahan dan ngga fit banget. Lembur terus-terusan seminggu, mempersiapkan acara natalan d kantor juga, dan sempat salah makan (sarapan pagi pakai kambing, makan siang pake duren, untung masih hidup…) hingga terasa banget beberapa hari aku kliyengan dah mirip orang mabok. Lelah mempersiapkan natal d kantor sambil kepala keliyengan bikin hatiku degdegan juga. Yang tadinya berniat mendekor aula lantai 6 sambil naik turun tangga 6 lantai buat sekalian pemanasan naik gunung jadi ngga berani terus-terusan… cukup beberapa kali naik turun tangga, habis itu sudah. Dari pada nanti natalan justru tepar, gaswat. Mudah-mudahan pula aku masih diberi kesehatan. Ocehan si kecil Aching d Sanggar Akar seminggu sebelum aku pergi mungkin juga salah satu penyulut gejolak liarku yang lama terkubur. Pelan-pelan tapi pasti aku mempersiapkan perjalanan ini. pelan-pelan pun keyakinanku mulai tumbuh. Pangrango… tunggu aku!
Aku benar-benar gugup sekali. Jantung berdegup kencang. Tangan dingin dan berkeringat. Ya… esok adalah hari keberangkatanku. Hari ini 2 pria terpenting dalam hidupku baru kembali ke Jakarta dan esok sudah ku tinggal pergi lagi. SIO sudah keluar. Beberapa teman ku kirim pesan singkat lewat ponsel atau YM, mohon doa restu dan doanya tuk perjalananku kali ini. Suatu kebiasaan yang sangat jarang ku lakukan. Dan kali ini aku benar-benar serius minta didoakan supaya benar-benar selamat. Serius tuk berpamitan dan supaya aku masih ingat pulang. (PS: sampe2 minta2 maaf segala.. hehehe…) pokoknya saat-saat aku benar-benar butuh dukungan dan kekuatan. Sampai meminjam kekuatan dari orang lain… (PS: buat sahabatku nun disana. Gue ngga jadi pinjam kekuatanmu. Cahaya putih yang turun dari langit itu untukmu saja. Sepertinya kau lebih membutuhkannya saat ini). Ngga lupa aku membawa amanat dari teman-teman yang minta di salamin dan di doakan di mandala wangi. (doakan aku dapat menginjakkan kaki di lembah mandala wangi ya, supaya aku bisa memanjatkan doa-doa buat kalian). Semakin banyak titipan doa, semakin kuat langkah dan niatku tuk sampai lembah mandala wangi. Padahal sebelumnya aku tak yakin kalau aku bisa sampai ke puncak. Kandang badak saja sudah puji Tuhan. Sekarang.. banyak titipan doa, makanya aku harus kuat sampai puncak!
This is the D day!!!
Pagi-pagi sudah dapat sms dari seorang saudara nun di sana, kalo dia juga ikutan degdegan karna aku mau pergi. Hah… asem.. yang hati sudah mulai tenang jadi degdegan lagi. oh Tuhan… akhirnya aku pergi juga. Pagi ini aku packing ulang tasku.. untuk yang keempat kalinya. Hehe.. saking gugupnya dari kemarin aku sampai 4 kali packing. Aku berangkat setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si moli… doakan aku pulang sama si selamet ya…
Tujuan pertamaku adalah terminal kampong rambutan. Naik angkot S08 turun di pasar jumat (IDR 4000) trus lanjut naik bus ke kampung rambutan 509 (IDR 3000). Dan saudara-saudara sekalian… aku menghimbau, jangan pernah ke kampung rambutan naik 509 kalo ngga super kepepet. Karena bis ini ngetem sampe 5x!!! bayangkan!! 5 x 15 menit = aku terlambat!!! Maaf teman-teman. Sampai di kampung rambutan semua sudah menungguku. Perkenalkan. Aku Jungle yang terlambat. Pasukan yang berangkat pagi kali ini adalah: Jungle, Fitri, Scott, Ai, Monik, Yeti, Pije, Jeremi, Andrew, Sabar.
Naik bus arah Cianjur yang lewat Cibodas (IDR 12000). Jam 10 berangkat.
Dan inilah perjalanan itu di mulai. Dalam hati berdoa, mohon restu. Mohon ampun. Mohon bisa sampai puncak. Mohon bisa mendoakan teman-teman. Mohon diberi keselamatan. Mohon diberi kekuatan. Mohon ngga kedinginan kalau ketemu sama badai. Mohon supaya yang menyusul pun di beri keselamatan. Banyak mohonnya.
Kira-kira jam ½ 12 sampailah kita di Cibodas. Menunggu phije, Jeremy dan Andrew yang beli sweater di FO, kita ngabur makan dulu. Lumayanlah pengganjal sampai malam tiba nanti. Udara sejuk cibodas sudah menyambut kami. Jantungku kembali berdebar. Oh Tuhan… sampailah kita di Pangrango. Masih juga tak berani percaya. Makan siang secukupnya, tak lupa membeli nasi tuk perbekalan nanti malam. Kemudian naik angkot sampai pos cibodas. (IDR 3000) di kaki cibodas kita langsung ke tempatnya bang Alpin yang sudah sabaraphael menunggu kita. Tempatnya lupa namanya. Beliau sepertinya yang membantu kita mendaftar. Repacking bawaan kita (terutama tas pink super cantikku yang harus muat dengan segala isinya). Jujur, ini pendakianku yang paling cantik. Tasnya aja mini begitu. Hahaha… jam ½ 2 kita mulai mendaki. Tujuan kita adalah kandang badak. Perjalanan panjang ini dimulai. Sebagian besar perjalananku ditemani ai. (spesial thanks buat ai yang dah spesial nemenin gue jg) agak lumayan jg pendakiannya sampai ke kandang badak. Kurang pemanasan juga nih ternyata aku. Lewat air panas beberapa teman jalan duluan membantu menyiapkan tenda. Kalau ngga salah Scott, Fitri, Sabar, Andrew, dan Jeremy. Sisanya kita di belakang.
Jam ½ 8 WIC (Waktu Indonesia bagian Cibodas) aku dan beberapa teman yg dibelakang sampai juga di kandang badak. Dah banyak yang pasang tenda di sana. Tenda kita jg baru berdiri 1. langsung deh kita menyiapkan makan malam sementara teman yang lainnya melanjutkan memasang tenda. Dingin mulai menggigit kulit-kulit telanjang kita. Berganti pakaian yang sudah basah selama perjalanan dengan yang layak, kemudian melanjutkan acara memasak dan makan malam. Semua dihajar rame-rame.
Waktunya kita tuk bercengkrama di bawah taburan bintang-bintang. Rasanya kesyahduan malam itu masih belum cukup juga, Tuhan menaburkan bintang-bintangnya di langit di atas kita tuk mewarnai malam kita di kandang badak. Bersenda gurau, duduk berhimpitan diatas matras dan ditemani cahaya lilin, bintang dan bulan… jadi mau nyanyi lagunya eros dan okta, cahaya bulan… wah.. harusnya kmarin kusetel juga tuh puisinya gie di kandang badak. Siyal.. hapeku langsung lobet sih… (pelajaran: kalo ke gunung harus bawa batere HP cadangan buat setel lagu eksotis romantis dan buat foto-foto d puncak). Berbagi cerita dan bermain tebakan. Aku, fitri, scott, sabar, monik, phije. Duduk berhimpitan saling berbagi kehangatan dan keempukan lemak, mulai ngobrol ngawur, ditemani bintang-bintang yang eksotis, musang yang mencuri-curi mengambil makanan kita, cerita-cerita anehnya sabar yang ngga pernah selesai. (sumpeh, selain kalimat pertamanya yang beli ketoprak yang diulang-ulang itu, aku dah lupa ceritanya sabar).
Jam 10 kita harus beranjak dari tempat nyaman kita dan mulai melangkah ke peraduan. Ke tenda masing-masing. Masih enggan juga sih meninggalkan bintang yang begitu indah. Tapi kita harus istirahat karna esok saat fajar datang kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita. Kalau seandainya tenda kita terbuat dari plastik transparan, alangkah indahnya, bisa berbaring di dalam tenda yang hangat sambil memandangi langit penuh bintang. Alangkah eksotisnya malam itu. Makasih Tuhan, Kau beri kita malam yang syahdu nan eksotis.
Tidur berimpitan dalam tenda. Ai, aku, monik, yeti dan fitri yang memilih tidur di depan pintu tenda supaya masih bisa melihat bintang. Kira-kira jam 3 kita dibangunkan. Kloter kedua sudah sampai sebagian. Elia dan Maria yang ditemani Geni. Spontan kita langsung bangun. Menyiapkan tempat buat Elia dan Maria tuk istirahat, sementara kita menyiapkan makanan alakadarnya (yang akhirnya cuman bengong bingung nyari kompor dan nesting) tak lama yang lainnya menyusul tiba, Andrew2, Ade, Goti dan Mario. Indomi, kopi dan tongseng tersaji tuk santap subuh kita. Berbagi pengalaman singkat dan cerita. Hingga tak terasa inilah waktunya kita tuk melanjutkan perjalanan ke puncak pangrango. Packing perbekalan secukupnya, ganti kostum dan bersiap. Senter sudah ada di tangan masing-masing. Kita siap berangkat. ade, Andrew2 dan Yeti memilih tuk tinggal d kandang badak. Fitri dan Scott berjalan di depan diikuti elia dan maria, aku dan phije dan seterusnya. Jam 5 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kandang Badak) kita berangkat. Melangkahkan kaki kita yang sudah sejenak beristirahat dan menggerakkan tubuh kita yang sudah mulai mendingin. Berjalan mencari-cari kehangatan di tengah sejuknya hutan pangrango.
Pangrango.. akhirnya aku berhasil juga menginjakkan kakiku dalam rindangnya hutanmu. Terima kasih kau sudah bersedia menungguku. Terima kasih kau sudah bersedia memanggilku tuk datang. Beberapa kali, kau menampakkan keagunganmu dari balik jendela lantai 5 gedung kantorku. Dan kini kau ijinkan aku tuk bercinta dengan sejuknya udara pagimu, dengan rimbunnya hutanmu, dengan pepohonan tumbang yang merintangi langkah kami, dengan candaan sahabat yang mewarnai sepi hutanmu. Ya.. ku telah kau ijinkan menjelajah hutanmu. Surya sudah mengintip di celah-celah rimbunnya pepohonanmu. Terang sudah datang menggantikan malam. Harapan tuk melihat matahari terbit dari puncakmu mungkin kita kubur dulu sementara. Aku memilih tuk berjalan menikmati hutanmu bersama sahabat.
Langkah-langkah kaki sudah mulai melemah seiring dengan terjalnya hutanmu yang kutapaki. Napas pun sudah semakin tersengal. Aku baru sadar, tadi aku belum sempat makan apa-apa. Cuma mencicip kuah tongseng Andrew2 yang sedap. Bertahan melawan kelemahan diri dan berjuang melawan napas yang kian tersengal. Tapi perut tak dapat berbohong lagi. Berdua dengan ai, duduk di batang pohon yang tumbang, entah di ketinggian berapa, yang jelas di seberang sana, kita sudah dapat melihat puncak gede yang eksotis, bergantian melahap pir yang sejak pagi tersimpan di kantong celanaku. Pir tersegar yang pernah kumakan. mantabBbbb! Lumayan, satu pir berdua cukup menambah energi kita yang sudah terkuras. Lama berjalan akhirnya membentuk satu formasi baru.. tim mencret yang terlambat sampai puncak… aku, ai, maria, fitri, scott, dan geni. (namanya tim mencret karna sambil jalan sambil nungguin maria yang sakit perut.. untung dia bisa mengeluarkan tabungannya di salah satu sudut di hutan pangrango…)
Sambil menunggu maria… kita melahap sarapan berikutnya.. sarapan ala bule nya scott.. roti dan selembar keju (untuk kita semua) dan selembar keju doang buat Geni. Minumnya… nutri sari rasa lemon tea (kayanya punya monik yang ditemukan dengan paksa di tas monik yg dbawa Geni) yang menurutku lebih mirip rasa air pipis. (walaupun jg belum pernah nyobain rasa air pipis).
Sarapan roti keju… dan di seberangnya pemandangan gunung gede serta di sisi lainnya pemandangan maria yang lagi asik nongkrong.. (hehehe.. piss mar!!!) rasanya eksotis dan syahdu.. hahahaha…
Perjalanan kita lanjutkan usai Maria melahap sarapannya. Syukurlah kawan, kau sudah sembuh. Ternyata obatnya: direm putus.. hehehe… Makin dekat dengan puncak napas makin senen-kemis. Ocehan-ocehan sudah mulai sepi. Tapi bukan Jungle namanya kalau ngga bisa menemukan obatnya. Menyanyi adalah obat berikutnya. Sambil mendengarkan Srengenge Nyunar-nya Djaduk yang terputar dari HP nya geni yang dah sekarat (siyal!! Hape gue malah dah meninggal) kita berjalan sambil bernyanyi.. pake gaya juga, Boss!! Hehehehe… wah… tu lagu emang sakti mandraguna…
Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah bunga di taman
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Hahaha.. rasanya langkah jadi ringan. Rasanya seluruh isi hutan pun ikut bernyanyi menyambut kehadiran kita. Semua ikut tersenyum mendengar kita bernyanyi. Semua ikut tertawa melihat gaya kita menari di tengah hutan. Matahari… angin.. burung.. bunga.. dan segala isi hutan… semua ikut bernyanyi bersama kita. Aku kamu dan semuanya turut merasakan betapa syahdunya saat itu.
Puas bernyanyi, hp pun sudah mati… kita melanjutkan langkah dengan jauh lebih ringan. Sampai akhirnya aku menyerah, memakailah alat bantu itu. Oxican!!
Hmmm.. lumayan segar setelah mendapat suplai oksigen bersih. Herman.. di gunung kan oksigennya juga bersih, kenapa juga harus pakai suplai oksigen tambahan. Melihat aku pakai oksigen, scott & geni malah jadi ngiri, dan ikut-ikutan nyobain. Halah.. dasar…
Perjalanan dilanjutkan hingga sampailah kita di puncak pangrango. 3000sekian mdpl. (nanti kulihat yg pastinya). Pukul 9 WJJ (Waktu Jam Jungle) kita tiba di puncak Pangrango, tempat teman-teman sudah menunggu kita.
Gunung yang agung yang telah berulang kali memanggilku tuk datang. Dan kini aku telah menjejakkan kakiku di sana. Di sambut teman-teman yang sudah tiba lebih dulu. Sibuk meladeni para fans yang ingin foto bersama kita, tim mencret yang akhirnya tiba. Mau tak mau kita menunda dulu sementara saat menikmati puncak pangrango.
Terima kasih Tuhan, Kau masih mengijinkanku tuk mencapai puncaknya. Dan ku tahu, Kau telah memberikanku teman seperjalanan yang hebat, yang telah menemaniku sampai di puncak Pangrango.
Perjalanan kita lanjutkan kembali. Puncak bukanlah tujuan terakhir dari perjalanan ini. masih ada lembah mandalawangi, tempat GIE begitu senang bercinta di sana. Dan kami pun harus menjejakkan kaki pula di sana. Perjalanan turun ke lembah mandalawangi tak terlalu lama. Mungkin memakan waktu sekitar 30menit jalanan menurun. Setengah berlari kita menyambut mandalawangi yang sudah menunggu kami. Berlari di balik rimbunnya pepohonan edelweiss yang sedang menguncup yang menghalangi pandangan mata kami tuk melihat surganya Pangrango. Dan langkahku terhenti di lembah penuh cinta itu.
Ini ternyata yang bernama mandalawangi yang terkenal itu. Yang membuat GIE begitu sering ke sini… di sinilah abu Gie ditebarkan. Di sinilah lembah yang katanya elok nan agung itu.
Kalau boleh hati kecilku berbisik jujur… aku lebih suka alun-alun suryakencana. Ada sedikit rasa kecewa menggumuli hatiku. Tempat inikah yang telah kuperjuangkan tuk dapat kulihat??
Tempat inikah yang begitu kucintai, bahkan sebelum aku melihatnya sendiri? Ada apakah dibalik pesona mandalawangi, hingga aku begitu ingin menjejakkan kakiku di sana dan memandanginya langsung.
Lama ku merenung… memandangi sekitar… berbicara banyak dengan hatiku dan memanjatkan banyak permohonan yang dititipkan padaku.
Tuhan memang terasa begitu dekat di sini.
Dalam sunyinya lembah, dimana hanya ada kita… kami dan hati kami masing-masing.
Atau memang suasana membuatku larut dalam kesendirian ini.
Tuhan sebenarnya tidak lebih terasa dekat di sini atau di manapun. Tuhan selalu dekat. Hanya hatiku dan hati kami yang mungkin menjauhkan diri dari Tuhan.
Ah.. aku hanyalah pencari Tuhan. yang kadang merasa Tuhan itu jauh kalau di Jakarta. Tuhan itu jauh kalau aku ada di kota, dimana godaan setan tuk berbuat dosa lebih banyak daripada di gunung. Banyak hal yang membuatku bergumul dalam hati. Ada sesuatu dalam lembah ini yang begitu merasuk ke dalam hatiku. Damai. Sunyi. Syahdu. Dan aku tak tau apa lagi. tak terdefinisikan dengan kata. Yang ku tahu memang di sini ada cinta itu. Cinta yang kucari dan kuharap dapat kutemui di mandalawangi. Cinta yang tak terdefinisikan juga terhadap siapa.. atau terhadap apa…
Syukur kepadaMu Tuhan
Sumber segala rahmat
Meski kami tanpa jasa
Kau pilih dan Kau angkat
Dosa kami Kau ampuni
Kau beri hidup Ilahi
Kami jadi putraMu
Kau tumbuhkan dalam hati
Pengharapan dan iman
Kau kobarkan cinta suci
Dan semangat berkurban
Kami Kau lahirkan pula
Untuk hidup bahagia
Dalam kerajaanMu
Kami hendak mengikuti
Jejak Yesus Sang Abdi
Mengamalkan cinta bakti
Di masyarakat kami
Syukur kepadaMu Tuhan
Atas baptis yang mulia
Tanda Rahmat dan iman
PS. 592
Lagu Syukur mengalun di lembah mandalawangi semakin membuat syahdu tempat ini. mandalawangi lebih tepat tuk disebut syahdu daripada eksotis. Hahaha…
Saatnya tuk minum susunya sabar di sini… asik! Waktu membuka perbekalan kita. Lumayan pemasukanku di sini. Susunya sabar. Jelly yang dimakan berdua dengan joroknya. (orang normal pasti nggilani kl liat kita makan jelly kayak gitu caranya) Pir yang dimakan rame2. (sebenernya tu pir kulitnya dah ngga berbentuk indah lagi. tapi makanan apapun d gunung terasa halal). Sup asparagus instant yang menggumpal, yang kita makan rame2 pake roti dan dicedoki pake kardus bekas susu… (ala bule lagi) (makasih buat Scott atas rotinya)
Puas makan dan minum, waktunya kita buat acara jumpa fans. Foto bersama! Ada yang niat bawa rok batik buat difoto di mandala wangi. Ada yang pake kaos yukensi, dan bulu keteknya kemana-mana dan akhirnya geli sendiri, ketawa sampe ngeces… (sampe skarang gue masi bersyukur ngga ketetesan ilernya yang rabies itu) hehehe… Ada juga yang di foto prewed dengan gaya yang bikin mules. Ada yang fotonya loncat-loncatan. Ada yang foto gaya India… ada yang nempel di setiap foto ada. Dah kaya penampakan aja.
Sa’ karepmu wae lah.. mau di foto gaya apapun di gunung, lagi-lagi.. di gunung, apapun terasa halal. Hehehe…
Saatnya buat packing kembali. Jam 11.30 WJJWMW (Waktu Jam Jungle Waktu diMandalaWangi) Saat kita tuk turun kembali ke kandang badak, tempat amuksi dan teman2 lain menunggu. Eh.. naik lagi ke puncak dulu ding, baru turun lagi. hehehe… lagi-lagi formasi teman seperjalananku kurang lebih sama. Dan lagi-lagi juga, kebiasaan paling jelek, kalo turun pasti kaki jadi sakit… doh nggle.. sampe kapan sih mesti begitu terus… ini yang paling nyusahin… di temple koyo.. dipasangin dekker dan dipijetin… lumayan ampuh sih. Menolong deh. Perjalanan turun kita lumayan santai banget. Banyak ngobrolnya dan bertukar cerita. Dan seperti biasa, dalam perjalanan turun yang paling mengakrabkan kita. Aku, ai, Mario, Geni, Fitri, Scott (ngilang2), Maria, dan kayaknya ada Sempet ada Goti deh… Saling curhat dan bertukar cerita. (ngga bertukar sih, banyakan Geni yang cerita, aku sama Mario yang jadi pendengar yang baik dan bijaksana, tidak sombong dan rajin menabung) Biasa.. mengalihkan perhatian dari kaki yang sakit dan rasa capek. Ceritanya juga mulai ngga jelas sebenarnya. Kalo di tulis pasti orang pada aneh bacanya. Hehehe…
Saat turun dan ngobrol banyak, aku semakin disadarkan dengan keadaan kita sekarang ini. Bagaimana hal yang seharusnya sudah terkonsep dalam pikiran kita masing-masing, kini mulai dilupakan. Bagaimana aku, kamu dan kita semua sebenarnya memiliki hubungan yang kuat, lebih dari sekedar teman biasa, lebih dari sekedar sahabat, tapi aku, kamu dan kita semua adalah saudara. saudara yang terlambat dipertemukan, yang untungnya masih diberi kesempatan tuk bertemu… saudara dalam satu keluarga besar JSN. Hal yang sering kita lupakan kalau kita sudah mulai asik dengan kegiatan kita masing-masing. Hal yang sering kita lupakan kalau kita mulai berbeda pendapat, mulai menggunakan hati yang sakit tuk membenci daripada mengampuni. Hal besar yang sering kita lupakan, bahwa nyatanya kita adalah satu saudara. sejelek apapun aku, ataupun kamu… seburuk apapun kamu atau kan dia, selama kita masih dibawah satu nama JSN, selayaknya kita semua adalah saudara.
Dan betapa kita telah sering asik dengan kesenangan kita sendiri tanpa ingat lagi tuk merangkul saudara-saudara yang telah lama pergi dan terlupakan.
Hal yang menyenangkan karena aku bisa turun dari puncak dan menguatkan konsep yang sudah mulai mengabur di dalam pikiranku. Makasi ya Gen, buat segala pencerahannya. Kita emang baru ketemu 2x, tapi lo dah banyak ngajarin gue sesuatu, terutama lo dah ngingetin gue bahwa kita semua masih saudara. sejelekjeleknya lo… dan semanis-manisnya gue… atau secupu-cupunya fitri… yang manis, yang kuat, yang sabar, yang menyebalkan, yang pemarah, yang manja, yang periang, semuanya satu. Yang di Jakarta yang di Solo, yang di Jogja, Kalimantan, Thailand, Nabire dan dimanapun. Semuanya satu. Dan kita harus tetap mengingat itu. Kejahilan-kejahilan… gurauan-gurauan, amarah, tawa, tangis, cinta, mungkin itu semuanya yang mewarnai hubungan diantara kita dan akan tetap berwarna terus selamanya.
Mungkin ada yang menganggap pemikiran aku terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Mungkin juga ada yang menganggap aku terlalu terbawa suasana karena di gunung, kita semua saling ketergantungan, kita merasa saling membutuhkan lalu aku menganggap kalian saudara karena aku membutuhkan kalian…. Terserah… tapi aku benar-benar merasa konsep persaudaraan kita ini sudah mulai memudar. Dan terima kasih karena aku masih diberikan kesempatan tuk menyadari hal itu, bahwa hubungan antara aku dan kalian… walaupun mungkin baru dipertemukan dalam perjalanan ini, ataupun sudah saling mengenal bertahun-tahun, seperti ada jalinan benang merah yang mengikatkan kita hingga membuat kita dapat langsung akrab dan merasa dekat. Kita memang dekat, karena hati kita semuanya berdekatan. Dan hanya kita sendiri yang dapat menjauhkannya.
Aku merasa, di tangan kiri kita seperti ada ikatan benang merah yang terjalin kuat satu sama lain. Saling berhubungan satu sama lain. Tidak kasat mata, tapi dapat kita rasakan dengan hati. Sedangkan di tangan kanan kita tergenggam sebuah gunting yang dapat memutuskannya. Hanya gunting yang ada di tangan kita yang dapat memutuskan ikatan tali di jari kita, sehingga membuat kita memisahkan diri dari jalinan benang merah tersebut. Dan itu adalah pilihan kita masing-masing. Ingin membuat gunting itu tidak akan pernah terpakai selamanya, atau ingin menggunakan gunting itu.
Kira-kira jam ½ 3 aku, Mario dan Geni (kalo ngga salah) sampai di kandang badak. Ai dan yang lainnya sudah duluan. Rasa lega lebih menjalariku. Akhirnya sampai juga. Amuksie menyambut kita. Muks.. lain kali kamu harus naik sampai puncak, ya.. kita temenin lagi deh.. hehehe…
Kita mulai istirahat, masak mi dan menghabiskan seluruh perbekalan adalah tujuan utama kita. Supaya beban yang kita bawa turun nantinya jadi ringan. Habis makan, kita semua lantas bersih-bersih dan packing lagi. siap tuk turun dan pulang.
Jam 4 kita beranjak turun dari kandang badak. Hari sudah mulai sore dan surya juga sudah mulai beranjak sembunyi. Kita mulai melangkah turun. Menapaki jalan menjauhi kandang badak, menjauhi pangrango dan gede. Lagi-lagi kakiku bermasalah. Dan kali ini malah badanku juga sudah mulai ngga bisa diajak kompromi. Aku baru sadar, di kandang badak tadi aku kurang mengisi energi. Kebanyakan nyuapin anak-anak burung.. hehehe… perut yang mules minta dilakukan pembuangan juga membuat badanku semakin lemas. Tapi ku tahan juga. Perjalanan pun terasa amat panjang dan tak berkesudahan. Kemalaman sudah pasti. Lelah pun sudah pasti. Badan rasanya melayang… (Nal.. seharusnya aku pake tuh energinya… tapi jadi malah ngga kepikiran) otak dah antara sadar dan ngga sadar. Tak lepas tanganku dan ai bergandengan sampai bawah. Sama-sama saling menguatkan. Dan kayanya banyakan ai yang menguatkan ku. Thanks ai!
Badan sama-sama lelah dan sudah tak bertenaga. Sebentar-sebentar maunya istirahat. Geni sudah mengingatkan tuk terus berjalan, jangan berhenti. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang ngga beres, tapi otak sudah ngga sanggup lagi tuk berpikir. Pelan pelan kita menapak turun melewati langkah demi langkah kita, semakin menjauhi kandang badak, gede dan pangrango. Hari semakin malam dan gelap semakin pekat. Tubuh pun tak kalah lelahnya. Makasih buat Geni yang bawain tasku sebentar dan andrew2 yang akhirnya bawain tasku sampai bawah, yang bikin langkahku jadi lumayan tapi kakinya jadi lecet…
Sampai lewat telaga, barulah kita ingat, apa yang menguatkan kita selama di perjalanan. CERITA!!! Dan disitulah cerita kita tak putus mengalir dari bibir kita masing-masing.. Aku, Ai, Maria, Mario, Ade dan Andrew yang berjalan di depan. Dan sampailah kita di basecamp. Rombongan terakhir (seperti biasa) kira2 jam ½ 9. monik, goti, geni, sudah menunggu kita.
Dan inilah akhir dari perjalanan kita. Perjalanan yang kunamakan a blessed journey. Perjalanan yang terberkati Tuhan. karena sejak awal aku merasakan Dia memberikan kemudahan bagi kita tuk dapat mendaki sampai puncak. Melewati rintangan dan membiarkan kita meninggalkan jejak-jejak kaki kita di sana. Tanpa berkatNya pastinya ini semua tidak akan terlaksana. Hujan pun enggan turun menghalangi langkah kita. Bintang pun seakan tersenyum menyambut kedatangan kita. Apalagi yang mau kita keluhkan???
Supir bus gila yang membawa kita sampe kampung rambutan kurasa.. hehehehe… yang bikin kita semua terpental-pental di dalamnya. lagi-lagi perjalanan ini toh masih diberkati, karena biarpun naik bus gila-gilaan tetap saja kita bisa sampai dengan selamat dan cepat pula.
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
Srengenge nyunar kanthi mulya,
Angine midhit klawan rena,
Manuke ngoceh ono ing wit-witan,
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!,
Kabeh podo muji Allah kang Mulya!
Matahari bersinar trang,
Burung berkicaulah senang,
Harum semerbaklah bunga di taman,
Semua yang mengajar kepada kita
Dan memuji nama Allah yang Esa!,
Dan memuji nama Allah yang Esa!
akhirnya…
Special thanks to:
setelah sekian lama, bisa naik gunung lagi gue, terutama pangrango. semuanya seperti diberikan kemudahan dari Tuhan. gue pikir gue masih cuti gunung sampai taun depan, ternyata… skarang dah selesai masa cutinya. Banyak2 gue ucapkan terima kasih buat temen2 sekalian:
buat monik & ai yang mau susah payah mendaftarkan kita dan membuat mimpi ini akhirnya terwujud. terutama buat monik yg menjadikan ini nyata. bantuin melengkapi perlengkapan gue. Membuat segalanya menjadi mungkin.
buat ai dan gandengan tangannya yang kecil tapi kokoh yang dah nemenin dari naik sampe turun. ngga ada loe ngga rame. ocehan dan cerita2 lo bikin semangat. Terutama tangan kecil lo yang emang bener2 menguatkan.
buat andrew yang dah mbawain tas turun, yang dah nganterin pulang selamat sampe d rumah, yang dah ngasi dukungan moril spirituil. halagh.. lain kali kamu harus muncak ya, muks… ku temenin deh… sama tongsengmu. (kmarin ga berani makan, gara2 badan lagi ngawur). kapan2 kita harus bareng naik lagi.
buat sabar, yang kalo di rem putus.. lain kali bikin tebakan yang lebih bermutu lagi. masa dari kmaren ketebak terus. ngomong2 waktu lo beli ketoprak, bintangnya bagus ya… lo boleh bilang gue tulalit, tapi (semoga) gue dah meninggalkan kebodohan gue d mandala wangi, yang kemudian akhirnya lo pungut. skali2 bertobatlah jangan jadi NABO… dasar, BOJOK! hahaha… makasih karna lo telah membuktikan kesabaran namamu. dan maaf, lo bukan tumbal kok.
buat fitri cupskie…
lo tau isi hati gue, babe… terutama saat2 sebelum naik dan hal2 lain yang membuat konsentrasi gue terpecah. jangan berbuat mesum lagi sama ai d tengah hutan, apalagi sampe ketauan orang. Hehehe… gimana perjalanan kita berikutnya??
buat andri yang sabaraphael nemenin sampe atas dan turun lagi dan curhatan2nya yang nambah2in semangat buat terus jalan dan kelakuan2nya yang kadang2 aneh semoga kapan2 bisa foto india bareng lagi dan semoga lain waktu bisa bertualang bareng lagi. Makasih dah memberikan ku banyak pencerahan di hutan sana.
PS: lagi mikir2 manggil nama lo yang enak ap… susah nyebutnya.. akhirnya terpikir… lo gue panggil GENI aja ya.. bukan gendruk atau andri. lidah gue sering keselo nyebutnya… biar mirip sama kembaranmu.. goti dan geni.. halah… sampe di catper pun nama lo dah gue ganti dengan hormatnya…
buat mario, maria, ade, ai (lagi), andrew
atas ocehan ngga jelas tentang hal2 ngga jelas yang akhirnya justru menguatkan kita sama2 buat turun dengan selamat.
buat scott..makasi buat logistiknya, terutama roti keju itu… arrgghh.. rasanya eksotis banget ga sih?? makan roti keju, di tengah hutan pangrango, di seberang pemandangan puncak gede dan di balik semak pemandangan maria lagi ngerem putus…haha… oh ya.. tertarik tawaranmu ke ujung kulon, tapi maret ada trip lain. k makassar aja yuk, scott!!
buat goti…namamu ngga aneh kok. yang bikin kan gue. hahaha… sampe jumpa d petualangan berikutnya.
buat elia
lain kali harus lebih kuat dan berani lagi. jangan loyo dan ngoyo. kenali dirimu dan kekuatan dirimu. tapi proficiat dah sampai puncak
buat phije dan antek2nya…
phije… lo dah lebih baek dari salak kmaren. lain kali tambah smangat y. dan temen2nya phije.. jangan kapok naik gunung lagi.
buat Bang Alpin
makasih buat tempatnya tuk kita singgah sebelum dan sesudah muncak. makasih buat packingannya.
buat tim mencret yang barengan muncak..
ngga ada loe ngga rame!!
Buat Om Djaduk Feriyanto yang telah membuat lagu Srengenge Nyunar menjadi lebih memiliki jiwa. Apalagi kalau kita menyanyikannya di gunung. Terima kasih juga buat lagu syukur nya yang juga terasa semakin bermakna ketika kita menyanyikannya di lembah mandalawangi. 4 jempolku terangkat tuk Om Djaduk atas gubahannya. Hidup musik Indonesia!!!
Buat Teman2 tim Desk Foto dan Grafis SP yang semakin membuat lagu ini lebih dalam lagi artinya. Cerita dikit. Lagu ini dan lagu Tuhan Sumber Gembiraku kita nyanyiin bareng, dari desk foto dan grafis, dengan gerak dan suara kita yang alakadarnya di acara natalan kantor.
Buat Teman2 unit sirkulasi SP yang data KTPnya dipakai buat daftar Pangrango tanpa sepengetahuan mereka. Dan untunglah sampe skarang mereka jg tetep ngga tau. Hehehe…
buat semuanya… sampe jumpa di perjalanan berikutnya.
dan yang terakhir
buat Tuhan dan segala keindahan alam ciptaanMu
terima kasih buat segala keindahan yang Kau ciptakan tuk mengisi detik2 ku di Pangrango. bintang2 terindah dalam hidupku, cuaca yang 10000% cerah terang benderang. dan lain lainnya
mohon maaf buat pangrango.. ternyata gue lebih cinta sama Gede daripada sama lo… hehehe… puncak dan suryakencananya lebih eksotis, walau lebih ramai dan kotor, tapi gatau kenapa hati gue menetap di surken. di pangrango, gue lebih menikmati proses perjalanan panjang waktu naik dan turunnya. perjuangannya merayapi hutan2nya yang eksotis. hehehe…
jadi.. tiba2 merindukan naik gede, apakah ada yang mau naik gede lagi?? yuks.. gue dah siap! kapan?? Hehehe…
dan ketika semuanya sudah berlalu,
yang ada hanya kenangan yang terpatri
dan harapan akan terulang kembali…
Srengenge nyunar kanthi mulya
BalasHapusAngine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan
lagu ini judulnya apa ya?? saya cuman tau judul versi indonesianya "Matahari Bersinar Terang"